24 Mei 2013

Makna Hijab dalam Organisasi Islam



“Apa itu hijab?  Apa itu organisasi islam? Apa hubunganya hijab dengan organisasi islam?”. Mungkin itu pertanyaan yang ada dalam benak teman- teman semua, yang saat ini bisa dikatakan sebagai aktivis dakwah. W.O.W...aktivis dakwah bro..?? Keren dong gue..?? yeah, of course..teman-teman special dimata Allah Ta’ala. Apa yang membuat kalian begitu special? Hayo..pada tau nggak nih? Teman- teman special karena teman- teman termasuk dalam golongan orang- orang yang menyerukan kebenaran, orang-orang yang rela berkorban demi tegaknya dien Islam, orang- orang berjuang demi kemenangan Islam.  Allahuakbar...!!!

 Pentingkah hijab dalam Organisasi Islam

Organisasi Islam adalah sebuah wadah untuk teman-teman aktivis dalam menuangkan segala kemampuan yang dimiliki demi mewujudkan visi dan misi. Organisasi Islam tentu berbeda dengan organisasi yang lain teman... Mulai dari tujuan dibentuknya, orientasinya, peraturannya, orang- orangnya, adab pergaulanya dan lain sebagainya. Semua dilandaskan pada syariat Islam yang indah dan tertata dari hal kecil sampai hal besar. 

Disini kita akan membahas sedikit mengenai hijab yang mungkin masih menjadi pertanyaan teman- teman, (yang biasanya buat pembatas antara ikhwan-akhwat itu, lho) Perlukah? Wajibkah?  Untuk mengawalinya teman- teman bisa menyimak dalam ayat berikut.


“...Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari balik hijab. Yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka...” (QS. Al Ahzab: 53).

Ayat hijab berlaku ketika seorang wanita melakukan pembicaraan dengan laki-laki di dalam rumahnya. Rumah adalah tempat yang nyaman, terlindung dari pandangan pengawasan mata manusia. Yang diluar tak tahu apa yang terjadi didalam dan sebaliknya. Maka peluang terjadinya fitnah akan luar biasa besar. Na’udzubillah....

Mungkin jika digambarkan pada kehidupan keseharian teman-teman, kondisi rumah sama halnya dengan kesekretariatan atau lebih populer dengan sebutan sekre. Sekre yang selalu digunakan untuk syuro, mengungkapkan ide atau gagasan ikhwan akhwat para penggiat dakwah.  Jika tidak ada hijab, maka peluang mata bertemu dengan mata akan semakin besar, dan perlu diingat semua berawal dari mata. Tentu teman- teman sangat populer dengan kata-kata “Dari mata turun ke hati” bukan?

Dalam surat An Nur 30-31, Allah Ta’ala telah menjelaskan agar manusia dapat menahan pandanganya dan menjaga kemaluannya. Pernah seorang bijak memberi nasihat yang intinya bahwa dalam tubuh manusia ada sesuatu yang berselubung. Jika Tuhan merobek selubung itu maka akan terasa sakit. Namun demikian, masih ada juga manusia yang mengulanginya, maka Tuhan terus merobek selubung itu sebagai tanda peringatan. Selubung itu adalah “Hati”.

Dalam masalah menundukkan pandangan, ada hadits menarik yang menceritakan kejadian ini.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku. (HR. Muslim)

Sangat jelas sebenarnya, pandangan yang tidak “sengaja” saja oleh Rasulullah sahabatnya disuruh memalingkan apalagi kalau disengaja.

Dalam komunikasi dan pergaulan ikhwan akhwat pada organisasi Islam siapa yang dapat menjamin bahwa hati ini tidak akan tertarik kepada lawan jenis atau keinginan- keinginan tertentu untuk menjalin hubungan? Dalam kehidupan orang awam, pacaran adalah hal yang biasa. Namun berbeda dalam kehidupan aktivis dakwah. Pacaran menjadi hal yang “luar biasa”. Karena teman- teman ikhwan akhwat tidak mengenal pacaran. Jangan cemari dakwah dengan penyimpangan sekecil apapun. Karena jika ada penyimpangan maka hal tersebut dapat menghambat pertolongan Allah Ta’ala kepada kita dan keberkahan dalam dakwahpun dipertanyakan padahal kita bergerak dengan membawa nama ISLAM. Benarkah aktivitas dan segala pengorbanan kita akan mendapatkan pahala dan berkah dari-Nya atau hanya sekedar rasa lelah semata yang kita dapat? Penting untuk diingat bahwa dalam beraktivitas dalam sebuah organisasi Islam niatan yang lurus dan orisinalitas dakwah harus selalu dijaga.


Hijab, penting untuk menjaga pergaulan dengan lawan jenis



Maka hijab adalah kehati-hatian pada suatu kondisi, dan saddudz dzari’ah (celah kerusakan). Wallahu wa Rasuuluhu A’lam..


Kerja Nggak Maksimal?

Kalau ada hijab, bukannya komunikasi jadi agak ribet. Itu kan mempengaruhi kinerja ke depannya. Gimana dong?

Memang kita dituntut selain menjalankan proker agar berjalan baik kita juga harus menjaga batasan-batasan syar’i mana yang perlu maupun tidak perlu. Sebenarnya kita bisa kok mengelaborasikan keduanya, proker berjalan efektif dan tetap terjaga interaksi kita antar ikhwan-akhwat.

Coba kita lihat notes ketua Gamais ITB akh Ridwansyah (Ketua GAMAIS ITB 2008-2009), yang isinya kurang lebih seperti ini:

Proses komunikasi yang efisien. Komunikasi yang dilakukan antara ikhwan dan akhwat perlu diefisienkan sedemikan rupa, agar tidak terjadi fitnah yang mungkin bisa terbentuk. Saya akan mengambil contoh sms seorang ikhwan ke akhwat, dalam dua versi dengan topik yang sama, yakni mencocokan waktu untuk rapat.

Versi 1

Ikhwan : assalamu’alaikum ukhti, bagaimana kabarnya ? hasil UAS sudah ada ?
Akhwat : wa’alaikum salam akhie, alhamdulillah baik, berkat do’a akhie juga, hehehe, UAS belum nih, uhh, deg deg an nunggu nilainya, tetep mohon doanya yah !!
Ikhwan : iya insya Allah didoakan, oh ya ukhti, kira kira kapan yah bisa rapat untuk bahas tentang acara ?
Akhwat : hmhmhm… kapan yah ? akhie bisanya kapan, kalo aku mungkin besok siang dan sore bisa
Ikhwan : okay, besok sore aja dech, ba’da ashar di koridor timur masjid, jarkomin akhwat yang lain yah
Akhwat : siap komandan, semoga Allah selalu melindungi antum
Ikhwan : sip sip, makasih yah ukhti, GANBATTE !! wassalamu’alaikum
Akhwat : wa’alaikum salam

Versi 2

Ikhwan : assalamualaikum, ukh, besok sore bisa rapat acara ditempat biasa ? untuk bahas acara
Akhwat : afwan, kebetulan ada kuis, gimana kalo besok siang aja?
Ikhwan : insya Allah boleh, kita rapat besok siang di koridor timur masjid, tolong jarkom akhwat, syukron, wassalamu’alaikum

Dari dua contoh pesan singkat ini kita bisa melihat bagaimana pola komunikasi yang efektif dan tetap menjaga batasan syar’i. Pada versi 1 kita bisa melihat sebuah percapakan singkat via sms antara ikhwan dan akhwat yang bisa dikatakan sedikit “lebai” ( baca “ berlebihan ), sedangkan pada versi 2 adalah percakapan antara ikhwan dan akhwat yang to the point, tanpa basa basi. Sebenarnya bagaimana kita membuat batasan tergantung bagaimana kita membiasakannya di lembaga dakwah kita saja. Perlu adanya leader will untuk membangun budaya komunikasi yang efisien dan “secukupnya”.

 Hindari komunikasi dengan lawan jenis yang berlebihan, lebay, dan tidak penting

Dalam hal percakapan langsung, seorang ikhwan dan akhwat sangat diharapkan untuk menjauhi percapakan berdua saja, walau itu di tempat umum. Saya menyarankan agar salah satu ikhwan atau akhwat meminta mahramnya (sesama jenis kelamin) untuk menemaninya. Dengan itu diharapkan pembicaraan menjadi terjaga dan meminimalkan kesempatan untuk khilaf. Dengan melakukan pembicaraan yang secukupnya ini sebetulnya dapat lebih membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan efektif. Karena setiap pembicaraan yang dilakukan tidak ada yang sia-sia, semua membahas tentang agenda dakwah yang dilakukan.

Selain itu, perlu kiranya kita mengurangi waktu ikhwan dengan akhwat untuk bekerja bersama pada waktu dan tempat yang sama. Sebutlah untuk pekerjaan mengepak sembako untuk baksos, saya merekomendasikan agar kegiatan dilakukan terpisah. Jangan ikhwan dan akhwat sama sama melakukan sebuah aktifitas, contohnya lagi ikhwan dan akhwat bersama sama menimbang gula, ikhwan memasuki gula ke plastik dan akhwat menimbang dan mengikat plastik. 

Saya merekomendasikan agar hal seperti ini tidak terjadi, karena proses ini memungkinkan adanya kesempatan untuk khilaf. Kita tidak akan pernah mengetahui isi dari pikiran dan hati seseorang. Oleh karena itu diperlukan regulasi yang tepat untuk menjaga kader dari hal hal yang bisa merusak keberkahan dakwah. Untuk kasus kerja bersama baksos, bisa saja menjadi ikhwan mengerjakan di bagian pengepakkan beras dan gula, akhwat mengerjakan pengepakkan susu dan minyak. (*notes dari Ketua GAMAIS ITB 2008/2009)

Lantas, gimana dengan interaksi di luar antara laki-laki (ikhwan) dan perempuan (akhwat) yang tanpa hijab? Atau bolehkah kita ngasih salam ke lawan jenis non-mahram?



Referensi:
 
Tulisan dari Ketua Umum BPPI RoRo (Rongewu Rolas atau 2012), Anggel Dwi Satria, dan Ketua Bidang Nisaa’ BPPI RoRo, Wulan Hastuti. Semoga selalu diberi keistiqamahan dalam jalan Islam hingga meraih jannah-Nya.
http://abiubaidah.com/

http://blog.re.or.id 
https://id-id.facebook.com/Alquransebagaipedomanhidupini/posts/483387151702856

Nilai Artikel

1 komentar :