8 Jun 2014

AKTUALISASI AKHLAK SALAFUSH SHALIH SEBAGAI PILAR AKHLAK PEMUDA MUSLIM GUNA MEMBANGUN INDONESIA YANG BERKARAKTER

AKTUALISASI AKHLAK SALAFUSH SHALIH SEBAGAI PILAR AKHLAK PEMUDA MUSLIM GUNA MEMBANGUN INDONESIA YANG BERKARAKTER

Oleh:
Muhammad Syaban Husein
Universitas Diponegoro

Sudah lebih dari setengah abad Indonesia telah merdeka, lepas dari kepungan para penjajah yang membelenggu negeri ini, sengsara dan ketakutan dialami negeri tercinta selama berabad-abad, namun ditengah-tengah sengsara dan ketakutan tersebut muncul lah kekuatan dan keberanian dari para pemuda Indonesia, mereka muncul disebabkan keinginan untuk lepas dari belenggu para penjajah yang mengepung kedaulatan dan kekuasaan untuk membangun negeri ini, dengan adanya sinergisitas antara ilmu dan keberanian mereka, dan melalui berbagai macam perjuangan  sehingga membuat Indonesia dapat lepas dari kesengsaraan itu semua. 17 Agustus 1945 yang seharusnya menjadi momentum untuk bergerak maju membangun negeri ini, justru seakan-akan penjajah masuk kembali ke dalam negeri ini melalui cara yang berbeda, salah satunya yang paling mengerikan ialah  merasuknya paham-paham yang bercorak kolonialisme, imperialisme, dan juga liberalisme ke dalam jiwa sebagian masyarakat Indonesia, tentu saja paham-paham yang berasal dari barat tersebut tidaklah sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila yang telah dirumuskan oleh Founding Fathers Republik Indonesia.

Soekarno, Mohammad Hatta, dan Mohammad Yamin adalah segelintir Pemuda muslim yang menjadi tonggak kemerdekaan Indonesia, jiwa-jiwa semangat mereka haruslah kembali dihidupkan. Namun pada saat ini beberapa pemuda muslim Indonesia seperti kehilangan arah, tak tahu harus berperan apa dirinya untuk negeri ini. Seharusnya pemuda muslim Indonesia yang diberikan kesempatan untuk lebih berperan aktif dapat memberikan solusi-solusi positif guna membangun bangsa ini. Pemuda muslim yang hebat tidak terlahir begitu saja melainkan harus dibentuk sebaik mungkin dan sedini mungkin, pembentukan sebuah akhlak pastilah dibutuhkan suatu tauladan yang dapat dijadikan contoh, dan kemudian tauladan yang dijadikan contoh tersebut harus dipastikan bahwa kondisi pada saat dimana tauladan tersebut berada terdapat suatu kondisi yang memberi manfaat besar bagi rakyatnya.
Akhlak Salafush Shalih dapat dijadikan pilar akhlak bagi pemuda muslim Indonesia pada saat ini yang telah mengalami kemunduran karena telah dirasuki oleh paham-paham barat yang lebih banyak memberikan dampak negatif sehingga membentuk sebuah sifat yang tentunya tidak diharapkan. Allah SWT berfirman tentang wajibnya mengikuti akhlak Salafush Shalih Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS Surat An-Nisa : 115). Oleh karena itu, melaui essay ini saya akan menyajikan beberapa akhlak Salafush Shalih yang dapat dijadikan pilar akhlak bagi pemuda muslim Indonesia dengan mengaktualisasikan akhlak tersebut dan yang nantinya diharapkan dapat membangun Indonesia yang berkarakter.

Secara terminologis yang dimaksud dengan Salaf adalah para Sahabat Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (Tabi’in) serta pengikutnya (Tabi’ut Tab’in), juga para ulama Islam yang memiliki keilmuan dan kedudukan tinggi dalam agama serta diterima oleh umat secara aklamasi, diterima oleh kaum Muslimin dari generasi ke generasi[1], Salafush Shalih merupakan dari  mereka orang-orang yang paling baik akhlaknya, diantara akhlak Salafush Shalih yaitu :

1.      Jujur dalam segala hal dan menjauhkan diri dari sifat dusta.
     Allah SWT menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Pada zaman ini sifat jujur memang sulit ditemukan, bahkan dusta bertebaran dimana-mana, jujur berarti lurus hati, tidak curang, kejujuran dibagi dalam 3 tingkatan yaitu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan niat. Kejujuran dalam niat[2], merupakan kejujuran tertinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah. Manusia pada saat ini berlomba-lomba dalam mencapai kebutuhan duniawinya dengan menempuh berbagai macam cara, termasuk diantaranya dengan jalan berdusta. Kecurangan seperti mencontek dikalangan mahasiswa sudah dianggap sebagai hal yang lumrah, peristiwa ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, mahasiswa harus menyadari bahwa hal itu dapat meracuni jiwa pemuda islam yang justru seharusnya membangun akhlak kejujuran mulai dari hal yang kecil, seperti jujur dalam menuntut ilmu dengan meluruskan niat dan percaya bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang kita niatkan, karena kejujuran merupakan kunci dari etika dan moralitas yang baik untuk membangun Indonesia yang baru.

2.      Bersungguh-sungguh dalam menunaikan amanah dan tidak khianat.
      Amanah termasuk sifat terpuji yang harus melekat pada setiap pribadi orang yang beriman, kapan dan di mana pun, serta apa pun posisi, profesi, jabatan, dan kedudukannya, akan tetapi pada saat ini banyak pemimpin yang tidak amanah dewasa ini, tindak pidana korupsi merupakan contoh dari seseorang yang tidak amanah dalam menjalankan tugasnya, seseorang yang tidak amanah dalam menjalankan tugasnya dapat dikatakan telah khianat yang termasuk sifat yang buruk (akhlaq madzmumah) yang harus dihindari, dijauhi, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang beriman, Allah SWT berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS Al-Anfal : 27). Pemuda muslim pastilah memiliki amanah, sebagai contoh ialah amanah dari orang tua untuk menempuh pendidikan, orang tua telah mempercayakan hal ini kepada anaknya, sudah seharusnya seorang anak melaksanakan amanah yang diberikan orang tua untuk dilaksanakan sebaik-baiknya dan jangan sampai anak itu melakukan khianat dengan tindakan membolos misalnya. Pemuda muslim harus menanamkan akhlak ini untuk menjaga kepercayaan orang lain dan mendapatkan ridho dari Allah SWT dalam setiap amanah yang diembannya.
3.      Tawadhu (Rendah Hati) dan tidak sombong.
Rendah hati merupakan akhlak yang selalu didambakan setiap orang, karena karena akan membuat orang sekitarnya merasa nyaman dan rendah hati membuat seseorang memiliki ketenangan jiwa, dan sebaliknya kesombongan merupakan awal dari kehancuran seseorang maupun bangsa.  Islam melarang dan mencela sikap sombong, seperti dalam surat An-Nahl : 23 yang berisi tentang ketidak sukaan Allah terhadap sikap sombong. Pada zaman kenabian banyak suatu bangsa yang hancur karena kesombongan seperti kaum Tsamud, bangsa Ad, bangsa Madyan dll[3]. Tidakkah pemuda muslim seharusnya belajar dari kisah-kisah terdahulu, dan membangun sikap rendah hati dengan saling menghargai, tenggang rasa, sederhana, dan memelihara rasa syukur dan ikhlas, pada saat ini dibutuhkan pemuda muslim yang rendah hati dalam berakhlak yang dapat diaktualisasikan dengan cara mahasiswa yang menghargai kemajemukan dikawasan kampusnya, lalu dapat juga tetap berpenampilan sederhana meskipun dirinya anak dari orang kaya. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah melalui perwujudannya akhlak rendah hati, hal itu lah yang membedakan karakter bangsa Indonesia dengan bangsa yang lainnya.
4.      Pemalu
Malu adalah akhlak Islam[4] sebagaimana sabda Rasulullah SAW
Artinya : Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.
Malu merupakan akhlak yang mulia, yang tumbuh untuk meninggalkan perkara-perkara yang jelek sehingga menghalangi dia dari perbuatan dosa dan maksiat, serta mencegah dia dari melalaikan kewajiban. Malu dapat ditumbuhkan pada diri seorang pemuda Islam dengan cara mengenal Allah Azza wa Jalla dengan mengenal keagungan-Nya, dengan menumbuhkan rasa malu, seorang pemuda muslim dapat mencegah terjadinya perbuatan maksiat dan dari memiliki sifat malu juga didapatkan manfaat yaitu ‘iffah (menjaga kehormatan) dan wafa' (setia). Malu yang merupakan bagian dari Iman yang wajib, seharusnya dimiliki oleh setiap Pemuda Muslim, pada kenyataannya saat ini rasa malu benar-benar ditinggalkan oleh sebagian pemuda pemudi muslim, contoh sederhana pada seorang mahasiswi yaitu yang dengan sesuka hatinya menggunakan pakaian yang tidak menutup aurat apalagi jauh sekali dari yang sudah ditentukan oleh syari’at Islam, contoh sederhana lainnya banyak juga pemuda yang kurang baik dalam bertutur kata tentu saja hal itu  bertentangan dengan budaya Indonesia yang sopan dan bermartabat, bagaimana dapat membangun Indonesia yang berkarakter apabila rasa malu saja sudah hilang dalam diri kita.
5.      Banyak bershodaqoh, dermawan, menolong orang-orang yang susah, tidak bakhil/tidak pelit.
Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Hadits tersebut pastilah membuat seseorang yang membacanya untuk mudah dalam memberikan pertolongan kepada orang lain, bagaimana tidak, dengan memberi pertolongan kepada orang lain yang sedang kesusahan, Allah menjanjikan untuk memberikan kemudahan dalam urusan orang yang menolong tersebut. Sangat diperlukan sifat saling tolong menolong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk hal ini pemuda muslim di Indonesia cukup baik dalam penerapannya dengan melakukan suatu aksi penggalangan dana misalnya ketika terdapat saudara kita yang mengalami suatu musibah. Akhlak ini juga dapat diterapkan oleh mahasiswa dengan tidak pelit dalam berbagi ilmu, kemudian dapat juga membuat berbagai macam karya yang nantinya dapat bermanfaat bagi masyarkat luas.
Terdapat suatu percakapan antara Rasululah SAW dengan sahabatnya yang semakin membuat kita untuk berusaha memberikan pertolongan kepada orang lain, Pada suatu hari Rasululah SAW ditanya oleh sahabat beliau : “Ya Rasulullah,  siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling  dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab : “Manusia yang paling dicintai oleh  Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia  yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan  kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain. Dari petikan percakapan diatas dapat kita simpulkan, bahwa Allah SWT mencintai orang yang bermanfaat bagi orang lain dengan cara memberikan pertolongan, Siapalah dari kita yang tidak ingin dicintai oleh Allah SWT?

6.      Lembut Hatinya, mengingat mati dan akhirat, takut su’ul khatimah
Karakter masyarakat Indonesia yang sudah dikenal dunia dengan mempunyai sifat yang lembut hati dan murah senyum tentunya perlu dipertahankan, salah satunya melalui para pemuda muslim yang dapat mengaktualisasi kelembutan hati ini dengan cara bertutur kata yang baik, tidak berburuk sangka, menghilangkan sifat iri dengki, tidak menyakiti perasaan orang lain, dan sifat lainnya yang berhubungan dengan kelembutan hati. Akhlak selanjutnya ialah mengingat kematian, tidak ada kepastian dalam dunia ini kecuali kematian, seperti yang sudah di firmankan Allah SWT “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS. Luqman : 34)   Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Pemuda muslim sudah saatnya untuk selalu mengingat kematian, Mahasiswa yang padat agenda kuliahnya dan memiliki kesibukan dalam organisasi sudah selayaknya harus tetap berorientasi kepada Allah SWT, niatkan selalu inna sholati wa nusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin. Makhluk Allah Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, dengan tidak adanya satupun dari kita yang tahu kapan kematian itu akan datang, maka semakin memicu pemuda muslim untuk terus berbuat kebaikan, manfaat lain dari mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Kematian yang pasti dialami manusia itu diharapkan untuk berakhir dengan keadaan yang baik, maka dari itu pemuda muslim haruslah takut terhadap akhir kehidupan yang buruk (su’ul khatimah), terdapat beberapa hal yang menyebabkan seseorang meninggal dalam keadaan yang buruk, yaitu kerusakan dalam aqidah, banyak melakukan maksiat, tidak istiqomah, dan iman yang lemah, dan ketika sakratul maut tiba, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya.

Untuk membentuk suatu negara menjadi negara yang berkarakter, terlebih dahulu harus membentuk masyarakatnya menjadi berkarakter, dan pemuda muslim sebagai pasukan pembangun bangsa dimasa yang akan datang perlu dibentuk akhlaknya dengan suatu akhlak yang kuat dan berkarakter terpuji sesuai dengan syakhsiyah Islamiyah (keperibadian Islam), disini melalui penerapan akhlak Salafush Shalih yang sudah terbukti mampu untuk membangun sebuah bangsa, kemudian dipelajari dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari daripada pemuda muslim, yang diharapkan dengan penerapan akhlak Salafush Shalih dapat mewujudkan Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur yang merupakan cita-cita seluruh bangsa di dunia, dan hanya dengan segala usaha dan kerjakeras beriring doa maka impian dan harapan suatu kaum akan terlaksana melalui para pemuda muslimnya yang berkomitmen untuk terus berada dijalan Allah SWT dengan memegang teguh aqidahnya.



[4] Qadir Jawas, Yazid bin Abdul. 2008. Prinsip Dasar Islam Menurut Al-Quran dan As-sunnah yang Shahih. (Bogor: Pustaka At-Taqwa) h.248

[3] Madain Shaleh, “Sisa-sisa kehancuran kaum Tsamud” dalam alamat http://hermadut.blogspot.com/2012/10/sisa-sisa-kehancuran-kaum-tsamud.html Diakses pada Tanggal 8 April 2014 Pukul 17.45 WIB


[2]“Membangun Karakter dengan Kejujuran” Dalam Alamat http://www.mediatadulako.com /index.php/2012-10-23-17-27-33/2012-10-23-17-4731/ editorial /172-membangun-karakter-dengan-kejujuran Diakses pada Tanggal 7 April 2014 Pukul 19.20 WIB


[1] Lilik Ibadurrohman, “Siapakah Salafus Shalih?” dalam alamat http://muslim.or.id/ manhaj/siapakah-salafus-shalih.html  Diakses pada Tanggal 6 April 2014 Pukul 20.14 WIB

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar