9 Jun 2014

"Tangan" Malaikat itu Kini Memayungi Suriah



Sobat pasti pernah baca dalam sirah Rasulullah khususnya kisah perangnya. Dalam perang Badar, Uhud, dan seterusnya seringkali kita lihat bahwa pasukan musuh kadangkala dibuat luluh lantak oleh tangan-tangan tak terlihat. Tiba-tiba saja pasukan musuh disabet dengan pedang, tanpa tahu siapa yang melakukannya. Allah berfirman dalam Q.S Al-Anfal ayat 12:

(Ingatlah) ketika Tuhanmu wahikan kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku menyertai kamu (memberi pertolongan), maka tetapkanlah (hati) orang-orang yang beriman. Aku akan mengisi hati orang-orang yang kafir dengan perasaan gerun oleh itu, pancunglah leher mereka (musuh) dan tetaklah tiap-tiap anggota mereka".

Ini bukan sejarah aja sobat, namun kejadian ini terulang di medan jihad, Suriah. Hasan (pejuang asal Idlib) bercerita suatu kali pesawat tentara Suriah mengaung-ngaung di udara untuk menyasar desa-desa kaum Muslimin. Warga dan pejuang yang tidak memiliki persenjataan canggih hanya bisa bertawakal kepada Allah. Mereka berdoa agar bom-bom tersebut tidak melukai mereka.
Akhirnya mereka sepakat untuk bertakbir sekencang-kencangnya saat bom-bom itu dimuntahkan dari  udara. Dan ketika bom tersebut jatuh ke tanah, ternyata bom itu urung meledak.
Begitu pula saat bom kedua dilancarkan. Muntahan material dari langit itu menerjang bak bola api yang siap meluluh lantahkan desa.Warga dan pejuang mujahidin kembali bermunajat kepada Allah seraya bertakbir sekeras-kerasnya. Luar biasa, lagi-lagi bom itu kembali gagal meledak.
Menariknya, hal ini terus berlangsung hingga berkali-kali. Hingga saat bom terakhir ditembakkan, tiba-tiba saja bom itu bisa meledak.
“Saat itu para warga dan pejuang tidak bertakbir,” kata Hasan.
Cerita lainnya lahir dari penjelasan Anggota Ikatan Ulama Homs, Syeikh Anas Ahmad Suwaid.
Di awal revolusi, beliau dan pejuang pernah bertakbir secara serentak di kota Homs untuk melawan kekuatan rezim. Tiba-tiba saja takbir mereka disambut dengan petir-petir yang menyambar mengarah ke tentara-tentara rezim Bashar.
“Banyak sekali telpon yang masuk kepada kami, ‘lihatlah ke langit, lihatlah ke langit’. Subhanallah, seakan-akan petir bertakbir bersama kita. Inilah salah satu karamah yang saya saksikan sendiri dengan kedua mata saya,” ujarnya Syeikh Anas.
Kisah lainnya, lanjut ulama muda ini, terjadi pada salah seorang mujahid. Ketika berada dalam kondisi terluka parah, sang mujahid ditahan oleh rezim. Dalam tahanan itu, dia harus menghadapi interogasi dengan sejumlah pertanyaan.
Salah satu pertanyaan dari pihak rezim adalah keheranan mereka terkait sejumlah pasukan berwarna putih yang tak mampu dilumpuhkan tentara Bashar.
“Siapakah mereka? Ketika kami tembak, mereka tidak merasakan apa-apa!” tanya  tentara rezim.
Mujahidin lalu menjawab, “Demi Allah, tidak ada seorang pun dari kami yang memakai baju putih.” (Hidayatullah.com)

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar