31 Agt 2013

Sebuah Nama, Sebuah Cerita

Sore itu kulangkahkan kaki ke parkiran FE UNS bersama sahabatku Ratna untuk bergegas menuju sebuah tempat. Sebuah tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Tak hanya berdua kami mendatangi tempat itu, melainkan bersama para jundi-jundi Allah lainnya. Yaa.. jundi-jundi yang Allah datangkan dalam kehidupanku untuk merubahku menjadi lebih baik.


Perjalananku dengan Ratna diiringi canda tawa disepanjang jalan, sampai pada akhirnya kami kehilangan jejak teman-teman kami yang lain. Astaghfirullah...kami tersesat..!!

Terpaksa kami harus bertanya pada anak kecil berumur 5 tahun. “Dik, masjid yang biasa untuk TPA dimana ya??”. Adik kecil itupun kebingungan tak tahu harus menjawab apa. Mungkin dia memang tak tahu tempat yang kami tuju itu, pikirku. Lalu kami muter-muter di sekitar jalan raya, sampai pada akhirnya kami menemukan masjid yang memiliki ukuran tak begitu besar. Masjid Baiturrohim. Ya, itulah tujuan kami, Masjid Baiturrohim. Setelah kami memarkirkan sepeda motor, kami bergegas masuk ke dalam masjid yang ternyata sudah banyak orang dan adik-adik kecil yang bersiap untuk mengaji. Hari ini adalah hari pertama kami mengajar di TPA Baiturrohim. TPA yang berada di daerah Mojosongo ini adalah TPA binaan para mahasiswa FE UNS.
Tak ubahnya seperti TPA-TPA lain, TPA Baiturrohim ini didominasi oleh anak-anak kecil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Di hari pertama ini belum banyak hal yang dapat aku lakukan, karena memang sudah banyak mbak-mbak dan mas-mas yang mendampingi adik-adik.

17.35 WIB (Waktu Insan Beriman)
Kegiatan TPA hari ini diakhiri. Kami semua bergegas meninggalkan mojosongo menuju rumah masing-masing. Sebelum beranjak pulang, adik-adik pun dengan tertib menyalami sambil mencium tangan-tangan kami secara bergantian. Disini aku merasa sebagai seorang kakak yang sedang disalami oleh adiknya.

***
Kegiatan TPA sudah berlangsung sekitar dua bulan. Tiba-tiba kami (anak Humas BPPI) mendengar kabar bahwa akan diadakannya Jamais (Jambore Anak Islam). Tentu itu adalah kabar baik untuk kami dan adik-adik TPA, namun ada sedikit keraguan yang muncul di hati kami. Mengingat betapa banyaknya persiapan yang belum kami lakukan, sampai pada suatu waktu itu kami hampir putus asa, hampir memutuskan untuk tidak mengikuti acara tersebut. Tetapi saya bersyukur, karena ada seorang teman yang sangat bersemangat dan selalu menularkan semangat itu kepada kami, sehingga kami luluh dan pada akhirnya kami bangkit kembali. Kami bersemangat untuk mengikuti Jamais tersebut. Adik-adik pun sangat bergembira.

Akhir Juli.
Dengan persiapan yang seadanya, kami dan adik-adik TPA bergegas menuju GOR UNS dimana tempat Jamais itu dilangsungkan. Banyak adik-adik dari TPA lain yang juga sedang kerepotan membawa barang-barang bawaan untuk ber-mabit selama 2 malam ini. Terlihat juga banyak orang tua yang mengantarkan anaknya, memastikan anaknya telah bergabung bersama grupnya masing-masing. Terlihat ada anak laki-laki berumur sekitar 8 tahun mencium punggung tangan ibu dan bapaknya untuk berpamitan, disusul dengan lambaian kedua orangtuanya itu. Anak yang sholih, gumamku dalam hati.
Setelah semua tenda dipasang dengan rapi, saatnya adik-adik mengikuti acara pembukaan Jamais. Perlu saya ceritakan disini, yang tergabung dalam grup TPA Baiturrohim itu tidak sepenuhnya adik-adik didikan kami, namun ada beberapa adik dari TPA Al-Ikhlas. Karena adik-adik dari TPA Baiturrohim yang berumur 8 tahun jumlahnya belum memenuhi, maka kami putuskan untuk memasukkan adik TPA Al-Ikhlas untuk bergabung. Tidak ada pembedaan sedikitpun dari kami, semua adik sama.
Malam pertama di kegiatan Jamais ini banyak sekali kegiatan positif yang saya yakini dapat membentuk karakter baik untuk adik-adik seumuran mereka.
Setelah semua kegiatan telah dilaksanakan dengan baik, sekarang adalah saat-saat yang sangat dinantikan oleh adik-adik dan para pendampingnya, TIDUR. Kulihat wajah satu-persatu wajah-wajah mungil mereka, sangat letih. Namun dibalik keletihan itu tercurah kebahagiaan karena mereka dapat mengikuti acara ini.
“Rahma seneng nggak disini?” tanyaku.
“Seneng mbak, disini banyak temennya”. Wajah polos itu lalu melayangkan senyuman hangat untukku.
Hhm, tak lama kemudian adik-adik terlihat telah memejamkan matanya untuk beristirahat malam ini karena besok masih banyak kegiatan yang harus diikuti.
Hari kedua di Jamais.
Hari ini adalah hari yang paling panjang untuk adik-adik karena banyak kegiatan serta outbond yang harus mereka ikuti. Kami pendamping hanya bisa menunggu di tenda karena memang dilarang untuk menemani oleh panitia. Hari ini dijalani dengan SUKSES..!!
Hari ketiga di Jamais.
Hari ini adalah hari terakhir adik-adik disini, di tempat ini. Tak ku sia-siakan kesempatan ini untuk berfoto-foto ria dengan adik-adik yang sangat pandai berpose ini. Tak mau kalah dengan adik-adik, kami para pendampingpun tak kalah eksisnya. Sungguh ini adalah moment yang sangat berharga di Jamais ini, kami saling bercanda tawa, bergendongan, berkejar-kejaran. Sungguh takkan terlupakan.
Tepat pukul 15.00 acara penutupan Jamais berlangsung. Ada rasa sedih dalam sanubariku, karena menurutku tiga hari itu adalah waktu yang sangat singkat. Setelah tenda dan perlengkapan lain selesai dibereskan, kamipun tak lupa berfoto di Ka’bah buatan yang disediakan ditengah lapangan oleh panitia. Terlihat para orangtua telah menjemput putra-putrinya, lalu aku mencium pipi adik-adik tanda kasih sayang.
Yaa.. begitulah sedikit kisah tentang Jamais. Jamais yang mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Masa yang sangat indah.

***
Beberapa minggu setelah itu, UNS juga mengadakan pawai anak TPA. Dan kembali TPA kami diikutsertakan. Banyak mbak-mbak  dan mas-mas yang mendampingi adik-adik TPA ini. Hhm.. seru banget rasanya mengelilingi jalan sekitar belakang kampus. Walaupun capek tapi kami tetap semangat karena pawai ini adalah pawai anak TPA untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Adik-adik ini diharapkan untuk mengajak orang-orang Islam untuk menjalankan kewajiban menjalankan ibadah puasa. Ngaku Islam Wajib Puasa..!!.
Wah pokoknya banyak sekali hal-hal yang aku dapatkan dengan ikut berperan di TPA ini. Aku lebih bisa menyayangi anak-anak kecil, kusadari bahwa bermain bersama mereka itu dapat sedikit menghilangkan stress ku ditengah-tengah menumpuknya tugas kuliah. Tunggu apa lagii.. Join With Us!! Kami tunggu di TPA Baiturrohim, Mojosongo.

Oleh:
Tiya Novitasari
Sekretaris Bidang Humas BPPI FE UNS 2012
dengan penyesuaian dari redaksi



Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar