6 Okt 2013

Kala Cinta Tak Bersambut


Bila cinta antar lawan jenis dibalut dengan suasana Islami, pasti kisah ‘Ali dan Fathimah selalu menjadi andalan. Bagi sebagian orang, kisah cinta putri bungsu Rasul dengan khalifah keempat umat Islam ini merupakan sepenggal episode cinta tak terlupakan dalam rekam jejak kenabian.


Namun tahukah, masa kenabian tak hanya diwarnai dengan jalan yang lempang dan mudah, yang di akhir kisah selalu berakhir dengan senyum simpul dan tawa. Dalam kaitannya dengan kisah cinta, ada juga kisah dari mereka para shahabat yang kisah mereka tak semulus ‘Ali dan Fathimah. Namun dari mereka, selaksa hikmah dapat kita ambil guna menjadi bekal pedoman kita dalam menghadapi kekinian.



Nasehat Untuk Sahabat Tercinta

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilihan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabatnya, Abu Darda’.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi indah karena satu alasan; reaksi Salman.

“Allahu Akbar!” kata Salman. “Segala mahar (mas kawin) dan nafkah yang telah saya siapkan hari ini juga saya serahkan pada Abud Darda’. Segeralah kalian menikah, saya siap menjadi saksinya insya’Allah.”

Namun, kisah ini tak cukup sampai di sini.

Suatu hari, Salman melihat Ummu Darda’, wanita yang pernah menjadi pilihan hatinya itu terlihat sedikit lesu. Diberanikannya Salman untuk menyapa dan menanyakan perihal keadaannya yang sesungguhnya.

“Bagaimanakah kabar engkau dan suamimu?” tanya Salman.

“Kami baik, Alhamdulillah.” Jawab Ummu Darda’ sembari menunduk, “Adapun Abu Darda’ adalah dia tak lagi punya kepentingan dengan urusan dunia.”

“Jelaskanlah!” desak Salman.

“Alhamdulillah, tak satu pun siang hari berlalu kecuali dia menjalaninya dengan berpuasa. Dan Alhamdulillah, dia shalat malam dan membaca Al Qur’an sepanjang gelap dari Isya hingga Shubuhnya.”

Bagaimana jika hal ini terjadi pada kita. Lelaki yang kini mengetahui bahwa wanita yang pernah menjadi hasil istikharah kita tetapi lebih memilih sahabat kita itu, telah ‘disia-siakan’ suaminya.

Namun Salman bukan kita. Dan Abu Darda’ juga bukan menyia-nyiakan istrinya layaknya yang terjadi di zaman ini. Dia hanya terlalu bersemangat dalam beribadah hingga kurang bisa menangkap kegelisahan keluarganya, dalam hal ini istrinya, terkait pemenuhan haknya.

Maka Salman meminta izin menginap di rumah Abu Darda’ dan Abu Darda’ juga mengizinkan. Hingga sampai hari telah berganti malam. “Salman saudaraku,” ujar Abu Darda’, “Silahkan beristirahat. Aku harus berdiri untuk menunaikan hak Rabbku (shalat malam).”

“Saudaraku,” sahut Salman kemudian, “Aku bersumpah dengan Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, mulai mala mini kedua kelopak mataku takkan kukatupkan selamanya hingga akhir hidup. Kecuali engkau juga mau tidur sebagaimana engkau beristirahat.”

“Apa maksudnya ini?” ujar Abu Darda’ bingung.

“Demikianlah sumpahku telah terucap.”

“Cabutlah!”

“Tidak.”

Akhirnya, Abu Darda’ menuruti ajakan Salman untuk tidur. Barulah saat malam hendak berakhir berganti Shubuh, Salman membangunkan Abu Darda’. “Masih ada sedikit waktu setelah istirahatmu untuk menunaikan hak Rabbmu.”

Pagi harinya, sang istri sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk sarapan. Namun, Abu Darda’ agaknya tidak berniat memakannya.

“Makanlah saudaraku!” ujar Abu Darda’. “Adapun aku telah berniat untuk puasa hari ini.”

“Aku juga bersumpah dengan Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya,” jawab Salman, “Bahwa sejak pagi hari ini takkan ada sesuap pun makanan yang akan lewat di kerongkonganku hingga ajal menjemput. Kecuali kau juga makan bersamaku di pagi yang indah ini.”

“Demi Allah, itu sumpah yang bathil!” tukas Abu Darda’.

“Hanya engkaulah yang bisa membatalkannya, dengan ikut makan bersamaku.”

Akhirnya keteguhan hati Salman berhasil meluluhkan hati Abu Darda’ untuk membatalkan niat puasanya hari itu.

Setelah itu, Salman memberi nasehat kepada sahabatnya tersebut. “Sesungguhnya,” tegas Salman, “Rabbmu memiliki hak atas dirimu. Dan sesungguhnya, tubuhmu juga memiliki hak atas dirimu. Dan sesungguhnya keluargamu juga memiliki hak atas dirimu. Berbuat adilah kepada mereka demi mengabdikan diri kepada Rabbmu.”

Kisah yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini dilanjutkan dengan menghadapnya Abu Darda’ kepada Rasulullah sembari menceritakan ‘ulah’ Salman di rumahnya.

“Salman benar adanya.” Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Seorang penasehat yang tulus hati.”


Sebuah Kenangan Atas Cinta

“Ya Allah,” doa Thalhah sembari menahan perihnya sabetan pedang dan hujaman panah demi melindungi tubuh sang Rasul di medan Uhud, “Ambil darahku hari ini sekehendak-Mu hingga Engkau ridha.”

“Kalau ingin melihat syahid yang masih berjalan di muka bumi,” begitu Sang Nabi bersabda, “Lihatlah pada Thalhah.”

Namun tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Satu hari, Thalhah kedapatan sedang berbincang dengan Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar yang masih terhitung kerabatnya. Sebagai catatan, Ummul Mukminin adalah gelar bagi istri Nabi. Tak lama, Rasulullah datang dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan oleh Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

“Ya. Akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.” Bisiknya pada seorang kawan suatu hari.

Gumam hati dan ucapan Thalhan disambut wahyu. Allah menurunkan firman-Nya kepada Sang Nabi dalam ayat kelima puluh tiga surah Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada istri Nabi itu, maka mintalah dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi istri-istrinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Thalhah menangis tatkala ayat tersebut dibacakan padanya. Dia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan sepuluh untanya di jalan Allah, dan menunaikan umrah dengan berjalan kaki sebagai bentuk taubatnya.

Kelak, dengan penuh cinta dinamai putri kecil yang disayanginya dengan nama ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya layaknya ‘Aisyah binti Abu Bakar.

***

Dari kisah Salman dan Thalhah, kita dapat berkaca. Tak semua berjalan sesuai keinginan kita, termasuk dalam urusan cinta. Namun dari kisah mereka kita belajar untuk tetap memberikan ketulusan hati di saat keadaan tak berpihak.

Salman Al Farisi, walaupun cintanya telah ditolak, tapi ia tetap membantu Ummu Darda’ dari ‘ganjalan’ yang terdapat dalam rumah tangganya. Begitu pula Thalhah, seorang pahlawan yang rela tubuhnya menjadi perisai bagi Nabi tercinta.

“Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” {QS. Yusuf (12): 111} 

Sumber: Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar