24 Jun 2013

Abraj Al Bait



Menara Abraj Al Bait adalah sebuah kompleks bangunan yang terletak di kota kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, Makkah, Arab Saudi. Kompleks bangunan ini dirancang oleh para arsitek dari Dar Al Handasah Architects dan pelaksanaan pembangunannya dilakukan oleh Saudi Binladin Group. Lokasi menara ini berada di seberang jalan Masjidil Haram.

 Menara Abraj Al Bait dan Masjidil Haram

Di puncaknya, terdapat jam besar dengan empat sisi yang diharapkan akan menjadi panduan waktu bagi 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia, ditopang oleh menara paling tinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab. Masing-masing sisi berdiamater 41 meter dan terbuat dari keramik. Mengalahkan jam raksasa di Mall Cevahir, Istambul, yang berdiameter 36 meter.

Baru satu dari empat sisi jam yang telah selesai dan ditutup dengan 98 juta lembar kaca mozaik. Beberapa bagiannya dilapisi emas.


Posisi jam sekitar 400 meter dari Masjidil Haram. Jam raksasa itu dipasang pada ketinggian 601 meter. Mengalahkan Menara Taipei 101, yang berketinggian 509 meter, tapi masih di bawah Burj Khalifa, yang berketinggian 828 meter.

Jam ini juga lebih besar enam kali dibandingkan Big Ben di London, Inggris. Masing-masing sisi dilengkapi lafaz Allah dalam transliterasi Arab, yang terletak di atasnya.

Jam ini juga dihiasi dua juta lampu warna-warni. Dan sebanyak 21.000 lampu berwarna putih dan hijau akan berpendar setiap kali adzan dikumandangkan. Cahaya lampu itu akan terlihat hingga 30 km.

“Kami, penduduk Makkah, berharap, ini akan menjadi pusat zona waktu dunia. Bukan hanya sebuah jam yang dipertunjukkan,” kata Hani Al-Wajeeh.

Jam tersebut berlatar belakang hiasan pedang yang bersilang dan pohon palem, sebagai simbol negara Saudi.

Menurut Mohammed Al-Arkubi, manajer The Royal Mecca Clock Tower Hotel, gedung yang berada di bawah jam raksasa itu, tender pembangunan jam dimenangkan sebuah perusahaan dari Jerman. “Ini merupakan megaproyek,” katanya.

Berdirinya jam raksasa ini merefleksikan salah satu keinginan umat Islam dunia menggantikan standar waktu universal yang telah berusia 126 tahun yang dikenal sebagai GMT.

Pada konferensi di Doha, 2008, para ulama dan ilmuwan itu mengungkapkan bahwa Makkah adalah pusat dunia. Menurut ulama ternama asal Mesir, Yusuf Al-Qardawi, Makkah merupakan garis bujur utama karena sangat sejajar dengan Kutub Utara.

Klaim Makkah sebagai zona magnet nol juga didukung ilmuwan Arab lainnya, seperti Abdel-Baset Al-Sayyed dari Pusat Penelitian Mesir. “Jika seseorang tinggal di Makkah cukup lama, akan lebih sehat, karena sedikit sekali terpengaruh gravitasi bumi,” ujarnya.

Kompleks Abraj Al-Bait berada di jalanan dari pintu selatan Masjidil Haram. Kompleks itu terdiri atas enam gedung dengan 42 hingga 48 lantai.

Kompleks tersebut memiliki 3.000 kamar hotel dan apartemen, ditambah lima gedung pusat perbelanjaan serta 1,5 juta meter persegi bangunan untuk lobi. Arsitek dan perusahaan konstruksi yang membangun gedung tersebut sama dengan yang mendesain Terminal Tiga Bandara Internasional di Dubai, yakni pengembang Bin Laden Group. Kompleks ini memiliki tiga hotel papan atas, yakni The Fairmont, Raffles, dan Swiss Hotel.

Di sini juga terdapat apartemen mewah, sebagian besar didesain agar mampu melihat langsung Masjidil Haram.

Proyek itu merupakan bagian dari rencana pemerintah Saudi untuk mengembangkan Makkah agar mampu menampung 10 juta jama’ah haji tiap tahunnya. Saat ini Makkah hanya mampu menampung tiga juta jama’ah haji.

Pada musim haji, menurut arsitek Dar Al-Handasah, kompleks tersebut mampu menampung 65.000 jama’ah haji. Nantinya akan disediakan elevator bagi pengunjung yang ingin melihat balkon jam tersebut. Kemudian ada juga observatorium astronomi dan museum Islam.

Menurut Kementerian Agama Saudi, keseluruhan proyek jam raksasa menelan biaya 800 juta dolar AS (Rp 7.200.000.000.000.000)


Dukungan dari Indonesia

Rencana pemerintah Arab Saudi memindahkan pusat waktu dunia dari Inggris ke Makkah disambut  baik Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sabtu lalu,(11/5), Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia, menggelar pertemuan untuk membahas kemungkinan pergantian acuan waktu dunia dari Greenwicht Mean Time (GMT) menjadi waktu Mecca Mean Time (MMT). Hadir dalam pertemuan tersebut utusan  kedubes Arab Saudi Dr.Mas’ud bin Sa’ad Al-Khomidi, Peneliti Senior Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof.Dr.Thomas Djamluddin serta sejumlah pengurus pusat MUI antara lain, Tengku Zulkarnain, MA, Prof. Dr. Muhammad Amin dan Dr. H. Ahmad Izzudin, M.Ag.

Seperti diketahui, selama ini kita hanya mengenal satu standar waktu yakni jam yang dihitung dari bujur 0 derajat yang melewati Observatorium Greenwich di inggris (GMT). Aturan  yang sudah berlaku ratusan tahun ini yang ingin ditantang Makkah. Pemerintah Arab Saudi berharap jam Menara Makkah ini menjadi acuan 1,5 miliar muslim di dunia.

Menurut Prof.Dr.Thomas Djamluddin, gagasan yang menjadikan Makkah sebagai acuan zona waktu umat muslim di dunia, setelah dibangunnya jam besar yang berada di Masjidil Haram, Kota Makkah diharapkan menjadi acuan zona waktu. Keinginan besar yang membutuhkan kesepakatan yang tidak mudah itu nantinya diharapkan akan membangun semangat untuk mempersatukan umat Islam di seluruh dunia.

Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat MUI Dr. H. Din Syamsuddin dan Ketua Umum PBNU Dr. KH. Said Aqil Siraj menyambut baik hasrat pemerintah Arab Saudi itu. Din berpendapat bahwa hal itu merupakan ide baik dan boleh-boleh saja. Tetapi tentu, perlu ada kesepakatan dari sejumlah pihak tentang pergeseran pusat waktu dunia ini, termasuk kesepakatan negara-negara di belahan dunia lain yang mengikuti acuan GMT. "Sikap pemerintah Indonesia juga perlu diambil melalui pertemuan khusus untuk membicarakan hal ini. Nanti kita bicarakan bersama pemerintah," katanya.

Namun, Diingatkan  hal penting yang harus diperhatikan adalah soal pembangunan akhlak. Jangan sampai sensasi tentang gedung tertinggi kedua di dunia tersebut sebatas seremonial saja. Tidak hanya itu, pemerintah Arab Saudi juga disarankan untuk melakukan pertemuan lintas negara agar mencapai sebuah kesepakatan.

Sementara itu, pakar astronomi ITB Moedji Raharto menyarankan agar MMT nantinya dijadikan jam hijriyah. Usaha pemerintah Arab Saudi untuk menggeser pusat waktu dunia ke Makkah memang bukan perkara mudah. Hal yang bisa dilakukan sekarang adalah dengan menjadikan jam raksasa tersebut sebagai acuan waktu hijriah terlebih dahulu.

"Sekarang kan baru ada penanggalan hijriah, kenapa tidak dibuat saja semacam penyatuan waktu untuk jam hijriah," kata Moedji Raharto sambil mengakui bahwa butuh usaha besar untuk menjadikan Makkah seperti Greenwich Mean Time (GMT). Sebab, negara-negara lain yang terlanjur menggunakan acuan waktu di wilayah tenggara London tersebut akan melakukan penyesuaian besar-besaran.

Dari berbagai sumber.

Nilai Artikel

2 komentar :

  1. mungkinkah... awal menuju persatuan ummat Islam dan membentuk sebuah daulah khilafah Islamiyyah?

    BalasHapus
  2. Wallahu a'lam..
    Namun yang pasti, langkah Saudi Arabia ini patut diapresiasi oleh kita kaum muslimin.

    BalasHapus