24 Mei 2013

Makna Hijab dalam Organisasi Islam 2



Di Dalam Pake Hijab, Di Luar Kagak…
            
Fenomena yang kadang membingungkan beberapa pegiat dakwah, saat di sekre alias markas dakwah, pake hijab. Namun saat di luar, ternyata yang ikhwan dan akhwat nampak bicara begitu saja tanpa hijab. Gimana nih? Untuk masalah ini, ada beberapa alasan.

 Menjaga pergaulan dengan lawan jenis sering terkendala dengan 'bebas'-nya suasana di lingkungan pergaulan umum
                 
Pertama, keadaan di luar kan gak memungkinkan adanya hijab. Di jalan, di lapangan, dan tempat lain yang cenderung terbuka jelas sangat sulit dikasih hijab sebagai pembatas laki-laki perempuan. Dalam kasus ini, ya hendaknya pihak-pihak terkait ‘sadar diri’. Kalau merasa dirinya laki-laki, ikhwan, ya jaga batas-batas dengan lawan jenis. Begitu pula sebaliknya. Terus, gimana bentuk ‘menjaga batas’ dengan lawan jenis?


Saling melihat? Imam Nasa'i meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu –semoga Allah meridhai-Nya- bahwa seorang wanita dari Khats'am meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaih wa salam pada waktu haji wada' dan al-Fadhl bin Abbas (sepupu Nabi) pada waktu itu membonceng Rasulullah shallallahu ‘alaih wa salam. Kemudian Imam Nasa'i menyebutkan kelanjutan hadits itu, “Kemudian al-Fadhl melirik wanita itu, dan ternyata dia seorang wanita yang cantik. Rasulullah shallallahu ‘alaih wa salam lantas memalingkan wajah al-Fadhl ke arah lain.”

Campur baur? Istilah kerennya Ikhtilat. Sedangkan makna ikhtilat secara bahasa berasal dari kata ikhtalatha-yakhtalithu-ikhtilathan, maknanya bercampur dan berbaur. Maksudnya bercampurnya laki-laki dan wanita secara kolektif dalam suatu aktifitas bersama, tanpa ada batas yang memisahkan antara keduanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaih wa salam pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata, “Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bagian tengah jalan, bagian kalian adalah pinggir jalan.” (HR. Abu Dawud). Jadi, beri ‘jarak’ antara laki-laki dan perempuan.

Kedua, di ruangan tertutup kan peluang ‘saling melirik’ ikhwan akhwat bertambah besar daripada di luar. Kalo di dalam ruangan, kita seolah ‘terisolasi’ dari dunia luar. Fokus perhatian kita juga lebih terpusat dengan hal yang ada di dalam ruangan tersebut. nah, jika yang di dalam ruangan tersebut campur laki-laki perempuan, sudah ketebak kan? Saling ‘memperhatikan’ lawan jenis menjadi sesuatu yang nggak bisa dihindari, terlebih remaja merupakan saat ‘panas-panasnya’ tertarik dengan lawan jenis, kan.. Oleh karenya, penggunaan hijab menjadi sangat urgen, khususnya di dalam ruangan.

Ketiga, kalau di ruangan yang tanpa hijab, seperti di ruang kelas? Itu kembali ke point pertama. Pihak terkait harus lebih ‘sadar diri’.


Memberi Salam Kepada Lawan Jenis
                
Sekedar info, bolehkan seorang laki-laki memberi salam kepada wanita non-mahram, begitu pula sebaliknya?
                
 Al-Hulaimi berkata, “Barangsiapa yang yakin terhadap dirinya selamat dari fitnah, hendaknya dia mengucapkan salam dan bila tidak maka diam lebih utama.

Al-Muhallab juga berkata, “Salamnya kaum laki-laki kepada wanita atau sebaliknya hukumnya boleh apabila aman dari fitnah. (Lihat pula Syu’abul Iman (6/461) oleh Imam Baihaqi).


Sulit?

Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang nggak mudah, terlebih di tengah era kebebasan seperti ini. Namun, jangan merasa ini jadi semacam beban. Enjoy aja. Jalani secara bertahap. Perlahan berproses menjadi semakin lebih baik.

Ingat tujuan dari organisasi dakwah dan tujuan kita hidup. Juga sering-sering aja kumpul dengan temen-temen yang shalih. Insya’Allah, kita bisa menjalaninya dengan baik, kok. Percaya deh!! (Mbok di aamiin-i to yo…)
  
Dalam beberapa kasus, kok ada beberapa aktivis dakwah yang berinteraksi dengan lawan jenis sampai ‘melampaui batas’? Gak usah bingung, tinggal dinasehati saja. Dengan bahasa yang penuh hikmah tentunya.


Ingat Tujuan

Nah, kita kembali ke awal. Tentang tujuan dan orientasi organisasi dakwah dan yang semisalnya.

Ingat, orientasi dan tujuan kita di organisasi dakwah adalah karena Allah Ta’ala. Jadi tentu saja, untuk meraih ridha-Nya, tentu kita harus berjalan sesuai koridor yang telah ditetapkan-Nya. Salah satunya penjagaan lawan jenis.

 Jangan sampai salah arah dalam menapaki tujuan

Untuk apa proker sukses menghadirkan ribuan massa, tapi esensinya nggak ada? Organisasi dakwah nggak hanya bertujuan mencari massa, tapi lebih sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan meraih ridha-Nya. Proker sukses tapi mengorbankan kesucian diri dengan berinteraksi bebas dengan lawan jenis malah sampai jatuh ke hal-hal yang diharamkan? Tentu itu sia-sia saja. Sekali lagi, ingat tujuan dan orientasi lagi.

Plus, aturan hijab ini sama sekali bukan untuk membelenggu gerak dan langkah manusia untuk bermuamalah, kok. Justru sebaliknya, agar muamalah dapat berjalan lebih baik, terhindar dari fitnah, dan lebih menyucikan.

Sekali lagi, prinsip yang mendasari aturan hijab ini, dalam ajaran Islam, disebut saddudz dzara’i (tindakan preventif) untuk menutup pintu-pintu maksiat dan kemudharatan, menghindari berhembusnya angin fitnah.



Referensi:
Tulisan dari Ketua Umum BPPI RoRo (Rongewu Rolas atau 2012), Anggel Dwi Satria, dan Ketua Bidang Nisaa’ BPPI RoRo, Wulan Hastuti. Semoga selalu diberi keistiqamahan dalam jalan Islam hingga meraih jannah-Nya.
http://abiubaidah.com/
http://blog.re.or.id 
https://id-id.facebook.com/Alquransebagaipedomanhidupini/posts/483387151702856

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar