12 Nov 2012

Cara Allah Bukan Cara Kita


Antara senang dan gelisah. Paling tidak itu yang dirasakan Yukhabad kala itu. Anugrah seorang bayi lelaki serasa menghapus rasa sakitnya saat melahirkan, namun tak menihilkan rasa khawatirnya. Putranya yang tak berdaya, harus berhadapan dengan titah raja negeri itu, titah yang mengharuskan meniadakan semua bayi lelaki yang lahir dari rahim wanita keturunan Ya’qub ‘as.



Namun Allah Maha Mengetahui kekhawatiran ibu tersebut. Diilhamkan kepada Yukhabad agar bayi lelakinya dimasukkan ke peti dan dihanyutkan ke Sungai Nil. Yukhabad benar-benar melakukannya, dengan penuh harap agar sang putra selamat dari marabahaya. Untuk lebih menyejukkan hatinya, kakak perempuan sang bayi diutus agar mengawasi peti tersebut.

Aliran Sungai Nil mengalirkan peti tersebut. dan tertakdir, peti tersebut masuk ke lingkungan istana sang raja Mesir, Fir’aun, sosok yang menitahkan pembunuhan semua bayi lelaki Bani Israil. Dihadapkan bayi itu ke hadapannya.

Allah berjanji untuk melindungi bayi ini, dan Dia memang tak pernah ingkar janji. Lantas, bagaimana dalam kasus bayi Musa? Apakah Allah menurunkan belasan malaikat untuk mengawalnya?  Ataukah bumi terbelah dan langit runtuh agar Fir’aun mati hingga tak dapat menyentuhnya?
“Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu,” ujar wanita tersebut penuh kelembutan, “Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.”

Mendengar perkataan istrinya yang tidak dikaruniai anak, maka akhirnya Fir’aun pun luluh dan tidak membunuh Musa, bahkan Musa bisa hidup dalam kemegahan istana Fir’aun layaknya putra raja.

***

Di satu sisi, kita semua tahu bahwa Allah adalah Dzat yang tak pernah ingkar janji. Tapi saat kita diperintahkan untuk melaksananakan suatu kewajiban atau menjauhi sebuah larangan, kita masih saja tidak melakukan sebagaimana mestinya. Misalnya, menunda shalat, menyontek, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, berbohong, ghibah alias ngrasani, males datang ke pengajian, dan sebagainya. Padahal kita sudah tahu, Allah akan menjanjikan balasan yang lebih baik di surga saat kita beramal shalih ataupun siksa saat kita berani menerjang perintah-Nya.

Di sisi lain, terkadang ada beberapa orang yang putus asa dari do’a. Dia berdo’a meminta sesuatu, tapi malah nggak dikabulkan. Atau ada juga orang yang merasa bahwa Allah tidak adil kepadanya. Hal ini karena dia selalu ditimpa berbagai ujian yang berat, padahal orang-orang di sekitarnya kehidupannya adem ayem aman sentosa.

Jika kamu mengalami hal semacam ini, maka ingatlah satu hal!

“Cara Allah bukanlah cara kita!”                                                     

Saat kita ditimpa suatu hal atau diperintah oleh Islam dengan perintah yang bagi kita nggak mengenakkan, kita harusnya yakin dan selalu yakin bahwa ini adalah rencana Allah yang akan berujung pada kebaikan.
Sejarah Nabi Musa ‘as saat bayi di atas dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Ibu Musa diuji oleh Allah agar melarungkan anaknya yang bayi di sungai Nil. Kamu tahu? Saat itu ibu Musa juga gamang dan nyaris berteriak kepada orang-orang bahwa peti yang hanyut di sungai itu berisi anaknya. Namun dengan izin-Nya, hati ibu Musa kembali teguh dan yakin bahwa Allah Yang Maha Pelindung selalu melindunginya.
Pada akhirnya kita tahu, Allah benar-benar melindunginya. Namun tidak dengan menurunkan belasan malaikat untuk menjadi bodyguard, tetapi Allah melindunginya melalui Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun yang beriman dengan ajaran Nabi Yusuf ‘as, yang kelak juga beriman pada risalah Nabi Musa ‘as. Sekali lagi ini menunjukkan, cara Allah bukanlah cara kita.

Kasus ini sebenarnya sama saat Nabi Ibrahim ‘as hendak dibakar. Bukannya Allah menurunkan hujan agar Ibrahim ‘as tak mati terbakar, tapi justru menjadikan api itu dingin. Saat Nabi ‘Isa ‘as hendak dibunuh kaumnya, Allah SWT tidak menurunkan hujan meteor atau gempa untuk menyelamatkan beliau, tapi Allah mengangkat ‘Isa ‘as ke langit dan seseorang dengan kuasa-Nya dibuat mirip dengan Nabi ‘Isa ‘as sehingga orang itulah yang akhirnya mati.

Begitu juga dengan Nabi Muhammad s’aw. Saat beliau bersembunyi di gua Tsur bersama Abu Bakar untuk berlindung dari kejaran kaum kafir Quraisy, dengan izin-Nya seekor laba-laba membuat sarang di mulut gua, begitu juga dengan beberapa ekor burung juga turut membuat sarang di sana. Hal ini menjadikan kaum kafir Quraisy berpikir bahwa tidak ada orang di dalam gua. Logikanya, jika ada orang di dalamnya, pasti sarang laba-laba yang ada di mulut gua sudah hancur karena untuk masuk gua, orang mau tak mau harus merusak sarang laba-laba tersebut.

Berbagai cuplikan sejarah di atas menegaskan, Allah SWT memiliki cara tak terduga untuk menolong umat-Nya yang beriman pada-Nya. Hal ini tak hanya terjadi pada mereka yang menyandang predikat Nabi, tapi kita juga bisa mengalami hal seperti itu dengan izin-Nya. Yang jadi permasalahannya adalah, apakah kamu yakin dengan janji-Nya atau tidak?

Memang tidak mudah membangun keyakinan tersebut di zaman sekarang, tapi bukannya tidak mungkin. Sering menelaah kitab-Nya dan sering berkumpul dengan orang-orang shalih menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan keyakinan tersebut dalam diri kita.

“…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” {QS. Al-Hajj (22) : 40}

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” {QS. Al-Baqarah (2) : 216}

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar