25 Okt 2012

Ka'bah dan Al Masjid Al Haram

Ka’bah dan Masjidil Haram merupakan tempat ibadah tertua di muka bumi. Tempat paling suci dalam Islam ini berkali-kali disebut dalam kitab suci Al-Qur’an, baik dalam hal kaitannya dengan ibadah haji, maupun terkait masalah lainnya. Haji, ibadah dalam Islam yang merupakan salah satu rukun Islam, juga sebagiannya dilakukan di Masjidil Haram. Ka'bah, bangunan hampir kubus di tengah Masjidil Haram merupakan kiblat kedua shalat umat Islam dan sampai sekarang kaum muslimin di seluruh dunia menghadap ke arah Ka'bah dan Masjidil Haram saat shalat.

 Ka'bah dan Masjidil Haram

Mengenai Masjidil Haram ini, Penutup barisan para nabi, Muhammad s’aw bersabda, Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) ini lebih afdol (utama) dari seribu shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali masjidil Haram, dan shalat di masjidil Haram lebih afdol (utama) dari seratus shalat di masjidku ini.” {HR. Ahmad}

Sejarah

Allah SWT dalam Al-Qur’an juga telah menegaskan bahwa Ka’bah dan Masjidil Haram merupakan tempat ibadah pertama kali yang dibangun di muka bumi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” {QS. Ali ‘Imran (3) : 96}. Walaupun begitu, pihak yang membangun rumah ibadah pertama ini, masih terjadi perbedaan pendapat.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa malaikat yang membangun Ka’bah dan Masjidil Haram pertama kali. Beberapa juga berpendapat bahwa Adam ‘as lah yang membangunnya. Akan tetapi, Ka’bah hancur karena banjir bandang yang terjadi di zaman rasul pertama, Nuh ‘as. Namun tak ada nash yang menyatakan hal tersebut.

Penjelasan paling gamblang dalam Al-Qur’an tentang pembangunan Ka’bah adalah saat di zaman Ibrahim ‘as.

Hamparan pasir gurun Paran mulai terisi saat Hajar dan puteranya yang masih bayi ditempatkan di sana oleh sang suami, Ibrahim ‘as, tempat kering tanpa manusia seorang pun di sana. Atas dasar keyakinannya bahwa Allah SWT akan selalu menolongnya, Hajar rela ditempatkan di tempat tandus tersebut hanya bersama sang anak dan perbekalan terbatas.

Seiring waktu berjalan, perbekalan makanan dan air yang dibawa Hajar telah habis. Melihat Isma’il kecil yang merengek, maka Hajar segera berlari ke bukit Shafa, mencari sesuatu untuk menyambung hidup. Tak melihat apapun, segera Hajar berlari ke bukit Marwah, namun hasilnya nihil. Hajar bolak-balik antara Shafa dan Marwah hingga sampai tujuh kali. Allah SWT mengabadikan perbuatan Hajar ini saat sa’i dalam ibadah haji.

 Jalur Sa'i bagian bukit Shafa

Hingga keajaiban terjadi. Tiba-tiba air muncul di sekitar Isma’il, sekarang tempat tersebut menjadi sumur zamzam. Lambat laun, orang-orang mulai berdatangan ke sana dan membentuk sebuah perkampungan.
Saat Isma’il beranjak dewasa, Ibrahim ‘as atas perintah Allah SWT mengajaknya untuk membangun kembali Ka’bah. Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il (seraya berdoa), ‘Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” {QS. Al-Baqarah (2) : 127}

Sejarah Ka’bah

Zaman Sebelum Kenabian

Saat Muhammad ibn ‘Abdullah berusia sekitar 30 tahun dan belum diangkat menjadi nabi, banjir bandang terjadi di kota Makkah. Banjir tersebut juga turut mengenai Masjidil Haram dan Ka’bah hingga beberapa pondasinya rusak.

Dikarenakan banjir, juga pertimbangan keamanan bahwa dinding dari Ka’bah yang saat itu tanpa atap  hanya setinggi sekitar dua meter hingga orang mudah memanjat dan mengambil barang berharga di dalamnya, dilakukanlah renovasi terhadap Ka’bah setelah terlebih dahulu merobohkan bangunan lamanya. Al-Walid ibn Al-Mughirah Al-Makhzumy bangkit mengawali perobohan tersebut. Setelah melihat tidak ada hal buruk yang terjadi pada Al-Walid, orang-orang Quraisy pun mulai ikut merobohkan Ka’bah sampai ke bagian rukun Ibrahim.

Pembangunan Ka’bah yang dipimpin arsitek dari Romawi ini pada akhirnya menjadikan pintu Ka’bah yang semula dua hanya menjadi satu saja lantaran terkendala masalah biaya. Pintu Ka’bah dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah agar tak sembarang orang bisa memasukinya.

Kaum Quraisy juga menyisakan bangunan Ka’bah di bagian utara seukuran enam hasta yang kemudian disebut Hijr Isma’il.

Pada saat Nabi Muhammad s’aw telah menjadi rasul, beliau pernah bersabda, “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan aku turunkan pintu Ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijr Ismail ke dalam Ka’bah.” Nabi Muhammad s’aw ingin agar Ka’bah dibangun sesuai pondasi Ibrahim ‘as.

Masa Bani Umayyah

Saat ‘Abdullah ibn Zubair r’a memerintah hijaz, Ka’bah dibangun kembali sesuai sabda Nabi Muhammad s’aw. Namun itu tak berlangsung lama. Saat terjadi peperangan dengan Abdul Malik ibn Marwan, penguasa daerah Syam (sekarang Syiria, Palestina, Mesir, dan sekitarnya), terjadi kebakaran pada Ka’bah. Oleh Abdul Malik ibn Marwan yang saat itu telah menduduki posisi khalifah, Ka’bah direnovasi kembali seperti zaman Nabi Muhammad s’aw, tidak berdasarkan pada pondasi Ibrahim ‘as.

Masa Bani Abbasiyah

Di masa kekhalifahan Harun Al Rasyid, khalifah kelima Bani Abbasiyah ini ingin membangun kembali Ka’bah sesuai keinginan Nabi Muhammad s’aw, atau berdasar pondasi Ibrahim ‘as. Namun Imam Malik rahimahullah berusaha mencegahnya dengan alasan bahwa dikhawatirkan Ka’bah akan menjadi ajang bongkar pasang setelah ini. Akhirnya Khalifah Harun Al Rasyid mengurungkan niatnya sehingga bangunan Ka’bah sesuai dengan renovasi Khalifah Abdul Malik ibn Marwan sampai sekarang.

Bagian Ka’bah

Ka’bah adalah bangunan berbentuk hampir kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram, Makkah. Dimensi struktur bangunan ka’bah lebih kurang berukuran 13,10 m tinggi dengan sisi 11,03 m kali 12,62 m.

 Bagian-bagian Ka'bah

Ka’bah juga sering disebut Baitullah atau rumah Allah. Beberapa bagian penting di Ka’bah dan sekitarnya antara lain : 

1.  Hajar Aswad dan sudut Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah batu yang berasal dari surga. Orang yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim ‘as. Hajar Aswad terletak di sudut tenggara Ka’bah. Awalnya Hajar Aswad dapat menerangi seluruh Jazirah ‘Arab, lantas semakin lama semakin meredup dan menghitam lantaran dosa Bani Adam. Nabi Muhammad s’aw pernah mencium Hajar Aswad dan hal ini dilakukan oleh umat Islam sepeninggal beliau.
Walaupun begitu, tetap saja Hajar Aswad tak lantas diperlakukan layaknya barang-barang keramat yang digunakan untuk mencari berkah. Seorang ‘ulama’ besar, Ibnu Utsaimin, berfatwa, Adapun dugaan sebagian orang-orang awam bahwa maksud dari mencium Hajar Aswad adalah untuk mendapat berkah adalah dugaan yang tidak mempunyai dasar, maka dari itu batil.”

Seorang shahabat Nabi, ‘Umar ibn Khaththab r’a pernah berkata, Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan tidak memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menciummu, aku tidak akan menciummu.” {Muttafaq ‘Alaih}

Jadi, Hajar Aswad bukanlah batu bertuah pencari berkah, keramat, dan pemikiran sejenis yang berbau mistis dan klenik. Hajar Aswad adalah batu dari surga. Umat Islam menciumnya bukan karena menyembah batu tersebut atau mencari berkah dan semacamnya, namun karena meneladani Rasulullah s’aw semata. Dalam Islam, segala bentuk ibadah, hanya untuk Allah Yang Tunggal, tanpa perantara, tanpa sekutu.

