8 Okt 2013
Reuni Akbar BPPI 2013
"…Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” {QS. An Nisaa’ (04): 01}
“Barangsiapa
yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia
menyambung tali persaudaraan.” {HR. Bukhari Muslim}
Assalamu’alaykum
wa rahmatullah wa barakatuh
Segala
puji bagi Allah Rabb semesta alam yang dengan izin-Nya kita hidup dan mati.
Shalawat serta semoga selalu terlimpahkan kepadasuri teladan kita, Rasulullah
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tanpa
mengurangi rasa hormat, kami mengundang antum/na Ikatan Alumni BPPI dan KMM FEB
UNS dalam acara Reuni Akbar BPPI yang diadakan pada:
Hari : Sabtu, 28 Desember 2013
Jam :
08.00 WIB
Tempat : Ruang Seminar lt.1 Masjid NH UNS
Infaq : Rp 50.000,00 / orang
Besar
harapan kami untuk kita dapat saling berkumpul dan bersilaturahmi bersama,
terima kasih atas segala niat baik dan perhatian dari antum/na, semoga Allah
meridhai amal baik kita semua.
Wabillahi
taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaykum
wa rahmatullah wa barakatuh.
Thawaf di Lantai Dua Masjidil Haram
Menjelang puncak haji, Masjidil Haram terus berbenah. Sedikit demi
sedikit proses renovasi tampak mulai sampai pada tahap penyelesaian
akhir. Bahkan, beberapa bagian sudah selesai dan dibersihkan sehingga
bisa digunakan sebagai sarana ibadah.
Pantauan Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Makah melihat lantai dua Masjidil Haram sudah bisa digunakan untuk thawaf para jamaah haji sejak Sabtu (05/10). Meski belum sepenuhnya selesai, namun lantai dua itu sudah bisa digunakan sebagai area thawaf.
Pantauan Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Makah melihat lantai dua Masjidil Haram sudah bisa digunakan untuk thawaf para jamaah haji sejak Sabtu (05/10). Meski belum sepenuhnya selesai, namun lantai dua itu sudah bisa digunakan sebagai area thawaf.
6 Okt 2013
Puasa Sunnah Awal Dzulhijjah
Di antara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa. Para salaf biasa melakukan puasa tersebut bahkan lebih semangat dari melakukan puasa enam hari di bulan Syawal. Tentang hal ini para ulama generasi awal tidaklah berselisih pendapat mengenai sunnahnya puasa 1-9 Dzulhijjah. Begitu pula yang nampak dari perkataan imam madzhab yang empat, mereka pun tidak berselisih akan sunnahnya puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah. Adapun puasa enam hari di bulan Syawal terdapat perselisihan di antara para ulama. Seperti kita ketahui bahwa Imam Malik tidak mensunnahkan puasa enam hari tersebut.
Begitu pula tidak didapati dari para sahabat ridhwanallahu ta’ala di mana mereka melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Sedangkan puasa di awal Dzulhijjah, maka ditemukan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa mereka melakukannya. Seperti terbukti ‘Umar bin Al Khottob melakukannya, begitu pula ‘Abdullah bin Mawhab, banyak fuqoha juga melakukannya. Hal ini dikuatkan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan penekanan ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah tersebut daripada hari-hari lainnya. Hal ini sebagai dalil umum yang menunjukkan keutamaanya. Jika sepuluh hari pertama Dzulhijjah dikatakan hari yang utama, maka itu menunjukkan keutamaan beramal pada hari-hari tersebut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]
Jika puasa di sepuluh hari awal Dzulhijjah dikatakan utama, maka itu menunjukkan bahwa puasa pada hari-hari tersebut lebih utama dari puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulannya, bahkan lebih afdhol dari puasa yang diperbanyak oleh seseorang di bulan Muharram atau di bulan Sya’ban. Puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah bisa dikatakan utama karena makna tekstual yang dipahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]
Yang menjadi dalil keutamaan puasa pada awal Dzulhijjah adalah hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …”[3]
Kata Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah bahwa di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut.[4]
Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[5]
Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[6] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
@ Riyadh, KSA, 28/11/1433 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
[2] Keterangan di atas diambil dari penjelasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath Thorifiy di sini: http://altarefe.com/cnt/khotab/394.
[4] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459.
[5] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah.
[6] Lihat Fathul Bari, 6: 286.
Kala Cinta Tak Bersambut
Bila
cinta antar lawan jenis dibalut dengan suasana Islami, pasti kisah ‘Ali dan
Fathimah selalu menjadi andalan. Bagi sebagian orang, kisah cinta putri bungsu
Rasul dengan khalifah keempat umat Islam ini merupakan sepenggal episode cinta
tak terlupakan dalam rekam jejak kenabian.
Namun
tahukah, masa kenabian tak hanya diwarnai dengan jalan yang lempang dan mudah,
yang di akhir kisah selalu berakhir dengan senyum simpul dan tawa. Dalam
kaitannya dengan kisah cinta, ada juga kisah dari mereka para shahabat yang
kisah mereka tak semulus ‘Ali dan Fathimah. Namun dari mereka, selaksa hikmah
dapat kita ambil guna menjadi bekal pedoman kita dalam menghadapi kekinian.
3 Okt 2013
Citadel of Saladin
Orang
Barat biasa menyebutnya, The Citadel of Saladin. Menurut catatan sejarah, The
Citadel dibangun oleh panglima perang Muslim terkemuka bernama Shalahudin
Al-Ayubi dari Dinasti Ayubiyah pada 1170 M. Benteng Shalahudin dibangun di atas
bukit Muqatam yang terletak di antara kota Kairo dan Fustat, Mesir.
Citadel of Saladin
Karena
letaknya di atas bukit, setiap orang yang datang ke Citadel bisa menikmati
keindahan pemandangan seluruh penjuru kota Kairo. Bahkan, Piramida dan Giza
peninggalan raja-raja Mesir pun bisa terlihat dari Benteng Shalahudin.
1 Okt 2013
PM Erdogan Cabut Larangan Berjilbab PNS di Turki
Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Erdogan, Umat
Islam Turki semakin mendapatkan hak-haknya untuk menjalankan ajaran agama.
Setelah mencabut larangan jilbab bagi guru dan dosen, Erdogan juga mencabut
larangan jilbab bagi pegawai negeri sipil (PNS) di lembaga-lembaga negara,
Senin (30/9).
Pencabutan larangan jilbab itu disambut gembira
oleh warga Turki, khususnya para muslimah.
Negeri yang didesain sekuler “tanpa jilbab” oleh
Mustafa Kemal Ataturk itu akhirnya membolehkan PNS untuk menutup auratnya
secara sempurna. Meskipun masih ada empat lembaga negara yang belum membolehkan
jilbab –yakni pengadilan, kejaksaan, kepolisian dan militer- keputusan Erdogan
dinilai merupakan kemajuan pesat bagi penerapan nilai-nilai Islam di negara
yang pernah menjadi ibukota khilafah Islam itu.
Berbeda dengan partai dan pemimpin Islam lain, Erdogan
bersama Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) mengarahkan Turki lebih islami
secara bertahap dan perlahan-lahan.
Erdogan agaknya berhasil belajar dari pengalaman
Erbakan bahwa memberlakukan Islam secara ‘terburu-buru’ akan langsung
berhadapan dengan militer dan masyarakat yang belum siap. Karenanya, sejak
menang pertama kali pada 2002 lalu, Erdogan dan AKP fokus pada pembenahan
ekonomi terlebih dulu tanpa memperlihatkan kebijakan islaminya.
Peningkatan pendapatan perkapita dari 3.000 dolar
AS menjadi 11.000 dolar AS membuat semakin banyak warga Turki yang menyukai
AKP. Terbukti, dua pemilu berikutnya AKP kembali menang dengan suara yang terus
meningkat. Bersamaan dengan keberhasilan ekonomi, AKP juga melakukan edukasi
islami kepada masyarakat.
Pendekatan kepada militer selama lebih dari sepuluh
tahun juga berpengaruh pada institusi penjaga nilai-nilai sekulerisme Turki itu
‘membiarkan’ ketika pemerintahan Erdogan mulai meng-gol-kan sejumlah
peraturan yang mengadopsi nilai-nilai Islam, termasuk soal jilbab dan
anti-miras.
http://news.fimadani.com
Langganan:
Postingan
(
Atom
)