7 Okt 2012

Tutup Matamu! Percaya Temanmu!


“Pada suatu hari di tahun ketiga kuliahku, 1978,” tulis Mitch Albom dalam Tuesday with Morrie, “Profesor Morrie Schwartz berkata bahwa dia mempunyai satu latihan yang harus kami coba. Kami diminta berdiri tegak, membelakangi teman sekelas kami yang berkerumun agak jauh. Kami lalu disuruh menjatuhkan badan ke belakang, mempercayakan diri kepada kawan-kawan yang berada di sana untuk menangkap tubuh kami.”



“Kebanyakan di antara kami tidak merasa tenang. Maka kami menjatuhkan diri dengan takut-takut, tidak bebas, dan bahkan melompat serta menjejakkan kaki meski baru miring beberapa derajat. Kami menutupi rasa malu kami dengan tertawa.”

“Akhirnya tampillah seorang mahasiswi, kurus, pendiam, berambut warna gelap yang sehari-hari nyaris selalu memakai sweater ala nelayan berwarna putih kedodoran. Dia menyilangkan lengan di depan dada, memejamkan mata, kemudian menjatuhkan diri ke belakang tanpa ragu-ragu. Tubuhnya lurus. Dia sama sekali tak melengkungkan badan mendahulukan pinggul seperti kami tadi yang takut-takut.”

“Sesaat kemudian kami khawatir bahwa dia akan berdebam membentur lantai. Tapi pada detik terakhir, pasangan kawan yang ada di belakangnya bergerak begitu cepat menahan pundak dan kepala mahasiswi yang jatuh bebas itu lalu membuat tegak kembali. Kami semua terpekik, lalu bersorak. Dan kemudian hampir serentak, kami bertepuk tangan.”

Professor Morrie tersenyum.

“Kau lihat,” ujarnya kepada mahasiswi itu dengan mata berbinar, “Kau memejamkan mata. Itulah bedanya. Kadang-kadang kita tidak boleh percaya pada apa yang kita lihat. Kita harus percaya pada apa yang kita rasakan. Dan jika kita ingin agar orang lain mempercayai kita, kita juga harus merasa bahwa kita bisa mempercayai mereka, bahkan meski kita sedang dalam kegelapan. Bahkan ketika kita sedang jatuh.”

Tutuplah mata, bukalah hati nurani dan jiwa, kala kau berat melaksanakan perintah-Nya. karena terkadang pandangan mata hanya ilusi yang seolah menambah berat dalam meniti jalan-Nya. Padahal melalui jiwa dan nurani yang suci, kita akan tau, bahwa jalan-Nya adalah yang terbaik, dan titah-Nya adalah yang terbaik pula.

Belajarlah percaya pada temanmu sebelum kau menyuruh mereka percaya padamu. Meski kau sedang dalam kegelapan, meski kau sedang terjatuh.

Diambil dari : Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah.

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar