6 Nov 2013
4 Nov 2013
Serba Serbi Kalender Hijriah
Dalam keberjalanan umat manusia,
sudah banyak sistem penghitungan tahun yang telah digunakan manusia. Mulai dari
berdasarkan matahari, bulan, maupun keduanya. Terkait dengan sistem penanggalan
berdasar bulan, umat Islam sampai hari ini masih tetap mempertahankannya dengan
menyebutnya dengan penanggalan Hijriah. Bagaimana sejarahnya?
Kalender Hijriah
Kalender Hijriah atau juga disebut
kalender Islam adalah sistem penanggalan yang didasarkan pada perhitungan
revolusi bulan selama satu kali revolusi bumi terhadap matahari.
29 Okt 2013
Muslim Spanyol Diberi Kewarganegaraan Jika Murtad
Spanyol berencana memberikan kewarganegaraan kepada umat Islam yang
mau menerima Kristen (baca: murtad). Langkah ini dinilai menandai
kembalinya taktik serta strategi yang digunakan selama masa Inkuisisi
Spanyol.
Situs Spanyol ETC mengutip pernyataan presiden Konferensi Waligereja Spanyol (SEC) dan Menteri Kehakiman Alberto Ruiz Gallardón yang dengan tegas mengatakan pada pekan lalu bahwa “Spanyol bukanlah Spanyol tanpa Kristen dan tanpa Katolik.”
Situs Spanyol ETC mengutip pernyataan presiden Konferensi Waligereja Spanyol (SEC) dan Menteri Kehakiman Alberto Ruiz Gallardón yang dengan tegas mengatakan pada pekan lalu bahwa “Spanyol bukanlah Spanyol tanpa Kristen dan tanpa Katolik.”
28 Okt 2013
Siang untuk Sekolah, Malam untuk Prostitusi
Pasca kudeta militer, kehidupan ekonomi di Mesir kian sulit. Harga-harga kebutuhan pokok naik melambung. Orang yang
lemah imannya, mungkin saja menempuh jalan terlarang dalam menghadapi
masalah ini.
Belum lama ini, sebuah skandal terjadi di lingkungan kementrian pendidikan di Mesir. Para pekerja rendahan di sekolah Salhadar, di Misr Jadidah, Kairo, memanfaatkan gedung sekolah untuk menambah penghasilan.
Belum lama ini, sebuah skandal terjadi di lingkungan kementrian pendidikan di Mesir. Para pekerja rendahan di sekolah Salhadar, di Misr Jadidah, Kairo, memanfaatkan gedung sekolah untuk menambah penghasilan.
Pemenang Esai OCEAN
PENGUMUMAN PEMENANG
ISLAMIC ESSAY COMPETITION OCEAN
BADAN PENGKAJIAN PENGAMALAN ISLAM
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SEBELAS
MARET
SURAKARTA
2-3 Nopember 2013
No
|
Nama
|
Judul
|
Asal
|
1
|
Imam Sopyan
|
Bergerak Dari Kampus Menuju Bangsa Paripurna:
Inteligensia Profetik dan Tanggung Jawab
Sosio-Transedental Mahasiswa Islam
|
UIN Kalijaga Yogyakarta
|
2
|
DennyIswanto
|
Optimalisasi Peran Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Sebagai Agen Pembangunan Masyarakat Thoyibah (Masyarakat Berkarakter Qurani)
|
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
|
3
|
Riki Purnomo
|
“TEOLOGI ALI-IMRON 110”
Membentuk Masyarakat Madani yang Berkarakter Islami
|
Universitas Muhammadiyah Surakarta
|
4
|
Nur Rizqy Febriandika
|
Menuju Paradigma Baru : Implementasi Kandungan
Al-Qur’an Bukan Sebatas Kognitif
|
Universitas Muhammadiyah Surakarta
|
5
|
Erin Nuzulia Istiqomah
|
Gerakan Kerelawanan:
Kepedulian Kecil dalam Upaya Mewujudkan Masyarakat yang Kuat dan Madani
|
Universitas Indonesia
|
SELAMAT BAGI PARA FINALIS
KAMI
TUNGGU KEDATANGANNYA DI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA24 Okt 2013
Brunei Berlakukan Hukum Pidana Syariah
Brunei Darussalam akan memberlakukan hukum pidana syariah
mulai tahun depan. Pernyataan tersebut disampaikan Sultan Hassanal Bolkiah,
Selasa, 22 Oktober 2013.
“Dengan akan berlakukanya peraturan ini, alhamdulillah,
tanggung jawab kita di hadapan Allah telah tertunai,” kata Sultan yang juga
menjabat sebagai Perdana Menteri Brunei seperti dikutip Pelita Brunei.
16 Okt 2013
Disembelih, Tapi Nggak Sakit!!
Prof. W. Schulze dan koleganya, Dr. Hazim yang merupakan 2 orang staff ahli peternakan dari Hanover University, Jerman, memimpin suatu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih manusiawi dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam (tanpa proses pemingsanan), atau penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan).
Beliau berdua merancang penelitian sangat canggih mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi tersebut dipasang elektroda tertentu (microchip) yang disebut Electro-Encephalogram (EEG). EEG dipasang pada permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak. Alat ini dipakai untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Pada jantung sapi-sapi tersebut juga dipasang Electro-Cardiogram (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar.
13 Okt 2013
Shaum Arafah
Salah satu amalan utama di awal Dzulhijjah adalah puasa Arafah,
pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini memiliki keutamaan yang semestinya
tidak ditinggalkan seorang muslim pun. Puasa ini dilaksanakan bagi kaum
muslimin yang tidak melaksanakan ibadah
haji.
Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Keutamaan Hari Arafah
1- Hari Arafah adalah hari disempurnakannya agama dan nikmat. Dalam shahihain (Bukhari-Muslim), ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada ‘Umar,
2- Hari Arafah adalah hari ‘ied (perayaan) kaum muslimin. Sebagaimana kata ‘Umar bin Al Khottob dan Ibnu ‘Abbas. Karena Ibnu ‘Abbas berkata, “Surat Al Maidah ayat 3 tadi turun pada dua hari ‘ied: hari Jum’at dan hari Arafah.” ‘Umar juga berkata, “Keduanya (hari Jum’at dan hari Arafah) -alhamdulillah- hari raya bagi kami.” Akan tetapi hari Arafah adalah hari ‘ied bagi orang yang sedang wukuf di Arafah saja. Sedangkan bagi yang tidak wukuf dianjurkan untuk berpuasa menurut jumhur (mayoritas) ulama.
3- Hari Arafah adalah asy syaf’u (penggenap) yang Allah bersumpah dengannya sedangkan hari Idul Adha (hari Nahr) disebut al watr (ganjil). Inilah yang disebutkan dalam ayat,
4- Hari Arafah adalah hari yang paling utama. Demikian pendapat sebagian ulama. Ada pula yang berpendapat bahwa hari yang paling utama adalah hari Nahr (Idul Adha).
5- Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Hari ‘Arafah lebih utama dari 10.000 hari.”’Atho’ berkata, “Barangsiapa berpuasa pada hari ‘Arofah, maka ia mendapatkan pahala seperti berpuasa 2000 hari.”
6- Hari Arafah menurut sekelompok ulama salaf disebut hari haji akbar. Yang berpendapat seperti ini adalah ‘Umar dan ulama lainnya. Sedangkan ulama lain menyelisihi hal itu, mereka mengatakan bahwa hari haji akbar adalah hari Nahr (Idul Adha).
7- Puasa pada hari Arafah akan mengampuni dosa dua tahun. Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
8- Hari Arafah adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari siksa neraka. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Allah pun begitu bangga dengan orang yang wukuf di Arafah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: “Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu” (HR. Ahmad 2: 224. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya tidaklah mengapa).
Catatan: Hari Arafah (9 Dzulhijjah 1434 H) bertepatan dengan hari Senin, 14 Oktober 2013 M.
Wallahu a’lam.
Dari 'Muslim.Or.Id'
Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ
أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ
الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ
يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)
Keutamaan Hari Arafah
Apa saja keistimewaan hari Arafah (9 Dzulhijjah)? Adakah
keutamaan-keutamaan di hari tersebut?
Di antara keutamaan hari Arafah disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali yang
kami sarikan berikut ini:1- Hari Arafah adalah hari disempurnakannya agama dan nikmat. Dalam shahihain (Bukhari-Muslim), ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ada seorang Yahudi berkata kepada ‘Umar,
آيَةٌ فِى كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا
مَعْشَرَ الْيَهُودِ نَزَلَتْ لاَتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا . قَالَ
أَىُّ آيَةٍ قَالَ ( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا ) . قَالَ عُمَرُ قَدْ
عَرَفْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ وَالْمَكَانَ الَّذِى نَزَلَتْ فِيهِ عَلَى النَّبِىِّ
– صلى الله عليه وسلم – وَهُوَ قَائِمٌ بِعَرَفَةَ يَوْمَ جُمُعَةٍ
“Ada ayat dalam kitab kalian yang kalian membacanya dan seandainya ayat
tersebut turun di tengah-tengah orang Yahudi, tentu kami akan menjadikannya
sebagai hari perayaan (hari ‘ied).” “Ayat apakah itu?” tanya ‘Umar. Ia berkata,
“(Ayat yang artinya): Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu.” ‘Umar berkata, “Kami telah mengetahui hal itu yaitu hari
dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Beliau berdiri di ‘Arofah pada hari Jum’at.” (HR. Bukhari no. 45
dan Muslim no. 3017). At Tirmidzi mengeluarkan dari Ibnu ‘Abbas semisal itu. Di
dalamnya disebutkan bahwa ayat tersebut turun pada hari ‘Ied yaitu hari Jum’at
dan hari ‘Arofah.2- Hari Arafah adalah hari ‘ied (perayaan) kaum muslimin. Sebagaimana kata ‘Umar bin Al Khottob dan Ibnu ‘Abbas. Karena Ibnu ‘Abbas berkata, “Surat Al Maidah ayat 3 tadi turun pada dua hari ‘ied: hari Jum’at dan hari Arafah.” ‘Umar juga berkata, “Keduanya (hari Jum’at dan hari Arafah) -alhamdulillah- hari raya bagi kami.” Akan tetapi hari Arafah adalah hari ‘ied bagi orang yang sedang wukuf di Arafah saja. Sedangkan bagi yang tidak wukuf dianjurkan untuk berpuasa menurut jumhur (mayoritas) ulama.
3- Hari Arafah adalah asy syaf’u (penggenap) yang Allah bersumpah dengannya sedangkan hari Idul Adha (hari Nahr) disebut al watr (ganjil). Inilah yang disebutkan dalam ayat,
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
“Dan (demi) yang genap dan yang ganjil” (QS. Al Fajr: 3). Demikian kata
Ibnu Rajab Al Hambali. Namun Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir menukil
pendapat sebaliknya. Yang dimaksud al watr adalah hari Arafah, sedangkan
asy syaf’u adalah hari Nahr (Idul Adha). Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas,
‘Ikrimah dan Adh Dhohak.4- Hari Arafah adalah hari yang paling utama. Demikian pendapat sebagian ulama. Ada pula yang berpendapat bahwa hari yang paling utama adalah hari Nahr (Idul Adha).
5- Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Hari ‘Arafah lebih utama dari 10.000 hari.”’Atho’ berkata, “Barangsiapa berpuasa pada hari ‘Arofah, maka ia mendapatkan pahala seperti berpuasa 2000 hari.”
6- Hari Arafah menurut sekelompok ulama salaf disebut hari haji akbar. Yang berpendapat seperti ini adalah ‘Umar dan ulama lainnya. Sedangkan ulama lain menyelisihi hal itu, mereka mengatakan bahwa hari haji akbar adalah hari Nahr (Idul Adha).
7- Puasa pada hari Arafah akan mengampuni dosa dua tahun. Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ
يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ
يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى
قَبْلَهُ
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu
dan setahun akan datang. Puasa
Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim
no. 1162).8- Hari Arafah adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari siksa neraka. Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ
فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ
يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka
adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan
mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa
yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348).Allah pun begitu bangga dengan orang yang wukuf di Arafah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِى مَلاَئِكَتَهُ
عَشِيَّةَ عَرَفَةَ بِأَهْلِ عَرَفَةَ فَيَقُولُ انْظُرُوا إِلَى عِبَادِى
أَتَوْنِى شُعْثاً غُبْراً
“Sesungguhnya Allah berbangga kepada para malaikat-Nya pada sore Arafah dengan orang-orang di Arafah, dan berkata: “Lihatlah keadaan hambaku, mereka mendatangiku dalam keadaan kusut dan berdebu” (HR. Ahmad 2: 224. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya tidaklah mengapa).
Catatan: Hari Arafah (9 Dzulhijjah 1434 H) bertepatan dengan hari Senin, 14 Oktober 2013 M.
Wallahu a’lam.
Dari 'Muslim.Or.Id'
9 Okt 2013
Dzulhijjah yang Terlupa
Di Indonesia,
suasana semarak ibadah masyarakat, kita jumpai ketika datang bulan Ramadhan.
Masjid yang biasanya sepi dari jamaah, mendadak membludak ketika taraweh
pertama. Jamaah subuh yang umumnya dihadiri 2 orang (imam dan muadzin), bisa
menjadi puluhan orang. Bahkan orang yang setahun tidak pernah menyentuh masjid,
tiba-tiba berada di shaf paling pertama ketika shalat jamaah subuh.
Semua
peristiwa itu, hanya kita jumpai di bulan Ramadhan. Banyak kaum muslimin telah
sadar, Ramadhan merupakan momen terbesar untuk mendapatkan ribuan pahala.
Barangkali ini bagian dari jasa besar para khatib, yang terus memotivasi
masyarakat untuk menyemarakkan Ramadhan, menyambut Ramadhan dengan berbagai
amal ibadah dan ketaatan. Ramadhan menjadi bulan yang identik dengan semarak
ibadah kaum muslimin. Walhamdu lillah…
Sayangnya,
suasana semarak ibadah semacam ini tiba-tiba sirna begitu Ramadhan berlalu.
Seolah bulan suci untuk ladang pahala, hanyalah bulan Ramadhan.
Bulan Dzulhijjah, Terlupakan?
Lain
halnya bulan Dzulhijjah. Masyarakat kita belum banyak yang menyadari bahwa Dzulhijjah termasuk bulan yang istimewa. Padahal banyak
dalil yang menunjukkan bahwa di bulan Dzulhijjah, amal soleh dilipat gandakan.
Sebagaimana pahala yang dijanjikan ketika Ramadhan. Dari Abu Bakrah radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
شَهْرَانِ
لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ
”Ada dua
bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya:
bulan Ramadlan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari 1912 dan Muslim 1089).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan bulan Dzulhijjah dengan
Ramadhan. Sebagai motivasi beliau menyebutkan bahwa pahala amal di dua bulan
ini tidak berkurang.
Rentang
waktu yang paling mulia ketika Dzulhijjah adalah 10 hari pertama. Di surat
al-Fajr, Allah berfirman:
وَ
الْفَجْرِ * وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi
fajar, dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr: 1 – 2)
Ibn Rajab
menjelaskan, malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Inilah tafsir yang benar dan tafsir yang dipilih mayoritas ahli tafsir dari
kalangan sahabat dan ulama setelahnya. Dan tafsir inilah yang sesuai dengan
riwayat dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma…” (Lathaiful Ma’arif, hal.
469)
Allah
bersumpah dengan menuebut sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Yang ini
menunjukkan keutamaan sepuluh hari tersebut. Karena semua makhluk yang Allah
jadikan sebagai sumpah, adalah makhluk istimewa, yang menjadi bukti kebesaran
dan keagungan Allah.
Karena
itulah, amalan yang dilakukan selama 10 hari pertama Dzulhijjah menjadi amal
yang sangat dicintai Allah. Melebihi amal soleh yang dilakukan di luar batas
waktu itu. Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
مَا مِنْ
أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ
الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ
الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ
فِى سَبِيلِ اللَّهِ
إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada
hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang
dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para
sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding
jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke
medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil
musuh, pen.).”
(HR. Ahmad 1968, Bukhari 969, dan Turmudzi 757).
Dalam
riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada
amalan yang lebih suci di sisi Allah dan tidak ada yang lebih besar pahalanya
dari pada kebaikan yang dia kerjakan pada sepuluh hari al-Adha.” (HR. Ad-Daruquthni, dan dihasankan
oleh al-Albani)
Al-Hafidz
Ibn Rajab mengatakan, Hadis ini menunjukkan bahwa beramal pada sepuluh hari
bulan Dzulhijjah lebih dicintai di sisi Allah dari pada beramal pada hari-hari
yang lain, tanpa pengecualian. Sementara jika suatu amal itu lebih dicintai
Allah, artinya amal itu lebih utama di sisiNya. (Lathaiful Ma’arif, hal. 456).
Diceritakan
oleh Al Mundziri dalam At Targhib wa At Tarhib (2/150) bahwa Sa’id bin Jubair
(Murid senior Ibn Abbas), ketika memasuki tanggal satu Dzulhijjah, beliau
sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, sampai hampir tidak mampu
melakukannya.
Saatnya Membangun Kesadaran Masyarakat
Memahami
hal ini, saatnya kita menyadarkan masyarakat. Kita ajak mereka untuk
bersama-sama menyemarakkan 10 hari pertama Dzulhijjah dengan berbagai amal
soleh dan ibadah, sebagaimana ketika mereka menyemarakkan bulan Ramadhan.
Jadikan kesempatan 10 hari pertama sebagai ladang untuk mendulang jutaan
pahala.
Lebih dari
itu, ada beberapa amal soleh yang dianjurkan untuk dikerjakan selama 10 hari
pertama Dzulhijjah, diantaranya:
- Memperbanyak puasa sunah selama 9 hari pertama
- Memperbanyak takbiran dan dzikir.
- Banyak melakukan amal soleh apapun bentuknya.
allahu
a’lam
Sumber: http://www.konsultasisyariah.com
8 Okt 2013
Reuni Akbar BPPI 2013
"…Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” {QS. An Nisaa’ (04): 01}
“Barangsiapa
yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia
menyambung tali persaudaraan.” {HR. Bukhari Muslim}
Assalamu’alaykum
wa rahmatullah wa barakatuh
Segala
puji bagi Allah Rabb semesta alam yang dengan izin-Nya kita hidup dan mati.
Shalawat serta semoga selalu terlimpahkan kepadasuri teladan kita, Rasulullah
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tanpa
mengurangi rasa hormat, kami mengundang antum/na Ikatan Alumni BPPI dan KMM FEB
UNS dalam acara Reuni Akbar BPPI yang diadakan pada:
Hari : Sabtu, 28 Desember 2013
Jam :
08.00 WIB
Tempat : Ruang Seminar lt.1 Masjid NH UNS
Infaq : Rp 50.000,00 / orang
Besar
harapan kami untuk kita dapat saling berkumpul dan bersilaturahmi bersama,
terima kasih atas segala niat baik dan perhatian dari antum/na, semoga Allah
meridhai amal baik kita semua.
Wabillahi
taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaykum
wa rahmatullah wa barakatuh.
Thawaf di Lantai Dua Masjidil Haram
Menjelang puncak haji, Masjidil Haram terus berbenah. Sedikit demi
sedikit proses renovasi tampak mulai sampai pada tahap penyelesaian
akhir. Bahkan, beberapa bagian sudah selesai dan dibersihkan sehingga
bisa digunakan sebagai sarana ibadah.
Pantauan Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Makah melihat lantai dua Masjidil Haram sudah bisa digunakan untuk thawaf para jamaah haji sejak Sabtu (05/10). Meski belum sepenuhnya selesai, namun lantai dua itu sudah bisa digunakan sebagai area thawaf.
Pantauan Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Makah melihat lantai dua Masjidil Haram sudah bisa digunakan untuk thawaf para jamaah haji sejak Sabtu (05/10). Meski belum sepenuhnya selesai, namun lantai dua itu sudah bisa digunakan sebagai area thawaf.
6 Okt 2013
Puasa Sunnah Awal Dzulhijjah
Di antara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa. Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. Tentang hal ini para ulama generasi awal tidaklah berselisih pendapat mengenai sunnahnya puasa 1-9 Dzulhijjah. Begitu pula yang nampak dari perkataan imam madzhab yang empat, mereka pun tidak berselisih akan sunnahnya puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah. Adapun puasa enam hari di bulan Syawal terdapat perselisihan di antara para ulama. Seperti kita ketahui bahwa Imam Malik tidak mensunnahkan puasa enam hari tersebut.
Begitu pula tidak didapati dari para sahabat ridhwanallahu ta’ala di mana mereka melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Sedangkan puasa di awal Dzulhijjah, maka ditemukan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa mereka melakukannya. Seperti terbukti ‘Umar bin Al Khottob melakukannya, begitu pula ‘Abdullah bin Mawhab, banyak fuqoha juga melakukannya. Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]
Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]
Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …”[3]
Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut.[4]
Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[5]
Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[6] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
@ Riyadh, KSA, 28/11/1433 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[2] Keterangan di atas diambil dari penjelasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifiy di sini: http://altarefe.com/cnt/khotab/394.
[4] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.
[5] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah.
[6] Lihat Fathul Bari, 6: 286.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)