2. Pintu Ka’bah

Dulunya ada dua pintu di Ka’bah. Namun setelah renovasi di zaman Muhammad berusia 30 tahun, hanya ada satu pintu di Ka’bah, yang ada di bagian tenggara. Tahun 1942, Ibrahim Badr membuat pintu Ka’bah dari perak.

Pintu Ka'bah

Tahun 1979, putra Ibrahim Badr, Ahmad, membuat pintu baru untuk Ka’bah yang terbuat dari 300 kg emas, menggantikan pintu perak buatan sang ayah. 

3. Talang Emas

Terletak di Ka’bah atas bagian utara, di atas Hijr Isma’il. Talang yang ditambahkan pada tahun 1627 ini berfungsi untuk mengalirkan air hujan yang ada di atap Ka’bah.

4. Hijr Isma’il

Area yang terletak disebelah utara Ka’bah, dilingkari oleh tembok lebar (Al-Hathimu) setinggi satu setengah meter yang terbuat dari marmer. Di tempat ini jemaah melakukan shalat, berdo’a dan sebagainya.

Hijr Ismail, Area di utara Ka'bah yang dibatasi tembok marmer setinggi satu setengah meter
Dulunya tempat ini juga bagian dari Ka’bah. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari ‘A’isyah r’a ingin sekali memasuki Ka’bah dan beribadah di dalamnya, lalu Rasulullah s’aw memerintahkan masuk Hijr Isma’il saja dan tidak ke dalam Ka’bah, sebab shalat / beribadah di Hijr Isma’il sama dengan di dalam Ka’bah.
Itulah alasan Hijr Isma’il tak boleh dilewati saat umat Islam sedang thawaf.

5. Multazam

Dinding antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah sepanjang sekitar dua meter.
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah juga berkata, “Jika mau, sebaiknya jamaah mendatangi Multazam—yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah—lalu menempelkan dada, wajah, kedua lengan, dan kedua telapak tangannya seraya berdoa dan meminta apa pun kepada Allah SWT. Hal itu sebaiknya dilakukan sebelum melaksanakan thawaf Wada. Namun pada dasarnya, berdoa seperti itu di Multazam tidak harus dilakukan saat thawaf Wada atau thawaf lainnya, tetapi bisa dilakukan kapan saja. Menurut riwayat, para sahabat berdoa di Multazam ketika baru memasuki Makkah.”

6. Maqam Ibrahim

Ada yang berfikir bahwa tempat ini tempat jasad Ibrahim ‘as dikebumikan, padahal tidak. Maqam Ibrahim adalah batu pijakan Ibrahim ‘as saat beliau membangun bagian atas Ka’bah bersama Isma’il ‘as.

Maqam Ibrahim

Di zaman Khalifah ‘Umar ibn Khaththab r’a, maqam Ibrahim digeser beberapa meter dari dinding Ka’bah setelah sebelumnya menempel pada dinding. Hal ini dilakukan agar orang yang hendak shalat di sekitar maqam Ibrahim tak mengganggu orang yang sedang thawaf.

7. Rukun Yamani

Sudut Ka’bah bagian barat daya. Umat Islam memulai ibadah thawaf, mengelilingi Ka’bah tujuh kali, dari rukun Yamani.

8. Rukun Syiria. Sudut Ka’bah bagian barat laut.

9. Rukun Iraq. Sudut Ka’bah bagian timur laut.

10. Kiswah

Kain penutup Ka’bah. Terbuat dari 670 kg sutra disulam dengan 15 kg benang emas. Penggantian kiswah dilakukan setiap tanggal 9 Dzulhijjah, saat Masjidil Haram sepi lantaran para jamaah haji sedang wukuf di Arafah.


Sejarah dan Bangunan Masjidil Haram

Masa Kenabian dan Khulafaur Rasyidin

Peristiwa penaklukan kota Makkah (Fathul Makkah) pada tahun 630 M menghapus dominasi paganism dari Makkah, khususnya Masjidil Haram. 360 berhala yang berdiri di sekeliling Ka’bah dihancurkan satu persatu, menandai era Islam di Makkah.

Imam Abul Hasan Mawwardi meriwayatkan bahwa di zaman Rasulullah Muhammad s’aw sampai Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq r’a, Masjidil Haram masih tidak memiliki dinding.

Menginjak tahun 638 M, Khalifah ‘Umar ibn Khaththab r’a membeli rumah-rumah di sekeliling masjid guna memperluas masjid. Khalifah ‘Utsman ibn Affan r’a juga melanjutkan perluasan masjid pada tahun 647 M.

Masa Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmani

Pada tahun 696 M, ‘Abdullah ibn Zubair yang merupakan cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq r’a melakukan perluasan masjid dengan membeli bangunan-bangunan di selatan dan timur masjid. Zaid ibn ‘Abdullah juga melakukan perluasan Masjidil Haram di utara dan barat atas perintah Khalifah Abu Jaffar Al-Mansur, Khalifah Abbasiyah kedua.

Lambat laun, Masjidil Haram juga dihiasi berbagai ornament ayat suci Al-Qur’an. Tiang-tiang kayu dalam masjid digantikan dengan tiang marmer yang juga memiliki ukiran yang indah.

986 Masehi, Khalifah Harun Al-Rasyid memasukkan gedung Dar An-Nadwah di sebelah utara masjid dan membangun Bab (Pintu) Ibrahim di barat masjid. 1243 Masehi, dilakukan perbaikan Bab As-Salam oleh ‘Ali ibn ‘Umar dari Yaman.

Tahun 1379 Masehi, Amir Zainal Abidin Al-Utsmani memerintahkan Sudun Pasca untuk menghias pintu masjid dan memperbaiki atap dan pancuran air di Ka’bah. Tahun 1399 Masehi, terjadi kebakaran besar di Masjidil Haram hingga berbagai hasil kesenian di Masjidil Haram turut musnah. Amir Besar Az-Zahiri memperbaiki Masjidil Haram di tahun berikutnya hingga sampai tahun 1401.

Khalifah Salim II dari Turki Utsmani memperindah Masjidil Haram dengan menambahkan banyak kubah dan relung indah di interior masjid. 

Masjidil Haram beberapa ratus tahun lalu


Masa Kerajaan Saudi

Raja ‘Abdul ‘Aziz memulai proyek perluasan Masjidil Haram sejak tahun 1955 M. Dalam kurun waktu 20 tahun, luas Masjidil Haram yang semula 19.000 meter persegi menjadi 160.000 meter persegi. Pelataran Ka’bah tempat para jamaah thawaf juga diperluas sampai tiga kali lipat dan jalur sa’i juga dibuat tertutup.
Raja-raja Saudi setelah beliau juga melakukan perluasan terhadap Masjidil Haram. Sampai artikel ini dibuat, Masjidil Haram yang terdiri dari dua lantai ditambah area atap dapat menampung 4.000.000 jamaah.

Interior Masjidil Haram


Menara

Tahun 706 Masehi, Khalifah Al-Mansur dari Abbasiyah membangun menara Bab Al-Umah. Menara ini mengalami perbaikan beberapa kali pada beberapa ratus tahun berikutnya hingga menara ini hancur pada tahun 1552 M. Sultan Sulaiman kemudian membangun menara baru di tempat yang sama dengan nama yang sama pula.

Pada tahun 789 M., Khalifah Mahdi dari Abbasiyah, membangunkan menara Bab As-Salam dan juga beberapa menara lagi seperti menara Bab Ali dan menara Bab Al-Hazurah atau Bab Wida'. Namun pada tahun 1392 M., Bab Al-Hazurah runtuh dan diperbaiki oleh Al-Asraf Sha'ban dari Mesir.
Pada tahun 905 M., atas perintah Khalifah Al-Mu'tadhid dari Abbasiyah, dibangunlah menara Bab Az-Ziadah dan diperbaiki oleh Asraf Baresbai pada tahun 1447 M. Kait Bait juga membangunkan menara Kait Bait kira-kira tahun 1501 M. Menara As-Sulaimaniah juga dibangun kemudian. Selepas proyek besar yang dilakukan oleh Kerajaan Saudi di masa Raja Fahd Abdul Aziz As-Saud, Masjidil Haram mempunyai sembilan menara.

Masjidil Haram


Menara paling baru yang dididirikan adalah di Bab Al-Malik Fahd (Pintu Raja Fahd) yang berhadapan dengan hotel Darul Tawhid, salah satu hotel bintang lima di Makkah.
Semua menara di Masjidil Haram dibangun secara berpasangan, kecuali menara tunggal di Bab Ash-Shafa.
Sampai tulisan ini ditulis, Masjidil Haram mempunyai sembilan menara dan sedang diadakan proyek untuk membangun sepasang menara lagi.


Masjid yang Tak Pernah Tidur

Kemegahan Masjidil Haram juga diikuti dengan jumlah jamaah yang juga banyak. Bahkan masjid yang dapat menampung 4.000.000 jamaah ini merupakan satu-satunya tempat di dunia yang tiap detiknya dikunjungi ratusan jamaah. Setiap ada jamaah keluar, jamaah lain dari berbagai negara masuk, begitu seterusnya. Bahkan saat tengah malam sekalipun, Masjidil Haram masih dipenuhi jamaah, pelataran Ka’bah masih ramai oleh umat Islam yang thawaf, bukit Shafa dan Marwah juga tak pernah sepi dari orang-orang yang hendak sa’i. Dengan ini, Masjidil Haram bisa dikata merupakan masjid yang tak pernah tidur.

Terlebih saat shalat berjamaah. Sekitar satu jam sebelum adzan berkumandang, berbondong-bondong umat Islam dari berbagai negara, berbeda ras, suku, dan tanah air, mendatangi Masjidil Haram. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, hingga sampai ada yang menggunakan kursi roda, bersama hendak mengagungkan asma-Nya. Walau jamaah yang ada merupakan penutur bahasa yang berbeda-beda, saat iqamah shalat dikumandangkan, semua jamaah bisa bergerak bersama dalam harmoni yang serasi, untuk bersujud dan mengagungkan asma Ilahi.


Ganjaran di Makkah

Walaupun memang benar Makkah merupakan tanah haram, tempat pahala dilipatgandakan, akan tetapi ganjaran dosa juga turut berdampak besar bila dibandingkan di tempat lain.

Ibnu Abbas r’a berkata, “Dari apa yang dikatakan Rasulullah s’aw bahwa 'Ada tiga orang yang paling dimurkai Allah',” Beliau menyebutkan satu di antaranya adalah mulhid (orang yang berbuat kejahatan atau kekufuran) di tanah haram.{HR. Bukhari}

Disebutkan di dalam Fath al-Baari, “Yang nampak jelas dari teks hadits bahwa perbuatan dosa kecil di tanah haram lebih besar dosanya dari pada perbuatan dosa besar di tempat yang lain.”


Ikatan Ukhuwah Terbesar

Masjidil Haram merupakan satu-satunya tempat di dunia yang bisa menyatukan ribuan hingga jutaan manusia dari berbagai bangsa, suku, dan ras, dan hal ini tidak ditemukan di tempat hiburan lain maupun tempat ibadah agama lain.



Di tempat ini pula, prinsip “semua sama di hadapan Allah” benar-benar terealisasi. Banyak sudah pihak yang menyuarakan slogan persamaan, namun masih tetap ada saja perlakuan rasisme. Namun dalam Islam, prinsip persamaan ini tak hanya sebatas prinsip segala. Masjidil Haram menjadi saksi bahwa ikatan berlandaskan Islam dapat menembus segala perbedaan suku, ras, warna kulit, dan tanah air. Terlebih saat ibadah haji, baik raja dan rakyat jelata, bersama mengenakan pakaian ihram, merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.

Allah Yang Maha Tinggi berfirman, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” {QS. Al-Hujurat (49) : 13}

Makkah merupakan masjid tersuci umat Islam. Tempat ibadah pertama kali berdiri, tempat lahirnya Nabi akhir zaman, Muhammad s’aw, dan kelak menjadi salah satu tempat yang dilindungi dari fitnah Dajjal. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah Yang Maha Pengasih untuk ziarah ke Masjidil Haram. Melaksanakan haji dan umrah, merajut ikatan persaudaraan dengan ribuan umat Islam lain yang berbeda bangsa dan bahasa. Aamiin.

Nilai Artikel

1 komentar :

  1. Subhanallah.. Semoga bisa dimudahkan untuk melaksanakan ibadah haji di sana. Aamiin..

    BalasHapus