17 Nov 2012

Kita Tidak Sempurna


Mbak, kok kerudungnya kurang panjang? Harusnya kan sampai menutupi dada.
Mas, kok pas ruku’ nggak lurus sih punggungnya?
Dek, nyontek tu nggak boleh, lho! Kok masih nekat?
Kamu kok begini… harusnya begitu.. Harusnya begini.



Tidak Ada Manusia yang Sempurna

Ya, slogan ini memang benar. Manusia, dari segala sisinya, memang nggak ada yang sempurna. Ada saja sisi kelemahan dari manusia. Termasuk dalam menjalankan agama. Misalkan saja, ada orang yang rajin sedekah, tapi nggak kuat kalo puasa sunnah tiap pekan. Rajin tilawah, tapi sulit bangun buat shalat tahajjud.


Dari awal, Islam memang tidak menuntut kesempurnaan dalam diri manusia, karena memang itu mustahil adanya. Allah SWT dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa memang manusia memang makhluk tak sempurna.

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu…” {QS. Al-Baqarah (2) : 187}

Allah SWT juga mengajarkan do’a saat manusia terlupa, karena manusia memang tempatnya salah dan lupa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. {QS. Al-Baqarah (2) : 286}


Mereka Juga Tak Sempurna

Tak hanya dalam tingkatan manusia biasa, bahkan sesosok Nabi pun juga bukan sosok yang sempurna. Allah SWT memang mengabadikan berbagai sejarah heroik para Nabi, tapi juga menjelaskan sosok kemanusiaan mereka yang tak luput dari kesalahan.

Para malaikat, makhluk Allah yang tercipta dari cahaya, selalu patuh pada perintah-Nya, juga tak sempurna. Mereka merasa keheranan lantaran Allah SWT hendak menciptakan manusia. Menurut pemikiran malaikat, manusia kelak hanya menumpahkan darah. Mereka pun menanyakan hal itu kepada Allah SWT, tapi bukan berarti para malaikat hendak menentangNya.

Allah SWT berfirman, “Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” {QS. Al-Baqarah (02) : 30}

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa sebagai seorang makhluk, para malaikat juga tak sempurna. Terbukti dalam kasus penciptaan Adam, mereka tidak tahu hikmah di baliknya.

Nabi Adam ‘as pernah melupakan perintah Allah SWT agar menjauhi buah terlarang. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, ‘Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.’ Kemudian Adam menerima beberapa kalimat (kata-kata taubat) dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” {QS. Al-Baqarah (02) : 36–37}

Nabi Musa ‘as pernah secara tak sengaja membunuh seorang manusia, saat beliau belum diangkat menjadi rasul. “Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata, ‘Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).’” {QS. Al-Qashshash (28) : 15}

Nabi Yunus ‘as pernah marah kepada kaumnya lantaran mereka tidak beriman, padahal Allah SWT menyuruh beliau untuk lebih sabar. “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Ilah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” {QS. Al-Anbiya’ (21) : 87-88}

Bahkan Nabi Muhammad s’aw juga pernah tersalah. Saat Nabi sibuk berdakwah kepada para pembesar Quraisy, tiba-tiba seorang buta yang miskin datang kepada beliau meminta diajarkan tentang Islam. Nabi Muhammad s’aw sebenarnya tidak merasa sungkan apalagi jijik terhadap shahabat beliau yang buta tersebut, hanya mungkin beliau merasa bahwa waktunya kurang tepat, hingga wajah beliau bermuka masam.
Namun Allah SWT langsung menegur beliau dengan lugas dan jelas, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya, Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.” {QS. Abasa (80) : 1-11}

Dari ayat Al-Qur’an yang dijelaskan sebelumnya, kita mengetahui bahwa semua makhluk tak sempurna. Bahkan para malaikat dan para Nabi pun juga tak sempurna. Hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang Maha Sempurna.


Tapi Bukan Dalih

Tapi pada kenyataannya, banyak banget yang salah mengartikan masalah ini. Bahkan banyak yang punya mindset atau pikiran, “Nabi aja gak sempurna, apalagi aku yang bukan apa-apa. Jadi gak masalah dong kalo aku berbuat salah atau maksiat sekali-sekali.” Lisan mereka gak ngomong begitu, tapi alam bawah sadar mereka bilang begitu.

Seharusnya pemikiran tersebut kita ubah, “Nabi aja udah ibadah segitu khusyuknya, masih aja gak sempurna. Apalagi aku yang ibadahnya kayak gini. Aibku pasti kelihatan banyak.”

Islam memang tidak menyuruh umatnya menjadi sempurna, karena itu adalah kemustahilan. Namun Islam menyuruh agar kaum muslimin selalu lebih baik dari waktu ke waktu.

Dari ayat di atas, kita harusnya gak hanya melihat ketidaksempurnaan para malaikat dan para Nabi . Namun kita juga harus merenungi tindakan mereka setelahnya guna menjadi lebih baik.

Setelah mengetahui hikmah diciptakannya Adam, Allah SWT menyuruh para malaikat sujud menghormati Adam ‘as. Para malaikat langsung melaksanakan titah tersebut penuh kepatuhan.

Saat Adam ‘as dan Hawa ditetapkan agar keluar dari surga, mereka lantas berdo’a memohon ampunan dari Allah SWT. Dengan kemurahan-Nya, Allah SWT pun mengampuni mereka.

Setelah tak sengaja membunuh seseorang, Musa ‘as pun lantas bertobat kepada Allah SWT lantaran kecerobohannya.

Yunus ‘as juga langsung bertobat kepada Allah SWT saat dalam perut ikan lantaran beliau kurang sabar dalam menghadapi kaumnya. Allah SWT pun dengan izin-Nya mengeluarkan Yunus ‘as dari perut ikan.

Begitu pula dengan Nabi Muhammad s’aw. Beliau bertobat atas kekeliruan beliau dan lantas menerima ‘Abdullah ibn Ummi Maktum yang buta tersebut. Beliau juga kerap mengamanahi Ibnu Ummi Maktum tersebut hal penting yang menjadi bukti kepercayaan Nabi pada beliau.


Kesimpulan

Dari sejarah mereka, kita bisa mengambil pelajaran berharga. Memang manusia tidak ada yang sempurna dan tidak akan ada. Terkadang lupa, terkadang juga terperosok dalam lembah maksiat. Namun Nabi Muhammad s’aw bersabda, “Setiap anak Adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertobat.” {HR. Tirmidzi}.

Islam memang tidak menyuruh kaum muslimin tampil sempurna. Namun Islam mengajarkan agar kaum muslimin selalu berproses lebih baik dari waktu ke waktu. Jadi nggak ada alesan lagi “aku itu manusia biasa yang tak sempurna” saat kita dinasehati tentang kebaikan. Bukan masalah sempurna atau tidak, tapi mau berproses lebih baik atau tidak.

“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung. Siapa yang hari ini keadaannya sama dengan kemarin maka dia rugi. Siapa yang keadaan hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia celaka.”

#Ayo, bersama berproses menjadi hamba Allah yang lebih baik!!

Nilai Artikel

1 komentar :

  1. Benar, kita sebagai manusia tidak bisa sempurna. Namun kita bisa berproses lebih baik..

    BalasHapus