16 Nov 2010

Memahami Hakikat Keislaman Kita?

  Banyak orang yang saat ini mengaku sebagai pemeluk agama Islam, namun mereka tidak tahu hakikat hal itu. Mereka juga tidak mengerti kemuliaan yang mereka peroleh karena nikmat dan anugerah Allah ta’ala yang agung dengan memeluk agama ini, padahal itulah nikmat yang paling besar yang tiada bandingannya.
“Di antara hal yang membuatkan bertambah mulia dan bangga. Dan aku hampir menginjakkan kedua kakiku di atas bintang kejora. Adalah masuknya aku ke dalam firman-Mu, “Wahai hamba-hamba-Ku.” Dan Engkau utus Ahmad (Muhammad) sebagai utusan-Mu
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap bayi adalah terlahir dalam fitrahnya, lalu kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muttafaq ‘alaihi).
Seandainya ada di antara kita yang sejak tercipta hingga mati bersujud di atas tanah karena bersyukur atas nikmat Islam yang sangat agung ini, tentunya dia tetap tidak akan mampu menebusnya. Namun sayang sekali, saat ini kita temukan banyak orang muslim yang menganggap bahwa keislamannya cukup dengan nama atau keterangan di kartu identitasnya saja. Dia mengira bahwa dia menjadi muslim karena namanya Muhammad, Ahmad, Abdullah, atau Abdurrahman. Tetapi apa yang dia ketahui tentang Islam? Apa yang kita berikan kepada agama ini? Bahkan, saat ini kepemelukan banyak orang terhadap agama ini menjadi kepemelukan yang sifatnya teoritis, polos, dan dingin. Sehingga banyak di antara kita yang tidak memasukkan agama ini dalam objek perhatian, tujuan, dan program hidup kita.
Mungkin kita merencanakan masa depan kita, masa depan pekerjaan kita dan lain sebagainya, tetapi siapa di antara kita yang membuat rencana untuk kejayaan Islam? Siapa di antara kita yang membuka hatinya untuk melihat realitas pahit dan memilukan yang dihadapi umat Islam saat ini? Siapa di antara kita yang tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi agama ini? Siapa di antara kita yang tidur, namun hatinya selalu disergap perasaan sedih, matanya mengalirkan air mata karena melihat kondisi yang memilukan ini?
Hidup dengan Islam dan untuk Islam, itulah hakikat dari keberpihakan kepada Islam.

Islam Agama Allah
Kita harus tahu bahwa Islam adalah agama Allah. Maka ketika Alah telah melapangkan hati kita untuk menerima Islam, lalu kita menyerahkan diri kepada-Nya, bersaksi tidak ada sembahan yang hak selain Dia dan Muhammad adalah rasul Allah ta’ala, tanpa paksaan dari seorang pun, maka setelah itu kita harus mengetahui bahwa Islam adalah manhaj hidup yang mengontrol seluruh hidup kita dan dalam kondisi yang sangat bahagia serta penuh keridhaan.
Konsekuensi dari Islam adalah Allah ta’ala berfirman kepada hamba, “Aku memerintahkan dan melarang,” dan hamba berkata kepada-Nya, “Saya mendengar dan menaati.” Dan sang hamba pun menyerahkan akal dan hatinya kepada Allah dan rasul-Nya, serta mengikuti jejak rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sampai kepada kehidupan yang damai dan bahagia di dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, seandainya kita selalu mengikuti jalan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita akan melihat beliau sedang menunggu kita di haudh (telaga) beliau. Sehingga kita pun akan bahagia dan tidak pernah merasa sengsara untuk selamanya.

Hiduplah dengan Islam dan Untuk Islam
Hakikat memeluk Islam adalah hidup dengan Islam dan untuk Islam, hidup dengan perintah-perintahnya, larangan-larangannya, dan batasan-batasannya. Para sahabat radhiallahu ‘anhu benar-benar memahami hal ini. Sehingga ketika salah seorang mereka meninggalkan kekafiran dan masuk ke dalam keimanan, dia pun mengetahui dengan penuh keyakinan akan hakikat dari keberpihakannya terhadap agama ini. Oleh karena itu, semua kekuatan dan kemampuannya pun tercurahkan untuk Islam.

Keimanan yang Kokoh Sejak Semula
Lihatlah Abu Bakar ash Shiddiq, ketika masuk Islam. Dia sama sekali tidak menghalangi datangnya cahaya hidayah ke dalam hatinya. Dia pun segera pergi dari sisi rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari para pemilik hati yang hidup. Sehingga ketika kembali kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia membawa lima orang dari sepuluh sahabat yang mendapatkan kabar gembira untuk masuk surga. Lalu mereka pun membaiat rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersaksi di hadapan beliau bahwa tiada sembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah.
Sungguh berbeda antara bunga yang palsu dan bunga yang sejati. Sungguh berbeda antara bunga palsu yang sekedar membawa nama bunga, dengan bunga yang diciptakan oleh Allah ta’ala, yang wangi dan aromanya menyebar ke seluruh penjuru.
Apa yang sebenarnya diketahui oleh Abu Bakar ash Shiddiq radhiallahu ‘anhu pada hari pertama dia masuk Islam sehingga pada hari berikutnya dia kembali dengan lima orang tersebut? Sungguh dia membawa Islam di dalam hatinya, dan hatinya pun selalu menyala dengan agama ini. Hanya itulah yang dia miliki.

Beramallah untuk Islam Walaupun kita Pelaku Maksiat
Sebagian muslim merasa tidak mampu memberikan sesuatu kepada Islam karena kita merasa mempunyai kekurangan atau karena kita melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Oleh karena itu, sesungguhnya jika kita tidak beramal untuk Islam, maka hal itu semakin menambah dosa baru di dalam daftar dosa-dosa kita, maka jangan engkau kira dengan terjatuh dalam perbuatan maksiat kita mendapatkan cuti untuk tidak berbuat demi Islam. Karena siapakah diantara kita yang tidak berbuat dosa? Semua kita mempunyai dosa.”
Abu Mijan ats-Tsaqafi radhiallahu ‘anhu adalah orang yang tidak kuat menahan keinginannya jika melihat khamr, sehingga dia sering dihadapkan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dikenakan kau had. Walaupun demikian, ketika ia mendengar seruan jihad ke Qadisiyah, dia segera bangkit untuk bejihad di bawah pimpinan paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu. Ketika pada hari-hari pertempuran, dia kembali tidak mampu menahan keinginannya ketika melihat khamr, sehingga dia pun meminumnya. Oleh karena itu, Sa’ad menjatuhkan hukuman atasnya dengan menggurungnya dan melarangnya ikut peperangan, karena hukuman had tidak dilaksanakan di daerah musuh.
Ketika ditahan, dia mendengar suara pertempuran yang memanas dan teriakan para ksatria, maka air matanya pun mengalir, karena kedatangannya ke al Qadisiyah adalah untuk mendapatkan kemuliaan mengikuti pertempuran. Ketika itu istri Sa’ad melihatnya, dia pun merasa kasihan terhadap Abu Mihjan. Sedangkan Sa’ad radhiallahu ‘anhu saat it sedang sakit, dan itu adalah sakit terakhir yang membuatnya tidak bisa turun untuk berperang, sehingga dia mengatur peperangan dari tempat tidurnya.
Lalu Abu Mihjan berkata kepada istri Sa’ad, “Wahai Salma, berikan kepadaku kuda Sa’ad, Balqa, dan berikan kepadaku senjata Sa’ad. Demi Allah, jika Allah menakdirkan aku untuk tetap hidup, maka aku akan kembali ke tempat tahanan ini dan aku ikatkan kembali kekang yang mengikat kakiku. Dan jika aku mati, maka itulah yang aku harapkan.” Mendengar ketulusan Abu Mihjan tersebut, istri Sa’ad akhirnya mengabulkan keinginannya.

Merekalah Orang-Orang yang Memahami Hakikat Memeluk Islam, sehingga Mereka Merealisasikannya di Dalam Kehidupan
Terkadang ada orang yang berkata, “Saya tidak pandai berpidato dan saya tidak bisa menyampaikan ceramah, lalu bagaimana saya bisa mempersembahkan sesuatu untuk Islam?”
Kita tidak dimnta untuk menjadi penceramah atau para orator di atas mimbar. Apa pun Status kita, jadilah muslim hakiki! Yang diperlukan adalah merealisasikan hakikat kepemelukan kita terhadap Islam dalam status yang kita jalani. Seorang pelajar atau mahasiswa yang berprestasi, merealisasikan kepemelukannya terhadap Islam. Seorang tentara dan dokter yang menunaikan amanah mereka, merealisasikan kepemelukan mereka terhadap Islam. Seorang insinyur yang dapat dipercaya atas harta dan proyek-proyek umat Islam, merealisasikan kepemelukannya terhadap Islam.

Jadilah Seorang Muslim yang Mengemban Cita-cita Islam Di Mana pun kita Berada!
Sesungguhnya langkah pertama dalam merealisasikan hakikat kepemelukan kepada Islam adalah dengan mengemban cita-cita Islam di dalam hati kita. Kongkretnya adalah dengan memasukkan target-target dan cita-cita Islam di dalam target-target dan cita-cita kita. Jika salah seorang dari kita melakukan langkah pertama ini, maka dia pasti akan melakukan langkah kedua, yaitu meluangkan waktunya untuk mempelajari Islam dengan membaca Al Qur’an dan buku-buku Islam, mendengarkan para ulama rabbani serta para da’i yang jujur. Karena sesuatu yang mungkin paling berbahaya bagi seorang dalam mempelajari Islam adalah belajar dari orang yang tidak bertakwa kepada Allah ta’ala, sehingga dia pun belajar ilmu yang menyimpang jauh dari Islam. Oleh karena itu, kita harus mencari ulama-ulama yang rabbani tersebut, dan kita akan menemukannya, karena umat ini selamanya tidak akan pernah kosong dari mereka.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Sekelompok umatku akan tetap teguh menunaikan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang-orang yang membiarkan atau menentang mereka, hingga datang keputusan Allah dan mereka masih dalam keadaan demikian.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka. Semoga Allah memberi taufik dan kemuliaan kepada kita untuk beramal demi agama ini, sesungguhnya Dia mahakuasa atas hal itu.
Akhirnya, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar