1 Jul 2014

Dugderan: Romantisme Jelang Ramadhan

Salah satu pedagang gerabah yang ikut memeriahkan
dugderan. (Foto: Harsem/Cun Yahya, dari
http://hariansemarangbanget.blogspot.com/
2012/06/pedagang-dugderan-mulai-berdatangan.html)
Banyak orang berlalu lalang memenuhi Pasar Johar siang itu. Pasar tak hanya dipenuhi oleh ibu-ibu seperti hari-hari biasa. Hari itu, hari terakhir Bulan Sya’ban. Esok hari Ramadhan tiba. Semua keluarga berkumpul disana. Dugderan, mereka menyebutnya.

Seorang anak kecil berumur 10 tahun terhimpit banyak orang di gendongan ayahnya. Kedua tangannya ia kalungkan di leher ayahnya. Tepat di depannya perempuan berumur 30 an berjalan melawan kerumunan orang-orang mencarikan jalan untuk mereka.

Dolanane Bu, dolanane.” Teriak salah satu pedagang. Setiap dugderan, pedagang-pedagang berjualan barang-barang terbuat dari tanah liat yang dicat berwarna-warni sehingga terlihat lebih menarik. Barang-barang dari tanah liat ini dibentuk menjadi piring, teko, gelas, dll dalam ukuran kecil. Oleh karena itu, biasanya orang-orang membeli barang-barang tersebut untuk anak-anak mereka sebagai sarana bermain. Satu keluarga tadi pun tergiur untuk mampir di tempat barang-barang unik tersebut.

Sebuah Tradisi Jelang Ramadhan
Dugderan telah menjadi tradisi menjelang Bulan Ramadhan di Kota Semarang. Kegiatan ini berpusat di Pasar Johar. Di hari dugderan, Pasar Johar sangat penuh oleh orang-orang. Selain untuk berbelanja, meraka juga berniat untuk menyambut meriah Bulan Ramadhan yang akan datang keesokan harinya. Tak heran jika dugderan menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kota Semarang apabila bulan suci Ramadhan akan segera tiba.

Sebuah Romantisme
Arena pasar Dugderan seperti biasanya diramaikan arena permainan anak-anak seperti komedi putar, tong setan hingga hiburan pasar malam. Keramaian pasar rakyat ini akan berakhir pada puncak tradisi Dugderan satu hari menjelang 1 Ramadhan yang ditandai dengan arak-arakan dugderan yang dimulai dari halaman Kantor Walikota menuju Masjid Kauman Semarang


Tidak hanya sebagai sebuah tradisi, dugderan menjadi sebuah romantisme tersendiri. Saat dugderan, banyak anggota keluarga yang pergi ke Pasar Johar dengan membawa semua anggota keluarganya. Hampir sebagian besar masyarakat Kota Semarang pun berkumpul jadi satu pada hari itu. Tujuan mereka sama, meyambut datangnya bulan suci Ramadhan bersama orang-orang yang mereka cintai.

Begitulah Dugderan menghadirkan gegap gempita, bukan hanya dimaknai sebagai sebuah tradisi, tetapi menjadi kebahagiaan akan datangnya bulan yang mulia: Bulan suci Ramadhan. Selamat berlomba-lomba dalam kebaikan.

(Ditulis oleh Devi Setianingsih dalam Pelatihan Jurnalistik Internal Media Komunikasi dan Informasi BPPI, 24-25 Juni 2014. @devi_setia20)

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar