26 Des 2014

Refleksi Seorang Insan: Memahami Hakikat Sebuah Musibah

bppiuns.blogspot.com (26/12/2014). Tidak henti-hentinya negeri ini dilanda bencana. Baru saja ramai terdengar bencana tanah longsor di Banjarnegara yang menelan banyak korban jiwa, sekarang tengah melanda banjir parah di Banda Aceh. Apakah makna musibah ini?. Apakah Allah SWT menimpakan azab kepada kita?.

Allah SWT berfirman:
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. at-Taghabun (64): 11]

Jelaslah bahwasanya musibah pasti terjadi karena alasan-alasan tertentu. Kalau kita menilik kisah-kisah nabi dan rasul terdahulu, misalnya kaum nabi Nuh yang ditenggelamkan karena durhaka atas ajakan Nabi Nuh. Allah berfirman:
"Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah." (Q.S Nuh: 25)

Dan hampir keseluruhan kisah nabi dan rasul yang dikisahkan Allah di Al-Qur'an berakhir pada diturunkannya azab Allah atas kekafiran dan kedustaannya kepada nabi dan rasul. Pada tahap ini bisa disimpulkan bahwa musibah itu bisa menjadi azab Allah atas perilaku hamba-Nya yang jauh dari syariat Allah.

Allah berfirman:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. asy-Syura (42): 30]

Bencana alam bisa jadi terjadi karena tangan-tangan manusia yang serakah terhadap alam ini. Bumi dan langit telah diberikan Allah kepada manusia dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama di dunia. Namun kalau kita saksikan saat ini, dunia bukan lagi menjadi sarana untuk menuju akhirat yang kekal, namun menjadikan dunia sebagai tujuan dan lupa terhadap akhirat. Allah berfirman:

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Q.S Ali-Imran: 14)

Maka patutlah kita sebagai insan yang beriman dan bertaqwa menyadari bahwa kita hanyalah sebagai makhluk yang lemah. Perbuatan dan tingkah laku kita senantiasa mendapatkan pengawasan dari Allah SWT. Kita tetap harus menjaga sikap atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Keserakahan hanyalah akan mendatangkan keburukan. Musibah demi musibah ini menjadi sebuah pertanda atas sikap dan perilaku kita. Allah SWT seakan ingin menyampaikan pesan kepada kita bahwa dunia ini hanyalah sementara. Tetap bersabar atas ujian ini. Sesungguhnya Allah beserta hamba-Nya yang bersabar.

   

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar