25 Des 2012

Yesus, Sudut Pandang Islam


Yesus, sebuah nama yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat dunia pada umumnya. Walau begitu, banyak terjadi perbedaan pandangan terhadap sosok yang berkiprah di awal masehi ini.

 Kaligrafi Arab 'Isa Al-Masih


Yesus di mata Yahudi

Umat Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai Messias atau Juru Selamat. Dalam pandangan Yahudi, Messias haruslah seorang yang kuat layaknya Raja Daud (Nabi Dawud ‘as). Tersalibnya Yesus di kayu salib menurut Yahudi menunjukkan kelemahannya sehingga gelar Messias tak layak diatributkan padanya.

Semasa hidup, Yesus sering berkonfrontasi dengan umat Yahudi. Hal ini diceritakan dalam Perjanjian Baru (bagian dari kitab suci umat Kristiani). Para pemuka Yahudi pernah berusaha menjebak Yesus agar terkesan membelot pada Kaisar Romawi dengan cara menanyakan tentang perlunya menyumbang pajak. Sedangkan Yesus sendiri sampai-sampai mencela para pemuka Yahudi dengan berbagai celaan, seperti mengibaratkan mereka dengan ‘keturunan ular beludak’ dan ‘kuburan yang dilabur putih’ lantaran kebekuan hati mereka.

Puncaknya, para pemuka Yahudi menghasut seorang hakim Romawi agar bersedia menyalibkan Yesus. Walaupun pada akhirnya sang hakim berlepas tangan, umat Yahudi tetap menyalibkan Yesus setelah sebelumnya disiksa dan diarak. Jalan yang dilalui Yesus saat diarak sebelum akhirnya disalibkan dikenal dengan Via Dolorosa. Gereja Makam Kudus (bahasa Latin: Sanctum Sepulchrum, bahasa Inggris: Church of the Holy Sepulchre) di Yerusalem diyakini umat Kristiani sebagai Golgota, tempat Yesus disalibkan.

 Gerbang Gereja Makam Kudus

Lantaran pandangan yang bertolak belakang mengenai Yesus, umat Yahudi lantas menerima berbagai siksaan dan tekanan dari kerajaan-kerajaan Krisen Eropa beberapa abad pasca peristiwa penyaliban. Umat Kristiani kala itu benar-benar menyalahkan umat Yahudi yang telah lancang menyalib Yesus di kayu salib.


Yesus dalam Pandangan Kristiani

Silsilah

Walaupun umat Kristiani percaya bahwa Yesus lahir dari rahim seorang perawan suci (Bunda Maria), tetapi dalam Perjanjian Baru (kitab suci umat Kristiani) Yesus disambungkan secara silsilah dengan Yusuf si tukang kayu, yang menurut kepercayaan Kristiani merupakan tunangan dari Maria, hanya saja Yusuf belum menikah dan hidup layaknya suami istri dengan Maria. Silsilah Yesus direkam dalam Matius dan Lukas.

Daerah Palestina dan sekitarnya di masa Yesus

Namun, terdapat perbedaan dalam silsilah Yesus antara versi Matius dan Lukas. Matius 1:6-16 menyebutkan silsilah antara Yesus sampai Raja Daud (Nabi Dawud ‘as), 1:6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, 1:7 Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, 1:8 Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia, 1:9 Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, 1:10 Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, 1:11 Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. 1:12 Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel,  1:13 Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, 1:14 Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, 1:15 Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, 1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.“

Sedangkan silsilah Yesus sampai Raja Daud menurut versi Lukas 3:23-31, 3:23 Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli, 3:24 anak Matat, anak Lewi, anak Malkhi, anak Yanai, anak Yusuf, 3:25 anak Matica, anak Amos, anak Nahum, anak Hesli, anak Nagai, 3:26 anak Maat, anak Matica, anak Simei, anak Yosekh, anak Yoda, 3:27 anak Yohanan, anak Resa, anak Zerubabel,  anak Sealtiel, anak Neri, 3:28 anak Malkhi, anak Adi, anak Kosam, anak Elmadam, anak Er, 3:29 anak Yesua, anak Eliezer, anak Yorim, anak Matat, anak Lewi, 3:30 anak Simeon, anak Yehuda, anak Yusuf, anak Yonam, anak Elyakim, 3:31 anak Melea, anak Mina, anak Matata, anak Natan, anak Daud.”

Penyaliban

Umat Kristiani percaya bahwa Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa dosa turunan dan memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan melalui pengorbanan di kayu salib. Dosa turunan adalah dosa yang diwariskan oleh Nabi Adam dan Hawa karena mereka melanggar perintah-Nya agar menjauhi buah terlarang di surga. Selain pada akhirnya Nabi Adam dan Hawa diusir dari surga, dosa Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang diwariskan kepada keturunan mereka.

Kontroversi Status Yesus

Walaupun ketuhanan merupakan dasar dari suatu agama dan Yesus merupakan tokoh sentral dalam kepercayaan Kristiani, tapi sejarah mencatat bahwa masalah status Yesus dalam Kristiani telah menjadi ajang perdebatan ramai antar sekte dalam Kristiani bahkan terhitung sejak berabad silam di era awal Kristiani.

Konsili Nicea I

Konsili Nicea I, yang diselenggarakan di Nicaea, Bithynia (sekarang ─░znik di Turki), merupakan Konsili Ekumenis yang pertama dari Gereja Kristiani. Tujuan diadakannya konsili ini adalah untuk menyelesaikan konflik pendapat mengenai status Yesus yang terjadi di Gereja Aleksandria. Hasil utama konsili ini adalah keseragaman dalam doktrin Kristiani, yang disebut Kredo Nicea. Konsili yang dilaksanakan pada tahun 325 ini dihimpunkan oleh Kaisar Romawi Konstantinus Agung yang saat itu masih menjadi penyembah matahari.

Saat itu, terjadi perselisihan di tubuh internal umat Kristiani mengenai status Yesus. St. Aleksander dari Aleksandria, Athanasius, dan pengikutnya yang disebut kaum Homoousian berpandangan bahwa Yesus memiliki substansi yang sama dengan Bapa, abadi bersama Sang Bapa. Pihak Homoousian berpijak dengan Yohanes pasal 30 ayat 10 yang tersebut di sana bahwa Yesus menyatakan, “Bapa dan Aku adalah satu”.

Di sisi lain, Arius dan para pengikutnya yang disebut kaum Arian berpandangan bahwa Sang Bapa (Allah) dan Sang Putera (Yesus) itu berbeda. Sekalipun mungkin Sang Putera adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, Yesus tetaplah suatu ciptaan belaka. Kaum Arian berlandaskan pada perkataan Yesus pada Yohanes 14:28, “Bapa lebih besar daripada Aku”.

Pada akhirnya, Konsili Nicea I dimenangkan kaum Homoousian. Kaisar menggenapi pernyataan awalnya, “Barang siapa yang menolak kredo ini akan dihukum buang. Arius, Theonas, dan Sekundus menolak menerima kredo tersebut, dan oleh karena itu dibuang ke pengasingan, selain diekskomunikasi. Karya-karya tulis Arius diperintahkan untuk disita dan dimusnahkan. Meskipun demikian, kontroversi yang terlanjur marak itu terus berlanjut di berbagai wilayah kekaisaran.

Tritunggal atau Trinitas

Setelah Konsili Nicea, perdebatan mengenai pokok ini terus berlangsung selama puluhan tahun. Mereka yang percaya bahwa Yesus tidak setara dengan Allah bahkan mendapat angin lagi untuk beberapa waktu. Namun belakangan, Kaisar Theodosius mengambil keputusan menentang mereka. Ia meneguhkan kredo dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M untuk menjelaskan rumus tersebut.

Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh Roh Kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Untuk pertama kali, Tritunggal mulai terkonsep dengan jelas. 
Tritunggal didefinisikan lebih lengkap dalam Kredo Athanasia. Athanasius adalah seorang pendeta yang mendukung St. Aleksander di Nicea. Kredo yang memakai namanya berbunyi, “Kami menyembah satu Allah dalam Tritunggal. Sang Bapa adalah Allah, sang Anak (Yesus) adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Namun mereka bukan tiga allah, tetapi satu Allah.”



 Dengan bahasa yang lebih mudah, konsep Tritunggal adalah bahwa Bapa, Putra (Yesus), dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun, Bapa berbeda dengan Putra, Putra tak sama dengan Roh Kudus, Roh Kudus pun bukanlah Bapa. Walaupun begitu, mereka bukanlah tiga tuhan, tetapi satu Tuhan, Tuhan Yang Maha Tunggal, mereka setara, sama-sama Maha Kuasa dan Maha Suci.

Tetapi, para sarjana yang mengetahui benar masalahnya setuju bahwa Athanasius tidak menyusun kredo ini. The New Encyclopedia Britannica mengomentari, “Kredo itu baru dikenal oleh Gereja Timur pada abad ke-12. Sejak abad ke-17, para sarjana pada umumnya setuju bahwa Kredo Athanasia tidak ditulis oleh Athanasius (meninggal tahun 373) tetapi mungkin disusun di Perancis Selatan pada abad ke-5... Pengaruh kredo itu tampaknya terutama ada di Perancis Selatan dan Spanyol pada abad ke-6 dan ke-7. Ini digunakan dalam liturgi gereja di Jerman pada abad ke-9 dan kira-kira tidak lama setelah itu di Roma.”

Kamus Oxford Gereja Kristen (The Oxford Dictionary of the Christian Church) menjelaskan Trinitas sebagai "dogma sentral dari teologi Kristen". Doktrin ini diterima oleh mayoritas aliran-aliran Kristen, seperti Katholik, Protestan, dan Orthodoks.

Umat Kristiani yang meyakini Tritunggal percaya bahwa sebenarnya paham ini sudah tersebut di dalam Alkitab dan telah diajarkan oleh Yesus dan para Rasul (murid Yesus) sendiri. Mereka berpijak pada ayat-ayat Perjanjian Baru (bagian dari Kitab Suci umat Kristiani), di antaranya Matius 28:19 yang berbunyi "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus". Sedangkan Konsili hanya menegaskan kembali konsep ini agar lebih mudah dipahami dan sebagai upaya membendung pihak yang menolak konsep Tritunggal.

Sedangkan pihak yang tidak menyepakati Tritunggal percaya bahwa konsep ini diadopsi dari kepercayaan penyembah berhala pra-Kristiani. Daerah Mediterania seperti Mesir, Palestina, Syiria, Romawi, dan sekitarnya di awal Masehi merupakan ladang subur penyembahan berhala. Kaisar Konstantin yang menghimpun Konsili juga merupakan penyembah matahari dan baru dibaptis menjelang wafatnya. Kaum penentang Tritunggal ini juga memiliki pijakan dalam Perjanjian Baru, di antaranya Yohanes 14:28, “Bapa lebih besar daripada Aku”.

Walau banyak umat Kristiani menyepakati paham Tritunggal, tetapi sebagian menganggap ini merupakan suatu hal yang tidak begitu penting untuk didiskusikan. Kesulitan dalam memahami konsep Tritunggal juga dinilai hal yang wajar, karena manusia dengan segala keterbatasannya tidak akan mampu memahami secara utuh hakikat Tuhan Yang Maha Sempurna, sehingga penganut paham Trinitas lebih menekankan untuk percaya dengan sepenuh hati daripada mempertanyakan atau menelaah hakikat Trinitas atau Tritunggal karena hal itu dianggap sebagai kemustahilan mengingat manusia adalah makhluk yang lemah dengan segala keterbatasan.

Albigensis
 
Di akhir abad ke-12, muncul sebuah sekte baru dalam tubuh Kekristenan dan berkembang di Albi, Languedoc, Perancis Selatan yang disebut Albigensis. Aliran ini termasuk dalam golongan Katarisme. Dalam sekte ini, Yesus Kristus dipandang sebagai malaikat yang bertubuh semu. Dengan demikian, Yesus tidak sungguh-sungguh mati dan bangkit. Yesus hanya mengajarkan manusia tentang ajaran yang benar.

Sekte ini dikecam oleh Gereja Katholik Roma. Setelah mengabaikan berbagai peringatan sebelumnya, Paus Gregorius IX memerintahkan pemusnahan aliran ini pada tahun 1233. Akhirnya pada akhir abad ke-14 aliran ini musnah.

Mormonisme

Di Amerika abad ke-19, muncul pula aliran baru dalam dunia Kristen yang disebut Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir atau Gereja Mormon. Nama Mormon yang diberikan kepada kelompok ini berkaitan dengan Kitab Suci mereka yang kedua di samping Alkitab, yaitu Kitab Mormon (The Book of Mormon).

Gereja ini didirikan oleh Joseph Smith. Pria kelahiran Vermont ini lahir dalam keluarga yang menolak doktrin Trinitas. Dalam pandangan aliran ini, Yesus Kristus juga diyakini sebagai Tuhan dan Juru Selamat, hanya saja mereka menolak paham Trinitas dan meyakini bahwa Bapa dan Yesus adalah dua pribadi yang berbeda.


Yesus, Sudut Pandang Islam

Islam memiliki pandangan yang berbeda dengan umat Yahudi dan Kristiani mengenai status Yesus. Dalam Islam, beliau disebut dengan ‘Isa. Terkadang juga disebut dengan Ibnu Maryam (Putera dari Maryam) dan Al-Masih.

Islam memandang bahwa beliau merupakan salah satu Nabi dan Rasul Allah SWT (Sub-hanahu wa Ta’ala - Maha Suci Dia dan Maha Tinggi). Bahkan beliau termasuk dalam golongan Ulul Azmi, gelar bagi lima orang rasul yang memiliki ketabahan luar biasa dalam berdakwah. ‘Isa ibnu Maryam merupakan rasul yang khusus diutus kepada Bani Israil (keturunan Nabi Ya’qub ‘as). Allah SWT menurunkan kitab suci Injil kepada Nabi ‘Isa ‘as guna membenarkan Taurat yang diturunkan di masa Musa ‘as dan menjadi pedoman bagi Bani Israil. Namun di sisi lain, Nabi ‘Isa ‘as hanya merupakan hamba Allah biasa yang juga makan dan minum layaknya manusia biasa.

Silsilah

Dalam segi nasab atau silsilah, Nabi ‘Isa ‘as (‘alaihis-salam – semoga keselamatan terlimpah atasnya) tidak dinisbahkan kepada seorang lelaki manapun karena sejatinya kelahiran beliau merupakan mukjizat. Dengan izin-Nya, Maryam melahirkan ‘Isa ‘as tanpa perantaraan seorang lelaki.

“Maryam berkata, ‘Ya Rabbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.’ Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril), ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, ‘Jadilah’, lalu jadilah dia.’” {QS. Ali ‘Imran (03) : 47}

Al-Qur’an juga membandingkan kelahiran Nabi ‘Isa ‘as yang tanpa bapak, “Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah!’ (seorang manusia), maka jadilah dia.” {QS. Ali ‘Imran (03) : 59}

Dalam ayat tadi Allah SWT memperbandingkan bahwa kelahiran ‘Isa ‘as tanpa seorang ayah terjadi karena kehendak Allah SWT semata, layaknya Adam ‘as yang tercipta tanpa ibu dan ayah, bukan karena beliau adalah anak Allah dan semacamnya.

Gelar

Nabi ‘Isa ‘as digelari Kalimatullah dan Ruhullah. Beliau disebut kalimatullah karena beliau terlahir ke dunia tidak melalui hubungan antara seorang lelaki dan perempuan, tetapi semata dari kalimat dan ketetapan Allah SWT, ‘Kun! Fayakun’ atau ‘Jadilah! Maka jadilah dia’.

Rasul yang hidup sekitar 5 abad sebelum Nabi Muhammad s’aw lahir ini juga digelari Ruhullah atau Ruh Allah. Hal ini kembali merujuk dari terciptanya beliau di rahim Maryam, bukan karena campur tangan lelaki, tetapi semata ditiupkan ruh dari Allah yang dalam kacamata ilmu pengetahuan manusia hal itu tak mungkin terjadi.

dan (ingatlah) Maryam binti ‘Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” {QS. At-Tahrim  (66): 12}

Misi Kerasulan

Nabi ‘Isa ‘as merupakan nabi terakhir dari kalangan Bani Israil. Beliau berdakwah khusus kepada Bani Israil semata. Oleh karenanya, saat berdakwah beliau selalu berkata, “Yaa Bani Israil” atau “Hai anak cucu Israil (Ya’qub ‘as)”.

Allah SWT juga menurunkan kitab suci Injil kepada beliau untuk membenarkan Taurat. Allah SWT berfirman, “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” {QS. Al-Maidah (05) : 46}

Namun Al-Qur’an juga mengabarkan bahwa kitab suci sebelum Nabi Muhammad s’aw telah rusak lantaran terjadi berbagai pengubahan di dalamnya oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Islam memandang bahwa berbagai pengubahan dalam kitab suci Allah SWT sebagai bentuk penyelewengan akan firman Allah Yang Maha Tunggal, walaupun diniati untuk penyempurnaan dan dilakukan oleh para pemuka agama sekalipun.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” {QS. Al-Baqarah (02) : 79}

Mukjizat

Dalam Al-Qur’an juga disebutkan mengenai mukjizat Nabi ‘Isa ‘as dalam berdakwah kepada Bani Israil. Mukjizat pertama beliau adalah dapat berbicara pada saat masih bayi untuk membela ibundanya yang dituduh berzina.

Beberapa bagian dalam Surah Maryam menceritakan tentang sepenggal sejarah 'Isa 'as dan ibundanya, Maryam


“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata, ‘Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. [27] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina’, [28]
Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata, ‘Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?’ [29]
Berkata ‘Isa, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, [30] dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, [31]
dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. [32] Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." [33]
{QS. Maryam (19)}

Selain itu, Nabi ‘Isa ‘as juga memiliki berbagai mukjizat lain. Namun Islam memandang bahwa mukjizat beliau dapat terjadi atas izin Allah SWT semata, layaknya mukjizat para nabi yang lain.

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka), ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah, dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak, dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” {QS. Ali ‘Imran (03) : 49}

Nabi ‘Isa ‘as atas izin Allah SWT juga dapat menurunkan hidangan dari langit. Allah SWT berfirman, ‘”Isa putera Maryam berdoa, ‘Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau. Beri rezekilah kami dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama.’ [114]
Allah berfirman,’Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu. Barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia.’” [115] {QS. Al-Maidah (05)}

Diangkat ke Langit

Al-Qur’an menjelaskan bahwa ‘Isa ‘as tidak wafat di kayu salib seperti keyakinan umat Yahudi dan Kristiani. Hal ini termaktub dalam dalam Surah An-Nisa’ ayat 157-158.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa Nabi 'Isa 'as tidak wafat di kayu salib, tetapi diselamatkan oleh Allah SWT dan diangkat ke langit


“’Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putera Maryam, Rasul Allah’ (Umat Yahudi menyebut ‘Isa sebagai Rasul Allah sebagai bentuk ejekan, bukan karena beriman -red). Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. [157]
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [158]

Selain itu, dalam Islam juga tidak mengenal konsep dosa turunan. Islam memandang bahwa tiap manusia memikul sendiri hasil perbuatannya. Nabi ‘Isa ‘as diutus untuk berdakwah dan mengajak Bani Israil ke jalan Allah SWT, bukan untuk menebus dosa manusia.

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya.” {QS. Fathir (35) : 18}

Kesimpulan

Islam jelas tidak menghinakan Al-Masih ‘Isa putera Maryam layaknya umat Yahudi. Namun Islam juga tidak sejalan dengan umat Kristiani yang menganggap beliau sebagai ‘Allah anak’ dan sejenisnya. Islam menghormati beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT yang suci dan mulia, yang diutus untuk mendakwahi Bani Israil ke jalan yang lurus. Akan tetapi, Islam juga memandang bahwa beliau juga hanyalah hamba Allah di sisi lain.

“Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan.
Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” {QS. Al-Maidah (05): 75}

 Kaligrafi Surah Al-Ikhlas, surah yang menjabarkan keesaan Allah

“Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa [1] Allah tempat bergantung segala sesuatu [2] Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan [3] dan tiada yang setara dengan Dia.’” [4] {QS. Al-Ikhlash (112)}

Nilai Artikel

2 komentar :

  1. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak Konci, Anak Bangsa, Anak Negara,
      #onta primitif ojo komen lah #koplak

      Hapus