29 Jun 2013

Sejarah Sekulerisme [2]

Artikel sebelumnya, Sejarah Sekulerisme [1]




Kedua, problema teks Bible[1]



Masalah ini berkaitan dengan keaslian Bible. Profesor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, mengungkapkan dalam pembukaan bukunya yang berjudul “A Textual Commentaary on the Greek New Testament[2] menjelaskan bahwa ada dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda satu dengan lainnya.


Selain itu, identitas penulis tiap kitab dalam Bible belum sepenuhnya diketahui. Di dalamnya juga ditemukan berbagai kontradiksi, seperti silsilah Yesus dan waktu kelahirannya. Juga terdapat berbagai kisah yang tidak masuk akal, seperti nabi yang berzina dengan istri orang lain, nabi yang menyembah berhala, dan masih banyak lagi.

Permasalahan ini jelas hampir tak terpikir oleh kaum muslimin. Al-Qur’an, secara keseluruhan adalah firman Allah Yang Maha Tinggi tanpa tercampur tulisan manusia satu huruf pun. Penjagaan kemurnian Al-Qur’an juga tak hanya lewat tulisan, tapi juga lewat hafalan, dan terbukti bahwa Al-Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang bisa dihafal dari huruf paling awal sampai yang paling akhir. Ini juga salah satu hikmah diturunkannya Al-Qur’an di tanah ‘Arab, karena orang-orang ‘Arab memiliki ingatan yang kuat, bahkan bisa mengingat silsilahnya sampai puluhan generasi ke atas. Bahasa aslinya (‘Arab) juga masih dipakai secara luas dalam ibadah. Bagaimanapun telitinya, satu terjemahan pasti tak mampu mengekspresikan bahasa asalnya dengan tepat.

Ketiga, Problema Teologi Kristen. Prinsip ketuhanan yang merupakan dasar dari suatu agama, ternyata dalam Kristen menjadi ajang perdebatan ramai sepanjang sejarahnya. Perbedaan pendapat tentang status Yesus seperti tak pernah usai. Penganut Catharism  meyakini Yesus adalah malaikat dan gereja adalah ciptaan “tuhan yang jahat”. Paus Innocent III telah menyerukan agar kelompok ini dimusnahkan. Ada juga yang meyakini bahwa Yesus adalah anak Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri. Yesus juga dipandang Tuhan dan manusia sekaligus.

Dan sekali lagi, segala puji bagi Allah, hal ini tidak terjadi dalam Islam. Konsep ketuhanan yang jelas dari awal penurunan wahyu menjadikan tak ada hambatan berarti mengenai masalah ketuhanan. Allah adalah satu-satunya Tuhan dan selain diri-Nya adalah makhluk dan hamba-Nya.

Dengan ketiga problem utama di atas, masyarakat Eropa pada akhirnya mengadakan revolusi besar-besaran. Menggulingkan kekuasaan raja dan memisah agama Kristen dari pengaruh politik. Seperti yang terjadi saat Revolusi Prancis (1789-1799).

Namun di saat yang sama, bersatunya Islam dengan permasalahan umat justru mendatangkan manfaat yang sangat besar. Pengikut Yahudi dan beberapa aliran Kristen yang dianggap sesat oleh gereja menjadikan negara-negara muslim sebagai tempat pelarian karena rasa toleransinya yang sanhat tinggi. Di satu sisi, bersatunya Islam dalam segala sendi kehidupan masyarakat justru memunculkan banyak ilmuwan muslim kala itu, seperti Ibnu Khalidun, Ibnu Sina, Ibnu Khawarizmi, dan sebagainya.

Inilah tiga alasan utama Barat memilih jalan sekuler. Setelah mengetahui hal ini, apakah lantas kita kaum muslimin mengikuti jejak mereka? Jalan yang diambil oleh orang-orang yang “trauma” pada agama mereka. Tentu tidak!!

Sumber : Husaini, Adian. (2007). Mengapa Barat Menjadi Sekuler-Liberal? Ponorogo : Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS).


[1] Bible atau Alkitab adalah kitab suci umat Kristen. Terdiri dari dua bagian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama (PL) diyakini ditulis sebelum zaman Nabi ‘Isa ‘as (Yesus) dan Perjanjian Baru (PB) ditulis setelahnya. Baik PL maupun PB dibagi lagi menjadi beberapa kitab, seperti juz dalam Al-Qur’an. Tiap kitab ditulis oleh beberapa orang yang berbeda-beda.
[2] Terbitan United Bible Societies, corrected edition tahun 1975

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar