29 Jun 2012

Tonggak Nasionalisme, Sang Pendukung Kolonialisme


20 Mei itu peringatan hari apa? Bagi yang orang Indonesia tulen pasti tau deh kalo itu hari Kebangkitan Nasional. Dipilih tanggal tersebut karena tanggal 20 Mei 1908 adalah lahirnya organisasi Boedi Oetomo (BO), organisasi yang bisa dikatakan perintis dalam memperjuangkan kemerdekaan.

             Eiits ! jangan salah. Ternyata ada fakta menarik tentang BO lho. Fakta antara Budi Utomo, Nasionalisme, dan penjajahan Belanda. Mau tahu??



Etnosentris bukan Nasionalis

            Tahu nggak kalo sebenarnya BO tuh organisasi yang lebih mengedepankan etnis daripada nasionalis? Masa’?


BO digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Bareng-bareng sama sejumlah mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen alias Sekolah Kedokteran Bumiputra), beliau mengajukan usul membentuk suatu perhimpunan untuk mengusahakan persatuan kaum bumiputra yang sedapat mungkin bersifat umum.

BO digagas sama orang-orang Jawa dan bersifat lebih kejawaan (Jawa dan Madura). Trus, sejumlah tokoh kayak Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman dikaitkan dengan pendirian BO ini.

Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yaitu para pegawai negeri yang setia terhadap kolonial Belanda. Ketua BO pertama, Raden T. Tirtokusumo, adalah Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda yang memimpin sampe tahun 1911. Trus beliau diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji sama Belanda dan jelas beliau ini setia banget sama Belanda.

Mungkin kita mikir kalo BO tuh rapat dan kegiatannya pake Bahasa Indonesia. Ya khan nalarnya, BO merupakan tonggak Kebangkitan Nasional. Tapi sayang sekali, dugaan anda meleset! Baik pas AD/ART maupun pas rapat-rapat mereka, bahasa yang digunakan itu Bahasa Belanda. Mana nasionalismenya??

Tujuan BO

Bukti bahwa BO hanya organisasi berdasarkan etnis terlihat kok dalam pasal 2 Anggaran Dasar BO. Di sana tertulis,”Tujuan Organisasi adalah untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis.” Cuma Jawa dan Madura? Indonesia khan dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua.

Ada BO ada SI

Jika kita melihat dengan lebih seksama, ada organisasi yang jauh lebih nasionalis dan ternyata, usianya jauh lebih tua dari BO. Itu adalah Syarikat Islam (SI) yang sebelumnya bernama Syarikat Dagang Islam (SDI) yang lahir tanggal 16 Oktober 1905. Beda sama BO yang hanya orang Jawa dan Madura yang boleh jadi anggota (bahkan orang Betawi juga nggak boleh), SI terbuka buat seluruh masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Terbukti dari pengurusnya yang dari berbagai suku seperti Haji Samanhudi dari HOS, Tjokroaminoto dari daerah Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan A. M. Sangaji dari Maluku.

Dilihat dari tujuannya, SI pun bisa dikatakan lebih nasionalis dari BO. Jika BO cuma menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura dengan bersifat feudal dan keningratan, maka SI bertujuan mewujudkan Indonesia Raya dengan sifatnya yang kerakyatan dan kebangsaan.

Selain itu dalam AD/ART SI juga ditulis dengan bahasa Indonesia. Beda dengan BO yang ditulis dengan bahasa Belanda. Selain itu, BO juga menggalang kerjasama dengan Belanda. Nggak heran, khan tokoh-tokohnya merupakan priyayi pegawai penjajah Belanda. Beda banget dengan SI yang kebanyakan berasal dari pedagang muslim. Jelas mereka bersikap non-kooperatif dan anti penjajah Belanda.

Jelas saat masa kolonialisme Belanda, SI selalu mendapat tekanan dari Belanda. Banyak tokohnya yang dibunuh, dibuang ke Papua, dll. Beberapa kerusuhan kayak pemogokan buruh di Mangkunegaran, Solo, bentrokan dengan pedagang China, pemberontakan Jambi tahun 1916 menurut penguasa saat itu adalah aktivitas SI. Beda banget dengan BO. Karena BO bersikap kooperatif dan adem ayem aja dengan Belanda, jadilah mereka nggak dapet tekanan dari colonial Belanda.

SI pun juga turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan sempat ikut mengenyam detik-detik merubuhkan penjajahan Belanda. Sedangkan BO, sepuluh tahun sebelum Indonesia merdeka, yaitu tahun 1935 M, udah tinggal nama doank. Membubarkan diri sih.

Yah, terkadang banyak fakta penting yang nggak diketahui umat Islam sekarang. Baik karena nggak mau tahu, atau sengaja disembunyikan pihak-pihak tertentu untuk meraih tujuan tertentu.

Yang pasti, kita jadi tahu sedikit tentang sejarah Indonesia, khususnya masalah BO dan SI. Dan dari sini kita bisa tahu kalo Islam sudah sangat berperan besar dalam mengentaskan penjajahan di bumi pertiwi. Nggak cuma orang SI doank. Dari zaman kerajaan sampe zamannya perjuangan lewat organisasi, Islam turut membela bumi pertiwi dari penjajah. Jadi, nggak usah apatis sama Islam karena beberapa waktu lalu media seakan menggambarkan kalo Islam merupakan perusak tatanan bangsa Indonesia. Missal, berita NII, teroris yang suka nge-bom sana nge-bom sini, masalah sekolah yang nggak hormat bendera, dan nggak tahu berita apa lagi besok yang muncul.

Dan sekadar info, jika kita ber-Islam secara penuh, nggak setengah-setengah, kita bisa lho melebihi para nasionalis. Islam menentang penindasan dan bentuk kezhaliman, tidak membeda-bedakan orang dari suku dan ras (QS. Al-Hujurat : 13), menentang penjajahan. So, jangan ragu menjalankan Islam (yang merupakan agama kasih sayang bagi seluruh alam) di bumi pertiwi ini!! Oke?!

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar