22 Sep 2012

Kata Mutiara Pembawa Petaka


Kata mutiara, sebuah rangkaian kata yang disusun sedemikian rupa sehingga terdengar lebih indah dibaca. Dengan pemilihan kata yang khusus, pesona kata mutiara terkadang bisa merasuk sampai hati pembaca atau pendengarnya (ciee, yakin…?).



Kata mutiara atau kadang disebut kamut (biar gak ribet) banyak banget macemnya. Ada yang berisikan tentang kasih sayang Sang Pencipta, semangat buat belajar, kesabaran saat menghadapi musibah, persahabatan, de el el.

Namun begitu, ternyata ada juga lho kata-kata mutiara yang membawa petaka. What? Apa maksudnya?
Yah, seperti yang udah dijelaskan, kata mutiara bisa aja khan merasuk hati pendengar atau pembacanya. Jika udah begini, kemungkinan besar mereka akan melakukan hal yang “diperintahkan” dalam kamut tersebut. Nah, dari sekian banyak kamut yang tersebar, memang ada yang isinya mengarah pada hal-hal yang nggak baik, atau ada juga yang sebenarnya memiliki arti baik tapi disalah artikan. Lantas, apa saja kamut tersebut? ini dia…

Nasehati Dirimu Sendiri Sebelum Menasehati Orang Lain

Lho? Apa salahnya dengan kamut ini?

Dari segi teks, emang gak ada yang salah sih. Kenyataannya, kamut ini memang bersesuaian dengan firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? [2] Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. [3]” {QS. Ash-Shaff}

Tapi pada kenyataannya, kamut yang satu ini sering disalah artikan. Terkadang, ada orang yang gak mau dinasehati, tapi di satu sisi gak mau nolak secara terang-terangan. Alesannya banyak. Bisa karena orang yang memberi nasehat ngasih nasehat ngambil dari Al-Qur’an. Secara gitu lhoh! Walaupun gak terima, tapi jika nolak mentah-mentah ayat Ilahi urusannya berabe khan?! Masalah gengsi, prestise, de el el juga menjadi alasan lain. Nah, di saat seperti ini, mereka akan berkilah dengan ungkapan, “Nasehati dirimu sendiri sebelum menasehati orang lain.” Padahal maksudnya adalah dia gak mau ngelaksanain nasehat tersebut di satu sisi, tapi juga gak berani nolak di sisi lain #maaf ya kalo ada yang kesinggung ^^

Nah, jika misalkan ada orang yang memberi nasehat kepada kita, padahal nasehatnya bertentangan dengan perbuatan atau keyakinan kita selama ini, pertama adalah cek nasehatnya dulu. Jika misalkan nasehatnya bersesuaian dengan syariat Islam, maka di saat seperti ini, kamut yang kita gunakan bukannya “Nasehati dirimu sendiri sebelum menasehati orang lain”, tapi “Allah memberi hal yang kita butuhkan, bukan hal yang kita inginkan semata.”

Segala perintah dan larangan-Nya, walaupun terkadang bertentangan dengan perbuatan dan keyakinan kita selama ini, tapi yakinlah, ada hal yang lebih baik di balik segala perintah dan larangan-Nya tersebut. Percayalah dan Buktikan!

No Body’s Perfect

Lho? Kamut ini kelihatannya juga gak ada yang salah?
Sekali lagi kami harus berkata, “Ya! Emang dari segi teks gak ada masalah. Tapi kamut yang satu ini juga sering disalah artikan san disalah gunakan.”

Kamu tahu apa itu cinta? Pastinya dong, ya! Pada saat kita jatuh cinta, bisa dengan pacar (panganan opo kuwi?), idola, de el el, secara sains otak kita cenderung lambat dalam menangkap hal-hal negatif dari orang yang kita cintai. Jadi bawaannya, orang yang dicintai itu seolah-olah selalu baik dan positif di mata orang yang mencintai. *oooh… so sweet!! 

Dampak dari proses jatuh cinta ini adalah bahwa orang yang mencintai tadi cenderung nggak bersikap objektif terhadap orang yang dia cintai. Saat sang pujaan hati berbuat baik, wuooh, hati seolah meleleh. Tapi pada saat sang pujaan hati berbuat salah, dia langsung pasang badan dan berkata dengan lantang, “No Body’s Perfect! Jangan sok suci nyari kesalahan orang lain!”

Lhoh, tapi khan emang bener kalo nggak ada orang yang sempurna?

Iya emang bener. Tapi coba direnungin. Bagi yang cewek, mungkin meng-idola-kan atau tertarik dengan cowok yang berwajah mengkilap dan bersinar. *uuh…silau, beb! Kalo cowok mungkin meng-idola-kan seseorang yang dinilai punya punya wibawa atau pejuang tangguh *wow!. Atau kalo tertarik sama cewek, kemungkinan yang punya fisik yang dinilai ideal.

Pada saat idola atau orang yang kita suka berbuat salah, kita mungkin bisa memaklumi dan berkata, “No Body’s Perfect!” Tapi apakah kata mutiara ini juga akan terlontar saat ada orang lain yang berbuat salah. Sebagai catatan, dia nggak masuk kriteria kita sebagai idola atau orang yang kita suka.

Dari segi kesalahan mungkin sama persis, tapi dari segi fisik misalkan, kita menganggapnya jauh dari kata ideal, cakep, dll. Apa di saat itu prinsip “No Body’s Perfect!” masih bisa didengungkan? Atau malah diam seribu bahasa? Atau malah orang tersebut kita caci maki sedemikian rupa? Padahal diasumsikan kesalahan yang diperbuat sama lho..
Ehm… masalah ini emang sulit, ya. Masalah suka nggak suka emang lebih dominan masalah hati, bukan logika. *cieee… Bahkan ibarat kata, kalo udah suka, tahi kucing serasa coklat. *huweeek!
Dalam masalah ini, memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, ingat nih sabda Rasulullah s’aw, “Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” (HR. At-Tirmidzi)

Kedua, selain para nabi dan rasul, manusia (juga kita semua) itu gak ada yang terbebas dari kesalahan. Walaupun masing-masing manusia pasti berbuat kesalahan, kita harus lihat, mana kesalahan yang masih bisa ditolerir dan yang nggak. Tentu standarnya syariat Islam, bukan semau gue. Jadi jangan main pukul rata.
Ketiga, dalam Riwayat Bukhari, Nabi Muhammad s’aw bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” Hal ini bisa dinalar. Jika kita mencintai seseorang, kita pasti akan berusaha menirunya, menyukai segala hal yang ia suka, dan membenci segala hal yang ia benci juga. *sehati nih yee… swit swit.
Jika kita mencintai Nabi, insya’ Allah kelak kita juga akan bersama dengan beliau. Tapi jika kita sangat sangat sangat mencintai orang yang nggak jelas nasib akhiratnya, yaaah… gimana nasib kita??

So, jika kita memilih idola, cari yang bisa menuntun kita ke surga. Jika kita jatuh cinta, labuhkan cinta kita dengan landasan ridha-Nya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Nah, kalo kamut ini apanya yang salah? Pada prakteknya memang begitu khan?
Pada prakteknya, kalimat mutiara ini *kalimat, bukan kata. Habis panjang, sih.. disalah artikan sebagai legalitas dalam bersenang-senang. Maksudnya senang-senang itu, menjalin ikatan dengan lawan jenis, bukan ikatan pernikahan, hanya berlandaskan senang-senang aja. 

Harusnya kamut ini menjadikan kita sadar dan waspada *waspada? Perang nih ceritanya? karena orang yang kita cintai saat ini bisa jadi bukan orang yang jadi jodoh kita kelak. Gampangnya, cuma cinta monyet belaka. Jadi, pada saat kita merasa ada “getaran cinta” sama seseorang sekarang, kita harus mikir, jangan-jangan ini cuma cinta monyet doang. Jadi kita lebih berhati-hati dalam “menyatakan cinta”.

Yang juga harus diperhatikan adalah cinta tuh butuh bukti dan pengorbanan. Berani pegang-pegang tangan, berarti siap pula untuk melindungi. Berbagi suka, juga berbagi duka. Hal ini hanya bisa terjadi secara utuh dalam bingkai pernikahan. Kalo pacaran, khan gak ada akadnya, jadi janjinya masih sangat rawan dilanggar. Pembagian tanggung jawab juga gak jelas. Yang lebih rawan, bisa putus kapan aja.

Wah, masak masih muda ngomongin nikah? Apa gak terlalu berat?

Jika memang kedengarannya masih terlalu berat, berarti memang tandanya belum siap menjalin sebuah ikatan. Terkhusus untuk cewek, masalahnya lebih riweh lagi. Di zaman sekarang, banyak cewek yang kehilangan keperawanannya karena bermula dari menjalin ikatan di luar pernikahan lho. Ngeri khan??

Kalo emang gak sampe begitu, jika misalkan kalian putus, yakin bisa melupakan sang mantan? Kalo setelah nikah, kamu masih ternginag-ngiang si dia gimana? Nggak menjamin khan kalo bayangan si mantan bisa ilang 100%?

Atau kalo nggak, liat niat dari menjalin ikatan tadi. Bukankah niatnya hanya senang-senang aja? Kalo gak percaya, coba Tanya sama orang-orang yang pacaran, siap gak kamu nikah sama si dia bulan depan? Pasti jawabannya nggak. Hla wong kata “menikah” belum tentu ada di kamus mereka. Itu berarti mereka emang gak siap memikul tanggung jawab.

Hmm.. mungkin masih ada kata mutiara di luar sana yang masih sering disalah artikan. Apapun itu, jadikanlah tiap bait Qur’an sebagai pedoman hidupmu, karena kumpulan firman Ilahi tersebut merupakan kata mutiara paling indah yang pernah menghiasi dunia, tetap bersinar tiada pernah pudar sampai akhir masa.

0 comments :

Posting Komentar