23 Apr 2018

Islam dan Feminisme



Perdebatan hangat dan adu argumentasi yang bisa menjadi bahan introspeksi akan membuka wawasan kita,seperti halnya paham feminisme yang sedang yang sedang gencar digaungkan, tapi apa yang telah digaungkan oleh aktivisnya sekarang ini tidak lebih bentuk emansipasi yang radikal, dimana mereka  mencoba  menekankaan  emansipasi  secara  mutlak disegala  bidang.Hal  hal  yang berkaitan dengan kewajiban dan hak mereka meminta kesamaan  secara penuh  segala bidang.

Jikalau feminisme disamaartikan dengan emansipasi maka dalam koridor Islam sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena ajaran Islam sama sekali tidak merendahkan  harkat martabat wanita. Islam juga tidak datang untuk mengungkung dan memenjarakan mereka dalam sel-sel penjara imajiner di luar batas kemanusiaan.

Sejatinya islam sudah lebih dulu menerangkan jika antara kaum laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama, yaitu sama dihadapan Allah SWT. Hal tersebut terangkum dalam firman Allah yang berbunyi:

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shaleh, baik itu laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman. Maka sesungguhnya Kami akan memberikan kepadanya balasa atas apa yang telag mereka kerjakan dengan pahala yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 97).

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu semua berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal satu sama lainnya. Maka sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu semua. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13).

Dari dua ayat diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwasanya,Islam sendiri mengakui adanya kesetaraan gander hanya saja terdapat perbedaan dalam pembatasan antara islam dan konsep “feminisme”.Pada tataran praktis selanjutnya, Islam membedakan peran wanita dengan pria berkaitan dengan sifat kodrati masing-masing. Salah satunya adalah wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sedang pria sebagai pemimpin dan pelindung keluarga.


Islam sebagai pedoman kehidupan dari Allah bagi manusia telah memberi aturan rinci berkenaan dengan peran dan fungsi pria dan wanita dalam menjalani kehidupan,yang memang adakalanya sama dan adakalanya berbeda. Hanya saja, persamaan dan perbedaan ini tidak bisa dipandang sebagai adanya unsur kesetaraan atau ketidaksetaraan gender, melainkan semata-mata merupakan pembagian tugas yang sama-sama penting dalam upaya mewujudkan tujuan tertinggi kehidupan masyarakat, yaitu kebahagiaan hakiki di bawah keridhaan Allah.

Pengkhususan hukum Islam bagi pria dan wanita tidak bermakna adanya penghinaan atau dominasi salah satu pihak oleh pihak yang lain. Baik pria atau wanita mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih kemuliaan, yaitu dengan jalan taqwa kepada Allah semata.

Hal ini dipandan berbeda oleh kaum feminis mereka menganggap bahwa kemuliaan wanita atau pria ditentukan oleh kesetaraan hak dan kewajiban, yang berarti tolok ukurnya adalah kuantitas aktivitas,bukan kualitas. Sehingga seorang wanita yang hanya berperan sebagai ibu rumah tangga dipandang kurang mulia dibandingkan dengan yang merangkap bekerja di luar rumah, tanpa adanya perbandingan kualitas pada masing-masing aktivitas.

Islam disini bukan berarti melarang Muslimah beraktivitas di luar rumah, tetapi Islam justru mengatur agar kehormatan wanita tetap terjaga saat Muslimah melakukan aktivitasnya di luar rumah. Ada bidang-bidang tertentu yang justru wajib dipegang oleh Muslimah, misalnya dokter spesialis kandungan dan kebidanan, perawat, bidan, atau guru.

Ide dari paham feminisme  merupakan alat kendali bagi neoliberalisme yang  berbalut  “keindahan”,suatu yang benar memang jika wanita harusnya ditempatkan  pada kursi yang mulia.Untuk meraih kemulian yang haqiqi itu sendiri harus dengan cara- cara yang benar, dan tidak merusak wanita itu sendiri pada generasi berikutnya.


Buletin BPPI bulan April

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar