1 Jul 2014
Edisi Ramadhan: Mau Berdakwah Kok Nunggu Sempurna?
Alhamdulillah masih diberikan banyak kenikmatan oleh Allah. Baiklah dalam edisi 3 Ramadhan kali ini, kita akan mengkaji tentang problematika seseorang yang ingin berdakwah. Adakalanya kita dibenturkan pada permasalahan sudah pantaskah kita berdakwah?? Kita mulai dengan melihat Q.S Ali-Imran ayat 104:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung."
Makna yang dimaksud dari ayat ini ialah hendaklah ada
segolongan orang dari kalangan umat ini yang bertugas untuk mengemban urusan
tersebut, sekalipun urusan tersebut memang diwajibkan pula atas setiap individu
dari umat ini.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim
dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw.
pernah bersabda : “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia
mencegahnya dengan tangannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya.
Dan jika masih tidak mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah
selemah-lemah iman.”
Di dalam riwayat lain disebutkan : “Dan tiadalah dibelakang itu (selain dari itu) iman barang
seberat biji sawi pun.”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami
Sulaiman Al-Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ja’far, telah
menceritakan kepadaku Amr ibnu Amu Amr, dari jarullah ibnu Abdur Rahman
Al-Asyhal, dari Hudzhaifah ibnu Yaman, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda :
“Demi Tuhan yang
jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kalian benar-benar harus
memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, atau
hampir-hampir Allah akan mengirimkan kepada kalian siksa dari sisi-Nya,
kemudian kalian benar-benar berdoa (meminta pertolongan kepada-Nya), tetapi doa
kalian tidak diperkenankan.”
Nah dari penjelasan singkat ini sudah jelas menggambarkan bahwa Allah mewajibkan kita sebagai hamba-Nya untuk berdakwah. Namun pertanyaan kemudian muncul adalah apakah boleh kita berdakwah sedangkan kita masih belum sempurna?? Baiklah kita akan melihat bahwa derajat kesempurnaan itu sangatlah susah dan sebagaimana kita mengetahui bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa.
Mungkin ada dua hal yang banyak dipermasalahkan terkait ketidaksempurnaan, yaitu ilmu dan sikap/sifat. Kita lihat hadits Rasulullah:
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)
Ketika kita menguasai bahkan hanya satu ayat maka sampaikanlah. Kita berdakwah sambil menuntut ilmu. Jadi alasan tidak memiliki ilmu hanyalah alasan yang dibuat-buat agar menghindar dari tugas berdakwah.
Kedua adalah karena alasan sikap/sifat. Jika ditanya seperti ini, "Maukah engkau jadi pengisi kultum ramadhan atau mentor?" Ia menjawab, "Saya? Dengan masa lalu yang kelam dan penuh dengan tindakan kriminal anda menyuruh saya menjadi penceramah? Tidak. Carilah orang lain." Jawaban ini menunjukkan bahwa dia ingin membenturkan dirinya pada masa lalunya yang negatif sehingga komitmen untuk berdakwah akhirnya luntur karena alasan yang dibuat-buat. Maka marilah kita melihat kisah sahabat Rasulullah, yaitu Umar bin Khattab. Betapa beliau dahulunya adalah penyembah berhala, penentang Islam, bahkan sudah mengambil pedang dan ingin membunuh Rasulullah, beliau tetap menempati posisi sahabat yang mulia. Dan bahkan beliau dipercaya menjadi pemimpin umat.
Maka, marilah kita memulai diri untuk bisa menebar kebaikan, sehingga kita tergolong ke dalam hamba-Nya yang beruntung. Dan momentum bulan Ramadhan ini adalah saatnya kita belajar menjadi manusia yang bermanfaat kepada manusia yang lain dan menjadikan diri kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur.
Edisi Ramadhan: Udah Imsak, Nggak Boleh Makan
Bulan Ramadhan telah tiba, hiruk pikuk lantunan ayat suci dan dzikir mulai mewarnai kembali serambi-serambi masjid diseantero negeri. Bulan puasa penuh berkah menjadi momentum bagi umat muslim dunia untuk menguji nafsu yang sekian lama lalai untuk dijaga: nafsu makan berlebihan disaat yang lain kelaparan, nafsu mebelanjakan harta untuk sesuatu yang kurang bermanfaat sedang saudara kita yang lain sedang dalam kesulitan harta dan masih banyak lagi. Nah lo.
Bicara tentang puasa, Apa sih puasa itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, puasa didefinisikan sebagai salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Lazimnya seorang muslim muslim mulai menahan haus dan laparnya ketika Adzan Subuh sudah berkumandang. Namun dibeberapa kalangan masyarakat, ada yang secara tegas memperkenalkan istilah “imsak” sebagai waktu untuk mulai berpuasa. Bener gak ya? Terus kalau sudah imsak baru bangun gimana?
Allah berfirman: "Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187). Ibnu Katsir menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan penegasan waktu “fajar” sebagai batas akhir bagi seorang muslim untuk memulai puasanya. Hal ini sejalan dengan hadits riwayat Adi bin Hatim RA: Ketika turun firman Allah diatas, maka Adi bin Hatim berkata kepada Rasulullah Saw: Wahai Rasulullah, sungguh saya meletakkan benang berwarna putih dan benang berwarna hitam di bawah bantalku, sehingga aku dapat mengenali antara waktu malam dan waktu siang hari. Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya bantalmu itu sangat lebar. Sesungguhnya yang dimaksud adalah hitamnya (gelapnya) malam dan putihnya (terangnya) siang pada saat fajar. (Shahih Bukhari No. 1824)
Tidak sampai disitu, dalam kitab Silsilah Ahadits Shahihah (Kumpulan hadis-hadis shahih), pada keterangan hadis No 1394, secara tegas disebutkan beberapa riwayat, dari Bilal bin Rabah radhiyallahu `anhu, beliau menceritakan,"Saya mendatangi Nabi shallallahu `alaihi wa sallam memberi tahu beliau untuk Salat Subuh. Ketika itu, beliau hendak puasa. Beliau minta dibawakan air dan beliau meminumnya. Kemudia beliau berikan sisanya kepadaku, dan akupun meminumnya. Kemudian beliau menuju masjid untuk salat." (Riwayat Ahmad). Jadi sudah tau sekarang, boleh makan ga? (Boleh banget)
Berarti imsak itu kebohongan? Terlepas dari definisi waktu imsak yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Pengumuman dan pencantuman waktu imsak diselebaran bukannya tanpa alasan dan tetap ada gunanya. Waktu imsak seringkali digunakan oleh takmir masjid sebagai peringatan segera berakhirnya waktu sahur dan dimulainya berpuasa, biasanya diumumkan 10-15menit sebelum masuk waktu subuh. Oleh karena itu, hukum makan dan minum setelah imsak masih diperbolehkan asal belum masuk waktu subuh ya (hihi). Yah, mungkin bahasa kerennya “pemanasan” atau “stretching”. Selain itu, kita harus bisa atur strategi. Kalau tidak ada kegiatan yang bermanfaat atau daripada begadang menunggu bola lewat lebih baik tidur diawal waktu biar tidak kesiangan dan kegiatan sahur bisa dijalani dengan lebih maksimal. Luruskan niat, jalani Ramadhan dengan penuh semangat (NS)
Dugderan: Romantisme Jelang Ramadhan
![]() |
| Salah satu pedagang gerabah yang ikut memeriahkan dugderan. (Foto: Harsem/Cun Yahya, dari http://hariansemarangbanget.blogspot.com/ 2012/06/pedagang-dugderan-mulai-berdatangan.html) |
Banyak
orang berlalu lalang memenuhi Pasar Johar siang itu. Pasar tak hanya dipenuhi
oleh ibu-ibu seperti hari-hari biasa. Hari itu, hari terakhir Bulan Sya’ban.
Esok hari Ramadhan tiba. Semua keluarga berkumpul disana. Dugderan, mereka
menyebutnya.
Seorang anak kecil
berumur 10 tahun terhimpit banyak orang di gendongan ayahnya. Kedua tangannya
ia kalungkan di leher ayahnya. Tepat di depannya perempuan berumur 30 an
berjalan melawan kerumunan orang-orang mencarikan jalan untuk mereka.
”Dolanane Bu, dolanane.”
Teriak salah satu pedagang. Setiap dugderan,
pedagang-pedagang berjualan barang-barang terbuat dari tanah liat yang dicat
berwarna-warni sehingga terlihat lebih menarik. Barang-barang dari tanah liat
ini dibentuk menjadi piring, teko, gelas, dll dalam ukuran kecil. Oleh karena
itu, biasanya orang-orang membeli barang-barang tersebut untuk anak-anak mereka
sebagai sarana bermain. Satu keluarga tadi pun tergiur untuk mampir di tempat barang-barang unik
tersebut.
Sebuah
Tradisi Jelang Ramadhan
Dugderan
telah
menjadi tradisi menjelang Bulan Ramadhan di Kota Semarang. Kegiatan ini
berpusat di Pasar Johar. Di hari dugderan,
Pasar Johar sangat penuh oleh orang-orang. Selain untuk berbelanja, meraka juga
berniat untuk menyambut meriah Bulan Ramadhan yang akan datang keesokan
harinya. Tak heran jika dugderan
menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kota Semarang apabila bulan
suci Ramadhan akan segera tiba.
Sebuah
Romantisme
Arena pasar Dugderan seperti biasanya diramaikan
arena permainan anak-anak seperti komedi putar, tong setan hingga hiburan pasar
malam. Keramaian pasar rakyat ini akan berakhir pada puncak
tradisi Dugderan satu hari menjelang
1 Ramadhan yang ditandai dengan arak-arakan dugderan
yang dimulai dari halaman Kantor Walikota menuju Masjid Kauman Semarang
Begitulah Dugderan menghadirkan gegap gempita, bukan hanya dimaknai sebagai sebuah tradisi, tetapi menjadi kebahagiaan akan datangnya bulan yang mulia: Bulan suci Ramadhan. Selamat berlomba-lomba dalam kebaikan.
(Ditulis oleh Devi Setianingsih dalam Pelatihan Jurnalistik Internal Media Komunikasi dan Informasi BPPI, 24-25 Juni 2014. @devi_setia20)
29 Jun 2014
Edisi Ramadhan: Jadi Kangen Adzan Maghrib
Alhamdulillah akhirnya
kita dipertemukan oleh Allah dengan bulan Ramadhan. Senang sekali rasanya
menjalani hari-hari dimana Allah SWT membuka surga seluas-luasnya, menutup
neraka serapat-rapatnya, dan membelenggu syetan sekuat-kuatnya. Kita juga
menjalani hari-hari penuh berkah, ampunan, dan rahmat, serta
keutamaan-keutamaan lain yang disuguhkan hanya di bulan Ramadhan.
Allah SWT telah
berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
Firman Allah inilah
yang menjadi dasar dari disyariatkannya perintah puasa bagi umat muslim. Dengan
diwajibkannya puasa Ramadhan berserta
segala keutamaan yang ditawarkan Allah kepada manusia ini menjadi sebuah
kenikmatan yang sangat dinanti kedatangannya. Seluruh umat muslim di dunia
bahagia karenanya. Senyum pun terpancar jelas dari muka manisnya. Segala
keutamaan yang diberikan Allah ini adalah kenikmatan yang patut kita syukuri.
Berbahagialah bagi sesiapa yang mampu memanfaatkannya dan merugilah bagi
sesiapa yang tidak dapat mengambil manfaat darinya.
Menjalankan puasa
berarti meninggalkan makan dan minum dari terbit fajar hingga tenggelamnya
matahari. Nha yang paling penting adalah bagaimana kita mampu menjaga hawa
nafsu kita untuk tidak melanggar perintah itu. Sobat sekalian pasti butuh makan
kan?? Kalau
ga makan sehari aja pasti udah puyeng (hehe). Inilah yang Allah inginkan, yaitu ingin
menguji kepada hamba-Nya bagaimana manusia itu mampu menghindari sesuatu yang
dilakukannya sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok.
Lebih dari itu
momentum Ramadhan ini adalah ajang bagi kita untuk menjaga diri dari perbuatan
dosa dan sia-sia. Karena sedikit saja kita melakukan perbuatan yang sia-sia,
maka akan mengurangi pahala puasa kita. Nah, selama sebulan ini kita dilatih
untuk menghindari tingkah, laku, ataupun sikap kita yang negative kemudian
berganti dengan amalan-amalan yang bisa jadi susah kita lakukan di bulan-bulan
selain bulan Ramadhan.
Jadi kangen adzan
maghrib??? Ehmmm, boleh kangen asalkan waktu selama menunggu buka puasa itu
kita gunakan untuk perbuatan yang bermanfaat. Jangan ngabuburit yang kagak
jelas, yang jalan-jalan lah, yang maen musik lah, dsb.. Tetapi waktu-waktu kita
menunggu berbuka puasa itu kita gunakan dengan membaca Al-Qur’an atau ikut
majelis ilmu. Wah ketika seperti itu kangen kita terhadap adzan maghrib sudah
terbayarkan tuh. No ngeluh, no males. Semoga Ramadhan kali ini lebih indah.
25 Jun 2014
Salah Tafsir: Buka Puasa Dengan Makanan dan Minuman yang Manis Ternyata Tidak Baik Bagi Tubuh
Sebentar
lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan. Bulan dimana amalan yang kita
perbuat akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Dalam bulan puasa, hal yang paling
dinanti adalah saat adzan maghrib. Dimana saat itu, umat muslim diwajibkan
untuk membatalkan puasa dan menyegerakan berbuka. Sering kita dengar kalimat
“Berbukalah dengan makanan atau minuman yang manis”. Konon, hal itu dicontohkan
oleh Rasullullah SAW. Benarkah demikian? Mari kita kaji bersama-sama.
Dari
Anas bin Malik berkata : “Rasullullah berbuka dengan rutab (kurma yang lembek)
sebelum shalat. Jika tidak ada rutab, maka beliau berbuka dengan kurma kering
sambil meneguk air”. Ahmad dan Abu Dawud juga meriwayatkan dalam haditsnya : “
Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan
kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu
suci”. Jadi Rasullullah bila berbuka, maka beliau makan kurma. Kalau tidak
mendapatkan kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Pertanyaannya, samakah
kurma dengan manisan? Tentu tidak. Kurma adalah karbohidrat kompleks.
Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis adalah
karbohidrat sederhana. Darimana asal-muasal sebuah kebiasaan berbuka dengan
yang manis? Tidak jelas. Hal ini malah berkembang dalam masyarakat, seakan-akan
berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis merupakan sunah Rasul.
Sebenarnya tidak demikian. Bahkan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang
manis (penuh dengan gula) justru merusak kesehatan.
Berbuka
puasa dengan makanan dan minuman yang manis dapat merusak kesehatan, karena
ketika berpuasa kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana dicontohkan
oleh Rasullullah adalah karbohidrat kompleks bukan karbohidrat sederhana
(gula). Karbohidrat kompleks untuk menjadi glikogen diperlukan proses, sehingga
membutuhkan waktu. Sebaliknya, kalau mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis
gula darah langsung melonjak naik. Hal ini tidak sehat bagi kesehatan tubuh.
Sekarang
mari kita bicara mengenai indeks glikemik (GI). Glycemic Index (GI) adalah laju
perubahan makanan yang diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glycemic
index dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan
demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respon insulin. Para praktisi
fitness atau pengambil gaya hidup sehat akan sangat menghindari makanan yang
memiliki indeks glikemik tinggi. Sebisa mungkin mereka akan mengkonsumsi
makanan yang indeks glikemiknya rendah. Hal ini, karena makin tinggi respon
insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Timbunan lemak inilah yang
sebisa mungkin mereka hindari.
Dalam
puasa kita harus mampu menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 15 jam.
Otomatis perut kita kosong. Jadi kalau seharian perut kosong dan langsung
dibanjiri dengan gula (makanan yang mengandung indeks glikemik tinggi), maka
respon insulin dalam tubuh melonjak. Dengan demikian, tubuh akan makin cepat
menimbun lemak.
Salah
seorang sufi menganjurkan apabila berbuka puasa jangan langsung makan dulu.
Minum air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah sholat, makan nasi
seperti biasa. Jangan sering makan yang manis-manis, karena dapat merusak badan
dan menimbulkan penyakit. Beliau juga menyarankan agar tidak terlalu sering
makan kurma, karena kurma di Indonesia berupa manisan kurma dan bukan kurma
asli. Manisan kurma, kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.
Beliau juga menyarankan untuk makan nasi bila berbuka. Karena, nasi merupakan
karbohidrat kompleks dan memerlukan waktu untuk diproses dalam tubuh. Sehingga
respon insulin dalam tubuh tidak langsung melonjak. Karena respon insulin
rendah, maka timbunan lemak yang terdapat dalam tubuh juga sedikit.
Banyak
sekali orang yang makan dan minum yang manis-manis saat berbuka puasa, justru
tubuhnya semakin gemuk karena ada timbunan lemak di daerah perut, pinggang,
paha, belakang lengan, pipi dan sebagainya. Hal ini karena mereka langsung
membanjiri tubuh dengan makanan yang mengandung indeks glikemik tinggi,
sehingga tubuh menimbun lemak.
Kesimpulan
saya, “Berbukalah Dengan yang Manis-Manis” merupakan paham yang kurang tepat
dan terlalu tergesa-gesa. Karena berbuka puasa dengan kurma merupakan sunah
Rasul, maka muncul anggapan bahwa disunahkan berbuka puasa dengan yang
manis-manis. Pada akhirnya kalimat ini menjadi suatu paham dan memunculkan
budaya berbuka puasa yang keliru ditengah masyarakat. Jadi saran saya, jangan
mudah terpengaruh oleh paham yang begitu melekat di masyarakat. Periksa dulu
kebenarannya. (AY)
Semoga
bermanfaat.
19 Jun 2014
Tidak Sampai Seujung Kuku?? Dilema Seorang Aktivis Dakwah
Kadangkala kita berpikir betapa susahnya kita membawa amanah kebaikan, tetapi ujung-ujungnya hanyalah kekecewaan. Pernah kita berpikir, apa yang sudah kita persembahkan demi jalan kebaikan ini berujung pada kesia-siaan. Betatapun kita mencoba tetapi hasilnya sama saja. Apa yang kita harapkan terwujud hanyalah menjadi angan-angan tak berujung.
Siapa yang patut dipersalahkan?? Marilah sejenak kita melihat betapa naifnya ketika kita saling mempersalahkan hanya demi perasaan tak menentu. Merasa dikecewakan karena usaha kita tidak ada ujungnya. Maka sejenak lihat sekitar kita. Terkadang penilaian kita hanya tertuju pada lingkup pemikiran yang sempit. Maka luaskan wawasan kita tentang jalan kebaikan ini. Bagaimana dahulu pemegang amanah kebaikan ini berjuang dengan gigihnya. Patutlah kita berkaca pada para pendahulu. Yaa inilah jalan dakwah. Jalannya panjang, pendukungnya sedikit, dan banyak rintangannya. Dan saya yakin penderitaan yang kita rasakan, kegalauan yang kini menyelimuti hanyalah perkara yang biasa dibandingkan dengan para pendahulu dakwah.
Teringat kisah Sumayyah binti Khabath seorang wanita pertama yang mati syahid karena keteguhan hatinya membela agama Allah. Betapapun beliau disiksa, ditindih batu besar di bawah panas teriknya lautan pasir Mekkah, hingga akhirnya mengalami kesakitan yang sangat, namun beliau tetap meninggikan kalimat Allah dan menolak segala jenis upaya menggoncangkan aqidah. Allahuakbar. Rentetan kisah ini sungguh tiada akhirnya. Harta, keluarga, bahkan nyawa menjadi harga mati yang dipertaruhkan demi membela agama Allah. Tiada kata kecewa, lelah, ataupun takut di benak mereka, karena keyakinan yang kuat akan janji Allah SWT.
Terkadang ketika logika kita berpikir, bagaimana ya kalau dahulu Rasulullah itu galau dalam perjuangan dakwahnya. Dilempari kotoran, dijuluki sebagai tukang tenung atau penyihir, bahkan dilempari batu, terus Rasulullah ngambek gitu. Ya Allah. Justru dengan kerasnya perlawanan kaum kafir justru itu menjadi pijakan penyemangat bagi diri Rasulullah untuk menyebarkan panji-panji Islam ke pelosok negeri. Hebatnya adalah tanpa perasaan galau, marah ataupun jengkel Rasulullah tetap meneruskan perjuangannya meskipun perlawanan yang dilancarkan semakin keras.
Bagaimana dengan kondisi kita?? Marilah kita memohon ampunan kepada Allah atas perasaan ini. Karena yakinlah perjuangan kita ini tidak sampai seujung kuku jika dibandingkan dengan perjuangan Rasulullah dan sahabatnya. Dasarkan pemikiran kita pada kondisi umat terbaik, jangan sebaliknya. InsyaAllah ini menjadi amalan yang mampu membawa kita menuju gerbang keselamatan.
Dilema Penutupan Dolly ??
Masyarakat kini dihadapkan pada problematika Penutupan Dolly yang dicanangkan pemerintah. Analisis pro dan kontra menyeruak terkait penutupan Dolly yang akan segera dieksekusi. Lagi-lagi masyarakat kini di uji. Diuji tentang bagaimana memutuskan baik dan buruk. Diuji bagaimana bisa memposisikan dirinya sebagai hamba dunia atau hamba Allah Yang Menciptakan Dunia.
Dalih ekonomi menjadi alasan kuat yang digunakan untuk menolak penutupan. Dan dalih syariat menjadi alasan yang kuat demi menutup Dolly. Selain itu secara perundang-undangan memang kegiatan asusila seperti Dolly ini dilarang menurut Undang-Undang. Sebagai seorang muslim kita pilih yang mana??
Allah mengingatkan dalam surat Al-Baqarah: 216:
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Alasan Hak Asasi Manusia kini juga diutarakan. Nasib para pekerja seks komersial, serta gembong-gembongnya dibawa kemana?. Malah justru sebaliknya, ketika Dolly itu masih ada, maka Hak Asasi Manusia bagi para PSK itu yang dirampas. Kehormatannya hanya ibarat satu koin, dua koin, dan seterusnya. Padahal dalam Islam kedudukan wanita sangatlah mulia. Keberadaannya ibarat sebuah tiang dalam bernegara, Dialah guru bangsa. Ketika wanita itu sudah lalai dalam membina dirinya dan anaknya, maka nasib bangsa juga akan terlalaikan dengan belaian kemaksiatan.
Dalih dunia hanyalah tipuan. Hakikat dunia ini juga hanyalah tipuan. Penjara bagi orang-orang yang beriman dan surganya bagi orang kafir. Tidaklah kita pantas menyetarakan kedudukan dunia dengan akhirat, karena jauh, jauh sekali. Oleh karenanya syariat itu kedudukannya jauh di atas ke fanaan dunia. Tinggal bagaimana kemudian sudut pandang Islam itu kita gunakan. Islam ini juga menyandarkannya sesuai dengan akal pikiran manusia.
Yakinlah kita adalah orang-orang yang diberikan kecerdasan dalam berpikir. Kita adalah hamba yang pintar dalam mengambil pelajaran. Janganlah dunia ini menyilaukan mata kita. Arahkan arah berpikirmu sesuai dengan Islam.
#TutupDolly
#SuroboyoTutupDolly
17 Jun 2014
Mau Menjadi Manusia Beraroma Wangi dan Berasa Enak ??
Dari pilihan katanya aja udah wahh gitu. Jadi manusia "wangi" dan "enak", kaya nasi sayur aja, hehe:). Tapi jangan salah ini beneran lho. Nih mimin kasih tahu apa rahasianya. Dijamin gampang dan tidak memberatkan.
Ini lho sebenarnya...
"Perumpamaan orang mukmin yang membaca
Alquran adalah seperti buah utrujjah; aromanya wangi dan rasanya enak. Orang
mukmin yang tidak membaca Alquran adalah seperti buah kurma; tidak ada
wanginya, tetapi rasanya manis. Orang munafik yang membaca Alquran adalah
seperti tumbuhan raihaanah (kemangi); aromanya wangi tetapi rasanya pahit,
sedangkan orang munafik yang tidak membaca Alquran adalah seperti tumbuhan
hanzhalah; tidak ada wanginya dan rasanya pahit.”
(HR. Bukhari-Muslim).
Wangi tidak hanya secara dzahir sobat, tetapi secara bathin juga bisa. Ada lho kadang orang yang wangi tubuhnya seperti bau taman luas karna banyaknya semprotan minyak wangi, tapi wangi hatinya seakan kering tandus sama seperti hatinya yang tidak tersemai benih kebaikan. Dan bahkan wangi hatinya hanyalah bau busuk yang diakibatkan sikap dan perbuatannya yang membuat hatinya penuh dengan keburukan dan dosa. Maka kata Ustadz Salim A. Fillah, salah satu cara untuk melunakkan hati itu adalah dengan Al-Qur'an.
Ketika dalam benak sobat kadang terbesit rasa untuk berubah menjadi baik, namun sulit dilakukan. Kuatnya tekad hanyalah sebuah kesia-siaan. Bahkan usaha sedimikian rupa hanyalah kejadian kegagalan. Mungkin, ada yang salah dengan kondisi hati sobat semua. Bisa jadi kerasnya hati mampu menolak dan mementahkan kuatnya tekad untuk berubah. Maka salah satu cara untuk melunakkanlah itu dengan membaca Al-Qur'an. Dipahami, diamalkan, atau dihafalkan.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)








