10 Jun 2012

Waspada! Misi Rahasia Berkedok Lembaga Pendidikan!

Kristolog Irena Handono mengatakan, kasus SMK Grafika Desa Putera  memberikan pelajaran bahwa kita sebagai orang tua harus waspada. Tentu sangat disesalkan, kalau sampai orang tua tidak mengetahui, ke mana harus menyekolahkan anaknya. Tetapi sebelum itu, apa yang terjadi dengan SMK Grafika Desa Putra?



Sejak 1970, sekitar 70 persen, siswa Muslim yang sekolah di SMK Grafika Desa Putera tidak mendapatkan haknya untuk mendapatkan pelajaran agama Islam. Ironisnya, siswa muslim itu malah berdoa, mengikuti ujian dan praktik agama Katolik.

Hal itu terungkap dalam sebuah diskusi publik “Muslim Menggugat! Pendangkalan Akidah ala SMK Grafika Desa Putera”, Ahad (25/3) pagi di Masjid Al-Birru, Simpang Tiga, Jl. M Kahfi, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jagakarsa itu menghadirkan sejumlah pembicara, yakni: Ace Suhaeri (Tokoh Masyarakat Jagakarsa), Andreas Ibrahim (Mantan Pendeta), Saharuddin Daming (Komisioner Komnas HAM), Mujiyanto (Redpel Media Umat).

H Ace Suhaeri yang juga seorang guru SMK Borobudur, Cilandak KKO, Jakarta Selatan ini, menyaksikan sendiri, ketika ia ditugaskan untuk mengawasi ujian nasional di SMK yang bernaung pada Yayasan Budi Mulia Lourdes itu. Sesaat sebelum ujian nasional (UN) di mulai di SMK Grafika Desa Putra, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, salah seorang siswa berdiri untuk memimpin doa sekitar 20 siswa yang hendak ujian, dengan cara berdoa ala Kristiani (doa trinitas dengan tangan ke kepala dan bahu).

Ace penasaran dan ingin tahu, apakah ada di antara siswa di kelas itu yang beragama Islam. Ketika ditanya, “Apakah kalian semuanya beragama Kristen?” pancing Ace. Namun, betapa kagetnya Ace, ketika mendengar jawaban salah seorang siswa. “Tidak, bahkan di ruangan ini semuanya Muslim!” ungkap siswa yang ditanya.

Ace pun bertanya lagi, mengapa kalian berdoanya seperti itu. “Emang Pak kalau di sini wajib doa sebelum belajar, ya seperti ini doanya,” jawab salah seorang siswa. Ace juga mempertanyakan jumlah siswa yang beragama Katolik di SMK tersebut. Seorang siswa menjelaskan,  “Jumlah siswa Katolik yang sekolah disini sedikit Pak, kalau ditotal paling cuma lima persen saja!” jawabnya.

Tahun berikutnya,  Ace pun ditugaskan untuk memeriksa jawaban pelajaran agama ujian akhir sekolah (UAS) di SMK yang sama. Ia langsung menolak mentah-mentah memeriksa sekitar 108 lembar jawabnya, lantaran seluruh lembar jawabnya tidak satu pun lembar jawab pelajaran agama Islam, semua Katolik. Padahal dari sekitar 108 peserta ujian tulis itu sekitar 76 siswanya beragama Islam.

“Saya kan kaget, sementara siswa  saya di SMK Borobudur yang siswa Kristennya dua orang saja, pelajaran agamanya diserahkan kepada Pendeta,” ungkapnya. Dan yang membuat Ace terkaget-kaget adalah praktik ujian agama untuk siswa Muslimnya pun bukan shalat atau baca Al Qur’an, tetapi membuat cerita dari Bibel.

Hingga saat ini pemurtadan terus berlangsung di SMK Grafika Desa Putera.

“Betapa pentingnya sekolah yang Islami.Sekarang sekolah Islam yang berkualitas, bermutu tinggi, dan bergedung bagus, banyak, Alhamdulillah. Tetapi, bagaimana dengan umat yang tidak mampu? Itu yang juga harus menjadi perhatian kita,” kata mantan biarawawi Irena yang telah muallaf.

Irena mengatakan, jika kita tidak peduli terhadap saudara-saudara kita yang fakir dan miskin, maka mereka akan dididik dan diarahkan oleh para misionaris, dengan pelajaran agama Kristen, ujian dan ulangan sampai diharuskan menghafal pelajaran-pelajaran agama Kristen.

Selain Desa Putera, apakah sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan Kristen lainnya berpola sama? Irena menjelaskan, kalau di sekolah yang nyata-nyata memasang bendera Kristen, tentu mereka menjalankan visi-misi Kristennya. Ada  kewajiban, setiap siswa yang belajar di sekolah Kristen itu harus masuk ke gereja setiap bulannya. “Rata-rata, semuanya begitu, di manapun, mulai dari Jakarta sampai ke ujung-ujung.

Irena yang berpendidikan Institut Filsafat Teologia Katolik (Seminari  Agung) memberi contoh, sekolah-sekolah Kristen di Jakarta, seperti Vincentius, Ursula, semuanya sama. Begitu pula di Surabaya, seperti Santarisa, Gabriel, Santa Anis, Santa Maria, Vanlue, termasuk di tempat Irena dahulu mengecap pendidikan.
Ketika ditanya, mengapa orang Islam menyekolahkan anaknya ke sekolah Kristen? Kata Irena, boleh jadi karena pandangan orang tua, bahwa sekolah tersebut terkenal disiplin dan mutunya yang tinggi. Untuk belajar di sekolah Kristen, pihak sekolah tentu memberi persyaratan kepada siswa muslim, yaitu mereka akan mendapat pengajaran agama Kristen atau Katolik, termasuk ujian dan ulangannya, bahkan ke gereja setiap satu bulan sekali.

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar