9 Nov 2014

Dunia Adalah Setitik Air di Lautan

Dimana kita tinggal sekarang? Dimana kita bisa menghirup udara segar? Dimana kita mampu bersua dengan orang yang kita kasihi? Jawabannya adalah di dunia. Di dunia inilah kita tinggal, kita bisa menghirup udara segar, bernafas bebas dan berjumpa dengan orang-orang yang kita sayangi. 
Indahnya dunia mampu menggoda siapa saja. Dunia dengan rayuannya mencoba menarik manusia untuk terjun dan menikmati sepuasnya. Gemerlapnya dunia sangat sayang untuk dilewatkan, sangat sayang jika dibiarkan. Mungkin kita tak asing lagi dengan ungkapan, “Hidup hanya sekali, mari kita happy”. Memang benar hidup di dunia hanya sekali dan memang kita harus happy agar kita menjalani hidup dengan semangat tinggi. Tapi dunia hanya sementara, tentu happy yang dirasa tidak bertahan lama.
“Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukan jarinya ke dalam lautan luas maka perhatikanlah yang tersisa." (HR. Muslim). Inilah dunia. Dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Dunia ini fana, akhirat abadi selamanya. Manusia layaknya musafir yang berjalan beribu bahkan berjuta kilometer untuk mencapai suatu tujuan, yakni Allah.
Di dunialah para musafir ini singgah sejenak untuk minum, melepas dahaga yang kemudian kembali melanjutkan perjalanan . Tak sedikit yang lengah, terlena dengan kenikmatan meneguk segarnya air ‘dunia’. Mereka lupa akan tujuan awal, mereka lebih memilih untuk tinggal. Para musafir yang beriman berbeda dengan musafir yang tidak beriman. “Dunia ini adalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan surga bagi orang-orang kafir” (HR.Muslim). Orang yang beriman ingin segera keluar dari penjara. Mereka tidak betah harus tinggal dalam penjara megah ini. Karena mereka tahu setelah keluar dari penjara dunia, surga siap menyapa. Sedangkan orang yang tidak beriman, tidak ingin meninggalkan dunia. Ini surga mereka. Betapa bahagianya mereka, seakan-akan mereka benar-benar tinggal di surga. Mereka tidak tahu bahwa surga mereka inilah yang menjadi cikal bakal api neraka.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Kita masih hidup di dunia. Apakah dunia tidak penting?

“Kalau begitu kita tidak perlu berusaha keras di dunia, toh nanti kita tinggal juga”.

Bukan seperti itu. Justru kita harus menaklukkan dan memperbudak dunia. Jadikan dunia sebagai ladang akhirat. Jadikan dunia sebagai investasi akhirat. Ingin kaya? Boleh, Islam tidak melarang. Mendapat status sosial yang tinggi? Boleh juga. Belajar hingga jenjang yang lebih tinggi demi ilmu dan gelar akademis? Silakan.
Islam tidak membatasi. Yang perlu diperhatikan di sini adalah jangan sampai kita lupa diri dan melupakan Allah. Kita boleh saja punya banyak harta, tapi jangan sampai kita enggan menginfakkan harta untuk kemajuan Islam dan umatnya. Kita boleh menjadi manusia terpintar sekalipun, tapi jangan sampai ilmu yang kita miliki membuat kita lupa untuk mengamalkan demi kejayaan Islam dan umatnya.
Niatkan semua karena Allah. Lakukan semuanya dengan cara yang benar, bukan dengan cara sikut sana sikut sini, dorong sana dorong sini. Sekali lagi, Islam tidak melarang kita untuk menikmati dunia tapi jangan sampai kita gelap mata dan terus mengejarnya. Akhirat tujuan kita, dunia sebagai sarananya. Semoga Allah ridhai kita.

(Nadifa | Magang Medkominfo BPPI 2014 | Disari dari Kajian FE 30 Oktober 2014)

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar