24 Jan 2014

Pantaskah Memanggil, "Muhammad"?


Memanggil orang yang lebih tua dengan namanya saja? Atau memanggil orang yang terhormat dengan namanya saja, tanpa didaului kata "pak", "bu", "tuan", "nyonya". Sopankah?
Lantas, bagaimana jika pertanyaan serupa ditujukan terkait panggilan kita terhadap Nabi kita, Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam?

Pantaskah kita memanggil Nabi hanya dengan nama beliau saja?

Simak Qur'an! Allah tidak pernah memanggil nabi Muhammad dengan namanya langsung, akan tetapi Allah memanggilnya dengan panggilan-panggilan yang luar biasa yang tercatat dalam kitab suci Al-Quran: “Yaa Ayyuhan Nabi” (Wahai Nabi), “Yaa Ayyuhar Rasul” (Wahai Rasul), “Yaa Ayyuhal Muzammil” “Yaa Ayyuhal Muddatstsir” (Wahai Orang yang Berselimut).
Kenapa kamu berani? Ketahuilah kawan! Bahkan kita dianjurkan ketika nama nabi Muhammad disebutkan, ucapan itu harus dibalas dengan mengucapkan “Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau Allaahumma Shalli Wasallim Wabaarik ‘Alaih atau Allaahumma Shalli ‘Alaihi”.
Tahukah kamu bahwa Allah telah menyebutkan secara zhahir nama nabi Muhammad hanya dalam empat tempat saja -dalam ayat dan surat yang berbeda-. Itupun bukan dalam panggilan hai Muhammad, bukan!. Tapi dalam bentuk jumlah khabariyah, dalam bentuk kabar atau berita, dalam penyebutan itupun selalu diikuti kata “Rasulullah” atau “innahul haqq” (dialah yang benar).

Coba direnungkan dan ditadabburi empat ayat ini:

1. Surat Ali Imran ayat 144: “Wamaa Muhammadun illaa rasuul..” (Dan Muhammad hanyalah seorang rasul).
2. Surat Al-Ahzab ayat 40: “Maa kaana Muhammadun abaa ahadin min rijaalikum walaakin rasuulallahi wa khaataman nabiyyiin” (Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi).
3. Surat Alfath ayat 29: “Muhammadun rasuulullah, walladziina ma’ahuu asyiddaa-u ‘alal kuffaari ruhamaa-u baynahum” (Muhammadadalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
4. Surat Muhammad ayat 2: “Walladziina aamanuu wa’amilus shaalihaati wa aamanuu bimaa nuzzila ‘alaa Muhammad, wahuwal haqqu min rabbihim” (Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka).

Subhanallah, habibuna, rasuluna shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga kita termasuk yang mendapatkan syafaatnya kelak di yaumil qiyamah, dan selalu mencontoh perilaku dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


Sumber: 
http://www.dakwatuna.com

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar