4 Feb 2014

Kala MUI Dituding Sesat

Sebagai 'ulama, sudah sepantasnya selalu mengarahkan dan membimbing umat. Bagai lilin di gulitanya malam. Menerangi umat dan menjelaskan kepada mereka mengenai berbagai permasalahan agama, utamanya dalam masalah akidah, agar masyarakat tak terjerembab dalam lubang kesesatan.


Namun apa jadinya bila sang pemegang lilin tersebut justru dihadapkan pada pihak yang menuding sesat. Ajakan ulama kepada umat dinilai provokatif dan pada akhirnya justru para ulama tersebut yang dipertanyakan statusnya, "Apakah para ulama tersebut sesat atau tidak?"

Adalah Emilia Renita A. Z., istri dari Ketua Dewan Syura Ikatan Jama'ah Ahlul Bait (IJABI), Jalaludin Rahmat, menulis buku dengan judul menantang. "Apakah MUI Sesat Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat?" Buku ini lahir sebagai tanggapan dari buku MUI, "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia."

Menurut Emilia, selama ini MUI dinilai secara seenaknya mensesatkan orang dengan dampak yang tidak sedikit.  Sementara tak ada satupun orang/lembaga yang berani mengkritisi.

“Sekali ini MUI dilawan wanita Syiah, “ ujarnya.

Emilia mengatakan, buku ini dinilai titik tolak kebangkitan Syiah yang dinilai tertindas.

“Gak bisa orang dikafirin, dan mereka merasakan bagaimana dikafirkan. Yang mengkafirkan mereka itu orang Syiah, perempuan, “ tambahnya.

Ia menilai, melakukan itu karena selama ini fatwa-fatwa MUI tidak ada yang membantah dan seluruh fatwanya ditaati.

Saat ditanyakan bahwa hujjah/fatwa/keputusan MUI Pusat adalah keputusan institusi para ulama yang membawahi semua Ormas-ormas Ahlus Sunnah, maka seharusnya hujjah/fatwa dibalas dengan intitusi yang kedudukannya serupa, misalnya fatwa resmi Syiah, bukan hujjah kadernya, yang mencerminkan perwakilan pribadi.

“Kalau kita pakai hujjah Syiah, kita tidak ketemu malahan,”ujarnya pendek.
Tidak Selevel
Sementara itu, Habib Achmad Zein Al-Kaff, yang tercatat dalam jajaran Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengatakan belum sempat membaca buku tersebut. Namun menurutnya, bukan levelnya seseorang berkapasitas pribadi mengkritisi fatwa/hujjah yang keluar dari institusi MUI.
“Saya belum baca buku tersebut. Tapi sangat mengherankan siapa dia? Dan siapa MUI yang dia kritik. Sebab MUI itu mewakili Ormas Islam di Indonesia. Memang sekarang ini zamannya orang tidak tau diri,” ujar Pengurus MUI Jawa Timur ini dalam jawab pendek saat perjalanan menuju Jawa Tengah.
Dari berbagai sumber.

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar