1 Mar 2013

Allāh

Allāh adalah nama bagi Tuhan dalam ajaran Islam yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an. Hal ini tersurat jelas melalui firman-Nya secara langsung dalam Surah Thaha ayat keempat belas, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allāh, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”


 Kaligrafi 'Arab lafaz Allāh yang dibuat seniman bernama Hāfiz Osman pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah di abad ke-17 Masehi
 
Kata "Allah" disebutkan lebih dari 2.679 kali dalam Al-Qur'an. Sedangkan kata "Tuhan" dalam bahasa Arab adalah Ilah disebut ulang sebanyak 111 kali dalam bentuk mufrad, ilahaini dalam bentuk tatsniyah 2 kali dan aalihah dalam bentuk jama' disebut ulang sebanyak 34 kali.

Banyak fakta dan pertanyaan yang terkait dengan Allāh. Orang musyrik ‘Arab dulu ternyata juga meyakini bahwa Allāh adalah pencipta alam semesta. Namun mengapa mereka digolongkan orang musyrik, bukan orang beriman?

Benarkah Allāh dalam Islam sama saja dengan Tuhan dalam agama lain? Apakah semua agama sama? Apakah Tuhan tiap agama sama? Lantas mengapa banyak orang Kristen (di Indonesia) juga memakai lafaz Allāh?

Di mana sebenarnya Dzat Allāh? Di atas langit? Di mana-mana? Atau menyatu dalam diri hamba?



Etimologi

Beberapa teori mencoba menganalisa etimologi dari kata "Allāh". Salah satunya mengatakan bahwa kata Allāh berasal dari gabungan dari kata al- (sang) dan ilāh (tuhan) sehingga berarti "Sang Tuhan". Namun teori ini menyalahi bahasa dan kaidah bahasa Arab. Bentuk ma'rifat (definitif) dari ilah adalah al-ilah, bukan Allāh. Dengan demikian kata al-ilah juga dikenal dalam bahasa Arab. Penggunaan kata tersebut misalnya oleh Abul A'la al-Maududi dalam Mushthalahatul Arba'ah fil Qur'an (h. 13) dan Syaikh Abdul Qadir Syaibah Hamad dalam al-Adyan wal Furuq wal Dzahibul Mu'ashirah (h. 54). Kedua penulis tersebut bukannya menggunakan kata Allāh, melainkan al-ilah sebagai bentuk ma'rifat dari ilah.

Dalam bahasa Arab pun dikenal kaidah, setiap isim (kata benda atau kata sifat) nakiroh (umum) yang mempunyai bentuk mutsanna (dua) dan jamak, maka isim ma'rifat kata itupun mempunyai bentuk mutsanna dan jamak. Sebagai catatan, kata dalam bahasa ‘Arab memiliki bentuk tunggal, mutsanna (dua), dan jamak. Berbeda dengan bahasa Inggris yang hanya mengenal bentuk single (tunggal) dan plural (jamak).

Hal ini tidak berlaku untuk kata Allāh, kata ini tidak mempunyai bentuk ma'rifat mutsanna dan jamak. Sedangkan kata ilah mempunyai bentuk ma'rifat baik mutsanna (yaitu al-ilahani atau al-ilahaini) maupun jamak (yaitu al-alihah). Dengan demikian kata al-ilah dan Allāh adalah dua kata yang berbeda.

Teori lain mengatakan kata ini berasal dari kata bahasa Aram Alāhā. Cendekiawan muslim terkadang menerjemahkan Allāh menjadi "God" dalam bahasa Inggris. Namun demikian, sebagian umat Islam yang lain menyatakan bahwa lafaz Allāh tidak untuk diterjemahkan, dengan berargumen bahwa kata tersebut khusus dan agung sehingga mesti dijaga, tidak memiliki bentuk jamak dan gender. Hal ini berbeda dengan God yang memiliki bentuk jamak Gods dan bentuk feminin Goddess dalam bahasa Inggris. Isu ini menjadi penting dalam upaya penerjemahan Al-Qur'an.


Islam dan Tauhid

Mengenai permasalahan tauhid, ‘ulama’ Islam terdahulu membagi tauhid menjadi tiga macam, yaitu Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat.

Tauhid Rububiyah adalah beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh alam semesta.

Taudid Uluhiyah berarti meyakini bahwa segala bentuk ibadah hanya ditujukan kepada Allāh Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan apa yang diajarkan-Nya kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Islam juga tidak mengenal perantara dalam ibadah seperti yang dikenal dalam kepercayaan agama lain. Tauhid ini terangkum dalam Surah Al-Fatihah ayat kelima.

Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.”

Tauhid Asma’ wa Shifat adalah beriman bahwa Allāh memiliki nama dan sifat baik (asma'ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma'ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allāh.

Meyakini tauhid Rububiyah saja tak lantas menjadikan seseorang dianggap Islam. Dalam Surah Az-Zumar ayat 62 dijelaskan bahwa orang musyrik pun juga mengakui tauhid Rububiyah. Orang musryrik dan bahkan Iblis pun mengakui bahwa Allah adalah Maha Pencipta. Namun begitu, mereka tidak beriman karena mereka tidak mengesakan Allah dalam beribadah. Seperti menyembah yang lain selain menyembah Allah. Seseorang baru digolongkan beriman jika juga meyakini dan mengamalkan tauhid Uluhiyah, artinya mengesakan Allāh dalam beribadah.


Keberadaan Allāh

Banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan bahwa dzat Allāh Subhanahu wa Ta’ala adalah di atas langit dan bersemayam di atas ‘Arsy (Singgasana). Langit, yang bahasa ‘Arabnya adalah sama’, bisa diartikan sebagai langit yang ada di sekitar bumi, dapat juga diartikan sebagai seluruh alam semesta.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan hal tersebut di antaranya,
Apakah kamu merasa aman terhadap Allāh yang di langit, bahwa Dia dapat menjungkirbalikkan bumi bersama kamu…” {QS. Al-Mulk (67) : 16-17}

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka…” {QS. An-Nahl (16) : 50}

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” {QS. Al-A’raf (07) : 54}

Dan sabda Rasulullah s’aw saat menjampi orang sakit,”Rabb kami yang berada di atas langit…” {HR. Abu Dawud}

Rasulullah Muhammad s’aw berkata saat wukuf di Arafah,”Ya Allāh, saksikanlah.” Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya ke arah langit. Riwayat ini dikukuhkan dalam Shahih Muslim dari hadits Jabir.

Dalam sebuah hadits, beliau bertanya kepada seorang wanita,”Di manakah Allāh?” wanita tersebut menjawab,”Di atas langit.” Nabi Muhammad s’aw bersabda,”Merdekakanlah ia, karena ia seorang beriman.

Sedangkan ayat yang menyakan bahwa Allah lebih dekat dengan kita daripada urat leher kita sendiri adalah pengawasan Allāh, bukan Dzat Allāh.


Allāh = Tuhan dalam Agama Lain?

Beberapa kalangan menilai bahwa Allāh dalam Islam sama dengan Tuhan dalam agama-agama lain. Perbedaan yang ada hanyalah dalam masalah penyebutan nama semata. Mereka berpandangan bahwa semua agama hanyalah jalan yang kesemuanya bermuara kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Namun sebenarnya, pandangan tersebut berseberangan dengan realita bahwa agama di luar Islam memiliki konsep ketuhanan yang sama sekali berbeda dengan Islam, sehingga mustahil dilakukan penyamaan.

Allāh dan Orang Musyrik ‘Arab

Walaupun di masa jahiliyah bangsa ‘Arab mayoritas menyembah berhala, mereka tetap percaya bahwa Allāh adalah Maha Pencipta. Maksud penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang musyrik adalah bahwa mereka berdo’a kepada berhala agar berhala-berhala tersebut menyampaikan do’a mereka kepada Allāh.

Mereka menyamakan hal ini dengan etika berbicara kepada Raja. Seorang rakyat biasa saat hendak menyampaikan sesuatu kepada Raja, pastinya melalui anak buah dan orang-orang dekat Raja, karena berbicara langsung kepada Raja merupakan perbuatan tidak sopan. Pemikiran mereka ini lalu diterapkan saat beribadah kepada Allāh.

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allāh -lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.’…” {QS. Az-Zumar (39) : 3}

Tuhan dalam Kristen

Konsep ketuhanan yang notabene menjadi pondasi dasar suatu agama sebenarnya menjadi ajang perdebatan ramai di masa Kristen awal. Namun konsep ketuhan Kristen sekarang mayoritas mengacu pada Kredo Athanasia, menganut paham Trinitas. Trinitas meyakini bahwa Allah adalah Tuhan dan disebut Bapa, Yesus (Islam: Nabi ‘Isa ‘alaih as-salam) adalah Tuhan dan disebut Putra, dan Roh Kudus adalah Tuhan. Sebagai catatan, Roh Kudus dalam Kristen berbeda dengan Malaikat Jibril. Namun Bapa, Putra, dan Roh Kudus bukanlah tiga tuhan, melainkan mereka satu Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa, kedudukan mereka setara, sama-sama kekal dan Maha Kuasa.


Trinitas Kristen

Beberapa umat Kristen menolak konsep Trinitas ini. Gereja Mormon misalkan, meyakini bahwa Bapa adalah Tuhan dan Yesus adalah anak Tuhan. Bapa dan Yesus adalah dua pribadi yang berbeda.

Dalam praktek peribadahan, khususnya dalam Gereja Katholik Roma, tak jarang menggunakan perantara dalam berdo’a. Seperti kepada Bunda Maria dan orang-orang suci Katholik lainnya yang biasanya bergelar santo atau santa.

Penjelasan lebih lanjut mengenai konsep ketuhanan dalam Kristen dapat dilihat dalam artikel “Yesus, Sudut Pandang Islam”.

Terlepas dari konsep ketuhanan, dalam masalah yang lebih sederhana dan mendasar, yaitu tentang nama Tuhan, umat Kristen belum mencapai kata sepakat. Penggunaan lafaz “Allah” dalam Alkitab Kristen di beberapa negara seperti di Indonesia masih diperdebatkan.

Umat Kristen yang menyetujui penggunaan kata “Allah” berpandangan bahwa ini hanyalah permasalahan bahasa. Di samping itu, penggunaan lafaz “Allah” lebih bernilai dipandang dari sudut pandang misiologis. Artinya, umat Kristen bisa lebih mudah melakukan misi penginjilan (Kristenisasi) kepada umat Islam. Hal ini karena umat Islam yang lemah iman akan menyangka bahwa Tuhan Islam dan Kristen adalah sama, terbukti dari nama yang digunakan, sehingga bukan masalah besar melakukan perpindahan agama.

Sedangkan umat Kristen yang menolak penggunaan kata “Allah” berargumen bahwa lafaz ini adalah nama Tuhan dalam Islam sehingga penggunaan lafaz “Allah” merupakan bentuk sinkretisme agama. Selain dipandang berbeda antara penggambaran Tuhan dalam Islam dan Kristen, lafaz “Allah” tidak diketemukan dalam bahasa asli Alkitab Kristen. Penggunaan kata “Allah” juga dianggap melanggar kekudusan nama Tuhan karena Tuhan harus dipanggil dengan nama yang dikehendaki-Nya. Pihak Kristen di Indonesia yang kontra dengan penggunaan kata “Allah”  menerbitkan Alkitab sendiri melalui Yayasan Lentera Bangsa dgn nama: ILT (Indonesian Literature Translation). Mereka menggunakan kata “Yahweh”, “Elohim”, “Adonai” untuk merujuk kepada Tuhan dan menghilangkan lafaz “Allah”.

Di Malaysia, telah ditetapkan pelarangan penggunaan lafaz “Allah” bagi umat non-muslim. Bahkan pemerintah Malaysia pernah melarang masuknya Alkitab Kristen beredar lantaran penggunaan lafaz “Allah”.

Tuhan dalam Hindu dan Buddha

Dalam kepercayaan Hindu, Tuhan disebut dengan Brahman. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme, politeisme, dan bahkan ateisme.


Aum atau Om, suku kata suci dan keramat dalam agama-agama dari India, yaitu agama Hindu, Buddha, dan Jaina. Kata tersebut terdiri dari tiga fonem, [a], [u] dan [m], melambangkan Trimurti atau tiga jenjang kehidupan (kelahiran, kehidupan dan kematan).

Walaupun umat Hindu pada umumnya menganut monoteisme, Brahman dimanifestasikan dalam berbagai bentuk. Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa) merupakan manifestasi dari Brahman. Dalam konsep pemeluknya, Tuhan juga lah yang mengajarkan secara langsung ajaran Hindu, yang turun menjelma ke dunia yang disebut Awatara. Kresna dianggap sebagai salah satu penjelmaan Tuhan puluhan ribu tahun lalu pada zaman Dwaparayuga.

Dewa-dewi dalam kepercayaan Hindu yang sangat banyak, walaupun dianggap tidak sejajar dan berbeda dengan Tuhan itu sendiri, kerap menjadi perantara dalam berdo’a dan beribadah. Tak jarang dilakukan pengorbanan dan penyembelihan dilakukan kepada dewa-dewi tertentu. Unsur dewa-dewi inilah yang membuat beberapa peneliti berkesimpulan bahwa agama Hindu beraliran politeisme (banyak Tuhan).

Agama Hindu juga diduga memiliki konsep ateisme, yaitu terdapat dalam ajaran Samkhya, ajaran filsafat tertua dalam agama Hindu di India. Filsafat Samkhya dianggap tidak pernah membicarakan Tuhan dan terciptanya dunia beserta isinya bukan karena campur tangan Tuhan, melainkan karena pertemuan Purusha dan Prakirti, asal mula segala sesuatu yang tidak berasal dan segala penyebab namun tidak memiliki penyebab. Ajaran filsafat ateisme dalam Hindu tersebut tidak ditemui dalam pelaksanaan Agama Hindu Dharma di Indonesia.

Sedangkan Buddha adalah ajaran yang dikaitkan dengan Siddharta Gautama yang dikenal sebagai Sang Buddha. Agama Buddha tidak berangkat dari konsep ketuhanan, melainkan empat penglihatan atau empat kebenaran mulia. Inti ajaran Buddha adalah hidup untuk menderita. Beberapa bahkan menggolongkan Buddha bukan termasuk agama lantaran ketiadaan konsep ketuhanan di dalamnya.


Islam dan Ketuhanan Non-Islam
           
 Tidak hanya berbeda dalam masalah konsep ketuhanan yang merupakan dasar suatu agama, ajaran Islam dalam Al-Qur’an juga mengkritisi konsep ketuhanan agama lain, sehingga dalam Islam terdapat istilah kafir, syirik, iman, dan dakwah.

Anak Tuhan

Allāh dalam Al-Qur’an menolak dengan tegas konsep “anak Tuhan” dalam banyak ayat.

Dalam Surah Al Ikhlash ayat tiga, “(Allāh) Tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

Dalam Surah Maryam ayat 35 dan ayat 88 sampai 93, Tidak layak bagi Allāh mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’, maka jadilah ia.”

“Dan mereka berkata, "Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’. [88]  Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, [89] Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,[90]  karena mereka menda'wakan Allāh yang Maha Pemurah mempunyai anak.[91] dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. [92] tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” [93]

Dalam Surah An Nisa’ ayat 171, “…Sesungguhnya Allāh Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allāh dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya…”

Dalam Surah Al Kahfi ayat empat dan lima, “Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, ‘Allāh mengambil seorang anak.’ Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.”

Dalam Surah Al Isra’ ayat ke 111, “Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allāh Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.’”

Dalam Surah At Taubah ayat 30, “Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allāh’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al Masih itu putera Allāh.’ Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”

Dari ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dipaparkan menjadi argumen yang sangat lugas dan gamblang bahwa konsep ketuhanan Islam berseberangan dengan konsep ketuhanan lain yang mengklaim bahwa Tuhan memiliki anak dan keturunan, seperti dalam agama Kristiani yang meyakini bahwa Nabi ‘Isa ‘alaih as salam sebagai anak Tuhan.


Tiga Tuhan Satu Tuhan

Dalam Surah An Nisa’ ayat 171, “…Maka berimanlah kamu kepada Allāh dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allāh Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allāh menjadi Pemelihara.”

Allāh juga berfirman dalam Surah Al Ma-idah ayat ke 73 tentang pengingkaran konsep satu Tuhan sama dengan tiga Tuhan, Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allāh salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.’”

Dalam Surah Al Ikhlash ayat keempat, “Dan tiada yang setara dengan Dia.”

Dari ketiga ayat Al-Qur’an sebelumnya menegaskan bahwa Islam menolak konsep Tritunggal, baik dari agama Kristen (Bapa, Putra, Roh Kudus), Hindu (Brahma, Wisnu, Syiwa) maupun bentuk Tritunggal lain.

Dalam konsep Tritunggal, Tuhan terdiri dari tiga pribadi. Hal ini dibantah Allāh dalam Surah An Nisa’ dan Al Ma-idah. Dalam konsep Tritunggal juga terdapat penyetaraan antara tiga pribadi Tuhan. Dalam Kristen, kedudukan Bapa setara dengan Putra (Yesus) dan Roh Kudus. Konsep ini ditolak dalam Surah Al Ikhlash ayat terakhir bahwa tidak ada yang setara dengan Allāh.


Penjelmaan Tuhan

Banyak agama menyatakan bahwa Tuhan turun ke dunia dan bereinkarnasi menjadi manusia, membimbing manusia secara langsung, dan terkadang harus mengalami kematian hingga bangkit kembali untuk menebus dosa manusia.
           Dalam Surah Al Ikhlash ayat keempat, “Dan tiada yang setara dengan Dia.”  Dalam ayat Kursi, Surah Al Baqarah ayat 255, Allāh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur.”

Dalam Surah Al Ma-idah ayat 72 dan75,
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allāh ialah Al Masih putera Maryam…’” [72]

Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan.” [75]

Dalam ayat-ayat ini, Allāh membantah konsep penjelmaan Tuhan. Dalam konsep penjelmaan Tuhan menjadi manusia, seringkali ‘jelmaan Tuhan’ tersebut makan, minum, tidur, dan bahkan mati (walaupun terdapat konsep ‘kebangkitan kembali’) layaknya manusia. Hal-hal tersebut tidak dapat diatributkan kepada Allāh Yang Maha Tinggi. Seperti dalam konsep Tritunggal Kristen bahwa Al Masih ‘Isa ibn Maryam adalah Tuhan itu sendiri yang turun ke dunia untuk menebus dosa manusia, juga dalam agama Hindu yang memandang Kresna sebagai Tuhan itu sendiri. Sosok yang dianggap Tuhan tersebut juga digambarkan makan, minum, dan tidur. Kresna dalam Hindu bahkan memiliki 16.000 istri lebih.

Dalam Surah Al Ma-idah ayat 72 dijelaskan bahwa Islam tidak menyepakati konsep bahwa Al Masih adalah Tuhan itu sendiri. Hal ini juga dapat diterapkan dalam agama dan kepercayaan lain yang memiliki konsep “penjelmaan Tuhan”.


Perantara dalam Beribadah

Islam menolak konsep perantara dalam ibadah. Dalam hal ini Allāh berfirman dalam Surah Yunus ayat kedelapan belas, Dan mereka menyembah selain daripada Allāh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allāh.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allāh apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?’ Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).”

Dari ayat di atas, Allāh Ta’ala menegaskan bahwa konsep perantara dalam ibadah termasuk kategori syirik. Seperti praktek pengagungan berhala oleh orang musyrik ‘Arab dulu, umat Kristen dengan praktek do’a melalui orang-orang yang dianggap suci, umat Hindu melalui dewa-dewi, dan praktek lain semacamnya yang menggunakan perantara dalam ibadah.


Kesimpulan

Dari pemaparan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa Allāh Ta’ala adalah Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai umat Islam, tidak cukup hanya meyakini bahwa Allāh Ta’ala Maha Pencipta, tetapi harus diwujudkan dengan mengesakan-Nya dalam beribadah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Konsep “semua agama satu Tuhan” juga terbantah dengan kajian mendalam mengenai konsep ketuhanan dalam berbagai agama. Konsep ketuhanan, suatu hal paling mendasar dari suatu agama, terbukti saling bertolak belakang antara Islam dengan agama lain menyimpulkan bahwa Islam dengan agama lain tidak bisa disamakan. Terlebih Allāh Ta’ala mengkritisi secara langsung konsep ketuhanan di luar Islam.

Keesaan Tuhan dalam Islam tidak termanifestasi dalam berbagai bentuk. Islam tidak mengenal istilah manifestasi atau penjelmaan Tuhan. Islam juga tidak mengenal konsep anak Tuhan. Islam juga menolak secara tegas bahwa ada yang setara dengan Allāh Ta’ala dan juga perantara dalam beribadah. Konsep ketuhanan dalam Islam sangat jelas, Allāh Ta’ala adalah Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan selain-Nya adalah makhluk dan hamba-Nya, dan Allāh Ta’ala telah menjelaskannya secara gamblang mengenai konsep ketuhanan melalui firman-Nya, Al-Qur’an, sehingga umat Islam dari zaman awal dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam sampai ribuan tahun kemudian tidak pernah mengalami kebingungan dan pertentangan mengenai konsep ketuhanan.

Karen Armstrong, mantan biarawati yang menjadi penulis tentang berbagai agama, mengakui bahwa umat Islam tidak mengalami problem mendasar tentang konsep ketuhanannya karena mengesampingkan praduga-praduga (dzanna), hal ini menurutnya berbeda dengan konsep Tuhan agama lainnya. (Karen Amstrong, Sejarah Tuhan..., hal. 199-200).

Allāh Subhanahu wa Ta’ala –Maha Suci Dia dan Maha Tinggi- berfirman dalam Surah Al Ikhlash, “Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tiada yang setara dengan Dia.’”

Dari berbagai sumber.

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar