9 Jun 2013

Islamic Table Manner



Table manner dapat diartikan sebagai sikap seseorang dalam mengikuti suatu acara jamuan makan dengan mengikuti tata cara, etika sopan santun sesuai dengan lingkungan sosial dimana kita berada dan dilakukan oleh siapa saja. Bisa dikata, table manner adalah salah satu parameter sopan santun seseorang, tentu dengan sudut pandang budayanya.

 Tiap bangsa dan budaya memang memiliki table manner mereka masing-masing. Namun Islam juga memiliki table manner tersendiri yang sudah selayaknya diterapkan oleh kaum muslimin saat makan, tanpa memandang asal bangsa dan budaya

Tiap bangsa dan adat istiadat pastinya punya dong table manner mereka sendiri. Dari yang ringkes, sampai yang ribet pun juga ada. Tentu ini dilihat dari pandangan tiap subjektif tiap orang. Di Indonesia misalnya, nggak boleh bersendawa saat makan, kalo selesai makan sendok dan garpu dibalik, dan lain sebagainya. Di Arab, justru saat seorang tamu bersendawa, malah itu bagus dan disukai tuan rumah, karena tamu dianggap puas dengan jamuan yang dihidangkan. Di tempat lain, berjejer banyak sendok dan garpu di samping kanan-kiri piring dengan kegunaannya sendiri-sendiri.



Nah, sebagai jalan hidup yang mencakup semuanya, Islam juga memberikan panduan table manner bagi umat muslim, lho. Islam memang nggak hanya mengatur hubungan antara individu dan Allah Ta’ala secara personal, bahkan etika saat makan pun juga diperhatikan. Masya’Allah. Bedanya dengan table manner yang lain, jika kita melakukan table manner ala Islam ini, insya’Allah selain akan menunjukkan tingginya kesopansantunan kita sebagai muslim, juga sebagai pundi-pundi pahala, bahkan saat menyantap hidangan sekalipun.

Di sini juga dilengkapi sudut pandang sains mengenai table manner Islam, biar artikel ini makin komplit.


Etika Makan

Apa aja sih etika makan dalam Islam? Ini dia..

[1] Pertama, makannya sambil duduk ya mas bro mbak sist. Jangan sambil berdiri. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bahwasanya beliau melarang seseorang untuk minum dengan berdiri. Qatadah bertanya kepada Anas, “Bagaimana kalau makan?” Anas menjawab, “Kalau makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR Muslim)

Ditinjau dari kacamata medis, minum air sambil duduk lebih baik karena air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal. Nah, jika kita minum berdiri, air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan di saluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal, saalah satu penyakit ginjal yang berbahaya.

Makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa berbenturan dengan makanan atau minuman yang masuk.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokkan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum.

[2] Kedua, doa dulu sebelum dan sesudah makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir).



Memperhatikan etika makan khususnya dalam sebuah jamuan termasuk salah satu parameter penilai kesopanan seseorang




Habis makan juga kudu memuji Allah Ta’ala, atas segala karunia-Nya kepada kita. “Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji Allah sesudahnya atau meneguk minuman lalu memuji Allah sesudahnya.” (HR Muslim no. 2734). Simpel tapi sarat pahala, kan?

[3] Ketiga, pake tangan kanan. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019)

Lantas, gimana dong kalo makan steak? Kan kita juga ada acara ngiris pake pisau. Bukannya ribet kalo harus gonta-ganti pisau-garpu saat ngiris-makan steak? Untuk itu, masalah itu bisa diakali dengan ngiris-ngiris steak terlebih dulu menjadi beberapa bagian, baru kamu makan.

 Segala macam makanan harus disesuaikan dengan table manner Islam

[4] Keempat, jangan meniup makanan yang panas. Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk bernafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Al-Tirmidzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa meniup makanan panas bisa menyebabkan asidosis, yakni turunnya pH dalam darah. Jika kondisi ini berlangsung terus menerus, kita akan merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa mengantuk, sering mual dan juga mengalami kebingungan. Bila asidosis tidak tertangani dengan baik maka tekanan darah akan menurun, syok, koma, bahkan bisa menyebabkan kematian. Kok bisa???

Saat bernapas kita menghirup oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2). Sedangkan makanan / minuman panas akan mengeluarkan uap air (H2O). Otomatis jika kita meniup makanan/minuman panas, maka akan terjadi reaksi sebagai berikut:

CO2 + H2O ----> H2CO3

Hasil reaksi ini adalah senyawa asam karbonat yang berguna untuk mengatur pH (tingkat keasaman) di dalam darah. Darah sendiri merupakan bufer (larutan yang dapat mempertahankan pH) dengan asam lemahnya berupa H2CO3 dan basa konjungsinya berupa HCO3.

Dalam kata lain, tubuh menggunakan bufer dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah. Jika kita meniup makanan/minuman yang masih panas itu artinya kita mengonsumsi makanan yang mengandung H2CO3 yang mempengaruhi tingkat keasaman dalam darah menjadi lebih asam dari seharusnya. Alhasil, pH dalam darah menurun. Keadaan ini disebut dengan istilah asidosis.

Masya Allah. Islam memang aturan yang memiliki hikmah tak terhitung di baliknya. Sepakat kan?!

[5] Kelima, jangan makan yang berlebihan ya. Allah Ta’ala berfirman, “…Makan dan minumlah tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” {QS. Al A'raaf (07): 31}

 Islam tidak menganjurkan umatnya untuk makan berlebihan, tetapi secukupnya

Dr. Bradley J. Willcox, dalam bukunya The Okinawa Diet Plan: Get Leaner, Live Longer and Never Feel Hungry, diet Okinawa dapat mengatasi kegemukan, membuat perasaan lebih nyaman dan awet muda. Okinawa merupakan nama sebuah pulau di Jepang. Nama pulau ini begitu terkenal, karena memiliki jumlah penduduk berusia lebih dari 100 tahun terbanyak di dunia. Data menunjukkan dari sekitar 1,27 juta jiwa, terdapat 427 warga Okinawa yang berusia lebih dari 100 tahun! Penduduk Okinawa juga memiliki usia harapan sehat tertinggi di dunia.

Rahasia sehat, panjang umur dan awet muda mereka terletak pada pola makan dan gaya hidup sehari-hari yang sangat khas. Pola makan mereka hampir sama dengan Anda, bedanya mereka sangat membatasi mengonsumsi lemak dan protein hewani.Prinsip makan yang mereka anut adalah mengonsumsi karbohidrat, lemak dan protein yang tepat.

Nah, gimana? Orang Okinawa aja yang non-muslim menerapkan gaya hidup sehat, mengapa kita yang muslim, yang sudah diperintahkan oleh Nabi kita sejak dulu buat memperhatikan masalah makanan, malah bersikap cuek?

Untuk ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memberikan solusi menarik. Beliau bersabda, “Tidaklah seorang manusia mengisi wadah yang lebih buruk daripada mengisi perutnya sendiri. Bagi seseorang cukuplah beberapa suap yang bisa menegakkan punggungnya. Dan kalau tidak kuat demikian maka hendaklah sepertiga isi perutnya untuk makanannya, sepertiga lainnya untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk udara / nafasnya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Hakim)

[6] Keenam, jangan makan sambil bersandar. Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau, “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” {HR. Bukhari no. 5399}

[7] Ambil makanan yang terdekat dengan kamu dulu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir).


Peralatan Makan

Sedang dari peralatan makanan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar sesuai dengan aturan table manner Islami.

[1] Apapun peralatan makannya, piring, gelas, sendok, garpu, dan lain-lain, jangan pake yang berbahan emas dan perak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Janganlah kalian minum dari bejana emas dan perak dan jangan pula kalian makan dari piring-piring emas dan perak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 Islam melarang umatnya menggunakan peralatan makan terbuat dari emas dan perak

[2] Bila memungkinkan, gunakan cukup tiga jari saat makan dan menjilati jari usai makan. Tentunya ini juga tergantung jenis makanan yang kita makan.

Dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR Muslim no. 20232 dan lainnya).

Berkenaan dengan hadits ini Ibnu Utsaimin mengatakan, “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yaitu jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan tidak rakus dan ketawadhu’an. Akan tetapi hal ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari. Adapun makanan yang tidak bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari, maka diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga jari, misalnya nasi. Namun, makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari maka hendaknya kita hanya menggunakan tiga jari saja, karena hal itu merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarah Riyadhus shalihin Juz VII hal 243)

Cara makan kayak gini mengajarkan kepada kita agar makan dengan tampilan yang nggak rakus, sedikit dan perlahan-lahan.

Tiap bangsa dan budaya memang memiliki table manner mereka masing-masing. Namun Islam juga memiliki table manner tersendiri yang sudah selayaknya diterapkan oleh kaum muslimin saat makan, tanpa memandang asal bangsa dan budaya.

Jadi, yuk kita praktekkan. Selamat makaaan!! Eits, berdoa dulu. Bismillah.


Dari berbagai sumber.

Nilai Artikel

2 komentar :

  1. hm, makan dg 3 jari itu pd saat Nabi karena Beliau makan buah kurma. jd makan dg sendok n garpu itu boleh asal jgn yg brasal dr emas n perak. wallahu'alambinshoaf,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi jika memungngkinkan pakai tangan, lebih baik menggunakan tangan karena itu sudah dicontohkan oleh Rosul.

      Hapus