OPEN RECRUITMENT BPPI FEB UNS 2017

Ayo ikut bersama Kami. Menjadi Mahasiswa Muslim yang Proaktif dan Inspiratif. BPPI 2017

RAMADHAN 1438 H

Ramadhan Awesome! Raih Ramadhan dengan Penuh Berkah, Mencari Taqwa. Ramadhan di Kampus.Coming Soon!!

One Step 2017

Jalan-Jalan, Penuh Pembelajaran, Home Stay, Games, Fun, Keakraban dan Islami. Coming Soon yak!

Ukhuwah Islamiyah

Karena ikatan ukhuwah begitu berharga.

Islam pasti akan menang!

Jangan bertanya,"Kapan Islam kembali berjaya?", karena cepat atau lambat Islam pasti menang. Tapi bertanyalah,"Apa peranmu dalam menyongsong kemenangannya?"

8 Okt 2013

Reuni Akbar BPPI 2013



"…Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” {QS. An Nisaa’ (04): 01}
“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambung tali persaudaraan.” {HR. Bukhari Muslim}



Assalamu’alaykum wa rahmatullah wa barakatuh

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang dengan izin-Nya kita hidup dan mati. Shalawat serta semoga selalu terlimpahkan kepadasuri teladan kita, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengundang antum/na Ikatan Alumni BPPI dan KMM FEB UNS dalam acara Reuni Akbar BPPI yang diadakan pada:
Hari                 : Sabtu, 28 Desember 2013
Jam                  : 08.00 WIB
Tempat            : Ruang Seminar lt.1 Masjid NH UNS
Infaq               : Rp 50.000,00 / orang



Besar harapan kami untuk kita dapat saling berkumpul dan bersilaturahmi bersama, terima kasih atas segala niat baik dan perhatian dari antum/na, semoga Allah meridhai amal baik kita semua.

Wabillahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaykum wa rahmatullah wa barakatuh.



Thawaf di Lantai Dua Masjidil Haram

Menjelang puncak haji, Masjidil Haram terus berbenah. Sedikit demi sedikit proses renovasi tampak mulai sampai pada tahap penyelesaian akhir. Bahkan, beberapa bagian sudah selesai dan dibersihkan sehingga bisa digunakan sebagai sarana ibadah.



Pantauan Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Makah melihat lantai dua Masjidil Haram sudah bisa digunakan untuk thawaf para jamaah haji sejak Sabtu (05/10). Meski belum sepenuhnya selesai, namun lantai dua itu sudah bisa digunakan sebagai area thawaf.

6 Okt 2013

Puasa Sunnah Awal Dzulhijjah

Di antara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.



Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa. Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. Tentang hal ini para ulama generasi awal tidaklah berselisih pendapat mengenai sunnahnya puasa 1-9 Dzulhijjah. Begitu pula yang nampak dari perkataan imam madzhab yang empat, mereka pun tidak berselisih akan sunnahnya puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah.  Adapun puasa enam hari di bulan Syawal terdapat perselisihan di antara para ulama. Seperti kita ketahui bahwa Imam Malik tidak mensunnahkan puasa enam hari tersebut.

Begitu pula tidak didapati dari para sahabat ridhwanallahu ta’ala di mana mereka melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Sedangkan puasa di awal Dzulhijjah, maka ditemukan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa mereka melakukannya. Seperti terbukti ‘Umar bin Al Khottob melakukannya, begitu pula ‘Abdullah bin Mawhab, banyak fuqoha juga melakukannya. Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ  وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]

Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]

Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …[3]

Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut.[4]

Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[5]

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[6] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.

Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk melakukan amalan puasa tersebut.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

@ Riyadh, KSA, 28/11/1433 H



[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.
[2] Keterangan di atas diambil dari penjelasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifiy di sini: http://altarefe.com/cnt/khotab/394.
[3] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[4] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.
[5] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah.
[6] Lihat Fathul Bari, 6: 286.

Kala Cinta Tak Bersambut


Bila cinta antar lawan jenis dibalut dengan suasana Islami, pasti kisah ‘Ali dan Fathimah selalu menjadi andalan. Bagi sebagian orang, kisah cinta putri bungsu Rasul dengan khalifah keempat umat Islam ini merupakan sepenggal episode cinta tak terlupakan dalam rekam jejak kenabian.


Namun tahukah, masa kenabian tak hanya diwarnai dengan jalan yang lempang dan mudah, yang di akhir kisah selalu berakhir dengan senyum simpul dan tawa. Dalam kaitannya dengan kisah cinta, ada juga kisah dari mereka para shahabat yang kisah mereka tak semulus ‘Ali dan Fathimah. Namun dari mereka, selaksa hikmah dapat kita ambil guna menjadi bekal pedoman kita dalam menghadapi kekinian.

3 Okt 2013

Citadel of Saladin

Orang Barat biasa menyebutnya, The Citadel of Saladin. Menurut catatan sejarah, The Citadel dibangun oleh panglima perang Muslim terkemuka bernama Shalahudin Al-Ayubi dari Dinasti Ayubiyah pada 1170 M. Benteng Shalahudin dibangun di atas bukit Muqatam yang terletak di antara kota Kairo dan Fustat, Mesir.

Citadel of Saladin
 
Karena letaknya di atas bukit, setiap orang yang datang ke Citadel bisa menikmati keindahan pemandangan seluruh penjuru kota Kairo. Bahkan, Piramida dan Giza peninggalan raja-raja Mesir pun bisa terlihat dari Benteng Shalahudin.

1 Okt 2013

PM Erdogan Cabut Larangan Berjilbab PNS di Turki



Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Erdogan, Umat Islam Turki semakin mendapatkan hak-haknya untuk menjalankan ajaran agama. Setelah mencabut larangan jilbab bagi guru dan dosen, Erdogan juga mencabut larangan jilbab bagi pegawai negeri sipil (PNS) di lembaga-lembaga negara, Senin (30/9).



Pencabutan larangan jilbab itu disambut gembira oleh warga Turki, khususnya para muslimah.

Negeri yang didesain sekuler “tanpa jilbab” oleh Mustafa Kemal Ataturk itu akhirnya membolehkan PNS untuk menutup auratnya secara sempurna. Meskipun masih ada empat lembaga negara yang belum membolehkan jilbab –yakni pengadilan, kejaksaan, kepolisian dan militer- keputusan Erdogan dinilai merupakan kemajuan pesat bagi penerapan nilai-nilai Islam di negara yang pernah menjadi ibukota khilafah Islam itu.

Berbeda dengan partai dan pemimpin Islam lain, Erdogan bersama Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) mengarahkan Turki lebih islami secara bertahap dan perlahan-lahan.

Erdogan agaknya berhasil belajar dari pengalaman Erbakan bahwa memberlakukan Islam secara ‘terburu-buru’ akan langsung berhadapan dengan militer dan masyarakat yang belum siap. Karenanya, sejak menang pertama kali pada 2002 lalu, Erdogan dan AKP fokus pada pembenahan ekonomi terlebih dulu tanpa memperlihatkan kebijakan islaminya.

Peningkatan pendapatan perkapita dari 3.000 dolar AS menjadi 11.000 dolar AS membuat semakin banyak warga Turki yang menyukai AKP. Terbukti, dua pemilu berikutnya AKP kembali menang dengan suara yang terus meningkat. Bersamaan dengan keberhasilan ekonomi, AKP juga melakukan edukasi islami kepada masyarakat.

Pendekatan kepada militer selama lebih dari sepuluh tahun juga berpengaruh pada institusi penjaga nilai-nilai sekulerisme Turki itu ‘membiarkan’ ketika pemerintahan Erdogan mulai meng-gol-kan sejumlah peraturan yang mengadopsi nilai-nilai Islam, termasuk soal jilbab dan anti-miras.
 
http://news.fimadani.com