14 Okt 2012

Al-Masjid An-Nabawi


Al-Masjid An-Nabawi adalah masjid yang dibangun pertama kali di Madinah. Rasulullah s’aw beserta para shahabatnya membangun masjid ini sekitar tahun 622 M. Masjid ini adalah tempat tersuci kedua umat Islam setelah Masjidil Haram di Makkah. Nabi Muhammad s’aw bersabda, “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) ini lebih afdol (utama) dari seribu shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali masjidil Haram, dan shalat di masjidil Haram lebih afdol (utama) dari seratus shalat di masjidku ini.” (HR. Ahmad)

 Masjid Nabawi kala senja


Masjid Nabawi dari Masa ke Masa
Awal Mula

Pembangunan Masjid Nabawi ini dilakukan pasca Rasulullah s’aw hijrah dari Makkah. Pada awalnya, Masjid Nabawi hanya berbentuk sangat sederhana. Dengan dinding yang dibangun dari batang kurma dan lumpur beratapkan pelepah kurma, masjid tersuci kedua ini menjadi pusat kajian ke-Islam-an dan pembinaan ruhiyah para shahabat dan juga pusat pemerintahan dan berbagai urusan kenegaraan dan peradilan hukum. Masjid Nabawi yang saat itu berukuran sekitar 30 m x 35 m itu memiliki 3 pintu, Bab Rahmah, Bab Jibril (Door of Gabriel), dan Babun-Nisa’ (Door of the Women). Rumah Nabi s’aw juga bersebelahan dengan masjid.

Tujuh tahun kemudian, Masjid Nabawi kembali diperluas agar dapat menampung kaum muslimin yang jumlahnya makin banyak sehingga luas masjid menjadi sekitar 50 x 49,5 m. Komponen masjid kurang lebih masih sama saat masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar ibn Khaththab r’a yang saat itu luasnya mencapai 3.575 m2. Pada masa ‘Utsman ibn ‘Affan r’a menjadi khalifah, beliau menambahkan batu dalam komponen masjid tersebut.

Masa Kekhalifahan Bani Umayyah

Tahun 707, di masa kekhalifahan Al-Walid ibn Al-Malik dari Bani Umayyah, bangunan masjid lama dirobohkan dan pembangunan masjid baru dilakukan. Bangunan masjid yang baru menggunakan fondasi dari batu yang beratap kayu dengan dilengkapi empat menara. Dikarenakan perluasan besar-besaran masjid, makam Rasulullah s’aw beserta makam shahabat Abu Bakar dan ‘Umar yang berada di dalam kamar ‘Aisyah Ummul Mukminin menjadi satu dengan masjid.

Masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah

Pada masa Khalifah Al-Mahdi dari Bani Abbasiyah, masjid juga diperluas dengan penambahan dua puluh pintu pada Masjid Nabawi.

Kemudian pada masa Sultan Mamluk, Al Mansur Qalawun, dibangun kubah di atas makam Nabi. Tempat wudhu juga dibangun di luar Babus-Salam (Door of Peace).

Masa Utsmaniyah

Kekhalifahan Turki Utsmani mengambil alih kepemimpinan kota suci Madinah dari tahun 1517 sampai Perang Dunia Pertama. Khalifah Sulaiman Yang Agung membangun kembali dinding barat dan timur masjid dan membangun menara di sebelah timur laut yang dikenal As-Sulaymaniyya. Di masa kepemimpinan beliau, dibangun kubah baru di atas makam Nabi dan diwarnai dengan warna hijau. Kubah tersebut sampai sekarang dikenal dengan Kubah Hijau (Green Dome).

Kubah Hijau, Masjid Nabawi

Di masa kepemimpinan Khalifah Abdul Majid I, bangunan masjid kembali mengalami perubahan bentuk, dengan mengecualikan makam Nabi, tiga mihrab, mimbar, dan menara As-Sulaymaniyya. Bagian utara diperluas termasuk area untuk bersuci (wudhu). Tempat shalat di selatan masjid ditutup oleh beberapa kubah yang berukuran hampir sama, baik dari segi bentuk dan ukuran dan dihiasi dengan ayat suci Al-Qur’an. Dinding qiblat dilapisi ubin dengan kaligrafi ayat suci Al-Qur’an, sedangkan lantai masjid dilapisi pualam. Di masanya, dibangun pula lima menara di barat masjid.

Masa Kerajaan Saudi

Kerajaan Saudi Arabia mengambil alih kepemimpinan daerah hijaz, termasuk kota suci Madinah dan Masjid Nabawi pada tahun 1805. Mulai tahun 1925, dilakukan perluasan secara bertahap terhadap Masjid Nabawi. Kemudian Masjid Nabawi menjalani beberapa perubahan pokok.

Tahun 1951, Raja Ibnu Saud memerintahkan pembongkaran di sekitar masjid guna memperluas tempat masjid. Perluasan dan penambahan berbagai property juga dilakukan oleh raja-raja Saudi setelahnya. Raja Fahd melakukan perluasan besar-besaran pada masjid Nabawi, juga melakukan penambahan air conditioning pada masjid.

Sampai tulisan ini dibuat, Masjid Nabawi mampu menampung 600.000 sampai 1.000.000 jamaah. Pelataran Masjid Nabawi juga dilengkapi lentera dan kanopi yang terbuka saat udara panas atau hujan. Masjid berpintu gerbang emas yang bernuansa padang pasir kala siang dan seolah berubah menjadi istana putih kala malam ini telah memiliki sepuluh menara yang berdiri menjulang.

Beberapa ruangan dalam masjid dibiarkan terbuka tanpa atap dan dilengkapi lentera dan kanopi. Terdapat ratusan tiang marmer putih di dalam Masjid Nabawi. Di antara tiang-tiang tersebut, dibuat interior menyerupai tapal kuda. Beberapa tiang masjid dilengkapi rak buku tempat puluhan kitab suci Al-Qur’an ditempatkan. Karpet merah tebal telah terhampar guna menjadi tempat sholat para jamaah. Berpuluh rak untuk alas kaki ditempatkan di dalam masjid, sehingga alas kaki para jamaah tidak berserakan di luar, melainkan dibawa masuk ke dalam masjid dan ditempatkan secara rapi. Di dalam masjid juga disediakan berpuluh-puluh tempat air yang berisi air zam zam. Para jamaah bisa meminum secara gratis. Beberapa jamaah juga sengaja membawa tempat minum sendiri agar dapat membawa pulang air zam zam tersebut.

Bagian dalam Masjid Nabawi


Puluhan kanopi di halaman Masjid Nabawi berfungsi melindungi para jamaah dari panas terik dan hujan


Makam Nabi dan kedua shahabatnya berada di tenggara masjid. Area antara makam Nabi dan mimbar Nabi disebut Raudhah. Tiang-tiang di area Raudhah terbuat dari kayu dengan desain yang berbeda dengan tiang yang lain. Karpet warna hijau terbentang untuk membedakan antara area Raudhah dengan yang lain. Area yang tergolong sempit ini hanya dapat menampung beberapa jamaah saja. Walau begitu, area ini menjadi area terpadat di seluruh masjid. Banyak jamaah berusaha keras untuk shalat dan berdoa di area ini mengingat Rasulullah s’aw pernah bersabda, “Tanah yang ada di antara rumahku dengan mimbarku itu adalah suatu taman dari taman-taman surga.” {Shahih Bukhari, Kitab Shalat di Masjid Makkah dan Madinah}. Walaupun begitu, tak setiap saat area ini dibuka.

Raudhah saat tanpa jamaah

 Keadaan di depan Makam Nabi

Kemegahan Masjid Nabawi juga diimbangi dengan jamaah yang selalu ramai megunjunginya. Sekitar satu jam sebelum waktu shalat, para jamaah, ‘Arab dan non-‘Arab, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, bahkan beberapa di antaranya harus mengenakan kursi roda, mulai berbondong-bondong menuju Masjid Nabawi untuk beribadah. Puluhan toko yang berada di sekiar masjid juga turut tutup saat mendekati waktu sholat.

Setiap hari Masjid Nabawi selalu disesaki banyak sekali jamaah dan puncaknya saat ibadah haji. Jamaah dari berbagai bangsa, menuturkan bahasa yang bermacam-macam, beraneka ras, berkumpul bersama guna meraih ridha-Nya, bergerak bersama penuh harmoni saat sholat jamaah ditegakkan. Asas "semua sama di hadapan-Nya" benar-benar terealisasi di masjid tersuci kedua ini. Tidak ada tempat lain yang dapat menandingi Masjid Nabawi dari segi ini selain Masjidil Haram di Makkah.

Ganjaran di Madinah

Walaupun memang benar Madinah merupakan tanah haram, tempat pahala dilipatgandakan, akan tetapi ganjaran dosa juga turut berlipat. Nabi s’aw bersabda, “Madinah itu haram (tanah suci) dari ini sampai ini, tidak boleh dipotong (ditebang) pohonnya, dan tidak boleh dilakukan bid'ah di dalamnya. Barangsiapa yang membuat bid'ah (atau melindungi orang yang berbuat bid'ah) di dalamnya, maka ia terkena laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya.” {Shahih Bukhari}

Ibnu Abbas r’a berkata, “Dari apa yang dikatakan Rasulullah s’aw bahwa 'Ada tiga orang yang paling dimurkai Allah',” Beliau menyebutkan satu di antaranya adalah mulhid (orang yang berbuat kejahatan atau kekufuran) di tanah haram.{HR. Bukhari}

Disebutkan di dalam Fath al-Baari, “Yang nampak jelas dari teks hadits bahwa perbuatan dosa kecil di tanah haram lebih besar dosanya dari pada perbuatan dosa besar di tempat yang lain.”

Perlindungan Dari Fitnah Dajjal

Kota suci Madinah merupakan tempat yang dilindungi sehingga Dajjal tak dapat memasuki kota Madinah. Abu Bakrah mengatakan bahwa Nabi s’aw bersabda, “Tidaklah masuk kota Madinah ketakutan terhadap Masih ad-Dajal, pada hari itu Madinah mempunyai tujuh buah pintu gerbang, di atas setiap pintu ada dua malaikat.” {HR. Bukhari}

Masjid Nabawi merupakan masjid tersuci kedua umat Islam. Tempat negara Islam pertama kali berdiri, tempat wafatnya Nabi akhir zaman, Muhammad s’aw, dan kelak menjadi salah satu tempat yang dilindungi dari fitnah Dajjal. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah Yang Maha Pengasih untuk ziarah ke Masjid Nabawi. Aamiin.

Nilai Artikel

4 komentar :

  1. Terima Kasih pemaparannya :)
    di tunggu nie edisi selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. @u' Prima : Sama2. Jangan lupa selalu kunjungi blog ini agar dapet update info ke-Islam-an lain yang keren.. ^^

      Hapus
  2. lbh asyik lagi kalau berkunjung langsung ke Masjid Nabawi ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. @a' Bambang : Ya.. Kami juga berfikiran sama dengan anda. Semoga kita diberi kemudahan Allah agar bisa pergi ke sana..

      Hapus