28 Jun 2013

Sejarah Sekulerisme [1]



Agama (Islam) nggak perlu ikut campur tangan masalah politik dan kehidupan antar masyarakat, hanya boleh ngurusin hubungan Tuhan dan manusia. Hal itu dikhawatirkan terjadinya politisasi agama, pengatasnamaan agama. Jadi, sekulerisme atau pemisahan antara agama dan dunia harus dilakukan.



Benarkah harus kayak gitu? Sebelum menjawab, kita harus tahu dulu sejarah sekulerisme.


Barat Memilih Sekuler

Ada tiga alasan yang melatarbelakangi Barat memilih jalan hidup sekuler.


Pertama, problem sejarah Kristen. Berbeda 180 derajat dengan sekarang. Di Barat Abad Pertengahan, tidak ada satu pun aspek kehidupan yang tidak tersentuh oleh pengaruh Gereja.[1]

Ketika Imperium Romawi jatuh pada tahun 476 M, Gereja tetap mempertahankan sistem administrasi Romawi dan menjadi agen pemersatu serta satu-satunya institusi yang memberikan alternatif rekonstruksi kehidupan. Saat kota-kota mengalami kehancuran selama Abad Pertengahan, biara menjelma menjadi pusat kebudayaan, juga tempat perawatan dan bantuan bagi orang sakit dan miskin serta menyiapkan tempat bagi para pengembara.[2]

Selain itu, Paus yang sekarang berkedudukan di Vatikan, di Abad Pertengahan memiliki kekuasaan atas pemerintah. Walaupun tanpa tentara, institusi kepausan mampu melakukan pengucilan terhadap Raja yang memiliki kekuasaan besar di Eropa. Hal ini terlihat dari perseteruan antara Raja Henry IV dan Paus Gregory VII.

Paus juga diyakini sebagai Wakil Kristus (Vicar of Christ)  yang bersifat Infallible (tidak dapat salah). Jadi walaupun Paus melegalisasi kekejaman, itu bukanlah suatu kesalahan. Kekuasaan Gereja yang sangat besar juga menjadikan berbagai penyelewengan, seperti praktek jual beli surat pengampunan dosa dan persekutuan tokoh agama dengan penguasa dalam penindasan rakyat.

Berbagai hal di atas mendorong pemberontakan. Di antaranya pemberontakan Martin Luther terhadap Paus yang melahirkan ajaran Protestan pada abad ke-16, Revolusi Prancis (1789), dan naiknya Elizabeth I (1558-1603) yang beragama Protestan Anglikan ke posisi ratu Inggris menggantikan Ratu Mary yang Katholik yang diwarnai sengketa berdarah. 

Institusi kekuasaan agama (Theokrasi) semacam ini tak dikenal dalam Islam. Sistem khilafah dalam Islam, tak berarti bahwa Khalifah tak pernah salah. Islam memandang bahwa selain nabi, manusia bisa berbuat salah termasuk ‘ulama’ dan penguasa. Jikalau seorang khalifah melakukan penyelewengan, hal ini semata-mata kesalahan khalifah tersebut, dan itu jelas salah di mata Allah Yang Maha Adil. Selain itu, mayoritas ‘ulama’ zaman dahulu sangat berhati-hati dalam berinteraksi terhadap penguasa. Mereka lebih rela dipenjara sampai wafat daripada menjadi penjilat. Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad ibn Hanbal menjadi salah satu contohnya.


Bersambung ke Sejarah Sekulerisme [2]

Sumber : Husaini, Adian. (2007). Mengapa Barat Menjadi Sekuler-Liberal? Ponorogo : Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS).




[1] Joseph H. Lynch. (1992). The Medieval Church: A Brief History. London: Longman, back cover description: Marvin Perry, Western Civilization, hal. 149.
[2] Marvin Perry, Western Civilization, hal. 149-150

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar