16 Jul 2012

Prahara Besar di Pertengahan Ramadhan


Sempat beredar hadits yang menjelaskan tentang sebuah prahara yang amat besar, sampai-sampai dikatakan bahwa manusia hanya tersisa sepertiganya saja. Kegemparannya semakin bertambah tatkala berdasarkan waktu prahara besar yang diceritakan dalam hadits, banyak yang meyakini bahwa prahara itu jatuh di pertengahan bulan Ramadhan 1433 H (alias tahun ini) pada hari Jum’at.


Isu kiamat 2012 yang sempat mewabah beberapa tahun silam seolah mendapat statemen penguat dari sabda Nabi akhir zaman, Muhammad s’aw.

Hadits Prahara Ramadhan

Inilah bunyi teks hadits yang dimaksud.



Nu’aim ibn Hammad berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Umar, dari Ibnu Lahi’ah, ia berkata,
“Telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab ibn Hushain, dari Muhammad ibn Tsabit Al-Bunani, dari ayahnya, dari Al-Harits Al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi s’aw bersabda,
“Bila telah muncul suara keras di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram…”
Kami bertanya, “Suara apakah itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, Pada pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jum’at, akan terdengar suara dentuman keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jum’at di tahun terjadinya banyak gempa.
Jika kalian melaksanakan shalat Shubuh pada hari Jum’at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian.
Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah, “Subhanallahi Al-Quddus! Subhanallahi Al-Quddus! Rabbuna Al-Quddus!”
Barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat. Namun barangsiapa yang tidak melakukan hal itu, niscaya akan binasa!”
{Hadits ini diriwayatkan oleh Nu’aim ibn Hammad di dalam kitab Al-Fitan I/228, No. 638, dan Alauddin Al-Mutaqqi Al-Hindi di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, No. 39627}

Dalam hadits tersebut disebutkan waktu prahara, pertengahan bulan Ramadhan, malam Jum’at. Jika kita hitung kalender hijriah berdasarkan perhitungan, kita akan dapati pertengahan Ramadhan memang jatuh di hari Jum’at.

Menyikapi Hadits

Sebelum merespon hadits dan mendengar berita suatu riwayat, terlebih dahulu diperhatikan akurasi sanadnya. Terlebih dalam permasalahan hadits yang menyangkut perkara ghaib, seperti kejadian di alam lain ataupun di masa mendatang. Harus dicari tahu terlebih dahulu, riwayat tersebut masuk kriteria maqbul (diterima sebagai dasar) atau tidak. Gampangnya, haditsnya shahih atau tidak. Metode kritik sanad dan matan inilah yang dengan izin Allah Ta’ala menjadikan hadits Rasulullah s’aw sebagai sumber ajaran Islam yang tetap terjaga kemurniannya dari kontaminasi perubahan dan pemalsuan.

Para ‘ulama’ di bidang hadits telah memberikan komentar terhadap riwayat di atas. Al-‘Uqaili (dalam Adh-Dhu’afa Al-Kabiir 3/58) menyebutkan, “Hadits ini tidak ada sumbernya dari riwayat yang tsiqah (terpercaya) dan kokoh.”

Ibnul Jauzi menyatakan dalam kitabnya Al-Maudhu’at 3/191, “Ini adalah hadits palsu yang dialamatkan kepada Rasulullah s’aw.”

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Manarul Munif mengatakan, “Ada hadits-hadits yang tidak shahih tentang peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, seperti hadits… (lalu beliau menyebutkan hadits di atas)”

Dari berbagai penjelasan singkat sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa hadits ini tidak masuk kriteria maqbul alias tidak diterima sebagai dasar. Hendaknya kita mengambil rujukan yang kuat (shahih) dan terpercaya dalam menyikapi suatu berita, terlebih yang mengatasnamakan Rasulullah Muhammad s’aw.

Bernafas Lega?

Lantas, apakah lemahnya hadits di atas menjadikan kita bernafas lega? Sebagai seorang yang bijak, hendaknya kita tetap harus waspada.

Berbagai prahara besar yang terjadi, seringnya tak diprediksi banyak orang sebelumnya. Tsunami yang menyapu Provinsi Aceh bersama beberapa negara lainnya, gempa Yogya, letusan Merapi, badai, dan lain-lain merupakan salah satu dari berbagai prahara yang tak diduga manusia sebelumnya. Tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan.

Hal ini hendaknya menjadikan kita belajar, prahara bisa datang di mana saja kapan saja. Saat anda selesai membaca artikel ini, saat selesai makan, pada saat terlelap di malam hari, saat berkumpul bersama keluarga, dan lainnya. Seharusnya kita harus terus waspada., tanpa menunggu ramalan bencana (malah dosa ujung2nya) ataupun prediksi lain.
Ada baiknya kita simak hadits di bawah ini,

Anas bin Malik r’a (radhiallahu ‘anhu, semoga Allah meridhainya) mengatakan bahwa,
”Seseorang datang menemui Rasulullah s’aw dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Kapan akan terjadi kiamat?’ Beliau bersabda, ‘Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?’ Ia menjawab, ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya engkau akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini memberikan pelajaran bagi kita semua. Hendaknya kita tak terlalu fokus kepada waktu terjadinya prahara, bencana, ataupun kiamat karena memang hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang mengetahui itu semua. Namun hendaknya kita lebih fokus pada persiapan kita menyambutnya.

Sumber : Majalah Islam Ar-Risalah edisi 133 dengan penyesuaian dari redaksi

Wallahu a'lam..

Nilai Artikel

7 komentar :

  1. Mantaf gan.........

    BalasHapus
  2. manfaat nih

    BalasHapus
  3. bisa buat siap2 nih,

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat , bukan hanya sekedar dibaca, tetapi juga seharusnya di amalkan , mempersiapkan diri untuk menghadap Allah S.W.T nantinya .

    BalasHapus
  5. Artikel bagus, sudah bisa mengilangkan rasa penasaran saya

    BalasHapus