OPEN RECRUITMENT BPPI FEB UNS 2017

Ayo ikut bersama Kami. Menjadi Mahasiswa Muslim yang Proaktif dan Inspiratif. BPPI 2017

RAMADHAN 1438 H

Ramadhan Awesome! Raih Ramadhan dengan Penuh Berkah, Mencari Taqwa. Ramadhan di Kampus.Coming Soon!!

One Step 2017

Jalan-Jalan, Penuh Pembelajaran, Home Stay, Games, Fun, Keakraban dan Islami. Coming Soon yak!

Ukhuwah Islamiyah

Karena ikatan ukhuwah begitu berharga.

Islam pasti akan menang!

Jangan bertanya,"Kapan Islam kembali berjaya?", karena cepat atau lambat Islam pasti menang. Tapi bertanyalah,"Apa peranmu dalam menyongsong kemenangannya?"

6 Jun 2014

Ya Allah Kenapa Aku Malu? Sebuah Paradigma Baru



Saya yakin semua orang mempunyai rasa malu. Sobat semua punya kan??Kita patut untuk tahu bahwa rasa malu menjadi bagian penting dalam keimanan seorang muslim. Mengapa?? Karena itu bisa menjaga kita dari perbuatan maksiat. Kadangkala sobat pernah ya, ketika melihat lawan jenis rasanya seperti tertimpa dunia dan seisinya, (hehe). Keringat dingin mengucur begitu deras, hati berdetak dengan cepat, akhirnya menatap pun malu. Fenomena ini ada yang mensyukuri ada juga yang menyesali. Namun kita harus tahu definisi malu.

Al Imam An Nawawi menjelaskan bahwa para ulama berkata,“Hakikat sifat malu itu ialah suatu budi pekerti yang menyebabkan seorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak lengah untuk menunaikan haknya seorang yang mempunyai hak.”Beliau melanjutkan,“Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al Junaid rahimahullah, beliau berkata,‘Malu ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu’.” (Riyadhus Shalihin)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,“Keimanan itu ada tujuh puluh sekian cabang atau keimanan itu ada enam puluh sekian cabang. Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu itu adalah cabang dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal sifat malu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)Kenapa malu disebut sebagai salah satu cabang keimanan? Hal ini dengan rasa malu yang ada pada dirinya seseorang akan malu apabila meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah serta malu pula untuk melanggar apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala.Kalau sobat malu ketika presentasi itu dipertanyakan. Tetapi kalau malu berbuat maksiat itu menjadi kewajiban.(referensi: http://shirotholmustaqim.wordpress.com/)

Yahudi dan Pohon Ghorqod

Perihal kiamat menjadi bahasan penting dalam Umat Islam. Hari kiamat ini adalah pintu dari berakhirnya dunia dan seisinya dan berganti dengan alam yang lebih kekal, yaitu kampung akhirat. Tentunya Allah tidak memberikan pengetahuan tentang waktu kapan terjadinya hari kiamat, bahkan malaikat. Hal ini menjadikan kita untuk tetap berhati-hati, tetap menyiapkan amal terbaik, tetap menghindari perbuatan maksiat. Namun perlu diketahui bahwa hari kiamat memiliki tanda-tandanya, khususnya kiamat kubro. Salah satu diantara adalah bahasan pohon Ghorqod dan kaum Yahudi.


Ada sebuah hadits shahih tentang hari akhir mengenai pohon ini: "Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi kaum Yahudi, lalu membunuh mereka, sehingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon berkata: Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini Yahudi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon ghorqod, maka itu adalah dari pohon-pohonnya orang Yahudi. "(HR Muslim VII/188, Bukhari IV/51, Lu’lu’ wa al-Marjan III/308)

Seperti yang diulas dalam eramuslim.com bahwa kaum Yahudi berlomba-lomba dalam menanam pohon ini. Washington Post edisi April 1984 memuat satu artikel tentang pertemuan Presiden AS Ronald Reagan dengan seorang pelobi senior Yahudi dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) bernama Tom Dine. Pertemuan itu berlangsung secara pribadi.
Kepada Tom Dine, mantan Gubernur Negara Bagian California ini dengan serius berkata, “Anda tahu, saya berpaling kepada nabi-nabi kuno Perjanjian Lama dan kepada tanda-tanda yang meramalkan Perang Armageddon. Saya sendiri jadi bertanya-tanya, apakah kita ini akan melihat semuanya itu terpenuhi. Saya tidak tahu. Apakah Anda belakangan ini juga telah memperhatikan nubuat-nubuat para nabi itu… akan tetapi, percayalah kepada saya, bahwa nubuat-nubuat itu menggambarkan masa-masa yang sekarang ini sedang kita jalani. ” Tom Dine tersenyum dan mengangguk pelan.
Presiden Reagan merupakan presiden Amerika Serikat pertama yang memulai suatu tradisi baru dalam protokoler Gedung Putih, di mana kebaktian, seminar keagamaan, dan pertemuan-pertemuan dengan sejumlah tokoh gereja evangelikal Amerika sering diadakan. Di masa Reagan-lah paham Zionis-Kristen masuk dalam lingkaran elit pemerintahan Amerika. Seluruh kebijakan, terutama kebijakan Amerika di luar negeri khususnya untuk wilayah Timur Tengah, sangat kental bernuansa Zionis.
Penerus Reagan, George H. W. Bush, William J. Clinton, dan George W. Bush, merupakan orang-orang yang sangat yakin tentang nubuat-nubuat (janji-janji atau ramalan-ramalan) Tuhan seperti yang tercantum di dalam Injil Darby atau Scofield, Injil resmi Amerika. Menurut keyakinan mereka, abad millennium merupakan zaman akhir di mana suatu ketika akan terjadi Peperangan Besar Terakhir (Armageddon) yang melibatkan seluruh dunia, antara Tentara Tuhan melawan Pasukan Iblis. Kristus akan mengalahkanAnti-Christ. Dan setelah itu dunia akan menjadi damai dan sejahtera hingga datangnya hari penghabisan.
Sebab itu, dilandasi kepercayaan akan hari akhir seperti yang dinubuatkan dalam Injil Darby, para presiden Amerika bekerja dengan sekuat tenaga untuk melapangkan jalan bagi suatu hari di mana akan datang Kristus yang kedua kalinya. Karena menurut kepercayaan mereka Kristus akan turun di tanah Palestina, maka mereka berupaya untuk menguasai Tanah Palestina sepenuhnya dan memberikannya kepada orang-orang Yahudi.
Ini menandakan bahwa kaum Yahudi pun percaya bahwa kiamat akan terjadi. Maka sebagai seorang muslim pun harus juga mempersiapkan perihal hari kiamat ini. 

4 Jun 2014

Hakikat Pemimpin Menurut Al-Qur'an


Akhir-akhir ini ungkapan "pemimpin" menjadi trending topic di Indonesia. Tidak heran karena sebentar lagi Indonesia akan memilih pemimpin baru, yaitu Pemilihan Presiden 2014. Maraknya isu-isu yang dihembuskan lewat media maya membuat kita semakin bingung. Blow up isu negatif para calon presiden kini menjadi makanan sehari-hari bagi para pengguna media. "Apakah itu benar?", "Apakah iya seperti itu?". Banyak pertanyaan kemudian muncul di benak kita apakah mereka layak memimpin bangsa ini.

Namun perlu diperhatikan. memilih ataupun tidak, tetap saja akan ada pemimpin yang terpilih. Warga negara tetap saja diberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih. Memilih atau golput adalah pilihan. Tetapi, sekali lagi tetap ada pemimpin yang terpilih. Peran kita sedikit banyak akan mempengaruhi kualitas negeri ini, dan itu semua bermula dari seorang pemimpin. 

Bagaimana Hakikat Pemimpin Menurut Al-Qur'an
Berbicara tentang pemimpin, Allah SWT telah menjelaskan kepada kita bagaimana pemimpin yang baik itu, melalui beberapa contoh kepemimpinan yang Allah ketengahkan dalam kitab-Nya, Al-Qur’an.
Diantara sosok yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah Musa as. Dalam QS Al-Qashash: 26, Allah SWT berfirman: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Wahai bapakku, ambillah ia (Musa) sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat (al-qawiyy) lagi dapat dipercaya (al-amin)".
Dalam ayat tersebut, Musa as disifati memiliki dua sifat yaitu al-qawiyy (kuat) dan al-amin (bisa dipercaya). Inilah dua sifat yang harus dimiliki oleh seseorang  yang “bekerja untuk negara”. Dua sifat tersebut adalah al-quwwah yang bermakna kapabilitas, kemampuan, kecakapan, dan al-amanah yang bermakna integritas, kredibilitas, moralitas.
Sosok pemimpin lainnya yang disebutkan oleh Al-Qur’an adalah Yusuf as. Dalam QS Yusuf: 55, Allah SWT mengabadikan perkataan Yusuf as kepada Raja Mesir: “Yusuf berkata: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
Dari ayat diatas, kita mengetahui bahwa Yusuf as itu hafiizh (bisa menjaga) dan ‘alim (pintar, pandai). Inilah dua sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang “bekerja untuk negara”. Dua sifat tersebut adalah al-hifzh yang tidak lain berarti integritas, kredibiltas, moralitas, dan al-‘ilm yang tidak lain merupakan sebentuk kapabilitas, kemampuan, dan kecakapan.
Jadi kesimpulannya, kriteria pemimpin yang baik menurut Al-Qur’an adalah yang kredibel dan juga kapabel. Dua-duanya harus ada pada diri seorang pemimpin, bukan hanya salah satunya. Jika seorang pemimpin hanya kredibel tapi tidak kapabel, maka urusan akan berantakan karena diserahkan pada yang bukan ahlinya. Rasulullah saw bersabda, “Jika urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya”. Sebaliknya, jika seorang pemimpin hanya kapabel tapi tidak kredibel, maka dia justru akan ‘minteri’ rakyat, menipu rakyat, menjadi maling dan perampas hak-hak rakyatnya, dan tidak bisa dijadikan sebagai contoh dan teladan. Dan jika para pemimpinnya bermoral rendah, bagaimana dengan rakyatnya?  

(Referensi: menaraislam.com)

Ramadhan Sebentar Lagi: Lama Puasa di Berbagai Negara


Ramadhan... *waahhh indahnya!!!

Hai hai, tak terasa kita sebentar lagi akan memasuki bulan yang mulia, yaitu bulan Ramadhan. Bulan yang menyuguhkan banyak keutamaan dan menyediakan ladang amal bagi setiap muslim. Bukan hanya itu, di bulan ini pula pahala akan dilipatgandakan, syetan-syetan dibelenggu dan masih banyak keutamaan yang lainnya. 

Kalau tahun ini kita di Indonesia ya gitu. Waktu puasanya yang gitu-gitu aja, ga banyak perubahan. Namun, beda halnya dengan saudara kita di belahan bumi yang lain. Yuk tengok.

Islam adalah agama yang paling cepat menyebar ke seluruh dunia. Oleh karena itu umat Islam ada di seluruh negeri di dunia ini. Karena letak geografis yang saling berbeda, waktu dan lama puasa masing-masing negara juga berbeda.

Berikut peta yang menunjukkan lama puasa yang harus dijalani umat Islam pada tanggal 15 Ramadhan yang akan datang di berbagai belahan dunia, menurut perhitungan Markaz Falak Dauli, yang berada di Saudi Arabia.

Dalam peta terlihat bahwa lama puasa akan pendek di belahan bumi selatan, karena di belahan itu sedang berlangsung musim dingin. Berbeda dengan belahan bumi utara yang sedang mengalami musim panas.

Karena itulah, negara paling pendek puasanya adalah Chili dan Argentina (10 jam). Semakin ke utara, maka lama puasa akan semakin panjang, sehingga Comorros menjadi negara Arab yang paling pendek puasanya (12.5 jam), dilanjutkan dengan Somalia. Hal yang sedikit sama dialami di Indonesia karena sejajar (13-14 jam).

Di Jazirah Arab, negara berpuasa paling pendek adalah Yaman (14 jam), dilanjutkan Saudi bagian selatan, Oman bagian selatan, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait (15 jam). Adapun negara-negara Syam , lama puasanya berbeda-beda (antara 15.5 jam hingga 16 jam). Demikian juga negara-negara Arab di wilayah Afrika utara.

Semakin ke utara, maka puasa akan semakin lama. Misalnya di Turki (17 jam) Italia bagian utara (18 jam), Prancis bagian tengah (19 jam) dan Jerman bagian utara (20 jam). Setelah itu, umat Islam akan mendapatkan masalah hilangnya tanda datangnya waktu Fajar dan Isya’



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/06/04/52614/lama-puasa-tahun-ini-di-berbagai-belahan-dunia/#ixzz33gn8M4Qv 

Dari Mata Turun Ke Hati: Mengupas Hakikat Zina Mata





Menyoal terkait bahasan zina menjadi topik yang sangat menarik. Permasalahan inilah yang kini tengah menggerogoti eksistensi adab budaya Timur yang juga sarat dengan nilai-nilai Islam. Dimana-mana, baik di kota maupun sampai pelosok daerah mengalami penurunan kualitas generasi karena masalah ini. Anak-anak sekolah kini tidak lagi dapat menjaga izzah (kemuliaan) mereka, akan tetapi kemuliaannya kini menjadi barang murah yang diperjualbelikan kepada yang lain. Betapa tidak, berapa banyak anak SD, SMP, dan SMA yang sudah terenggut kehormatannya? Berapa banyak anak-anak yang masih dibawah umur sudah memiliki anak tanpa proses pernikahan? Patut kita untuk menyimak bahasan ini.

Ada pandangan bahwa yang dimaksud zina adalah hubungan tubuh antara laki-laki dan perempuan yang belum memiliki ikatan pernikahan. Hal ini benar, namun masih sangat sempit. Pembaca semua jangan sampai terkecoh dengan ungkapan ini. Bisa jadi definisi-definisi yang menyempitkan definisi zina ini adalah bagian dari tipu daya manusia yang ingin menghancurkan harkat dan martabat bangsa dan agama. 

Dari Mata Turun ke Hati
Di dalam Islam ada jenis maksiat yang disebut dengan ‘zina mata’ (lahadhat). Lahadhat itu, pandangan kepada hal-hal, yang menuju kemaksiatan. Lahadhat bukan hanya sekadar memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan mata adalah sumber itijah (orientasi) kemuliaan, juga sekaligus duta nafsu syahwat. Seseorang yang menjaga pandangan berarti ia menjaga kemaluan. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka manusia itu akan masuk kepada hal-hal yang membinasakannya.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, pernah menasihati Ali :
“Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Milik kamu adalah pandangan yang pertama, tapi yang kedua bukan”.
Dalam musnad Ahmad, disebutkan, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda :
“Pandangan adalah panah beracun dari panah-pandah Iblis. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari keelokkan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya manisnya iman sampai hari kiamat”.
Sarah hadist itu, tak lain, seperti di jelaskan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam:
“Tundukkan pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian”. Juga Sabda Beliau : “Jauhilah oleh kalian duduk di pinggir jalan”. Para Shahabat berkata : “Pinggir jalan itu adalah tempat duduk kami, kami tidak bisa meninggalkan”. Beliau bersabda : “Jika kalian harus duduk di jalan, maka berikanlah haknya”. Mereka berkata : “Menundukkan pandangan, dan menahan diri untuk tak menganggu, baik dengan perkataan atau perbuatan, dan menjawab salam”.
Melihat adalah sumber dari segala bencana yang menimpa diri manusia. Melihat melahirkan lamunan atau khayalan, dan khayalan melahirkan pemikiran, pikiran melahirkan syahwat, dan syahwat melahirkan kemauan, kemauan itu lantas menguat, kemudian menjadi tekat kuat dan terjadi apa yang selagi tidak ada yang menghalanginya. Dalam hal ini ada hikmah yang mengatakan :
“Menahan pandangan lebih ringan dari pada bersabar atas kesakitan (siksa) setelah itu”.
Seorang penyair Arab bertutur,
"Semua bencana itu bersumber dari pandangan,
Seperti api besar itu bersumber dari percikan bunga api, 
Betapa banyak pandangan yang menancap dalam hati seseorang,
Seperti panah yang terlepas dari busurnya,
Berasal dari sumber matalah semua marabahaya, 
Mudah beban melakukannya, dilihat pun tak berbahaya, 
Tapi, jangan ucapkan selamat datang kepada kesenangan sesaat yang kembali dengan membawa bencana".

Bahaya memandang yang haram adalah timbulnya penderitaan dalam diri seseorang. Karena tak mampu menahan gejolak jiwanya yang diterpa nafsu. Akibat selanjutnya adalah seorang hamba akan melihat sesuatu yang tidak akan tahan dilihatnya. Ini adalah sesuatu yang menyiksa, yang paling pedih, jangankan melihat semuanya, melihat sebagian saja tak akan mampu menahan gejolak jiwanya.
Zina itu ada prosesnya. Dimulai dari pandangan, kemudian turun ke hati. Bagaimana kemudian gejolak syahwat akan mempengaruhi apa yang telah dilihatnya sampai pada taraf imajinasi/membayangkan. Ketika nafsu syahwat sudah memenuhi relung hati, maka jadilah sekarang anak-anak yang hamil diluar nikah bertebaran.

(referensi: eramuslim.com)

Profil FEB UNS: Sebuah Kebanggaan


Assalamu'alaykum, 
Sobat semuanya..
Hari ini kami senang banget, ternyata sudah punya adik lagi. Iya adik tingkat maksudnya. Kami ucapkan selamat datang di FEB UNS, seomga segala impian dan cita-citanya bisa diukir disini. 
 Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu luar biasa lho!!!!
Eh iya, lihat aja nih Program Studi S1 Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi Pembangunan telah mendapatkan akreditasi A dari BAN-PT. Saat ini Fakultas Ekonomi dan Bisnis telah terdaftar sebagai anggota lembaga akreditasi internasional AACSB dan ABEST. Bukan hanya itu saja, dari sekian jurusan yang ada di UNS, jurusan Manajemen dan Akuntansi menjadi jurusan yang paling diminati loh. Wah, luar bisa sekali teman-teman semuanya bisa menembus persaingan yang ada.

Oke, kalau membutuhkan bantuan seputar pelayanan informasi terkait FEB, KAMI SIAP MEMBANTU
CP: 085728379231 (Hafid Tamimi)

19 Mei 2014

Kunjungan BPPI FEB UNS ke Mizan FEB Undip

Badan Pengkajian dan Pengamalan Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (BPPI FEB UNS) mengadakan kunjungan kelembagaan ke Mizan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Mizan FEB Undip) di Kota Semarang, Sabtu 17 Mei 2014. Kunjungan ini menjadi satu rangkaian acara dengan Rapat Harian Lengkap dan rihlah ke Candi Gedongsongo di Bandungan.

Rombongan BPPI FEB UNS sampai di Undip pukul 14.30 WIB. Acara pertama merupakan perkenalan yang dibuka dengan tilawah Al-Qur'an oleh salah satu anggota Mizan FEB Undip, yang dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Mizan FEB Undip, Hafizh Matin, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip, Afief El Ashfahany, dan yang terakhir Ketua Umum BPPI FEB UNS, Hafid Tamimi.

Memasuki waktu Ashar, acara dilanjutkan dengan 'ishoma' (istirahat, sholat, makan). Tepat pukul 16.00 WIB, acara dilanjutkan dengan diskusi antar bidang. Diskusi yang bertujuan untuk saling mendalami keadaan masing-masing lembaga ini dibagi mengikuti jumlah bidang (atau kompartmen Mizan FEB Undip), dan tersebar di beberapa titik kampus.

Pukul 17.00 WIB acara diskusi selesai. Masing-masing lembaga saling bertukar vandel yang diwakili oleh masing-masing ketua lembaga. Acara kemudian ditutup dengan do'a bersama oleh Hafizh Matin. Rombongan BPPI FEB UNS kemudian melanjutkan rangkaian acara selanjutnya hingga hari Minggu, 18 Mei 2014.

12 Mei 2014

Ini Bukan Balapan: Stop Mendahului atau Memperlambat


Terkadang dalam sholat jama'ah di kampung-kampung masih sering kita saksikan fenomena unik. Bak orang sedang balapan. Terkadang mendahului atau memperlambat. Eitts, bukan itu maksudnya. Tetapi terkadang masih ada yang mendahului atau memperlambat gerakan imam. Entah pegel plus linu, atau pengen khusyu', ga tau deh. Tetapi pada hakikatnya keberadaan imam itu untuk diikuti, guys. Kita menyamai gerakan imam aja tidak boleh lho, hmm.
Imam dijadikan sebagai pemimpin dan wajib diikuti dalam shalat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu :

"Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan bila ia mengatakan 'sami’allahu liman hamidah', maka katakanlah,'Rabbana walakal hamdu'. Apabila ia sujud, maka sujudlah. Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya". [Muttafaqun ‘alaihi].

Dengan diwajibkannya mengikuti imam ini, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tertinggal sebagian shalatnya (masbuq) untuk memulai dan mengikuti imam dalam semua keadaan. Sebagaimana disampaikan Ali bin Abi Thalib dan Mu’adz bin Jabal :

"Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan shalat dan imam sedang dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia berbuat seperti imam berbuat." [HR at Tirmidzi, dan dishahihkan al Albani dalam Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 484]

Abu Isa at Tirmidzi berkata,"Para ulama menyatakan, apabila seseorang datang dan imam dalam keadaan sujud, maka hendaknya ia sujud, dan tidak dianggap mendapat satu raka'at (bersama imam) apabila ia tidak mendapatkan ruku’ bersama imam."

Dalam permasalahan mengikuti imam dalam shalat berjamaah ada empat keadaan para ma'mum : 
Pertama : Mutaba’ah (Mengikuti Imam). 

Pengertiannya, seseorang memulai melakukan perbuatan shalat, langsung, setelah imam memulainya, namun tidak bersamaan. Inilah yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, berdasarkan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :


"Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti. Apabila ia bertakbir, maka bertakbirlah, dan kalian jangan bertakbir sampai ia bertakbir. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah, dan kalian jangan ruku’ sampai ia ruku’. Apabila ia mengatakan "sami’allahu liman hamidah", maka katakanlah "Rabbana walakal hamdu". Apabila ia sujud, maka sujudlah, dan kalian jangan sujud sampai ia sujud." [HR Abu Dawud, no. 511]

Begitu pula dengan perbuatan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana disampaikan Bara` bin ‘Azib :

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu apabila mengucapkan "sami’allahu liman hamidah", tidak ada seorangpun dari kami yang mengangkat punggungnya, sampai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sujud, kemudian barulah kami sujud setelahnya."[HR Bukhari, no. 649]


Kedua : Musabaqah (Mendahului Imam). 

Pengertiannya, seseorang mendahului imam dalam perbuatan shalat, seperti bertakbir sebelum imam bertakbir, atau ruku’ sebelum imam ruku’. Mendahului imam, menurut kesepakatan para ulama nya, hukumnya haram. Dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terdapat adanya larangan mendahului imam, di antaranya:

Dari Anas , ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami kami shalat. Ketika telah selesai shalat, beliau menghadap kami dengan wajahnya, lalu berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah imam kalian, maka janganlah kalian mendahuluiku dengan ruku’, sujud, berdiri atau selesai". [HR Muslim, no. 426].

Rasulullah memberikan ancaman keras bagi seseorang yang mendahului imam, seperti disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:


Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam akan Allah rubah kepalanya menjadi kepala himar (keledai)". [Muttafaqun ‘alaihi]


Ketiga : Muwafaqah (Menyamai Imam).

Pengertiannya, melakukan perbuatan dan perkataan bersamaan dengan gerakan dan ucapan imam .

Muwafaqah ini ada dua jenis.

1. Menyamai imam dalam perkataan, maka ini tidak mengapa, kecuali dalam takbiratul ihram dan salam. Adapun dalam takbiratul ihram, seperti bertakbir sebelum imam menyempurnakan takbiratul ihram, maka shalatnya belum dianggap sama sekali, karena harus melakukan takbiratul ihram setelah imam selesai takbiratul ihram.

Sedangkan dalam salam, para ulama menyatakan, dimakruhkan salam bersama imam, baik salam pertama maupun yang kedua. Adapun bila salam pertama setelah imam selesai salam pertama, dan mengucapkan salam kedua setelah imam selesai salam kedua, maka ini tidak mengapa. Namun yang lebih utama, tidak mengucapkan salam kecuali setelah imam melakukan dua salam. 

2. Menyamai imam dalam gerakan shalat, hukumnya makruh. Dan ada yang menyatakan menyelisihi sunnah, tetapi yang rajih adalah makruh. 

Contoh muwafaqah ini seperti, ketika imam mengatakan "Allahu Akbar" untuk ruku’ dan mulai turun, lalu ma'mum juga turun menyamai imam tersebut, maka perbuatan seperti ini hukumnya makruh, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:

Apabila ia ruku’, maka ruku’lah dan kalian jangan ruku’ sampai ia ruku’.

Keempat : At Takhalluf (Tertinggal Oleh Imam).
 

Pengertiannya adalah, terlambat dalam melakukan amalan shalat dengan imam, seperti imam telah sujud dan sang makmum baru ruku’.


At Takhalluf ini ada dua jenis.

1. Takhalluf dengan udzur. 
Apabila karena udzur, maka seorang ma'mum melakukan amalan yang tertinggal tersebut dan mengikuti imam. Demikian ini tidak masalah, walaupun berupa satu rukun yang sempurna atau dua rukun. Seandainya seseorang lupa, atau lalai, atau tidak mendengar imamnya, hingga imam mendahuluinya satu rukun atau dua rukun, maka ia (ma'mum) melakukan gerakan yang tertinggal dan langsung mengikuti imamnya. Kecuali, jika imam sampai pada posisi yang sama dengannya, maka ia melakukan amalan dan tetap bersama imam. Ia mendapatkan satu raka'at yang tergabung dari dua raka'at imam, yaitu satu raka'at yang ia tertinggal dan raka'at yang imam sampai padanya, ketika ia dalam keadaan posisi tersebut. 

Contohnya, seseorang shalat berjamaah bersama imam, lalu imam ruku’, berdiri, sujud, duduk antara dua sujud dan sujud kedua lalu bangkit sampai berdiri. Sementara orang ini (yaitu ma'mum) tidak mendengar suara takbir, kecuali pada raka'at kedua. Misalnya, dikarenakan suara imam sangat pelan. 

Contoh lainnya, ketika dalam shalat Jum’at, ia (ma'mum) mendengar imam membaca surat al Fatihah kemudian listrik mati -yang menyebabkan pengeras suara ikut mati, sehingga suara imam tidak terdengar- lalu imam menyempurnakan raka'at pertama dan sudah berdiri. Sementara itu, karena suara imam tak terdengar, ada seorang ma'mum yang menyangka imam belum ruku’ di raka'at pertama. Tiba-tiba, ia mendengar imam membaca surat al Ghasyiyah, maka ia (ma'mum) tetap bersama imam, dan raka'at kedua imam menjadi raka'at pertamanya. Sehingga bila imam salam, maka ia (ma'mum) mengqadha raka'at kedua.

Apabila ma'mum mengetahui ketertinggalannya dari imam sebelum imam kembali ke posisinya, maka ia (ma'mum) mengqadha, lalu mengikuti imamnya. 

Contohnya, ada seseorang mengerjakan shalat dengan imam. Lalu, imam ruku’, dan ia tidak mengetahui imamnya sedang ruku’. Ketika imam mengucapkan "sami’allahu liman hamidah", ia mendengarnya. Bila seperti ini keadaannya, maka kepada ma'mum tersebut dikatakan : "Ruku’lah dan berdirilah; setelah itu ikuti imam", sehingga ia mendapatkan raka'at, karena ketertinggalannya berasal dari udzur".
2. Takhalluf tanpa udzur, meliputi dua jenis.

- Takhalluf fi ar rukn (pada rukun ).

Pengertiannya, tertinggal dari mengikuti imam, namun masih mendapati imam pada rukun berikutnya. 
Contohnya, imam ruku’ dan ma'mum masih menyisakan satu ayat atau dua ayat, lalu ma'mum tetap berdiri menyempurnakan kekurangan tersebut. Namun ma'mum itu pun ruku’ dan mendapatkan imam belum bangun dari ruku’nya, maka raka'at tersebut shahih, namun perbuatannya menyelisihi sunnah. Karena, yang disyariatkan adalah memulai ruku’ ketika imam sampai pada ruku’, dan tidak memperlambat yang menyebabkan ia tertinggal, dengan dasar sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

Apabila ia ruku’, maka ruku’lah.

- Takhalluf bi ar rukn (dengan rukun).

Pengertiannya, seorang imam mendahului ma'mum satu rukun, yaitu imam ruku’ dan berdiri sebelum ma'mum ruku’. Para ahli fiqih menyatakan bahwa, hukum takhalluf sama dengan hukum mendahului imam. Apabila tertinggal satu ruku’, maka shalatnya batal, sebagaimana bila mendahului imam.



Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan: "Pendapat yang rajih, sesuai yang kita rajihkan dalam masalah mendahului imam adalah, bila tertinggal satu rukun tanpa udzur, maka shalatnya batal, baik yang tertinggal itu ruku’ atau selainnya". (sumber: almanhaj.or.id)

11 Mei 2014

Tantangan Zaman itu Berbeda: Bersama Bapak Adi Firman Ramadhan

       

            Pak Afran, begitulah nama akrab beliau. Saat ini beliau tercatat sebagai salah satu Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS. Dosen yang bertempat tinggal di Jaten Karanganyar ini juga bertindak sebagai pembina Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Pengkajian Pengamalan Islam (BPPI) FEB UNS. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman beliau sewaktu menjadi mahasiswa yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa. Dua periode beramanah di BPPI, menjadi CEO HMJA, dan juga pernah menjadi Ketua DEMA UNS.
            Suatu senja yang cerah mengiringi langkah kami menuju kediaman beliau. Ramainya jalanan menuju Karanganyar tidak menyurutkan niat kami untuk menimba ilmu dari beliau yang sekaligus menjadi bagian dari IKABI (Ikatan Alumni BPPI). Kami pun tiba dan langsung mendapat sambutan hangat dari beliau. Kami persilakan masuk dan duduk melingkari beliau. Pertama kali beliau menyampaikan terkait dengan DoA (Dompet Alumni). “Melihat banyaknya Ikabi yang memberikan donatur, berarti adanya DoA ini disambut baik oleh alumni” ujarnya. Beliau juga mengatakan bahwa yang terpenting lagi adalah feed back dari adanya DoA ini, karena para alumni juga membutuhkan kejelasan penggunaan dana.
            “Tantangan ketika saya dulu di BPPI adalah adanya anggapan bahwa BPPI itu eksklusif, jarang membaur. Kalaupun membaur itu hanya dengan sesamanya (BPPI, red).” Ucapnya. Beliau meneruskan bahwa tantangan BPPI itu berbeda dari zaman ke zaman. Pejuang BPPI akan senantiasa berbeda dan memiliki karakter tersendiri di setiap zamannya. Kemudahan teknologi saat ini bisa digunakan sebagai sarana dakwah sehingga dakwah yang diperjuangkan akan mampu tersampaikan dengan baik di kalangan civitas akademika.

            Percakapan itu pun akhirnya terhenti karena adzan maghrib sudah berkumandang. Dan akhirnya inilah kunjungan BPPI ke kediaman Bapak Afran telah usai. Semoga ukhuwah ini akan terputus. Dan semoga silaturrahim ini Allah akan memanjangkan umur kita dan membukakan pintu rezeki untuk kita. Amin.  

10 Mei 2014

Bisnis Berlabel Ustad

             
                  Akhir-akhir ini media massa gencar memberitakan seputar pengobatan alternatif yang menuai banyak masalah. Pengobatan alternatif yang disandang para ‘ustad’ ini banyak dipertanyakan karena menuntut pasiennya dengan gelontoran uang yang tidak sedikit. Isu ini pun berkembang sampai kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena menyangkut profesi ustad sebagai penyambung lidah Nabi dan Rasul.
                Apakah Nabi dan Rasul ketika menyampaikan risalahnya menuntut uang atau materi? Allah telah menjelaskan perihal ini dalam Surat Asy-Syu’ara’ (26) ayat 109, 127, 145, 164 yang menjelaskan bahwa nabi dan Rasul tidak meminta imbalan atas ajakan yang mereka lakukan.
“Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakanmu itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.”(Q.S 26: 164)
                Ustad adalah guru. Guru yang mengajarkan ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah dan qouliyah. Ayat kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang bisa dilihat disekeliling kehidupan manusia. Sedangkan ayat qouliyah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ustad memiliki tugas yang sangat mulia, yaitu membersihkan atau menyucikan hati dan jiwa.
                Allah juga menjelaskan diantara tanda-tanda ustad yang memiliki orientasi murni, yaitu:
“Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S Yasiin: 21)

              Ayat ini sudah memberikan penjelasan kepada umat Islam bahwa ustad atau guru pada hakikatnya tidak diperbolehkan memberikan tarif atau balasan jasa/materi tertentu. Namun, ketika dalam beliau berdakwah dan tanpa meminta kemudian diberi materi/jasa, maka itu adalah rezeki dari Allah untuknya dan pantas untuk diterima dan bersyukur atasnya.

PENGAJAR MUDA DI TENGAH MODERNITAS ZAMAN



         
Tak terasa rutinitas ini telah  dijalani sepanjang waktu. Pengabdian ini tanpa terasa telah merasuk ke dalam relung jiwa hingga menghinggapi seluruh tubuh pejuang itu. Padatnya agenda bukan lagi  menjadi penghalang untuk menebar manfaat kepada sesama. Dikala pemuda saat ini dihadapkan pada modernitas zaman yang memukau mata, namun pejuang itu tetap dengan kekuatan tekad, mereka merelakan waktu luangnya untuk mengabdi sepenuhnya untuk masyarakat. Sebuah slogan yang mereka emban adalah “bersinergi, memuliakan hati” menjadi bagian tak terpisahkan dalam merangkai jejak menuju perbaikan generasi.

         Mereka seolah berlomba-lomba dalam kebaikan dan berlomba-lomba untuk mengikis habis pengaruh negatif dari modernisasi zaman yang tidak bisa ditawan. Mereka ingat bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sebelum kaum itu mengubah sendiri nasibnya. Maka langkah pengabdian mereka merupakan langkah awal dalam perbaikan umat menuju generasi muda yang Islami.
       Telah banyak hambatan dan rintangan yang telah mereka alami. Susah, senang, peluh, bahkan tangis telah menjadi satu dalam langkah perjuangan mereka. Namun itu semua ibarat bumbu yang menjadikan langkah perjuangan mereka semakin mantap dan tegak di atas rintangan.
       Mereka selalu mengingat bahwa semakin berat amalan yang mereka lakukan, maka akan semakin besar pula balasan kebaikan yang akan diberikan Allah kepadanya. Dan mereka berharap sumbangsih mereka sedikit banyak mampu mengubah peradaban menuju kemenangan. (Pengajar Muda BPPI 2014)