21 Apr 2012

Mahasiswa, Apa Itu?

Prolog yang Sederhana: pengalaman dan pemahaman

Rasulullah saw pernah menekankan tentang tanggung jawab kita sebagai seorang muslim. Salah satu hadis yang dapat kita ambil adalah satu hadis yang memberitahukan kepada kita bahwa tanggung jawab akan semakin luas sesuai dengan kapasitas kemampuannya, sehingga dengan posisi masing-masing itu akan dimintai pertanggungjawabannya seperti sabda Nabi saw,



“Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah penanggung jawab dan setiap kalian akan ditanyai terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya. Imam yang ada di tengah manusia adalah penanggung jawab, dan dia akan ditanyai terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya. Seorang suami bertanggung jawab terhadap keluarganya, dan dia akan ditanyai tentang apa yang menjadi tanggung jawabnya. Dan seorang isteri bertanggung jawab terhadap rumah suaminya, dan anaknya dan dia akan ditanya tentang mereka” (HR Bukhari, Muslim). Membahas peran dan tanggung jawab sosial mahasiswa khususnya di ruang lingkup kampus dalam konterks ini organisasi kemahasiswaan dan umumnya di masyarakat tentu berbeda. Namun, paling tidak, kampus masih cukup relevan menjadi salah satu tempat lahirnya pemahaman dan pengalaman seseorang untuk menjadi pemimpin yang nantinya akan menjadi orang yang mampu mengambil peran di lingkungan masayarakat. Penulis akan membahas peran dan tanggung jawab sosial mahasiswa cenderung pada proses pembentukan karakter mahasiswa untuk menjadi seseorang yang mempunyai peran aktif dalam lingkungan sekitar.


Di dalamnya ada interaksi dan belajar, baik melalui buku, kursus, role model maupun pengalaman praktis. Penulis disini akan membahas peran dan tanggung jawab sosial mahasiswa berdasarakan pengalaman dan pemahaman yang telah penulis lalui sampai saat ini. Sehingga diakhir esai ini penulis akan simpulkan beberapa peran dan tanggung jawab sosial mahasiswa menurut pemahaman penulis.
Selama lebih dari dua tahun meniti karir di organisasi kampus, ada banyak pelajaran yang diterima. Mulai dari amanah sebagai staf, kepala bidang dan sekarang, sebagai ketua umum Badan Pengkajian dan Pengamalan Islam (BPPI) FE UNS. Dan beberapa pengalaman di luar kampus seperti perlombaan kompetisi kepemimpinan dan aktivitas dusun binaan masyarakat, menjadi sarana yang tepat dalam berproses mengembangkan potensi dan mengenali lingkungan sekitar. Secara subyektif, semua amanah tadi akhirnya ‘memaksa’ diri keluar dari “zona nyaman”. Bukan lagi memikirkan pribadi atau bahkan kelompok, akan tetapi, bagaimana publik sebagai logika utama pertimbangan sikap dan kebijakan dapat mewarnai keputusan yang diambil harus cepat, tepat, dan efektif. Itulah idealita yang ingin dicapai, agar masalah dan dilema yang dihadapi dapat segera dituntaskan.
Di sisi lain, ada obyektifikasi terhadap fungsi mahasiswa yang menuntut untuk tetap berprestasi dan memiliki kompetensi. Proporsi terhadap kedua tanggung jawab (subyektif dan obyektif) inilah yang kelak dapat menjadi kunci keberhasilan sebuah kepemimpinan dalam hal ini mahasiswa itu sendiri.
Seringkali, aktivis mahasiswa gagal menerjemahkan kedua tanggung jawab di atas. Imbasnya, gerakan organisasi yang diusung kurang memiliki kebermanfatan secara luas dan mampu menggerakkan orang di sekitarnya. Sampai pada titik ini sebenarnya makna menjadi seorang mahasiswa yang aktif sudah jelas, yakni keteladanan. Namun, sering terjadi bias antara makna dengan implementasi, disebabkan kualitas personal para aktivis kampus. Hal ini cukup krusial, ketika penerimaan terhadap mereka dan idealismenya hanya dapat dipahami oleh segelintir pihak. Padahal kalau mau jujur, apa yang dibawa dan diperjuangkan sungguh bernilai dan menjanjikan masa depan yang lebih baik bagi bangsa ini. Namun, apa mau dikata, nilai, idealisme, dan substansi peran tidak berarti signifikan di era pencitraan (brand image) seorang pemimpin seperti sekarang. Pernak-pernik berupa latar belakang personal, track record akademis, hingga kemampuan bahasa asing menjadi penting dan selayaknya perlu diberi tempat dalam aktivitas para aktivis kampus yang sering didaulat oleh rekan-rekannya sebagai pemimpin.

Jalan Efektif Kontribusi Mahasiswa: Karya dan Prestasi
Di kampus, mahasiswa diberikan banyak wadah dan kesempatan untuk berkreasi dan beraksi. Ruang-ruang ekspresi yang cukup strategis untuk mendukung bangunan sosial ketika akan berbicara tentang perubahan dan perbaikan. Tanpa basis ekspresi ini, seorang mahasiswa akan kesulitan untuk mengintegrasikan dirinya dalam lingkungan sosial yang lebih besar pasca kampus. Oleh karenanya, optimalisasi peran sudah seharusnya dilakukan, mengingat kompleksnya zaman yang sedang dan akan dihadapi. Dalam banyak bentuk, ruang-ruang tadi dapat diterjemahkan melalui aktivitas organisasi, pemberdayaan masyarakat, riset, kewirausahaan, menulis, seni dan budaya, serta inovasi (penemuan). Namun, bentuk aktivitas ini tidak cukup hanya sebatas partisipasi. Karena bila ingin mencapai keaktifan sebatas kuantitas, otomatis tidak ada yang berbeda dari mayoritas mahasiswa yang lainnya. Menjadi catatan penting di sini, bagaimana aktivitas pada wadah-wadah tersebut, memiliki nilai tambah (value added) yang belum atau jarang dilakukan.
  • Karya; definisi karya di sini diungkapkan dalam sebuah program atau aktivitas yang dilakukan bersama. Ia layak disebut sebagai sebuah karya ketika mampu menggerakkan, memperbaiki, dan mengubah keadaan yang sudah ada menjadi lebih baik. Sifatnya keberlanjutan, bukan asal baru dan beda. Karena seringkali dalam sebuah lembaga, ketika kepengurusan berganti, maka program yang sudah berjalan pun ikut berganti bahkan mati suri. Sangat ironis, karena perubahan, perbaikan, dan kemajuan sendiri baru akan terealisasi dengan proses dan tahapan tertentu yang meniscayakan waktu yang tidak cepat.
  • Prestasi, tanggung jawab subyektif dan obyektif mahasiswa perlu ditempatkan secara proporsional demi menjamin keberlanjutan manfaat diri di tengah-tengah mahasiswa dan masyarakat. Bentuk konkritnya, bisa dilihat melalui identitasnya yang multi. Ia mampu memastikan karya-karya yang ia dedikasikan untuk masyarakat bisa melahirkan kemanfaatan ganda (subyektif dan obyektif), hal ini yang layak disebut masterpiece (karya monumental). Sebagaimana Rasulullah memperoleh gelar Al-Amin, Leonardo da Vinci, yang berkarya dengan Monalisa hingga Albert Einstein yang memiliki Teori Relativitas. Masterpiece yang dimaksud bagi seorang mahasiswa, menempatkannya menjadi referensi dan teladan kolektif bagi rekan-rekannya. Tidak hanya itu, secara tidak langsung karena kemanfaatan dirinya sudah dirasakan, ia memiliki pengaruh dan mampu mereproduksi kepercayaan publik dengan kuat (trust). Sampai pada fase ini, sebenarnya inilah makna peran mahasiswa paling mendasar.
Konsistensi Kontribusi dan Integritas Pribadi
 Berkarya mudah, begitu pun dengan berprestasi. Namun ketika berbicara konsistensi melakukannya, tentu ini menjadi menarik. Selain membutuhkan energi baru, agar visi perbaikan dan perubahan yang diusung dapat terealisasi, perlu diimbangi dengan integritas pribadi. Karena semakin luas kemanfaatan yang diberikan, maka tantangan yang dihadapi pun semakin besar. Konsistensi kontribusi dan integritas pribadi sebenarnya mengafirmasi siklus terjadinya interaksi antara kepentingan individual dan sosial. Bahwa perlu dipenuhinya dua kebutuhan ini secara bersamaan dan membingkai sebuah pemahaman holistik bahwa manusia memiliki peran yang tidak tunggal (multiple role).
Kemampuan adaptif dan progresif seperti ini semakin jarang dimiliki anak negeri. Padahal, kebutuhan masyarakat akan manusia-manusia seperti ini mutlak sifatnya dikarenakan banyaknya masalah yang dihadapi dan ekstrimnya perubahan zaman. Untuk menyikapinya diperlukan kesiapan yang baik meliputi.
  • Peta hidup.
Ibarat sebuah tujuan, hidup ini membutuhkan banyak petunjuk, arah, dan tanda agar kita tidak tersesat. Kebiasaan menggunakan peta hidup dalam menjalani berbagai aktivitas harian, bulanan, tahunan, 5, atau 20 tahun sekalipun, membuat kita tetap fokus dan maksimal menjalani hidup.Seberapa pun besar dan kecilnya kontribusi yang sudah dilakukan, tidak membuat puas dan lelah untuk belajar.
  • Mentor atau pembimbing
Artinya, orang-orang seperti ini kita butuhkan untuk membantu kita berkomitmen sampai di tujuan. Mereka sudah tentu harus lebih baik dari kita dan memiliki kualitas serta kapasitas yang diakui oleh publik. Diharapkan tidak hanya 1, 2, 5, atau 10 saja, makin banyak mentor yang mendampingi kita dari beragam perspektif (militer, entrepeuner, politisi, akademisi, birokrat, dan lainnya) akan membuat hidup ini lebih aktual.
  • Lingkungan
Keberadaan lingkungan amat menunjang bagi terbentuknya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya komitmen menjadi lebih baik. Jangan sampai, ketika berada di lingkungan tempat tinggal, muncul ambivalensi dan inkonsistensi perilaku yang kontradiktif dengan peran-peran yang sudah dilakukan. Oleh karenanya, memilih pergaulan penting demi menjaga stabilitas kondisi psikologis.

Semua Berawal di BPPI FE UNS
Masuk ormawa BPPI (Badan Penkajian dan Pengamalan Islam), sebenarnya sudah direncanakan sejak awal masuk kuliah. Waktu itu tepat saat osmaru (orientasi mahasiswa baru) khususnya pengenalan organisasi kemahasiswaan (ormawa) FE UNS, salah satunya adalah BPPI. Satu per satu memang semua ormawa menampilkan daya tariknya terkait dengan kegiatan-kegiatannya yang menarik. Namun, satu ormawa yang menarik dibenak saya adalah BPPI, karena ormawa FE ini adalah salah satu ormawa ke-Islam-an tertua di kampus saya, yang menjadi kiblat bagi ormawa ke-Islam-an lainnya terbentuk di semua fakultas hingga tingkat universitas atau pusat. Selain itu, saya melihat banyak kegiatan BPPI baik di internal dan eksternal fakultas memberikan pengaruh yang positif bagi mahasiswa khususnya, dan juga menjadi inspirasi bagi oramawa ke-Islam-an fakultas lainnya. Yang menarik pula, saya mengamati alumni-alumni BPPI, ketika pasca kampus banyak diantara mereka yang masih memberikan pengaruh positif dimana mereka tinggal. Inilah menjadi beberapa catatan penting bagi saya untuk bergabung di dalam BPPI guna mengoptimalkan semua potensi yang saya miliki dan dapat ikut berkontribusi aktif di tengah masyarakat.
Cita-cita untuk bergabung di BPPI FE UNS terwujud dan teruji pertama kali lewat aktivitas Seminar Nasional atau Tablig Akbar “Kekuatan Sedekah”. Acara berlangsung sukses dan berjalan lancar sesuai dengan harapan semua pihak. Pelajaran pertama yang begitu berharga, walaupun intensitas saya tidak terlalu dalam di sana. Saya hanya berusaha mengingat dan mencatat detail satu persatu bagian-bagian vital yang mesti dipastikan ketika akan melaksanakan agenda seperti ini.
Setelah acara selesai, aktvitas bidang bergulir seperti biasanya, kami langsung terjun dalam beberapa aktivitas kajian lembaga untuk menganalisis berbagai problematika umat yang sedang terjadi, tentunya dalam koridor Islam. Alurnya sederhana, yakni riset-kajian-aksi atau aksi-kajian-riset. Skema ini dibentuk dengan pertimbangan karena permasalahan yang sangat cepat, dan yang dihadapi cukup banyak serta kompleks, sementara sumber daya sangat terbatas. Selain itu pula, kegiatan-kegiatan yang secara langsung terjun ke masyarakat kami lakukan seperti mengelola dusbin demi terciptanya insan yang Islami di tengah problematika masalah yang kompleks masyarakat setempat.

Indeks Prestasi dan Beasiswa
Pertanggungjawaban individual sebagai bagian dari kondisi subyektif amanah yang juga sebagai seorang anak kepada orang tua mutlak dilaksanakan. Salah satu bentuknya adalah nilai dan prestasi akademik yang baik. Sejak awal, tanpa disadari, dalam diri kita sudah melekat banyak peran (multiple role). Bila ini tidak dikelola dengan baik, tentu akan menjadi bumerang di kemudian hari. Kemampuan menyeimbangkan peran-peran ini dalam diri saya sebenarnya tidak didukung dengan kondisi yang ideal.
Pertama, perlu banyak energi untuk membagi diri dalam peran-peran di kampus, organisasi dan komunitas. Kedua, semuanya dipelajari sendiri, tanpa ada keluarga, saudara, maupun mitra sebagaimana ketika bersekolah. Latar belakang inilah yang memacu untuk tetap maksimal di bangku akademik, karena kuliah di jurusan manajemen merupakan salah satu impian yang sudah diperoleh dengan tidak mudah.
Akhirnya penantian itu perlahan terjawab walaupun belum tuntas, dua semester Indeks Prestasi Semester (IPS) saya mampu cumlaude di tengah aktivitas yang semakin butuh banyak energi. Dengan IP Semester di atas 3 membuat saya mendapatkan beasiswa dari salah satu perusahaan swasta di Sumatera.
Keadaan ini membuat pola hidup menjadi sedikit berubah. Selain jadwal makin padat, jarak tempuh antara kampus dan tempat tinggal semakin jauh. Mayoritas semua tujuan dihampiri dengan berjalan kaki. Karena di Solo, angkutan belum melayani semua jalur dan terbatas. Sering saya lalui jalan-jalan di kota budaya ini hingga larut karena berbagai rutinitas yang dilakukan. Lelah pasti, bosan apalagi, namun bila dinikmati dan dimaknai ini menjadi pendewasaan yang cukup berarti karena tidak bisa dicari dan dibeli.

Penutup
Dari pengalaman penulis di atas sehingga mebentuk pemahaman yang mendasar, penulis dapat mengambil pelajaran bahwa setiap manusia di dunia ini memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus diemban dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Tak terkecuali para mahasiswa yang notabene-nya adalah seorang intelektual muda yang memiliki segudang tanggung jawab pada diri sendiri, lingkungan, dan negaranya. Berdasarkan pengalaman penulis di atas sampai saat ini, penulis mencoba memahami secara komprehensif bahawa peran dan tanggung jawab mahasiswa seutuhnya yaitu: sebagai iron stock, agent of change dan moral force. Sebagai iron stock maksudnya mahasiswa dituntut dapat berperan menjadi cadangan kaum intelektual bangsa. Beranjak dari lingkungan akademis kampus mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi intelektual-intelektual yang pada gilirannya nanti dapat mengaplikasikan kompetensinya untuk menjawab tantangan globalisasi kedepan dan memajukan bangsa ini.
Selanjutnya sebagai agent of change, mahasiswa dapat berpartisipasi aktif dalam perubahan bangsa ini melalui gerakan-gerakan mahasiswa, misalnya pengaruh globalisasi dan perdagangan bebas, mahasiswa melalui pergerakannya dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah meskipun tidak bisa secara langsung mengubah kebijakan tersebut paling tidak mahasiswa mampu memberikan masukan-masukan dan solusi terbaik yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah selaku pemegang kekuasaan. Dan terakhir sebagai moral force, mahasiswa diharapkan bisa menggalakan moralisasi terutama bagi pemerintah sebagai stakeholder utama pemerintahan.
Apabila ketiga peran benar-benar dimaknai sebagai peran dan tanggung jawab bagi seluruh mahasiswa Indonesia, bukan tidak mungkin, penulis yakin kejayaan dan kesejahteraan bangsa ini benar-benar terwujud, bukan lagi menjadi angan-angan pesimistis.
-semoga bermanfaat, kaum Mahasiswa-
Salam,
Anggel D. Satria

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar