2 Jun 2011

Kumpulan Wasiat Spiritual dari Generasi Salaf

WASIAT-WASIAT GENERASI SALAF

Allah Ta`ala berfirman dalam kitab-Nya:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara
orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga,
di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-taubah : 100)


Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta`ala memberi pujian kepada para
sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah
generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nya dalam
mengemban risalah ilahi.


Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan
mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang
selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu `alaihiwa sallam.


Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa
meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik
rahimahullah, Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang
membuat generasi awalnya menjadi baik. Sungguh sebuah ucapan yang pantas
ditulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil generasi terbaik itu
sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan niscaya kebahagiaan akan
menyongsong mereka.


Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan
jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang
sangat berguna bagi kita.


Salaf dan Tazkiyatun Nufus

Salah satu sisi ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun
nufus (penyucian jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun nufus bersama
dengan ilmu. Allah berfirman:


Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan
ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-
Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
(QS. Al-Baqarah : 151)


Artinya, ilmu itu bisa jadi bumerang bila tidak disertai dengan tazkiyatun
nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam biografi ulama salaf tentang
kezuhudan, keikhlasan, ketawadhu`an dan kebersihan jiwa mereka. Begitulah,
mereka selalu saling mengingatkan tentang urgensi tazkiyatun nufus ini. Dari
situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf sangat menghunjam ke dalam hati dan
penuh dengan hikmah. Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: Mengapa ucapan-ucapan
para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita? beliau menjawab:
Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari
ridha Ar-Rahman, sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia
dan mencari ridha manusia!


Salaf dan Kegigihan Dalam Menuntut Ilmu

Imam Adz-Dzahabi berkata: Ya`qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari Shalih
bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata: Saya
datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: Sampaikanlah kepadaku
beberapa hadits! Beliau berkata: Bacalah!
Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku! jawabku.
Bacalah! kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau. Akhirnya ia
berkata: Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul dia lima belas
kali! Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas cambukan. Kemudian
ia membawaku kembali kepada beliau. Pelayan itu berkata: Saya telah
mencambuknya! Maka aku berkata kepada beliau: Mengapa tuan menzhalimi diriku?
tuan telah mencambukku lima belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Aku
tidak sudi memaafkan tuan!
Apa tebusannya? tanya beliau.
Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits!
jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan
kepada beliau: Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits
untukku! Imam Malik hanya tertawa dan berkata: Pergilah!


Salaf dan Keikhlasan

Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktivitas hati. Seorang
lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau.
Dengan marah ia berkata: Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah
malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk
kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang!


Ar-Rabi` bin Khaitsam berkata: Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari
ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!


Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti,
mendengarkan dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: Apabila
seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan
hati manusia kepadanya.


Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak
mendapat bagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: Tidak ada satu
perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-
akan -red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.


Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: Beruntunglah bagi orang yang
mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha
Allah!


Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak
keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-
angkat.


Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika
ia masih suka popularitas. Yahya bin Muadz berkata: Tidak akan beruntung orang
yang memiliki sifat gila kedudukan. Abu Utsman Sa`id bin Al-Haddad berkata:
Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian
dan gila sanjungan.


Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-
muridnya. Ar-Rabi` bin Shabih menuturkan: Suatu ketika, kami hadir dalam
majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba
salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: Demi
Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada
saat ini!


Salaf dan Taubat

Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah
yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah n
dalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam
masalah ini!


`Aisyah berkata: Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak
diisi dengan istighfar. Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: Perbanyaklah
istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan
dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian
tidak tahu kapan turunnya ampunan!


Tangis Generasi Salaf

Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga
hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa
Ta`ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur`an.


Ketika membaca firman Allah: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (QS. Al-
Ahzab : 33) `Aisyah menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.


Demikian pula Ibnu Umar , ketika membaca ayat yang artinya: Belumkah datang
waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat
Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). (QS. Al-Hadid :
16) Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.


Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat yang
artinya: Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri
menghadap Rabb semesta alam. (QS. Al-Muthaffifiin : 5-6) Beliau menangis dan
bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.


Salaf dan Tawadhu`

Pernah disebut-sebut tentang tawadhu` di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun
beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada
mereka: saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu`! Mereka berkata:
Apa itu tawadhu` wahai Abu Sa`id? Beliau menjawab: Yaitu setiap kali ia keluar
rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih
baik daripada dirinya.


Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin
Uyainah, ia berkata: Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih
senior dari kami.


Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: Apa itu tawadhu`? Ia menjawab: Yaitu
engkau tunduk kepada kebenaran!


Mutharrif bin Abdillah berkata: Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali
diriku merasa semakin kecil.


Salaf dan Sifat Santun

Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati
seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata:
Apakah engkau gila! Umar menjawab: Tidak. Namun para pengawal berusaha
meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya
berkata: Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.


Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: Sesungguhnya Fulan telah
mencaci engkau! Ia menjawab: Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain
engkau!


Salaf dan Sifat Zuhud

Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: Aku tidak pernah
melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita
banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta
dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan
mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.


Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar
apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu
gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.


Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita
dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita
kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.


Sumber:
http://ita081325537150.wordpress.com/2009/08/31/

Nilai Artikel

0 comments :

Posting Komentar