OPEN RECRUITMENT BPPI FEB UNS 2017

Ayo ikut bersama Kami. Menjadi Mahasiswa Muslim yang Proaktif dan Inspiratif. BPPI 2017

RAMADHAN 1438 H

Ramadhan Awesome! Raih Ramadhan dengan Penuh Berkah, Mencari Taqwa. Ramadhan di Kampus.Coming Soon!!

One Step 2017

Jalan-Jalan, Penuh Pembelajaran, Home Stay, Games, Fun, Keakraban dan Islami. Coming Soon yak!

Ukhuwah Islamiyah

Karena ikatan ukhuwah begitu berharga.

Islam pasti akan menang!

Jangan bertanya,"Kapan Islam kembali berjaya?", karena cepat atau lambat Islam pasti menang. Tapi bertanyalah,"Apa peranmu dalam menyongsong kemenangannya?"

10 Okt 2014

Rongga Hati dan Dimensi Keimanan: Berpadu dalam Mencapai Kemuliaan

Surakarta - Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS bekerjasama dengan Badan Pengkajian Pengamalan Islam mengadakan acara Kajian Civitas Akademika FEB UNS dengan mengangkat tema Usaha Pribadi Manusia yang disampaikan oleh Ustadz Supriyadi Wibowo dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS (10/10). Kajian ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh pihak Fakultas dengan tujuan untuk menyambung tali silaturrahim antara dosen dan karyawan, juga mahasiswa yang dikemas dalam acara yang bermanfaat, yaitu kajian Ke-Islaman. 

"Manusia memiliki tiga rongga, yaitu rongga perut, rongga kepala, dan rongga hati." Ucap Ustadz Supriyadi. Rongga perut sangat berpengaruh kepada kekuatan manusia, misalnya kerbau yang notabene pemakan tumbuh-tumbuhan memiliki kekuatan tertentu dan harimau sebagai hewan karnivora, kekuatannya jauh berbeda dan masuk ke dalam rantai makanan paling atas. Sedangkan manusia, berbicara tentang rongga perut, maka manusia termasuk ke dalam gologan omnivora, yaitu pemakan segala, baik tumbuh-tumbuhan maupun daging. Dan poin pentingnya adalah adakalanya sifat manusia jauh lebih buruk daripada hewan. Sifat rakus atau tidak pernah puas sering bersarang kepada kehidupan manusia.

Sedangkan rongga kepala berkaitan dengan cara manusia dalam berkehidupan. Dahulu yang tidak ada listrik, sekarang sudah ditemukan. Begitu seterusnya sampai batas yang entah kapan selesainya. Teknologi senantiasa berkembang berkat pengaruh otak manusia yang semakin berkembang. Namun yang menjadi permasalahan adalah kaitan antara rongga kepala dan rongga hati kadang terlupakan. Inovasi apapun ini tanpa dinaungi oleh hati maka hasilnya akan tidak terarah. 

Rongga hati sangat berkaitan erat dengan potensi Iman. Dan iman ini akan mempengaruhi rongga perut dan rongga kepada. Iman menjadi landasan dasar bagi seorang muslim untuk berkehidupan sehari-hari. Kekuatan iman juga dahsyat pengaruhnya kepada sebuah keadaan tertentu. Misalnya adalah Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh kobaran api yang dilakukan oleh Raja Namrud. Meskipun itu adalah mukjizat Allah, tetapi tanpa adanya landasan iman, maka mustahil mukjizat itu akan terjadi.(10/10)




7 Okt 2014

Puncak Itu Bernama "Hargo Dumilah"

Foto: Dina Fitria Jabrish
Dari: http://kfk.kompas.com/kfk/view/106605
Saya sendiri adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki hobi mendaki gunung. Tapi saya tidak terlalu ambisi untuk menaklukan seluruh gunung di Indonesia apalagi di dunia karena hal ini bukan tujuan hidup saya, ya ini hanya sekadar hobi. Untuk tetap melestarikan alam, untuk menaklukan ego atau kemanjaan diri sendiri, dan untuk selalu mensyukuri keagungan Tuhan akan salah satu ciptaan-Nya. Sebuah tempat tertinggi kali ini bernama “Hargo Dumilah”. Puncak tertinggi Gunung Lawu, terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ketinggian 3.265 mdpl akan kami taklukan.

7 Agustus 2014, 13 orang berangkat dari Magelang menuju Yogyakarta pukul 04.00 pagi dengan mengendarai sepeda motor menuju stasiun Lempuyangan untuk mengejar kereta Prameks pukul 05.30 yang sesuai tertera di jadwal. Namun, lagi-lagi indahnya Indonesia akan sebuah keterlambatan menghiasi keberangkatan kami pagi itu, kereta datang terlambat. Sesampainya di Solo kami menuju terminal Tirtonadi dan masih menunggu 3 orang teman kami yang berangkat dari Solo. Akhirnya pukul 08.30 kami serombongan berjumlah 16 orang, berangkat dari terminal Tirtonadi menuju terminal Tawangmangu menggunakan bus yang terkenal dengan ugal-ugalannya walaupun jalan menuju terminal Tawangmangu berkelok-kelok. Yang seharusnya kami dapat menikmati perjalanan di kanan kiri jalan, malah dibuat mabuk oleh pak sopir.

Kami tiba di terminal Tawangmangu sekitar pukul 10.30 dan kami pergunakan melepas lelah sebentar serta sarapan. Setelah saya selesai sarapan sebagai orang yang bertanggung jawab memegang uang kelompok segera melakukan negosiasi dengan salah satu sopir mobil Colt yang akan membawa kami ke basecamp Cemoro Sewu Magetan. Setelah selesai melakukan kesepakatan akhirnya kami berangkat dengan menggunakan 1 mobil Colt diisi 16 orang, betapa bahagianya kami. Setelah pak sopir dan tentu mobilnya berjuang mengangkut kami dengan selamat sampai basecamp Cemoro Sewu saya melakukan kesepakatan lainnya dengan pak sopir untuk bersedia mengantar kami sekembalinya dari pendakian hingga stasiun Balapan. Setelah selesai negosiasi kami segera cek kesiapan dan kelengkapan barang bawaan karena jam telah menunjukkan pukul 12.00 siang.

Diawali dengan pengarahan oleh ketua rombongan dan saya sendiri serta diiringi do’a dari seluruh anggota kami berangkat dari basecamp pukul 13.00 Saya dipercaya oleh ketua rombongan untuk menjadi “leader” dalam perjalanan karena carrier yang saya gunakan paling berat di antara anggota lainnya, yaitu sekitar 80 liter. Tapi barang bawaan saya itu tak terasa berat bagi saya karena saya telah terbiasa dengan pekerjaan yang menggunakan fisik.

Jalur pendakian Cemoro Sewu terkenal lebih cepat sampai puncak dibandingkan dengan jalur pendakian satunya, yaitu Cemoro Kandang. Hal ini dikarenakan jalan pendakian Cemoro Kandang lebih landai daripada Cemoro Sewu yang lebih terjal. Karena kami melakukan pendakian dengan rombongan besar, kami sendiri sulit mengorganisasikannya termasuk ketua rombongan yang bertugas sebagai “sweeper”. Di perjalanan kami terlalu sering melakukan istirahat karena lelah. Udara pegunungan yang mulai terasa dingin menusuk pori-pori kulit membuat kami segera mengenakan jaket dan celana tebal.

Setibanya di pos 3 jam menunjukkan pukul 18.00 dan salah satu dari anggota tidak dapat melanjutkan perjalanan. Saya sendiri mengalami dilema untuk melanjutkan perjalanan atau tetap di pos 3 untuk mendirikan tenda, dan pada akhirnya saya putuskan untuk tetap tinggal. Saya pun merekomendasikan pada ketua rombongan untuk seluruh anggota berkemah di pos 3, namun berapa anggota tetap ingin ke pos 5 malam itu juga dan membuat ketua rombongan memutuskan tetap berangkat saat itu juga. Saya tetap pada keputusan sebelumnya karena saya merasa bertanggung jawab terhadap tim ini dan karena saya juga yang membawa 1 dari 3 tenda yang dibawa oleh rombongan.

10 orang melanjutkan perjalanan malam itu juga menuju pos 5, 6 orang tinggal di pos 3 dan segera saya pimpin untuk mendirikan tenda. Udara di pos 3 mulai bertambah dingin dan kami segera memasak bahan makanan karena lapar yang tidak dapat tertahankan lagi. Malam itu juga, diantara menyesal karena tidak dapat melanjutkan perjalanan tapi lebih kecewa lagi karena tim kami tidak kompak bahwa tim kami benar-benar terpisah, saya menumpahkannya dengan aliran air mata yang seharusnya tak perlu. Selesai makan kami mengevaluasi dan segera melakukan tindak lanjut, salah satu anggota yang tidak kuat tersebut tetap tidak mampu kalau besok pagi menuju puncak. Pada akhirnya saya dan 2 orang lainnya tidak ke puncak paginya, sedangkan 3 orang pukul 02.00 berangkat menyusul rombongan besar dan berhasil sampai puncak.

Rombongan besar turun sampai pos 3 pukul 09.00 pagi dan saya melihat wajah ketua rombongan penuh penyesalan, tapi saya meyakinkan bahwa dengan gelagat saya sendiri untuk tidak kecewa dan segera membaur bersama kebahagiaan rombongan. Kami semua melanjutkan perjalanan turun hingga tiba di basecamp Cemoro Sewu pukul 11.00 dan segera melanjutkan perjalanan menuju Kota Solo bersama pak sopir yang telah menunggu kami di basecamp. Sesampainya di stasiun Balapan pukul 15.30 kami berpisah dengan 3 orang yang dari Solo. Kami segera memesan tiket untuk ke Jogja dan melanjutkan perjalanan pulang ke Magelang. Sesampainya di Magelang pukul 21.00 dan bongkar muat barang di rumah saya. Selesai jam 22.00 dan rombongan kembali ke rumah masing-masing dengan ceritanya masing-masing, termasuk saya.

Pada awalnya saya sangat optimis dengan rombongan ini, karena persahabatan kami dibangun sejak kami duduk di bangku SMP. Tetapi saya akhirnya menyimpulkan bahwa persahabatan yang sesungguhnya harus mampu mengorbankan keegoisan masing-masing individu untuk melebur dalam tim atau persahabatan yang telah terbentuk baik secara instan atau berkala. Lebih dari itu bahwa sejatinya pengorbanan itu bukan berdampak pada setiap anggota dari tim, namun pertanggungjawaban kita kelak saat melakukan perjumpaan dengan Tuhan. Pengorbananku saat itu untuk tidak sampai puncak tidak akan sia-sia karena saya tahu itu adalah bentuk pertanggungjawaban sebagai makhluk Tuhan yang tak mampu hidup sendiri.

27 September 2014. Saya, ketua rombongan, satu anggota yang kala itu sampai puncak, satu anggota yang kala itu saya temani di pos 3, dan dua orang pendaki pemula pukul 09.45 telah menyentuh tanah tertinggi di Gunung Lawu. Kami tiba di puncak tertinggi gunung Lawu “Hargo Dumilah” salam dari kami untuk seluruh pendaki dimanapun kalian berada. Di gunung ini, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Setiap pengorbanan yang kalian lakukan tidak akan sia-sia selama itu membawa manfaat dan untuk kepentingan umat.

Masa lalu memang tidak dapat kita rubah di masa sekarang atau masa mendatang. Akan tetapi, masa lalu dapat kita jadikan pembelajaran untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik, untuk membentuk karakter diri yang lebih baik. Kata pepatah, setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Selamat datang di duniaku!

Artikel: Harry Sumantri Hartasa
Unedited.

6 Okt 2014

"FEB UNS Mengabdi": Semangat Mengabdi, Satukan Langkah


Simo, Boyolali - Bidang Syiar Badan Pengkajian Pengamalan Islam bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB UNS dan Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam (MEPA) FEB UNS melakukan aksi pengabdian masyarakat dengan tajuk "FEB UNS MENGABDI". Kegiatan ini dilaksanakan di Dukuh Candi, Desa Gunung, Kecamatan Simo, Boyolali (4-5/10). Rangkaian kegiatan acara ini adalah penyembelihan hewan qurban, bakti sosial, dan aksi donor darah. Kegiatan berlangsung di Masjid Baitul Muttaqin dan disambut warga dengan meriah.

Hewan qurban, sebanyak 5 ekor kambing berhasil disalurkan kepada masyarakat Dukuh Candi bekerjasama dengan Takmir Masjid dan disalurkan kepada warga sekitar masjid. Setelah menyalurkan hewan qurban, panitia berhasil membagikan 100 paket sembako kepada warga yang membutuhkan. Dan acara ini diakhiri dengan aksi donor darah yang diperuntukkan kepada warga masyarakat dengan tujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang manfaat dari aksi donor darah. Kegiatan ini mendapat respon baik dari masyarakat, terbukti sebanyak 25 orang bersedia untuk mendonorkan darahnya.

Rangkaian kegiatan "FEB UNS MENGABDI" ini menjadi bukti nyata peran mahasiswa kepada masyarakat. Di tengah permasalahan masyarakat yang kian meresahkan, peran mahasiswa menjadi tumpuan bagi tercapainya kesejahteraan masyarakat.


Idul Adha Penuh Berkah, Tebarkan Senyuman, Sinergiskan Langkah


Simo, Boyolali - Badan Pengkajian Pengamalan Islam (BPPI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS bekerjasama dengan Lazis UNS menyalurkan hewan qurban kepada warga Dukuh Candi, Desa Gunung, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali (4/10). Panitia membawa sejumlah 5 ekor kambing dari Lazis dan menyerahkan kepada Takmir Masjid Baitul Muttaqin Dukuh Candi sebagai perwakilan masyarakat. Kegiatan ini sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat sebagai bentuk rasa tanggung jawab mahasiswa kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi. 

Idul Adha kali ini berbeda dengan idul adha tahun-tahun sebelumnya, karena teman-teman BPPI merayakan idul adha di tengah masyarakat. Hal ini adalah sebagai sarana mahasiswa untuk bisa mengenal masyarakat dan mampu untuk menjadi problem solver atas permasalahan yang ada. 

Pengurus BPPI dibantu warga berhasil membagikan 200 an paket hewan qurban. Dan acara ini merupakan rangkaian dari Kegiatan "FEB UNS Mengabdi" yang terlaksana atas kerjasama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam (MEPA), dan Badan Pengkajian Pengamalan Islam (BPPI) FEB UNS. 

2 Okt 2014

Apakah Ada Fakta Ilmiah Dibalik Kisah Pembakaran Nabi Ibrahim??


Kisah nabi dan rasul adalah rangkaian sejarah penuh hikmah yang dijelaskan dan dipaparkan oleh Allah SWT kepada manusia melalui Al-Qur'an. Begitu pula kisah Nabi Ibrahim, bapaknya para Nabi dan Rasul. 
Beliaulah lah pemuda yang sudah matang di usia yang sangat muda. Dan kisah yang luar biasa adalah kisah pembakaran Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud. 

Apakah ada fakta ilmiah dibalik itu semua??
 
Dalam Al-Qur’an dan hadits di katakan bahwa Nabi Ibrahim di tangkap oleh pasukan Raja Namrud dan di bakar. Tetapi Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dengan membuat api yang membakar Ibrahim menjadi dingin.

Kita ketahui bahwa “air” pada esensinya adalah musuh “api” dan air dapat digunakan sebagai sebaik-baik media untuk memadamkan api. Namun air ini, yang terdiri dari rangkapan dua unsur hydrogen (H2O) dan oksigen (O2), apabila dengan bantuan katalisator, kita bagi menjadi dua unsur konstruktif (dan terpisah satu dengan yang lain), yaitu salah satunya (hydrogen) maka unsur ini akan menjadi bahan peledak apabila bersentuhan dengan api. Demikian juga, dengan unsur lainnya (oksigen) yang akan menyebabkan nyala api semakin berkobar; artinya dua unsur ini, tepatnya melakukan aktifitas persis kebalikan dari air yang rangkapannya dapat memadamkan api. Hal ini secara ilmiah tidak bertentangan dengan hukum kausalitas.

Setelah memperhatikan pada contoh yang telah disebutkan di atas, harus diketahui bahwa dewasa ini, sains telah menetapkan bahwa aksi dan reaksi, perubahan dan pergantian seperti ini bukanlah sesuatu yang mustahil dan sesuai dengan prinsip yang telah diterima bahwa “materi dan energi sekali-kali tidak akan musnah melainkan senantiasa berganti dan berubah (dari satu kondis ke kondisi lainnya)” Karena itu, dapat dikatakan bahwa terdapat kemungkinan adanya pergantian energi pada api menjadi materi dan hal ini bukan sesuatu hal yang mustahil dalam pandangan sains, kendati pada kondisi natural, kemungkinan bergantinya api secara cepat menjadi bunga dan tanaman, sangat pelik dan mungkin mustahil dalam pandangan kasat mata manusia.

Dengan kata lain, hal ini dapat dikatakan sebagai kemustahilan normal (muhal addi), namun perubahan dan pergantian ini bukanlah mustahil secara ilmiah (muhal ‘ilmi). Boleh jadi di masa-masa mendatang manusia mampu melakukannya dimana tentu saja pada waktu itu juga kemampuan manusia dalam mengganti energi menjadi materi masih terbatas dan pada masa yang cukup lama, mungkin mereka akan mampu mengubah energi menjadi hanya dalam beberapa menit.

Namun Allah Swt dengan segala kekuasaan yang dimiliki-Nya, dengan mudah mengganti energi yang memuat beban tinggi dan luas menjadi materi dalam bentuk apa pun yang dikehendaki-Nya dalam tempo sekejapan mata. Kekuasan Allah Swt didemonstrasikan pada peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim As. Api antek-antek Namruz dalam tempo yang singkat berubah menjadi taman yang secara sepintas menciderai hukum kausalitas; karena api, sifatnya membakar dan memiliki tipologi serta esensi panas.

Apa hikmah dibalik itu semua??


Padahal banyak cara yang ALLAH gunakan untuk menolong Ibrahim, bisa dengan membuat pasukan Raja Namrud menjadi tidak bisa melihat, sehingga tidak bisa menangkap nabi Ibrahim, atau ketika Nabi Ibrahim mau di bakar maka ALLAH turunkan hujan, tetapi ALLAH berkehendak untuk membuat api yang di ubah menjadi dingin, mengapa?
...
Karena, andai kata ALLAH buat pasukan raja Namrud tidak bisa melihat, mungkin mereka akan berkata “ Kalau saja Ibrahim kita tangkap, pasti kita sudah membunuhnya” atau jika hujan turun mungkin mereka akan berkata “Jikalau hujan tidak turun pasti Ibrahim sudah kita bakar”..

Sekarang mereka mau bilang apa? Ibrahim sudah di tangkap, api menyala berkobar-kobar, bahkan saking besarnya api, mereka membuat ayunan dari kayu untuk melempar nabi Ibrahim, Tetapi Nabi Ibrahim tidak terbakar sedikitpun. Tidak ada yang bisa mereka katakan kecuali “Ada Zat yang Maha Kuasa yang Melindungi Ibrahim”..

‘Hai api, dinginlah engkau dan menyelamatkan Ibrahim’.” (QS A-Anbiya: 69).
Dalam tafsir Ibnu Katsir ketika ALLAH berfirman “Hai api dinginlah engkau….” , maka seluruh api di Dunia ini menjadi dingin, lalu setelah di lanjutkan firmannya “…. Dan menyelamatkan Ibrahim” maka seluruh api berubah menjadi panas kembali, kecuali api yang digunakan untuk membakar Nabi Ibrahim..

 
Allah seakan ingin menunjukkan bahwa keyakinan mereka tentang berhala adalah SALAH BESAR. Maka Allah menampakkan kepada mereka (Raja Namrud) bahwa dibalik ketegaran Nabi Ibrahim, terdapat Kuasa Allah SWT yang senantiasa melindungi dan memayungi beliau.

Referensi:
http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa11429
http://www.kaskus.co.id/thread/51921e920b75b4cb1000000d/nabi-ibrahim-tidak-terbakar-api 

5 Sep 2014

Hukum dan Keistimewaan Wanita Berhijab Memancarkan Aura Kecantikan Alami






Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Hai kawan, tentu kalian pernah bertanya. Mengapa sebagian besar umat muslim banyak yang memutuskan tidak berhijab? Padahal berhijab itu hukumnya wajib bagi wanita muslim. Dalam artikel penulis akan menjelaskan sekilas tentang kewajiban berhijab dalam Islam dan manfaat apa saja yang diperoleh apabila seseorang memutuskan untuk berhijab.
Perlu diketahui, bahwa yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah faktor pakaian dan alat-alat perhiasan. Allah SWT berfirman dalam QS.Al-Araf 26 : “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian taqwa itulah yang paling baik”
Pakaian dalam Islam bukanlah sekedar hiasan yang menempel di tubuh, tetapi pakaian yang menutup aurat. Maka dari itu Islam mewajibkan setiap wanita muslim untuk menutupi anggota tubuhnya yang dapat menarik perhatian lawan jenisnya. Masalah berhijab (berbusana muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuh dari kepala hingga telapak kaki) bagi wanita muslim bukanlah masalah sederhana sebagaimana yang banyak disangkakan oleh masyarakat awam, melainkan masalah besar dan substansial dalam agama ini.
 Berhijab bukanlah sisa peninggalan adat atau kebiasaan wanita Arab, sehingga wanita non-Arab tidak perlu menirunya, namun berhijab bukanlah masalah khilafiah, yang diperselisihkan ada tidaknya berhijab itu sehingga wanita muslimah bebas mengenakan atau tidak, tetapi hijab adalah suatu hukum yang tegas dan pasti yang diwajibkan oleh Allah kepada wanita muslim untuk mengenakannya. Allah berfirman : ‘Hai nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Dari ayat tersebut telah dijelaskan secara gamblang tentang pakaian yang harus dikenakan oleh seorang muslimah, yaitu wajib menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ketetapan syari’at ini tidak lain adalah untuk melindungi, menjaga serta membentengi wanita dari laki-laki yang bukan mahramnya.




Beberapa keistimewaan apabila seorang muslimah mengenakan hijab :
1.             Wanita berjilbab lebih dipilih oleh kaum Adam
Ternyata para lelaki secara fitrah lebih menyukai wanita berhijab. Coba anda bayangkan saat anda hendak membeli kue di pasar. Pertama, ada kue yang terbungkus dengan daun pisang dengan dibalut dengan plastik putih. Kedua, ada kue yang tidak dibungkus dengan apapun dan dikerumuni banyak lalat. Nah kue mana yang akan anda pilih? Tentu saja kue yang dibungkus dengan daun pisang dan plastik. Karena kue yang dibungkus terjamin kebersihannya dari kontaminasi tangan-tangan yang penuh kuman dan virus. Begitu juga wanita berhijab. Mereka akan lebih dipilih sebagai pendamping hidup, kecuali wanita berhijab yang masih tidak bisa menjaga dirinya. Misalnya berikhtilat dengan kaum lelaki.

2.             Wanita Berhijab Lebih Anggun
Wanita berhijab lebih anggun jika menggunakan rok, baju tidak ketat, baju tidak transparan, menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Itulah berhijab secara kaffah. Wanita berhijab lebih anggun dengan pakaian takwanya.

3.             Wanita Berhijab Lebih Taqwa
Sejak wanita memutuskan untuk berhijab, secara otomatis wanita itu taat kepada Allah. Taat yang dimaksud yakni taat pada perintah Allah yang memerintahkan untuk berhijab. Walaupun wanita itu jahat, tetapi jika dibalut dengan hijab, wanita itu tetap taat pada Allah, khususnya pada perintah berhijab. Wanita berhijab akan merasa malu jika tidak menunaikan ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah SWT. Mereka akan merasa malu pada jilbab yang dikenakannya.

4.             Hijab, Cantik Di Mata Allah
Mendengar kata cantik, yang terbayang adalah seorang wanita yang anggota wajahnya (mata, hidung dan bibir proporsional), serta paras yang menawan. Cantik juga dikaitkan dengan kulit yang terawat baik, rambut hitam bercahaya dan bentuk tubuh langsing dengan gaya busana yang up to date. Bicara soal busana, seringkali yang dituduh sebagai penyebab ketidakcantikan seseorang adalah jilbab. Dengan pakaian yang syar’i, memang bentuk tubuhnya yang langsing tak tampak lagi. Kecantikan fisik merupakan salah satu nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada kaum hawa. Misalkan saja, jika kita diberikan harta yang berlimpah oleh Allah tentu kita berhati-hati dalam menjaganya dan melindunginya dari jamahan orang lain.  Hal serupa jika seorang wanita diberikan kecantikan fisik. Tentu harus dijaga dengan baik, dengan cara menggunakan hijab. Karena wanita berhijab memiliki nilai yang tinggi dimata Allah. Untuk itu jika seorang muslimah diberikan wajah yang cantik, dia harus pandai bersyukur. Syukur tidak hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi direalisasikan dalam bentuk perbuatan dengan cara memperlakukan kenikmatan tersebut agar senantiasa sesuai dengan perintah Allah SWT.

Jadi mulai sekarang, wanita muslim harus berhijab. Karena dengan berhijab akan terpancar kecantikan alami yang tidak dapat ditandingi oleh bahan kosmetik apapun. Apalagi saat ini terdapat beberapa model hijab yang lagi trend, seperti jilbab Hana. Hal ini akan mendorong wanita untuk berhijab. So, yang merasa muslimah sejati, ayo kita percantik diri dengan menggunakan hijab....

Sekian...Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


24 Agu 2014

Bincang-Bincang Muslimah: Hijab Covers My Head, Not My Mind



Adakalanya manusia itu sangat kesulitan menjalankan ketaatan, padahal sebenarnya dia tahu bahwa itu adalah syariat Allah. Dunia menjadi alasan atas pengingkaran syariat dan menjadi pembenaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Dan bahkan apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan dan nantinya akan mendapat azab Allah.
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nafi' dari Al Hasan bin Muslim dari Shafiyyah binti Syaibah bahwa 'Aisyah radliallahu 'anha pernah berkata; Tatkala turun ayat: Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.. (An Nuur: 31). Maka mereka langsung mengambil sarung-sarung mereka dan menyobeknya dari bagian bawah lalu menjadikannya sebagai kerudung mereka. (H.R Bukhari)
Kisah diturunkannya syariat mengenakan kerudung bagi perempuan muslim di atas adalah salah satu perintah penting, namun banyak yang terlena. Selalu ingatlah bahwa Allah sebagai Sang Pencipta Langit dan Bumi lebih mengerti siapa hamba-Nya. Setiap syariat yang diturunkan yakinlah, pasti terdapat hikmah dibaliknya. Begitu juga, syariat mengenakan kerudung memiliki hikmah yang sangat mulia. Salah satunya adalah menjadi bukti bahwa Islam sangat menghargai terhadap wanita. Karena wanita begitu berharga.
Syariat ini menegaskan bahwa Islam ingin melindungi wanita dari berbagai terpaan dan godaan syahwat dari lawan jenis. Islam menginginkan wanita memiliki derajat yang tinggi yang tidak bisa dibanding-bandingkan dengan laki-laki. Wanita dikatakan terhormat karena kerudung yang menutupinya. Kata orang “Tidak semua wanita berkerudung itu sholihah, tapi wanita sholihah itu pasti berkerudung”
Begitu tinggi kemuliaan wanita dalam Islam, namun banyak umat Islam yang mengingkarinya. Banyak alasan yang diungkapkan, hanya karena lebih condong kepada nafsu syahwat dan godaan dunia. Salah satu alasan yang terlihat keren dan cool, tapi sebenarnya menunjukkan jawaban kebodohan adalah:
X : “Kenapa kamu tidak mengenakan kerudung?” Padahal itu kan sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslimah.”
Y : “Maaf ya, saya sudah memakai hijab yang lebih kuat, yaitu hijab hati.”
X : “Bagus nih buat kamu, ada Bincang-Bincang Muslimah dengan tema “Hijab Covers My Head, Not My Mind”
Y : “iya.” (jleb)
Bagi kalian yang masih ragu-ragu atau ingin belajar untuk memakai hijab, ini ada suguhan menarik dari Badan Pengkajian Pengamalan Islam, yaitu Bincang-Bincang Muslimah dengan tema Hijab Covers My Head, Not My Mind. Dengan menghadirkan pembicara:
1.      Umi Pipik Dian Irawati
(Ustadzah dan Artis)
2.      Yulia Rachman
(Artis dan Penulis Buku)

Tempat dan Tanggal:
Aula Pascasarjana UNS (Lantai 6)
Minggu, 14 September 2014
Pukul 07.30-12.00
Cara Pendaftaran
Ketik: nama lengkap_asal univ_nomor hp.
Kirim ke: Rizky (085647510719)
HTM
Pelajar/Mahasiswa Rp. 20.000
On the Spot: Rp. 25.000
Umum Rp. 25.000
On the Spot Rp. 30.000
Cara Pembayaran
Rekening a.n Sabilla Primadevi
BNI Syariah 030423342



21 Agu 2014

Seimbangkan dengan Kecerdasan Spiritual: Sebuah Petuah untuk Kesuksesan Hakiki





Zohar dan Marshal mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari pada yang lain.[1] Kecerdasan spiritual menurut Khalil A Khavari di definisikan sebagai fakultas dimensi non-material kita atau jiwa manusia. Ia menyebutnya sebagai intan yang belum terasah dan dimiliki oleh setiap insan. Kita harus mengenali seperti adanya, menggosoknya sehingga mengkilap dengan tekat yang besar, menggunakannya  menuju kearifan, dan untuk mencapai  kebahagiaan yang abadi.[2] Dapat disimpulkan bahwa definisi kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk menyadari dan menilai makna dan nilai terhadap kekuatan yang lebih besar dan lebih tinggi sehingga akan mengarahkan hidup kepada jalan yang positif menuju kebahagiaan hakiki.
Dalam klasifikasi umum dikenal tiga kecerdasan yakni IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritually Quotient). IQ berkaitan dengan kemampuan intelegensi seseorang ketika memimpin, IQ berperan dalam kelancaran pekerjaan secara teknis dan strategis. Sedangkan EQ menurut Daniel Goleman, meliputi kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Kecakapan tersebut mencakup lima komponen yaitu pengenalan diri, pengendalian emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan berempati dan kemampuan mengendalikan hubungan antar sesama manusia. IQ menentukan sukses seseorang sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosi (EQ) memberi kontribusi 80%.[3]
Dua kecerdasan ini memang memiliki peran dalam menentukan kesuksesan hidup manusia, tetapi masih BELUM CUKUP. Berdasarkan penelitian sepuluh tahun terakhir ternyata adanya EQ dan IQ pun belum cukup untuk mengatasi keadaan saat ini. Pernyataan yang seringkali muncul adalah bagaimana jadinya kalau EQ dan IQ tersebut malah digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti Hitler atau Stallin. Bisa saja didepan seluruh rakyat yang dipimpinannya mereka dapat tercitrakan baik secara intrapersonal dan interpersonal serta mempunyai intelegensi tinggi, namun dibalik itu semua mereka menyimpan niat keji terhadap rakyatnya yang hingga kini kita dapat membaca di buku sejarah tentang pembantaian ribuan manusia tak berdosa.[4] Ketika IQ dan EQ digunakan tanpa karakter maka hasilnya adalah kerusakan. Maka inilah peran SQ sebagai bingkai yang akan menjadi pedoman dalam menggunakan IQ dan EQ dalam koridor kebenaran. Kesuksesan bukan hanya pada jabatan atau kekayaan, tetapi kesuksesan itu ketika ilmu itu bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa. 
 Nah loh, inilah pentingnya menanamkan kecerdasan spiritual dalam diri kita. Ingatlah, tanpa SQ hidup ini tidak akan terarah. Hati ini akan gersang dan kering akan nilai. Maka tanamkanlah dari sekarang.



[1] Danah Zohar dan Ian Marshal,. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. (Bandung: Mizan, 2001), hal 4
[2] Sukidi. Rahasia Sukses Hidup Bahagia, Mengapa SQ Lebih Penting dari pada IQ dan EQ. (Jakarta: Gramedia, 2004), hal 77
[3] http://www.alifbraja.wordpress.com/2012/07/06/kecerdasan-spiritual/
[4] Ary Ginanjar Agustian, 2001, Rahasia Sukses Membangun kecerdasan emosi dan spiritual ESQ berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 rukun islam, Jakarta, Arga Wijaya Persada, hal.56.

9 Jul 2014

Edisi Ramadhan: Karena Peran Muslimah Begitu Berharga, Tetapi Kenapa Seakan-akan Diam?



Allah SWT menciptakan semuanya itu berpasang-pasangan. Panjang - pendek, tinggi - rendah, luas - sempit, dan juga Allah menciptakan Nabi Adam as juga Siti Hawa. Menjadi sebuah bukti betapa Allah Maha Pencipta dengan segala hikmah dibalik ciptaan-Nya. Mari kita menilik persoalan yang membelit generasi muda Islam terkini, yaitu sempit dan sedikitnya peran serta muslimah  dalam mengemban dakwah Islamiyyah. Bahkan kebanyakan mereka dari mereka tidak pernah aktif dalam lapangan dakwah. Mereka beralasan bahwa dakwah, amar makruf nahi munkar adalah tugas kaum lelaki.

Apakah alasan itu beralasan? Mari lihat firman Allah :

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (At-Taubah: 71)

Khadijah (radiyhuanha) memberikan kenyamanan, bantuan, dan dukungan kepada Nabi Muhammad SAW, yang menjadikan bukti terbesar dari sangat pentingnya peran ini. Para Sahabat Nabi yang memilih meninggalkan rumah mereka untuk pergi ke tempat yang ribuan mil jauhnya demi Islam pada awal-awal penyebaran Islam di Mekkah, juga memiliki dukungan dari istri mereka.


Pekerjaan para wanita Muslim di bidang Dakwah pada dasarnya memperkuat kerja dakwah pria. Sangat menyedihkan bahwa peran ini begitu terlalu diabaikan dan diremehkan. Dengan sifatnya sebagai selimut spiritual dan psikologis manusia, wanita dapat memainkan peran penting dalam Dakwah. Demikian juga bahwasanya wanita muslim lah yang paling tahu watak seorang muslimah. Jikalau laki-laki yang mencoba berdakwah kepada seorang muslimah, yakinlah akan mengalami kesulitan. Selain kesulitan dalam menjaga izzah, juga sulit dalam memahamkan.
Wanita, yang memahami peran mereka akan dakwah dan kebangkitan Islam, akan mulai mendidik diri mereka sendiri dan mencapai hak-hak mereka atas pendidikan dan tarbiyah. Lihatlah Hadis riwayat Abu sa’i bahwa Para sahabiyah pernah mengadu kepada Rasul saw karena merasa tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan para sahabat dalam mendapatkan penjelasan agama. Sebab Rasul saw ketika menyampaikan ajaran Islam dalam majlis, hanya dihadiri oleh kaum laki-laki. Maka Para wanita itu meminta kepada Rasul saw agar menyediakan satu hari khusus untuk memberi pelajaran kepada kaum wanita tanpa kehadiran laki-laki.
Ummu Sulaim mengajar anaknya Anas bin Malik tentang Islam, meskipun suaminya menolak Islam. Ketika Abu Thalhah melamarnya (sebelum menerima Islam) dia mengatakan bahwa mas kawinnya adalah Islam, Abu Thalhah pada gilirannya memeluk Islam dan menikahi Ummu Sulaim.
Jika kita bergerak ke lingkaran yang lebih luas, kita akan menemukan bahwa wanita Muslim memainkan peran besar dalam pengorbanan dan layanan untuk agama Allah. Sumayyah menyerah hidupnya ketika Abu Jahal membunuhnya karena memilih menjadi seorang Muslim. Dia adalah Muslim dan perempuan pertama yang tewas dalam Islam.
Khadijah, istri pertama Nabi yang sangat kaya, menghabiskan uangnya untuk mendukung dakwah suami tercintanya. Ummu Salamah rela meninggalkan suaminya dan melihat anak-anaknya dianiaya ketika dia hijrah. Ummu ‘Imarah turut berjuang dalam membela Nabi (damai dan berkah besertanya) dalam perang Uhud, dengan merawat yang terluka dalam pertempuran adalah peran Perempuan Muslim memainkan peran dalam perang sepanjang sejarah Islam.
So, tidak ada alasan lagi untuk tidak ikut dalam medan dakwah. Sesungguhnya engkau begitu berharga.





7 Jul 2014

Siapkan Diri Sambut Ramadhan

Selanjutnya, jika salah seorang dari kamu mencapai bulan itu, maka ia harus berpuasa” (Q.S. Al Baqarah: 185).

Nah teman-teman pasti tahu kan setelah baca terjemahan dari ayat Al-Qur’an tersebut bulan apa yang dimaksudkan, yap betul, akan segera datang bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan sangat dimuliakan oleh seluruh muslim di dunia, bulan yang sakral dan suci bagi orang-orang yang menginginkan pengampunan atas dosa-dosanya yang terdahulu seperti hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni baginya dari dosa-dosanya yang telah lalu."

Bulan Ramadhan akan segera tiba, dan tanpa persiapan yang matang kita tidak dapat mengoptimalkan Ramadhan kali ini secara maksimal. Hal ini harusnya dihindari karena pahala yang berlipat-lipat tersebut tidak sia-sia kita lewatkan begitu saja. Nah, agar bulan Ramadhan tahun ini kita dapat mengoptimalkannya untuk berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik maka ada beberapa hal persiapan yang perlu kita lakukan.

Pertama yaitu niat. Niat ini sangat penting dimana setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan selalu diawali dengan niat. Bahkan dengan hanya dengan berniat yang baik saja mendapat pahala, bagaimana dengan melakukan hal baik tersebut, pasti akan bertambah pahala yang lebih besar. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui sehingga kita dapat bersungguh-sungguh dalam menjalankannya karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini.

Yang kedua yaitu bertaubat. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat, karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi, karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi.

Selanjutnya yang ketiga yaitu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah lain. Hal tersebut sangat perlu dilakukan bahwa sebenarnya pahala di bulan suci Ramadhan ini bukan hanya dari berpuasa saja melainkan ada ibadah lain yang memiliki pahala tak jauh besar dari sekadar berpuasa. Pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu kita ketahui seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.

Dan yang terakhir yaitu persiapan fisik. Fisik yang prima dapat mendukung berlangsungnya aktivitas utama di bulan Ramadhan yaitu berpuasa, selain itu fisik juga berperan penting dalam melaksanakan aktivitas lainnya seperti shalat sunah, tadarus, dan sebagainya di bulan  suci ini. Salah satu persiapannya yaitu melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan sehingga kita akan terbiasa jika menjalankan puasa di bulan Ramadhan 1435 H.


Memulai datangnya bulan Ramadhan memang tak lepas dari berbagai hal persiapan, baik secara jasmani maupun ruhani. Persiapan ini sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum mendekati bulan Ramadhan agar setiap aktivitas dan kegiatan yang kita lakukan mampu berjalan secara optimal dan bernilai ibadah. Mari kita songsong Ramadhan kali ini dengan persiapan yang maksimal untuk memperoleh hasil yang maksimal pula. Semoga bermanfaat.

(Ditulis oleh Harry Sumantri Hartasa, dalam Pelatihan Jurnalistik Internal Media Komunikasi dan Informasi BPPI, 24-25 Juni 2014)