27 Jun 2013

Temanku Seorang Non-Muslim



Gimana sih kita berinteraksi dengan temen yang berbeda agama dengan kita? Menganggap semua agama itu sama? Ataukah malah justru bersikap garang terhadap mereka yang berbeda keyakinan?


 Bagaimana Islam mengajarkan seorang muslim bersikap terhadap mereka yang non-muslim?


Berbuat Adil Pada Siapapun

Islam nggak menghendaki umatnya melakukan perusakan, termasuk terhadap non-muslim sekalipun. Islam menyuruh berbuat adil terhadap siapapun.


“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa… {QS. Al-Maidah (05) : 8}

Di zaman Nabi, seorang muslim mencuri tetapi barang curiannya ditaruh di rumah seorang Yahudi sehingga Yahudi tersebut yang dituduh. Tapi pada akhirnya Nabi membela Yahudi tersebut karena memang Yahudi tersebut tak bersalah.

Islam juga menyuruh umatnya berbuat baik kepada siapapun. Nabi s’aw dulu sering diludahi wanita tua Yahudi. Tapi saat wanita itu sakit, justru Nabi s’aw yang pertama kali menjenguknya. Hal ini menjadikan wanita itu mengikrarkan syahadat.

Palestina termasuk kota Yerusalem dulunya berkali-kali mengalami peristiwa pembantaian dan pengusiran setiap pergantian kekuasaan. Tetapi saat Islam di bawah pimpinan ‘Umar ibn Khaththab r’a menaklukan kota Yerusalem, tidak ada pembantaian. Umat Nasrani yang sebelumnya tinggal di situ diperbolehkan tinggal dan keamanan jiwa, harta, dan agama mereka dijamin.

Dinasti Islam Mughal telah berkuasa di India selama dua abad. Saat itu, umat Hindhu yang mayoritas tidak mempermasalahkannya dan bisa hidup berdampingan dengan umat Islam. Hal ini karena Islam menjunjung toleransi.

Hal ini menjadi bukti bahwa ajaran Islam sangat bertoleransi terhadap pemeluk agama lain.


Tapi Ada Batasnya

Walaupun begitu, Islam juga nggak membenarkan toleransi mutlak dan pernyataan bahwa semua agama. Dalam masalah akidah, kita sebagai kaum muslimin harus mengimani bahwa hanyalah Islam satu-satunya agama yang diridhai  Allah SWT dan nggak boleh meyakini bahwa semua agama itu sama. Hal ini sudah termaktub dalam surah Ali ‘Imran ayat 91, Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…”

Islam juga membatasi kaum muslimin dalam berinteraksi dengan non-muslim terkait masalah agama dan ibadah. Kita tidak diperkenankan berpartisipasi dalam hari raya mereka, bahkan dalam taraf paling kecil sekalipun, termasuk memberi ucapan selamat hari raya. Hal ini karena menyangkut masalah paling prinsipil. Misal, umat Nasrani percaya bahwa Nabi ‘Isa ‘as (Yesus) adalah anak Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri. Padahal Islam membantah dengan keras bahwa Allah SWT memiliki anak. {Al-Maidah : 72-73, At-Taubah : 30, Al-Kahfi : 4-5, Maryam : 88-92, Al-Ikhlas : 3}

Dan yang menjadi renungan adalah firman Allah SWT yang diabadikan dalam surah Al-Baqarah ayat 120, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.’”

Memang nggak semua non-muslim seperti itu, tapi kebencian mereka terhadap kaum muslimin bukan isapan jempol belaka. Sejak zaman Rasulullah s’aw, perang Salib yang berlangsung sekitar 2 abad, pelarangan jilbab dan adzan di berbagai negara non-muslim, film Fitna, pembuatan karikatur Nabi, dan pembakaran Al-Qur’an di Amerika beberapa saat lalu menjadi bukti nyata kebencian mereka.

Tapi bukan berarti kita juga balas melakukan perbuatan serupa dan menyakiti non-muslim di sekitar kita dengan alasan membela Islam. Sudah dijelaskan sebelumnya khan mengenai toleransi dalam Islam.

JADI…

Boleh saja kita berinteraksi dan membantu non-muslim dalam masalah yang sifatnya yang bersifat sosial. Islam juga memerintahkan berbuat baik pada siapa saja tanpa pandang agama, ras, suku, dan bangsa. Tapi dalam masalah akidah, agama, dan kepercayaan, kita tidak boleh membantu non-muslim dalam taraf paling kecil sekalipun, seperti memberi ucapan selamat hari raya, dan semacamnya.

Jadi, jangan berlebihan di satu sisi. Tempatkan permasalahan secara bijak dan proporsional. Oke..

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar