5 Agt 2012

Konflik Rohingya

Muslim in Discrimination


Etnis Muslim Rohingnya, Arakan masih mengalami penderitaan berkepanjangan.



Dr. Heru Susetyo dari Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA) dalam diskusi publik bertema, “Muslim Rohingya: Lukamu adalah Luka Kami Semua”, di Universitas Indonesia, Senin (23/7) menyampaikan bahwa duka Muslim etnis Rohingnya sebenarnya sudah berlangsung lama. Meski Myanmar merdeka pada tahun 1948, sejatinya Muslim Arakan belum sempat merasakan manisnya kebebasan. Ketika rezim Militer berkuasa tahun 1988, intensitas penindasan terus meningkat terhadap mereka. Walau hidup dalam penindasan, mereka memiliki semangat Islam luar biasa.



“Saya pernah melihat tempat pengungsian mereka di Thailand, di sana anak-anak mereka belajar mengaji,” tandas Dr. Heru.

Organisasi HAM yang berbasis di New York, Human Right Watch (HRW) melaporkan, yang dilansir kantor berita AFB, Rabu (1/8), bahwa pasukan keamanan Myanmar telah menembaki warga Muslim Rohingya, melakukan pemerkosaan, dan berdiam diri ketika massa Rohingya dan Budha saling serang dalam serangkaian kekerasan sectarian belum lama ini. Laporan setebal 56 halaman itu didasarkan atas 57 wawancara dengan warga etnis Budha Rakhine dan Muslim Rohingya di Arakan untuk mencari fakta dan membuktikan janji pemerintahan baru Myanmar yang mengklaim menjunjung tinggi HAM.

Pemerintah Myanmar melaporkan  77 orang tewas dan 109 terluka. Namun media lain, termasuk Press TV Iran melaporkan bahwa korban tewas telah mencapai 600 orang.

Peristiwa berdarah ini menjadikan banyak muslim Rohingya mengungsi ke berbagai negara luar, salah satunya negara Bangladesh yang berada tepat di sebelah barat Myanmar. Namun kemudian Bangladesh mengeluarkan kebijakan berupa perintah pemberhentian pemberian bantuan bagi pengungsi Rohingya yang dilakukan tiga badan amal internasional, yaitu Doctors without Borders (MSF) dari Prancis, Action Againts Hunger (ASF) dan Muslim Aid UK dari Inggris.

Dilansir AFP, Kamis (2/8), Joynul Bari yang merupakan salah seorang pejabat pemerintahan berkata, “Badan-badan amal tersebut telah memberikan bantuan secara illegal bagi puluhan ribu pengungsi Rohingya yang tak memiliki surat-surat. Kami meminta mereka untuk menghentikan semua proyek mereka di Cox’s Bazaar (distrik di Bangladesh yang didiami paling banyak pengungsi dari Rohingya -red) menyusul perintah dari Biro Urusan NGO.”


Sumber : Surat Harian JogloSemar

Baca Juga :
   China Larang Muslim Puasa
   Islam dan Pengekangan di Ethiopia

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar