12 Jan 2013

Jamak dan Qashar

Sholat? Wajib dong jika kamu seorang muslim. Jangan sampe kita meninggalkan sholat secara sengaja dalam keadaan apapun (kecuali wafat atau hilang akal alias gila), karena Nabi s’aw telah memberi peringatan dengan keras.

 
Sholat harus dilaksanakan, di manapun dan kapanpun


“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” [HR. Muslim dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman (82)]
“Perjanjian (pembatas) antara kita dengan mereka adalah sholat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir.” [HR. Ahmad (5/346), At-Turmudzi, kitab Al-Iman (2621), An-Nasa'i, kitab Ash-Shalah (1/232), Ibnu Majah, kitab Iqamatus Shalat (1079)]
            Namun begitu, Allah Subhanahu wa Ta’ala –Maha Suci Dia dan Maha Tinggi- tidak memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya, termasuk dalam masalah sholat. Allah SWT memberikan keringanan dalam masalah sholat bagi hamba-Nya yang menjadi musafir, yaitu Jamak dan Qashar. Apakah itu? Lanjutkan bacanya.

Catatan:

Jamak = sholat dua waktu digabung jadi satu waktu. Ketentuannya, Sholat Zhuhur bareng Ashar, dan Sholat Maghrib bareng ‘Isya’. Sholat Shubuh nggak boleh dijamak. 
      Jamak Takdim = jamak di awal.
Misal : menjamak sholat Zhuhur dengan Ashar saat Zhuhur & menjamak Maghrib & ‘Isya’ saat Maghrib.  
Jamak Ta’khir = jamak di akhir.
Misal : menjamak sholat Zhuhur dengan Ashar saat waktu Ashar & menjamak sholat Maghrib dengan ‘Isya’ saat waktu ‘Isya’. 
Qashar = meringkas sholat, yang mulanya 4 rakaat jadi 2 rakaat. Sholat Shubuh dan Maghrib nggak bisa diqashar.
Itmam = Menyempurnakan sholat = nggak melakukan qashar alias sholat seperti biasa. Sholat 4 rakaat ya tetep 4 rakaat.
Musafir = orang yang sedang bepergian.
Safar = bepergian.
Mukim = menetap alias nggak bepergian.



Kapan boleh melakukan Jamak dan Qashar bagi musafir?

Ada beberapa pendapat dari para ‘ulama’. Dari segi jarak dan tempat:

      [a] Jumhur (mayoritas) ‘ulama’ (salah satunya Syaikh Abdullah ibn ‘Abdul ‘Aziz ibn Ba’z) mengatakan bahwa minimal telah menempuh jarak kurang lebih 80 km.
[b] Tergantung ukuran tiap individu. Missal, jika si Amir merasa bahwa Solo-Yogya itu termasuk perjalanan jauh, maka si Amir boleh melakukan jamak. Sedang si Bondan merasa kalo Solo-Yogya itu merasa nggak ada apa-apanya, maka si Bondan nggak boleh jamak qashar.
Apapun pendapat yang diambil, yang pasti harus sudah keluar atau agak jauh dari wilayah perkotaan atau pedesaan tempat kita tinggal. Bila belum, maka nggak diperbolehkan jamak qashar.

Sedangkan dari segi waktu :

Ada beberapa pendapat mengenai batas waktu boleh tidaknya melakukan jamak qashar. Namun  untuk kehati-hatian, batas boleh jamak qashar adalah saat waktu safar kita empat hari atau kurang. [1] Jika kita berniat dari awal untuk menginap di suatu tempat lebih dari empat hari, maka harus sholat seperti biasa. 
Misal, anak rantau yang mau kuliah di luar kota. Udah pasti mereka berniat tinggal di luar kota lebih dari empat hari, mungkin satu minggu, satu bulan, dll. Jadi anak rantau harus sholat seperti biasa.

Namun, jika kita nggak tau safar kita bakal makan waktu berapa hari, kita boleh tetap menjamak dan mengqashar sholat kita. Misal, Faishal punya urusan di kota X. Namun si Faishal gak tau, urusannya bakal makan waktu berapa hari. Nah, si Faishal ini boleh tetap menjamak dan mengqashar sholatnya walaupun dia di kota X selama lebih dari empat hari. Dasarnya adalah saat Nabi s’aw menetap selama 19 hari di Makkah saat Fathul Makkah dan 20 hari di Tabuk, beliau tetap melakukan jamak dan qashar saat sholat.


Di Tempat Tujuan

Jika serombongan musafir sedang singgah di suatu tempat, lebih baik sholatnya tetap diqashar secara jamaah bersama rombongan musafir, tapi nggak dijamak.

 Sholat Jamaah di Jabal Tsur.
Sholat merupakan kewajiban insan muslim yang harus dilaksanakan.


Misal kamu dan rombongan berencana menginap di rumah kakek nenek selama yang jaraknya 100 km selama dua hari. Saat kamu sudah tiba di rumah kakek dan menginap di sana selama 2 hari, yang lebih afdhal kamu bersama temen-temen seperjalananmu tetap mengqashar sholat, tetapi nggak dijamak.


Imam dan Makmum


Musafir sebagai makmum & mukim sebagai imam


Lantas, gimana jika kita sebagai musafir sholat jadi makmum di belakang orang yang mukim atau sebaliknya?

Jika seorang musafir sholat di belakang imam yang mukim, maka si musafir wajib mengikuti imam dan menyempurnakan sholatnya, nggak boleh diqashar. [2]

Misal, kamu sebagai musafir mampir sholat Zhuhur di masjid yang diimami orang setempat. Karena sang imam sholat Zhuhurnya 4 rakaat, kamu sebagai makmum juga harus sholat 4 rakaat, nggak boleh diqashar jadi 2 rakaat.

Hal ini berlaku juga saat kamu sebagai makmum telat sholat jamaah (makmum masbuq). Misal, kamu sebagai musafir jadi makmum sholat Zhuhur di sebuah masjid. Namun saat itu, imam sudah bangkit melaksanakan rakaat ketiga. Pada saat imam salam dan selesai sholat, kamu harus bangkit dan menyempurnakan 2 rakaat yang ketinggalan. Jadi kamu gak bisa mengqashar sholat cuma 2 rakaat, padahal sang imam sholat 4 rakaat, walaupun kamu ngikutin imam mulai dari rakaat ke-3.


Musafir sebagai imam & mukim sebagai makmum

Kalo sebaliknya? Misal ada seorang musafir sholat Ashar di masjid deket rumahmu. Dia (musafir) jadi imam dan kamu (mukim) jadi makmum. Karena sang imam statusnya musafir, sholat Asharnya cuma 2 rakaat. Namun kamu nggak boleh cuma sholat 2 rakaat karena kamu bukan musafir. Jadi saat imam salam di rakaat kedua, kamu bangun untuk menyelesaikan rakaat ke-3 dan ke-4.


Haruskah Berurutan (Muwalah)?

Kalau kita menjamak sholat, misal antara Maghrib dengan ‘Isya’, apakah harus dilaksanakan secara berurutan, Maghrib dulu baru ‘Isya’? Khususnya saat kita melakukan jamak ta’khir.

Untuk jamak takdim, yang wajib adalah melakukan sholat secara berurutan (muwalah). Jadi melakukan sholat Maghrib dulu, baru disambung ‘Isya’. Sedangkan kalau jamak ta’khir, lebih afdhal juga dilaksanakan berurutan.


Haruskah niat dulu?

Misal, serombongan musafir sholat Zhuhur, tapi mereka nggak berniat menjamaknya. Namun karena ada satu dan lain hal, ternyata setelah selesai sholat Zhuhur, pada akhirnya mereka melaksanakan sholat Ashar sekalian. Apa yang kayak gini boleh?

Pendapat paling kuat adalah bahwa niat nggak termasuk syarat jamak. Jadi, insya’Allah diperbolehkan.


Sholat Jum’at

Tidak boleh melakukan sholat jamak antara sholat Jum’at dengan Ashar dengan alasan apapun, karena tidak pernah dinukil dari Nabi s’aw kebolehan melakukannya.

Sholat Jum’at tidak bisa disamakan dengan sholat Zhuhur. Sholat Jum’at merupakan ibadah tersendiri.

Spesial untuk musafir, sholat Jum’at memang nggak diwajibkan. Sebagai gantinya, musafir harus melaksanakan sholat Zhuhur secara qashar bersama rombongannya.


Sholat Sunnah

Nabi s’aw saat bersafar tidak melaksanakan sholat-sholat sunnah. Dan Nabi s’aw merupakan sebaik-baik teladan.

Kecuali sholat witir dan sholat fajar. Sholat fajar (qabliyah Shubuh) adalah sholat sunnah rawatib yang dilaksanakan saat sudah memasuki waktu Shubuh, tapi dilaksanakan sebelum sholat Shubuh. Nabi s’aw selalu melaksanakan sholat fajar, walaupun sedang bersafar. [3]

Nabi s’aw bersabda, “Dua rakaat sholat sunnah Shubuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).


Mengqashar seorang diri

Lantas, gimana kalo kita bersafar seorang diri? 

Syaikh ‘Abdullah ibn ‘Abdul ‘Aziz ibn Ba’z berfatwa, “Jika dia (musafir) hanya seorang diri, dia tidak boleh mengqashar seorang diri, tapi dia wajib sholat bersama jamaah dan menyempurnakan sholatnya. Karena banyak hadits yang menegaskan wajibnya sholat jamaah.” [4]

Teladan dalam sholat berjamaah.
Keterbatasan fasilitas yang ada tak menyurutkan umat muslim di Moskow, Ibukota Rusia, untuk melaksanakan sholat berjamaah, meskipun harus sholat di jalanan diselimuti udara dingin yang menusuk.



Wallahu a’lam.



Catatan :
[1] Batas ini didasari saat Nabi s’aw haji wada’.
[2] “Tidaklah imam ditunjuk kecuali untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya.” {Muttafaq ‘alaih}
[3] Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “ Ketika safar (perjalanan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap rutin dan teratur mengerjakan sholat sunnah fajar dan sholat witir melebihi shalat-shalat sunnah yang lainnya. Tidak dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaksankan shalat sunnah  rawatib selain dua shalat tersebut selama beliau melakukan safar (Zaadul Ma’ad I/315)
[4] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan sholat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri sholat dan aku bakar rumah rumah mereka dengan api.” (HR Bukhari 644,657,2420,7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).


Referensi :
‘Abdul ‘Aziz ibn ‘Abdullah ibn Ba’z. 2007. Hukum Menjamak Shalat (Fatawa Fii Ahkami Qashar wa Jama’ Shalat). Solo: Pustaka Arafah.
http://almanhaj.or.id/
http://www.fimadani.com/hukum-shalat-berjamaah-5-waktu/
'Shalat Sunnah Fajar, Jangan Sampai Ditinggalkan — Muslim.Or.Id'

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar