31 Des 2013

Makna Topi Tahun Baru = Topi Simbol Muslim Murtad?




 

Tahun baru masehi identik dengan terompet dan topi kerucut. Tidak sedikit masyarakat Muslim yang ikut merayakannya, juga dengan meniup terompet dan memakai topi kerucut tersebut.

Tetapi, Muslim yang ikut-ikutan merayakan itu, tahukah mereka makna topi dan terompet tahun baru? Ternyata, topi tahun baru berbentuk kerucut sama dengan bentuk topi Sanbenito.



Sanbenito. Apa Itu?
 
Sanbenito (sambenito dalam bahasa Spanyol, gramalleta atau sambenet dalam bahasa Catalan) adalah topi berbentuk kerucut yang digunakan sebagai sebuah bentuk hukuman terutama ketika masa Inkuisisi Spanyol. Topi ini disertai dengan garmen mirip skapulir, dengan dekorasi salib Andreas untuk menghukum penganut ajaran sesat atau dengan dekorasi berupa naga, iblis, dan bruder. Kostum ini digunakan oleh penerima hukuman ketika menerima ritual auto da fé pada masa Inkuisisi Spanyol karena telah melakukan ajaran sesat.

Sumber lain menyebutkan bahwa topi ini digunakan Muslim Andalusia selama masa Inkuisisi untuk menandai bahwa mereka sudah murtad dibawah penindasan Gereja Katolik Roma yang menerapkan Inkuisisi Spanyol. Pada masa Raja Ferdinand dan Ratu Isabela berkuasa di Andalusia, keduanya memberi jaminan hidup kepada orang Islam dengan satu syarat, yakni keluar dari Islam.

Pada perkembangannya, topi Sanbenito dipaksakan kepada kaum Muslimin Andalusia. Ketika kaum Frank menyerang Spanyol Muslim (Andalusia), mereka menangkap dan membunuh umat Islam yang tidak mau tunduk kepada mereka. Kaum Kristen Trinitarian itu juga melaksanakan inkuisisi kepada pemeluk Islam. Namun bagi mereka yang mau "bertobat" kembali ke Kristen, mereka dibebaskan dengan kewajiban -salah satunya- memakai topi Sanbenito.





Terompet dan Yahudi
 

Jika topi Sanbenito identik dengan "pertobatan" Kristen, terompet identik dengan ritual Yahudi. Sejarah mencatat sejak tahun 63 SM, Yahudi sudah akrab dengan penggunaan terompet. Dan hal itu berlangsung hingga zaman Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Oleh karena itulah, Rasulullah menolak ketika ada yang mengusulkan memakai terompet untuk memanggil kaum muslimin menjelang shalat berjama'ah. "Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi," sabda beliau seperti diabadikan dalam hadits riwayat Abu Daud.

Hadits yang lebih umum juga mengingatkan dengan tegas. Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut. Na'udzu billah min dzalik.



Sumber: 
http://www.bersamadakwah.com
http://id.wikipedia.org

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar