9 Nov 2014
Dunia Adalah Setitik Air di Lautan
Dimana kita tinggal
sekarang? Dimana kita bisa menghirup udara segar? Dimana kita mampu bersua
dengan orang yang kita kasihi? Jawabannya adalah di dunia. Di dunia inilah kita
tinggal, kita bisa menghirup udara segar, bernafas bebas dan berjumpa dengan
orang-orang yang kita sayangi.
Indahnya dunia mampu menggoda siapa saja. Dunia
dengan rayuannya mencoba menarik manusia untuk terjun dan menikmati sepuasnya. Gemerlapnya
dunia sangat sayang untuk dilewatkan, sangat sayang jika dibiarkan. Mungkin
kita tak asing lagi dengan ungkapan, “Hidup hanya sekali, mari kita happy”. Memang benar hidup di dunia hanya
sekali dan memang kita harus happy agar
kita menjalani hidup dengan semangat tinggi. Tapi dunia hanya sementara, tentu happy yang dirasa tidak bertahan lama.
“Tiadalah perbandingan
dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukan jarinya ke
dalam lautan luas maka perhatikanlah yang tersisa." (HR. Muslim). Inilah
dunia. Dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Dunia ini fana,
akhirat abadi selamanya. Manusia layaknya musafir yang berjalan beribu bahkan
berjuta kilometer untuk mencapai suatu tujuan, yakni Allah.
Di dunialah para
musafir ini singgah sejenak untuk minum, melepas dahaga yang kemudian kembali
melanjutkan perjalanan . Tak sedikit yang lengah, terlena dengan kenikmatan
meneguk segarnya air ‘dunia’. Mereka lupa akan tujuan awal, mereka lebih
memilih untuk tinggal. Para musafir yang beriman berbeda dengan musafir yang
tidak beriman. “Dunia ini adalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan
surga bagi orang-orang kafir” (HR.Muslim). Orang yang beriman ingin segera
keluar dari penjara. Mereka tidak betah harus tinggal dalam penjara megah ini.
Karena mereka tahu setelah keluar dari penjara dunia, surga siap menyapa. Sedangkan
orang yang tidak beriman, tidak ingin meninggalkan dunia. Ini surga mereka.
Betapa bahagianya mereka, seakan-akan mereka benar-benar tinggal di surga.
Mereka tidak tahu bahwa surga mereka inilah yang menjadi cikal bakal api neraka.
Lalu bagaimana dengan
sekarang? Kita masih hidup di dunia. Apakah dunia tidak penting?
“Kalau begitu
kita tidak perlu berusaha keras di dunia, toh nanti kita tinggal juga”.
Bukan
seperti itu. Justru kita harus menaklukkan dan memperbudak dunia. Jadikan dunia
sebagai ladang akhirat. Jadikan dunia sebagai investasi akhirat. Ingin kaya?
Boleh, Islam tidak melarang. Mendapat status sosial yang tinggi? Boleh juga.
Belajar hingga jenjang yang lebih tinggi demi ilmu dan gelar akademis? Silakan.
Islam tidak membatasi. Yang perlu diperhatikan di sini adalah jangan sampai
kita lupa diri dan melupakan Allah. Kita boleh saja punya banyak harta, tapi
jangan sampai kita enggan menginfakkan harta untuk kemajuan Islam dan umatnya. Kita
boleh menjadi manusia terpintar sekalipun, tapi jangan sampai ilmu yang kita
miliki membuat kita lupa untuk mengamalkan demi kejayaan Islam dan umatnya.
Niatkan
semua karena Allah. Lakukan semuanya dengan cara yang benar, bukan dengan cara
sikut sana sikut sini, dorong sana dorong sini. Sekali lagi, Islam tidak
melarang kita untuk menikmati dunia tapi jangan sampai kita gelap mata dan
terus mengejarnya. Akhirat tujuan kita, dunia sebagai sarananya. Semoga Allah
ridhai kita.
(Nadifa | Magang Medkominfo BPPI 2014 | Disari dari Kajian FE 30 Oktober 2014)
7 Nov 2014
MUSLIMAH DAY 2014
Muslimah Day merupakan program kegiatan dari bidang kemuslimahan yang diadakan dalam rangka mengapresiasi muslimah khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebagai salah satu unsur penting masyarakat kampus demi mewujudkan kemuliaan Islam. Pada tahun ini, Muslimah Day diisi berbagai lomba inspiratif yang diwakili beberapa potensi minat bakat dengan mengusung tema "Mengambil Hikmah dari Muslimah Penginspirasi". Kegiatan seperti ini diharapkan mampu mengangkat kembali eksistensi muslimah sebagai kontributor pembangun peradaban Islam, yang disadari baik secara langsung atau tidak dalam beberapa tahun terakhir mulai meredup diiringi dengan banyaknya pemberitaan kurang baik tentang wanita muslim. Berikut syarat dan ketentuannya.
LOMBA INSPIRATIF
Ketentuan umum
* Peserta adalah mahasiswi aktif muslim FEB UNS
* Karya belum pernah diikutsertakan dalam lomba atau kompetisi apapun
* Setiap peserta berhak mengikuti maksimal 2 lomba
* Pendaftaran dan pengumpulan karya 7-21 November 2014 pukul 17.00
* Hasil karya dikirim ke malafalintina@gmail.com dengan melampirkan cv (lihat format)
* Biaya pendaftaran Rp 5,000 untuk masing-masing jenis lomba
Pemenang lomba akan diumumkan dalam kegiatan Sekolah Muslimah 26 November 2014
1. MENULIS CERPEN, dengan tema "Muslimah Penginspirasi"
Syarat dan ketentuan
* Karya diketik rapi 4-6 halaman, jenis font Calibri ukuran 12 pt, kertas A4, margin 3-3-3-3, Justify, Spasi 1,5
* Diperbolehkan melampirkan ilustrasi dalam konten cerpen
* Format pendaftaran: (CERPEN_MD_Nama_NomorHP) ke 0856-4574-4625
* Hadiah Juara 1: Piagam + Rp 150,000
Juara 2: Piagam + Rp 75,000
Juara 3: Piagam + Bingkisan
2. MENULIS ARTIKEL, dengan tema "Muslimah sebagai Kontributor Pembangun Peradaban"
Syarat dan ketentuan
* Karya diketik rapi 3-5 halaman, jenis font Calibri ukuran 12 pt, kertas A4, margin 3-3-3-3, Justify, Spasi 1,5
* Format pendaftaran: (ARTIKEL_MD_Nama_NomorHP) ke 0856-4574-4625
* Hadiah Juara 1: Piagam + Rp 150,000
Juara 2: Piagam + Rp 75,000
Juara 3: Piagam + Bingkisan
3. FOTOGRAFI, dengan tema "A Real Muslimah, Inside and Outside"
Syarat dan ketentuan
* Tidak diperkenankan mengirimkan foto berupa kombinasi lebih dari satu foto dan
menghilangkan/mengubah elemen dalam satu foto
* File foto yang dikirim berukuran maksimum 800kb/foto
* Format pendaftaran: (FOTO_MD_Nama_NomorHP) ke 0856-4574-4625
* Hadiah Juara 1: Piagam + Rp 100,000
Juara 2: Piagam + Rp 50,000
Juara 3: Piagam + Bingkisan
Selamat berkompetisi, Muslimah Ekonomi :)
-Bidang Kemuslimahan BPPI 2014-
1 Nov 2014
1 Muharram: Refleksi Sebuah Kejayaan
Bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selalu seperti itu roda perputaran waktu di alam semesta ini. Perubahan hanya menjadi lorong waktu yang tiada nilai yang di dapatkan. Perubahan hanya sebatas fenomena yang menghilang begitu saja. Padahal waktu demi waktu adalah momentum luar biasa yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya untuk melakukan sesuatu yang berharga. Bahkan satu hari adalah kenikmatan yang patut untuk kita syukuri.
Rasulullah bersabda:
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan
waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)
Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”
Ibnul Jauzi mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”
Jika kita melihat masa-masa kejayaan Islam, sungguh waktu itu menunjukkan periodisasi kejayaan demi kejayaan umat Islam ketika itu. Begitupun dengan momentum 1 Muharram. Muharram (Ù…ØØ±ّÙ…) adalah bulan pertama tahun penanggalan Islam,
Hijriyah. Ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar ibnu al-Khattab
atas saran dari menantu suci Rasulullah SAWW, yakni Imam Ali bin Abi
Thalib karamalLahu wajhahu. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar,
pernah beliau mengutarakan gagasannya mengenai perlunya menetapkan
kalender Isalam yang akan dipakai sebagai penenggalan dalam urusan
administrasi masa kekhalifahannya,dan sebagai kebutuhan kaum muslimin,
pada masa itu penanggalan yang dipakai kaum Muslimin berbeda-beda, ada
yang memakai tahun gajah, dimana pada tahun itu terjadi penyerangan dari
balatentara Abrahah dari negeri Yanan untuk menyerang Ka’bah, yang
kemudian niatnya digagalkan Allah Yang Maha Esa. Dan di tahun itu pula
lahirnya nabi Muhammad saw dan ada pula yang pemakaian tanggal
didasarkan kepada hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah.
Untuk menetapkan kalender Islam ini, dicari momertum yang sangat
tepat untuk dijadikan patokan sebagai awal permulaan Tahun Baru Islam.
Maka Khalifah Umar ini mengadakan musyawarah yang dihadiri oleh
pemuka-pemuka agama, dan pembesar-pembesar muslim. Di dalam pertemuan
itu ada beberapa momentum penting yang diusulkan sebagai dasar penetapan
pada tahun baru islam, dan momentum-momentum itu antara lain:
1. Dihitung dari hari kelahiran Nabi Muhammad
2. Dihitung dari wafatnya Rasulallah saw.
3. Dititung dari hari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira yang merupakan awal tugas kenabiannya.
4. Dimulai dari tanggal dan bulan Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah.
2. Dihitung dari wafatnya Rasulallah saw.
3. Dititung dari hari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira yang merupakan awal tugas kenabiannya.
4. Dimulai dari tanggal dan bulan Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah.
Momentum 1 Muharram ini menjadi momentum besar perjuangan untuk meluaskan nilai-nilai Islam seantero Arab dan sekitarnya. Di dalam kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab ini menjadi tonggak sejarah berdirinya sebuah khilafah Islamiyah yang wilayahnya sudah sangat luas. Artinya adalah momentum 1 Muharram ini adalah tanda sebuah perubahan besar menuju kejayaan Islam.
Maka dengan bergantinya tahun, dari 1435 H menjadi 1436 H, kiranya kita menyadari bahwa waktu adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Bisa jadi Allah mencabut nyawa kita sebelum kita melakukan amalan sholih. Naudzubillah. Maka pergunakan waktu itu untuk sepenuhnya mencari ridho Allah dan senantiasa kita menteladani kisah-kisah para sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in, serta para ulama yang telah menggoreskan tinta emas kejayaan.
23 Okt 2014
Mewujudkan Pemimpin Harapan Rakyat
Harapan
Rakyat
Tanggal
20 Oktober 2014, merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari itu
merupakan hari pembaharuan, dimana negara ini akan memiliki pemimpin baru.
Benar, pemerintahan SBY yang telah berkuasa selama hampir satu dekade akan
digantikan oleh Jokowi-JK yang memenangkan pilpres pada tahun ini.
Ada
anggapan bahwa pasangan Jokowi-JK merupakan pasangan presiden dan wakil
presiden harapan rakyat dan mendapat dukungan besar dari rakyat Indonesia.
Harapan besar, digantungkan kepada Jokowi agar bisa membawa masa depan baru
untuk negeri ini. Besarnya harapan rakyat menunjukkan bahwa kondisi negara ini
masih jauh dari harapan mereka. Karena itu, rakyat menginginkan perubahan dan
berharap perubahan tersebut dapat terwujud dengan hadirnya pemimpin baru.
Di
bidang politik, rakyat memimpikan bahwa negeri ini akan dihiasi dengan perilaku
politik Parpol dan politisi yang benar-benar memperjuangkan nasib rakyat demi
kemaslahatan masyarakat Indonesia.
Di
bidang pemerintahan, rakyat memimpikan aparat yang berjiwa melayani dapat
diwujudkan. Korupsi dan pungli bisa diberantas hingga tuntas. Kepala daerah
yang selama ini bertingkah bagaikan seorang raja bisa berubah menjadi pemimpin
yang bijaksana, mengayomi, dan peduli terhadap rakyatnya. Mereka tidak lagi
sibuk menjual dan menggadaikan potensi daerah hanya demi mengisi kantong mereka
sendiri dan pihak yang memodali mereka menjadi pemimpin. Mimpi lainnya, sistem
birokrasi dan pelayanan yang berbelit dan menyulitkan dapat dibenahi menjadi
pelayanan yang mudah, cepat dan berkualitas.
Di
bidang ekonomi, Jokowi-JK diharapkan dapat mengembalikan sistem perekonomian
Indonesia sesuai dengan dasar konstitusi, yakni ekonomi yang berkeadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia. Diimpikan pula, bahwa negeri ini kelak dapat
berdiri diatas kaki sendiri (berdikari) dalam artian mampu mengolah kekayaan
alamnya sendiri untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Pemenuhan
kebutuhan pokok rakyat (sandang, pangan, papan serta jaminan pelayanan
kesehatan, pendidikan dan rasa aman) dapat diwujudkan.
Di
bidang sosial, melalui revolusi mental yang dijanjikan pada saat kampanye, akan
mampu direalisasikan dalam bentuk generasi yang berbudi pekerti luhur,
kerusakan moral yang terus terjadi dapat dihentikan, kekerasan anak seperti
yang terjadi di Bukit Tinggi akan berhenti, pelajar akan tekun belajar dan
tidak lagi terlibat tawuran, geng motor dan aneka bentuk kenakalan yang lain.
Masih
banyak mimpi lain yang diharapkan bisa menjadi kenyataan dengan hadirnya
presiden dan wakil presiden baru.
Tentu
saja untuk bisa merealisasikan mimpi rakyat Indonesia tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Jokowi-JK juga membutuhkan proses agar mampu merealisasikannya.
Tidak hanya pemerintah yang bekerja, tetapi rakyat Indonesia juga harus
berperan didalamnya. Mustahil, jika usaha pemerintah untuk mewujudkan mimpi
tersebut tanpa dibarengi dengan peran dari masyarakatnya. Seperti kata pepatah
“ Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing “. Keinginan sebesar apapun jika
dilakukan secara bersama-sama akan terasa ringan.
Hanya
dengan Sistem Islam
Semua
harapan dan mimpi rakyat Indonesia hanya bisa terwujud melalui sistem Islam,
yakni melalui penerapan syariah Islam secara total. Allah SWT berfirman dalam
Surah Al-Anfal ayat 24 :
Hai orang-orang yang beriman,
penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu
yang memberi kehidupan kepada kamu[605], ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya[606]
dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
Apa yang
diserukan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya adalah Islam dan syariahnya. Allah telah
menjamin bahwa Islam dengan syariahnya akan mampu memberikan kehidupan. Semua
harapan dan mimpi rakyat Indonesia merupakan “kehidupan” yang hanya bisa
diwujudkan oleh ajaran Islam ketika diterapkan secara total.
Dalam aspek
non-fisik, penerapan Islam dan syariahnya itu akan mendatangkan kehidupan yang
dihiasi dengan ketentraman, kebaikan dan kebahagiaan. Pasalnya, penerapan Islam
dan syariahnya oleh penduduk di suatu negeri merupakan perwujudan nyata dari
keimanan dan ketakwaan penduduk tersebut. Dengan itu, niscaya keberkahan Allah
akan turun.
Oleh karena
itu, jika memang memimpikan kehidupan yang baik dan diliputi oleh kemakmuran,
ketentraman, kebahagiaan dan keberkahan maka hendaknya kita segera mewujudkan
penerapan Islam dan syariahnya secara total di tengah kehidupan kita.
Sekian dan
semoga bermanfaat.
20 Okt 2014
Sarasehan FEB: BPPI, KEI, dan Biro AAI FEB UNS
17.26
Biro AAI FEB UNS
,
Info BPPI
,
Kajian Ekonomi Islam
,
Lembaga Dakwah Kampus
,
Mahasiswa
,
Press Release
No comments
Surakarta, Medkom BPPI FEB UNS (20/10) - Lembaga Dakwah Kampus BPPI FEB UNS, beserta Kajian Ekonomi Islam (KEI) FEB UNS dan Biro Asistensi Agama Islam (Biro AAI) FEB UNS mengadakan "Sarasehan FEB: BPPI, KEI, Biro AAI". Acara ini dilaksanakan di Ruang Sidang 2 FEB
UNS, dimulai pada pukul 16.00 WIB. Sarasehan FEB bertujuan untuk mempererat lagi ukhuwah antar lembaga dakwah yang ada di dalam FEB UNS.
"Pada dasarnya kita ini satu akar, semoga dari sarasehan ini kita dapat lebih erat lagi ukhuwahnya dan menyatukan tujuan kita", ujar Ade Syahputra, Kabid (Kepala Bidang) Humas BPPI 2014.
Acara di buka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ahmad Agus Nugroho, Kabid Kestari (Kesekretariatan) BPPI FEB UNS.
Acara dari tiga lembaga yang berlandaskan Islam ini merupakan acara yang pertama kali diadakan. "Harapannya kita semua dapat memberi solusi ke depannya, mengevaluasi permasalahan-permasalahan yang ada dan bergerak bersama-sama, agar kita semua memiliki pandangan yang sama", demikian yang disampaikan Luthfi Aditya Mas'ud untuk membuka diskusi.
Deni Eko, dari Biro AAi FEB UNS membuka diskusi sarasehan ini. Menurutnya, sebagai organisasi Islam perlu untuk menyamakan persepsi. "Kita bareng-bareng bersinergi agar dapat membangun FEB lebih baik".
Hafid Tamimi, Ketua Umum BPPI FEB UNS 2014, memaparkan bahwa organisasi kita meskipun terlihat berbeda-beda, tetapi memiliki satu 'topeng' yang sama yaitu Islam.
"Kita berada di Fakultas Ekonomi berusaha bersinergi untuk mencerdaskan ekonom yang sholih, dan mensholihkan ekonom yang cerdas". Menurutnya, tiga organisasi ini berada di atas jalan yang sama, sedang membangun jalan yang sama, dan memiliki tujuan yang sama.
"Bahkan kita berasal dari rahim yang sama, yaitu dakwah", lanjut mahasiswa dari jurusan Akuntansi ini. "Ingatlah kita adalah saudara".
Presiden KEI, Fahmi Setyadi, berpendapat bahwa kita memang masih berada di jalan yang sama. "KEI bergerak di ranah dakwah, ukhuwah, dan ilmiah. Di sini kami bermaksud untuk menyampaikan ekonomi Islam agar dapat dilogikakan masyarakat umum".
Menurutnya, ada karakter dalam KEI yang dibangun. Yaitu karakter kokoh dan mandiri. "Kokoh berarti memiliki kekuatan, kematangan, dan kedewasaan secara ruhiyah. Mandiri artinya mampu mengembangkan diri", demikian penjelasan dipaparkan.
"Fanatisme kita terhadap golongan haruslah dihapus. Kita harus tetap satu bingkai dalam Islam. Biro AAI bukan Islam, BPPI bukanlah Islam, KEI bukanlah Islam", lanjutnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan membentuk forum diskusi untuk saling bebagi capaian-capaian organisasi. Diskusi ini juga untuk mencari solusi apa yang dapat diaplikasikan, guna memecahkan masalah dakwah di FEB UNS. (aryo)
BINCANG-BINCANG MUSLIMAH : HIJAB COVERS MY HEAD NOT MY MIND
Pada tanggal
16 September 2014 yang lalu Badan Pengkajian dan Pengamalan Islam (BPPI) FEB
UNS mengadakan sebuah acara khusus untuk para muslimah yaitu Bincang-Bincang
Muslimah dengan mengangkat tema ”Hijab Covers My Head Not My Mind”. Untuk
mendapatkan output acara yang diharapkan, panitia bekerja keras untuk
mendapatkan pembicara yang sesuai dengan tema acara yaitu Umi Pipik dan Yulia
Rachman.
Bincang
Bincang Muslimah kali ini merupakan rangkaian acara dari IHSD (International
Hijab Solidarity Day). Dan pada kesempatan tersebut, kedua pembicara sama-sama
menekankan bahwa muslimah hendaklah mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka sebagaimana tercantum dalam Q.S Al Ahzab : 59 ”Hai Nabi, katakanlah
kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin :
Hendaklaah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian
itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan
Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam acara
ini, Yulia Rachman juga memberikan nasihat bahwa jilbab tidak akan membatasi
kita untuk berkarya. Hijab justru membantu mengantarkan kita berkarya untuk
hal-hal yang baik. Sementara Umi Pipik sendiri menekankan bahwa dengan hijab
kita dituntut untuk berusaha lebih baik tanpa meresa kita telah menjadi yang
terbaik. Dengan hijab diharapkan kita juga menjadi muslimah yang pintar merasa,
bukan merasa pintar.
Begitu
indahnya Islam menjaga kehormatan para muslimah. Dan ketahuilah hai muslimah,
hijabmu bukanlah penghalang dan pembatas bagimu, dia adalah sahabat yang akan
mengantarmu berkarya untuk hal-hal yang lebih baik jika kamu mau berusaha.
17 Okt 2014
Betapa Payah Flu ini!
Ini adalah kisah tentang ke-ikhlasan seseorang dalam beramal. Penyakit riya' atau sombong yang seringkali menghinggapi kita dalam beribadah, ibarat penyakit flu yang senantiasa datang dan pergi. Parahnya, kadang kita justru menginginkan amalan kita diketahui oleh orang lain. Patutnya kita menengok kisah-kisah luar biasa tentang arti sebuah keikhlasan.
Para Salafus saleh selalu berusaha menyembunyikan amal ibadah mereka dan memiliki kepekaan yang tinggi untuk menjadikan seluruh ibadahnya ikhlas karena Allah. Tak heran kalau mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menyembunyikannya. Lihatlah kepada salah seorang dari mereka, Ayyub bin Kaisan As-Sakhtiyani. Kadang kala ketika berbicara tentang suatu hadits, hatinya bergetar, lalu ia menoleh dan berpura-pura mengeluarkan ingus dari hidungnya dan berkata, "betapa payah flu ini!"
Hasan Al-Bashri mensifati generasi tabi'in ini, "Apabila seseorang duduk di majelis dan air matanya akan keluar, ia berusaha menahannya, dan apabila khawatir tak mampu menahan, ia berdiri keluar dari majelis tersebut."
Kisah ini merupakan pelajaran berharga bagi kita, manusia. Makhluk yang dekat dengan dosa. Semoga kita bisa menjadi generasi yang mengikuti sunnah Rasulullah dan perilaku dan sifat para generasi terbaik umat Islam.
Referensi: Tarbiyah Ruhiyah ala Tabi'in oleh Asyraf Hasan Thabal
Know Your Culture In Our Ways: Wisata Hati 2014
Selo Boyolali - Dinginnya udara begitu
terasa setelah memasuki kawasan pegunungan nan elok itu. Indahnya pagi itu
memberikan kesejukan hati dan fikiran. Beban seolah sirna seketika melihat
pemandangan yang luar biasa. Tidak terasa, jalan yang berkelok dengan aspal
yang terjal sudah terlewati begitu saja. Suguhan pagi ini membuat hati seakan berkata
betapa agung ciptaan Allah SWT. Masyaa Allah.
Itulah kesan pertama seketika melihat keagungan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Dua gunung besar yang merepresentasikan betapa agung ciptaan Allah SWT. Hari inilah saatnya kami menyambut mahasiswa baru dalam nuansa ukhuwwah Islamiyah. Di tengah dinginnya cuaca ini, diri ini telah mengazzamkan tekad untuk menyambut momentum besar, yaitu Wisata Hati.
Wisata Hati edisi 2014 mengusung tema besar "Know Your Culture In Our Ways". Dengan mengangkat tema ini, wisata hati diharapkan mampu mengembalikan ingatan mahasiswa akan kejayaan Islam masa lampau dan bagaimana kemudian peran mahasiswa muslim saat ini ditengah permasalahan umat yang semakin menghimpit. Selain itu wisata hati juga berusaha mengenalkan keagungan Islam dan mencoba membuat mahasiswa muslim bangga dengan ke-Islamannya.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari yang dikemas dalam beberapa acara menarik. Mulai dari materi "The Amazing of Islam" yang dibawakan oleh Akh. Zulfikar Ali Ahmad S.E, kemudian game "Mafia-Mafia Selo", kemudian dilanjutkan dengan materi diskusi tentang permasalahan umat dan peran strategis umat Islam oleh Akh. Ery Kurnia dan ditutup dengan Outbong Ceria dan materi terakhir tentang ke-LDK-an dan ke-BPPI-an oleh Ketua Umum BPPI 2014, Akh. Hafid Tamimi.
Acara berlangsung dengan lancar dan sampai di Solo dengan lancar pula. Semoga momentum ini menjadi pintu awal kejayaan Islam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS.
Wisata Hati edisi 2014 mengusung tema besar "Know Your Culture In Our Ways". Dengan mengangkat tema ini, wisata hati diharapkan mampu mengembalikan ingatan mahasiswa akan kejayaan Islam masa lampau dan bagaimana kemudian peran mahasiswa muslim saat ini ditengah permasalahan umat yang semakin menghimpit. Selain itu wisata hati juga berusaha mengenalkan keagungan Islam dan mencoba membuat mahasiswa muslim bangga dengan ke-Islamannya.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari yang dikemas dalam beberapa acara menarik. Mulai dari materi "The Amazing of Islam" yang dibawakan oleh Akh. Zulfikar Ali Ahmad S.E, kemudian game "Mafia-Mafia Selo", kemudian dilanjutkan dengan materi diskusi tentang permasalahan umat dan peran strategis umat Islam oleh Akh. Ery Kurnia dan ditutup dengan Outbong Ceria dan materi terakhir tentang ke-LDK-an dan ke-BPPI-an oleh Ketua Umum BPPI 2014, Akh. Hafid Tamimi.
Acara berlangsung dengan lancar dan sampai di Solo dengan lancar pula. Semoga momentum ini menjadi pintu awal kejayaan Islam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS.
10 Okt 2014
Rongga Hati dan Dimensi Keimanan: Berpadu dalam Mencapai Kemuliaan
Surakarta - Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS bekerjasama dengan Badan Pengkajian Pengamalan Islam mengadakan acara Kajian Civitas Akademika FEB UNS dengan mengangkat tema Usaha Pribadi Manusia yang disampaikan oleh Ustadz Supriyadi Wibowo dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS (10/10). Kajian ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh pihak Fakultas dengan tujuan untuk menyambung tali silaturrahim antara dosen dan karyawan, juga mahasiswa yang dikemas dalam acara yang bermanfaat, yaitu kajian Ke-Islaman.
"Manusia memiliki tiga rongga, yaitu rongga perut, rongga kepala, dan rongga hati." Ucap Ustadz Supriyadi. Rongga perut sangat berpengaruh kepada kekuatan manusia, misalnya kerbau yang notabene pemakan tumbuh-tumbuhan memiliki kekuatan tertentu dan harimau sebagai hewan karnivora, kekuatannya jauh berbeda dan masuk ke dalam rantai makanan paling atas. Sedangkan manusia, berbicara tentang rongga perut, maka manusia termasuk ke dalam gologan omnivora, yaitu pemakan segala, baik tumbuh-tumbuhan maupun daging. Dan poin pentingnya adalah adakalanya sifat manusia jauh lebih buruk daripada hewan. Sifat rakus atau tidak pernah puas sering bersarang kepada kehidupan manusia.
Sedangkan rongga kepala berkaitan dengan cara manusia dalam berkehidupan. Dahulu yang tidak ada listrik, sekarang sudah ditemukan. Begitu seterusnya sampai batas yang entah kapan selesainya. Teknologi senantiasa berkembang berkat pengaruh otak manusia yang semakin berkembang. Namun yang menjadi permasalahan adalah kaitan antara rongga kepala dan rongga hati kadang terlupakan. Inovasi apapun ini tanpa dinaungi oleh hati maka hasilnya akan tidak terarah.
Rongga hati sangat berkaitan erat dengan potensi Iman. Dan iman ini akan mempengaruhi rongga perut dan rongga kepada. Iman menjadi landasan dasar bagi seorang muslim untuk berkehidupan sehari-hari. Kekuatan iman juga dahsyat pengaruhnya kepada sebuah keadaan tertentu. Misalnya adalah Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh kobaran api yang dilakukan oleh Raja Namrud. Meskipun itu adalah mukjizat Allah, tetapi tanpa adanya landasan iman, maka mustahil mukjizat itu akan terjadi.(10/10)
Sedangkan rongga kepala berkaitan dengan cara manusia dalam berkehidupan. Dahulu yang tidak ada listrik, sekarang sudah ditemukan. Begitu seterusnya sampai batas yang entah kapan selesainya. Teknologi senantiasa berkembang berkat pengaruh otak manusia yang semakin berkembang. Namun yang menjadi permasalahan adalah kaitan antara rongga kepala dan rongga hati kadang terlupakan. Inovasi apapun ini tanpa dinaungi oleh hati maka hasilnya akan tidak terarah.
Rongga hati sangat berkaitan erat dengan potensi Iman. Dan iman ini akan mempengaruhi rongga perut dan rongga kepada. Iman menjadi landasan dasar bagi seorang muslim untuk berkehidupan sehari-hari. Kekuatan iman juga dahsyat pengaruhnya kepada sebuah keadaan tertentu. Misalnya adalah Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh kobaran api yang dilakukan oleh Raja Namrud. Meskipun itu adalah mukjizat Allah, tetapi tanpa adanya landasan iman, maka mustahil mukjizat itu akan terjadi.(10/10)
7 Okt 2014
Puncak Itu Bernama "Hargo Dumilah"
| Foto: Dina Fitria Jabrish Dari: http://kfk.kompas.com/kfk/view/106605 |
Saya
sendiri adalah salah satu dari sekian banyak
orang yang memiliki hobi mendaki gunung. Tapi saya
tidak terlalu ambisi untuk menaklukan seluruh gunung di Indonesia apalagi di
dunia karena hal ini bukan tujuan hidup saya, ya ini hanya sekadar hobi.
Untuk tetap melestarikan alam, untuk menaklukan ego atau kemanjaan diri
sendiri, dan untuk selalu mensyukuri keagungan Tuhan akan salah satu
ciptaan-Nya. Sebuah tempat tertinggi kali ini bernama “Hargo Dumilah”. Puncak
tertinggi Gunung Lawu, terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan
ketinggian 3.265 mdpl akan kami taklukan.
7 Agustus 2014, 13 orang berangkat
dari Magelang menuju Yogyakarta pukul 04.00 pagi dengan mengendarai sepeda
motor menuju stasiun Lempuyangan untuk mengejar kereta Prameks pukul 05.30 yang
sesuai tertera di jadwal. Namun, lagi-lagi
indahnya Indonesia akan sebuah keterlambatan menghiasi
keberangkatan kami pagi itu, kereta datang terlambat. Sesampainya di
Solo kami menuju terminal Tirtonadi dan masih menunggu 3 orang teman kami yang
berangkat dari Solo. Akhirnya pukul 08.30 kami serombongan berjumlah 16 orang,
berangkat dari terminal Tirtonadi menuju terminal Tawangmangu menggunakan bus
yang terkenal dengan ugal-ugalannya walaupun
jalan menuju terminal Tawangmangu berkelok-kelok. Yang seharusnya kami dapat
menikmati perjalanan di kanan kiri jalan, malah dibuat mabuk oleh pak sopir.
Kami
tiba di terminal Tawangmangu sekitar pukul 10.30 dan kami pergunakan melepas
lelah sebentar serta sarapan. Setelah saya selesai sarapan sebagai orang yang
bertanggung jawab memegang uang kelompok segera melakukan negosiasi dengan
salah satu sopir mobil Colt yang akan membawa kami ke basecamp Cemoro Sewu
Magetan. Setelah selesai melakukan kesepakatan akhirnya kami berangkat dengan
menggunakan 1 mobil Colt diisi 16 orang, betapa bahagianya kami. Setelah pak
sopir dan tentu mobilnya berjuang mengangkut kami dengan selamat sampai
basecamp Cemoro Sewu saya melakukan kesepakatan lainnya dengan pak sopir untuk
bersedia mengantar kami sekembalinya dari pendakian hingga stasiun Balapan.
Setelah selesai negosiasi kami segera cek kesiapan dan kelengkapan barang
bawaan karena jam telah menunjukkan pukul 12.00 siang.
Diawali dengan pengarahan oleh ketua
rombongan dan saya sendiri serta diiringi do’a dari seluruh anggota kami
berangkat dari basecamp pukul 13.00 Saya dipercaya oleh ketua rombongan untuk
menjadi “leader” dalam perjalanan karena carrier
yang saya gunakan paling berat di antara anggota lainnya, yaitu sekitar 80
liter. Tapi barang bawaan saya itu tak terasa berat
bagi saya karena saya telah terbiasa dengan pekerjaan yang menggunakan fisik.
Jalur pendakian Cemoro Sewu terkenal
lebih cepat sampai puncak dibandingkan dengan jalur pendakian satunya, yaitu
Cemoro Kandang. Hal ini dikarenakan jalan pendakian Cemoro Kandang lebih landai
daripada Cemoro Sewu yang lebih terjal. Karena kami melakukan pendakian dengan
rombongan besar, kami sendiri sulit mengorganisasikannya termasuk ketua
rombongan yang bertugas sebagai “sweeper”. Di perjalanan kami terlalu sering
melakukan istirahat karena lelah. Udara pegunungan yang mulai terasa dingin
menusuk pori-pori kulit membuat kami segera mengenakan jaket dan celana tebal.
Setibanya
di pos 3 jam menunjukkan pukul 18.00 dan salah satu dari anggota tidak dapat
melanjutkan perjalanan. Saya sendiri mengalami dilema untuk melanjutkan
perjalanan atau tetap di pos 3 untuk mendirikan tenda, dan pada akhirnya saya putuskan
untuk tetap tinggal. Saya pun merekomendasikan pada ketua rombongan untuk
seluruh anggota berkemah di pos 3, namun berapa anggota tetap ingin ke pos 5
malam itu juga dan membuat ketua rombongan memutuskan tetap berangkat saat itu
juga. Saya tetap pada keputusan sebelumnya karena saya merasa bertanggung jawab
terhadap tim ini dan karena saya juga yang membawa 1 dari 3 tenda yang dibawa
oleh rombongan.
10 orang melanjutkan perjalanan malam itu juga menuju pos 5, 6 orang tinggal di
pos 3 dan segera saya pimpin untuk mendirikan tenda. Udara di pos 3 mulai
bertambah dingin dan kami segera memasak bahan makanan karena lapar yang tidak
dapat tertahankan lagi. Malam itu juga, diantara menyesal karena tidak dapat
melanjutkan perjalanan tapi lebih kecewa lagi karena tim kami tidak kompak
bahwa tim kami benar-benar terpisah, saya menumpahkannya dengan aliran air mata
yang seharusnya tak perlu. Selesai makan kami mengevaluasi dan segera melakukan
tindak lanjut, salah satu anggota yang tidak kuat tersebut tetap tidak mampu
kalau besok pagi menuju puncak. Pada akhirnya saya dan 2 orang lainnya tidak ke
puncak paginya, sedangkan 3 orang pukul 02.00 berangkat menyusul rombongan
besar dan berhasil sampai puncak.
Rombongan
besar turun sampai pos 3 pukul 09.00 pagi dan saya melihat wajah ketua
rombongan penuh penyesalan, tapi saya meyakinkan bahwa dengan gelagat saya
sendiri untuk tidak kecewa dan segera membaur bersama kebahagiaan rombongan.
Kami semua melanjutkan perjalanan turun hingga tiba di basecamp Cemoro Sewu
pukul 11.00 dan segera melanjutkan perjalanan menuju Kota Solo bersama pak
sopir yang telah menunggu kami di basecamp. Sesampainya di stasiun Balapan
pukul 15.30 kami berpisah dengan 3 orang yang dari Solo. Kami segera memesan
tiket untuk ke Jogja dan melanjutkan perjalanan pulang ke Magelang. Sesampainya
di Magelang pukul 21.00 dan bongkar muat barang di rumah saya. Selesai jam
22.00 dan rombongan kembali ke rumah masing-masing dengan ceritanya
masing-masing, termasuk saya.
Pada
awalnya saya sangat optimis dengan rombongan ini, karena persahabatan kami
dibangun sejak kami duduk di bangku SMP. Tetapi saya akhirnya menyimpulkan
bahwa persahabatan yang sesungguhnya harus mampu mengorbankan keegoisan
masing-masing individu untuk melebur dalam tim atau persahabatan yang telah
terbentuk baik secara instan atau berkala. Lebih dari itu bahwa sejatinya
pengorbanan itu bukan berdampak pada setiap anggota dari tim, namun
pertanggungjawaban kita kelak saat melakukan perjumpaan dengan Tuhan.
Pengorbananku saat itu untuk tidak sampai puncak tidak akan sia-sia karena saya
tahu itu adalah bentuk pertanggungjawaban sebagai makhluk Tuhan yang tak mampu
hidup sendiri.
27
September 2014. Saya, ketua rombongan, satu anggota yang kala itu sampai
puncak, satu anggota yang kala itu saya temani di pos 3, dan dua orang pendaki
pemula pukul 09.45 telah menyentuh tanah tertinggi di Gunung Lawu. Kami tiba di
puncak tertinggi gunung Lawu “Hargo Dumilah” salam dari kami untuk seluruh
pendaki dimanapun kalian berada. Di gunung ini, di ketinggian kaki berpijak, di
sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan
diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa
berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian
diri dari suatu pribadi yang egois dan manja menjadi seorang yang mandiri dan
percaya pada kemampuan diri sendiri. Setiap pengorbanan yang kalian lakukan
tidak akan sia-sia selama itu membawa manfaat dan untuk kepentingan umat.
Masa
lalu memang tidak dapat kita rubah di masa sekarang atau masa mendatang. Akan
tetapi, masa lalu dapat kita jadikan pembelajaran untuk melangkah ke masa depan
yang lebih baik, untuk membentuk karakter diri yang lebih baik. Kata pepatah,
setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Selamat datang di duniaku!
Artikel: Harry Sumantri Hartasa
Unedited.
6 Okt 2014
"FEB UNS Mengabdi": Semangat Mengabdi, Satukan Langkah
Simo, Boyolali - Bidang Syiar Badan Pengkajian Pengamalan Islam bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB UNS dan Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam (MEPA) FEB UNS melakukan aksi pengabdian masyarakat dengan tajuk "FEB UNS MENGABDI". Kegiatan ini dilaksanakan di Dukuh Candi, Desa Gunung, Kecamatan Simo, Boyolali (4-5/10). Rangkaian kegiatan acara ini adalah penyembelihan hewan qurban, bakti sosial, dan aksi donor darah. Kegiatan berlangsung di Masjid Baitul Muttaqin dan disambut warga dengan meriah.
Hewan qurban, sebanyak 5 ekor kambing berhasil disalurkan kepada masyarakat Dukuh Candi bekerjasama dengan Takmir Masjid dan disalurkan kepada warga sekitar masjid. Setelah menyalurkan hewan qurban, panitia berhasil membagikan 100 paket sembako kepada warga yang membutuhkan. Dan acara ini diakhiri dengan aksi donor darah yang diperuntukkan kepada warga masyarakat dengan tujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang manfaat dari aksi donor darah. Kegiatan ini mendapat respon baik dari masyarakat, terbukti sebanyak 25 orang bersedia untuk mendonorkan darahnya.
Rangkaian kegiatan "FEB UNS MENGABDI" ini menjadi bukti nyata peran mahasiswa kepada masyarakat. Di tengah permasalahan masyarakat yang kian meresahkan, peran mahasiswa menjadi tumpuan bagi tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Idul Adha Penuh Berkah, Tebarkan Senyuman, Sinergiskan Langkah
Simo, Boyolali - Badan Pengkajian Pengamalan Islam (BPPI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS bekerjasama dengan Lazis UNS menyalurkan hewan qurban kepada warga Dukuh Candi, Desa Gunung, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali (4/10). Panitia membawa sejumlah 5 ekor kambing dari Lazis dan menyerahkan kepada Takmir Masjid Baitul Muttaqin Dukuh Candi sebagai perwakilan masyarakat. Kegiatan ini sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat sebagai bentuk rasa tanggung jawab mahasiswa kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Idul Adha kali ini berbeda dengan idul adha tahun-tahun sebelumnya, karena teman-teman BPPI merayakan idul adha di tengah masyarakat. Hal ini adalah sebagai sarana mahasiswa untuk bisa mengenal masyarakat dan mampu untuk menjadi problem solver atas permasalahan yang ada.
Pengurus BPPI dibantu warga berhasil membagikan 200 an paket hewan qurban. Dan acara ini merupakan rangkaian dari Kegiatan "FEB UNS Mengabdi" yang terlaksana atas kerjasama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam (MEPA), dan Badan Pengkajian Pengamalan Islam (BPPI) FEB UNS.
2 Okt 2014
Apakah Ada Fakta Ilmiah Dibalik Kisah Pembakaran Nabi Ibrahim??
Kisah nabi dan rasul adalah rangkaian sejarah penuh hikmah yang dijelaskan dan dipaparkan oleh Allah SWT kepada manusia melalui Al-Qur'an. Begitu pula kisah Nabi Ibrahim, bapaknya para Nabi dan Rasul.
Beliaulah lah pemuda yang sudah matang di usia yang sangat muda. Dan kisah yang luar biasa adalah kisah pembakaran Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud.
Apakah ada fakta ilmiah dibalik itu semua??
Dalam Al-Qur’an dan hadits di katakan bahwa Nabi Ibrahim di tangkap oleh
pasukan Raja Namrud dan di bakar. Tetapi Allah menyelamatkan Nabi
Ibrahim dengan membuat api yang membakar Ibrahim menjadi dingin.
Kita ketahui bahwa
“air” pada esensinya adalah musuh “api” dan air dapat digunakan sebagai
sebaik-baik media untuk memadamkan api. Namun air ini, yang terdiri dari
rangkapan dua unsur hydrogen (H2O) dan oksigen (O2), apabila dengan
bantuan katalisator, kita bagi menjadi dua unsur konstruktif (dan
terpisah satu dengan yang lain), yaitu salah satunya (hydrogen) maka
unsur ini akan menjadi bahan peledak apabila bersentuhan dengan api.
Demikian juga, dengan unsur lainnya (oksigen) yang akan menyebabkan
nyala api semakin berkobar; artinya dua unsur ini, tepatnya melakukan
aktifitas persis kebalikan dari air yang rangkapannya dapat memadamkan
api. Hal ini secara ilmiah tidak bertentangan dengan hukum kausalitas.
Setelah
memperhatikan pada contoh yang telah disebutkan di atas, harus
diketahui bahwa dewasa ini, sains telah menetapkan bahwa aksi dan
reaksi, perubahan dan pergantian seperti ini bukanlah sesuatu yang
mustahil dan sesuai dengan prinsip yang telah diterima bahwa “materi dan
energi sekali-kali tidak akan musnah melainkan senantiasa berganti dan
berubah (dari satu kondis ke kondisi lainnya)” Karena itu, dapat
dikatakan bahwa terdapat kemungkinan adanya pergantian energi pada api
menjadi materi dan hal ini bukan sesuatu hal yang mustahil dalam
pandangan sains, kendati pada kondisi natural, kemungkinan bergantinya
api secara cepat menjadi bunga dan tanaman, sangat pelik dan mungkin
mustahil dalam pandangan kasat mata manusia.
Dengan kata lain, hal ini dapat dikatakan sebagai kemustahilan normal (muhal addi), namun perubahan dan pergantian ini bukanlah mustahil secara ilmiah (muhal ‘ilmi).
Boleh jadi di masa-masa mendatang manusia mampu melakukannya dimana
tentu saja pada waktu itu juga kemampuan manusia dalam mengganti energi
menjadi materi masih terbatas dan pada masa yang cukup lama, mungkin
mereka akan mampu mengubah energi menjadi hanya dalam beberapa menit.
Namun
Allah Swt dengan segala kekuasaan yang dimiliki-Nya, dengan mudah
mengganti energi yang memuat beban tinggi dan luas menjadi materi dalam
bentuk apa pun yang dikehendaki-Nya dalam tempo sekejapan mata. Kekuasan
Allah Swt didemonstrasikan pada peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim As.
Api antek-antek Namruz dalam tempo yang singkat berubah menjadi taman
yang secara sepintas menciderai hukum kausalitas; karena api, sifatnya
membakar dan memiliki tipologi serta esensi panas.
Apa hikmah dibalik itu semua??
Padahal banyak cara yang ALLAH gunakan untuk menolong Ibrahim, bisa dengan membuat pasukan Raja Namrud menjadi tidak bisa melihat, sehingga tidak bisa menangkap nabi Ibrahim, atau ketika Nabi Ibrahim mau di bakar maka ALLAH turunkan hujan, tetapi ALLAH berkehendak untuk membuat api yang di ubah menjadi dingin, mengapa?
...
Karena, andai kata ALLAH buat pasukan raja Namrud tidak bisa melihat, mungkin mereka akan berkata “ Kalau saja Ibrahim kita tangkap, pasti kita sudah membunuhnya” atau jika hujan turun mungkin mereka akan berkata “Jikalau hujan tidak turun pasti Ibrahim sudah kita bakar”..
Sekarang mereka mau bilang apa? Ibrahim sudah di tangkap, api menyala berkobar-kobar, bahkan saking besarnya api, mereka membuat ayunan dari kayu untuk melempar nabi Ibrahim, Tetapi Nabi Ibrahim tidak terbakar sedikitpun. Tidak ada yang bisa mereka katakan kecuali “Ada Zat yang Maha Kuasa yang Melindungi Ibrahim”..
‘Hai api, dinginlah engkau dan menyelamatkan Ibrahim’.” (QS A-Anbiya: 69).
Dalam tafsir Ibnu Katsir ketika ALLAH berfirman “Hai api dinginlah engkau….” , maka seluruh api di Dunia ini menjadi dingin, lalu setelah di lanjutkan firmannya “…. Dan menyelamatkan Ibrahim” maka seluruh api berubah menjadi panas kembali, kecuali api yang digunakan untuk membakar Nabi Ibrahim..
Allah seakan ingin menunjukkan bahwa keyakinan mereka tentang berhala adalah SALAH BESAR. Maka Allah menampakkan kepada mereka (Raja Namrud) bahwa dibalik ketegaran Nabi Ibrahim, terdapat Kuasa Allah SWT yang senantiasa melindungi dan memayungi beliau.
Referensi:
http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa11429
http://www.kaskus.co.id/thread/51921e920b75b4cb1000000d/nabi-ibrahim-tidak-terbakar-api
5 Sep 2014
Hukum dan Keistimewaan Wanita Berhijab Memancarkan Aura Kecantikan Alami
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Hai
kawan, tentu kalian pernah bertanya. Mengapa sebagian besar umat muslim banyak
yang memutuskan tidak berhijab? Padahal berhijab itu hukumnya wajib bagi wanita
muslim. Dalam artikel penulis akan menjelaskan sekilas tentang kewajiban
berhijab dalam Islam dan manfaat apa saja yang diperoleh apabila seseorang
memutuskan untuk berhijab.
Perlu
diketahui, bahwa yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah faktor
pakaian dan alat-alat perhiasan. Allah SWT berfirman dalam QS.Al-Araf 26 : “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah
menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk
perhiasan dan pakaian taqwa itulah yang paling baik”
Pakaian
dalam Islam bukanlah sekedar hiasan yang menempel di tubuh, tetapi pakaian yang
menutup aurat. Maka dari itu Islam mewajibkan setiap wanita muslim untuk
menutupi anggota tubuhnya yang dapat menarik perhatian lawan jenisnya. Masalah
berhijab (berbusana muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuh dari kepala
hingga telapak kaki) bagi wanita muslim bukanlah masalah sederhana sebagaimana
yang banyak disangkakan oleh masyarakat awam, melainkan masalah besar dan
substansial dalam agama ini.
Berhijab bukanlah sisa peninggalan adat atau
kebiasaan wanita Arab, sehingga wanita non-Arab tidak perlu menirunya, namun
berhijab bukanlah masalah khilafiah, yang diperselisihkan ada tidaknya berhijab
itu sehingga wanita muslimah bebas mengenakan atau tidak, tetapi hijab adalah
suatu hukum yang tegas dan pasti yang diwajibkan oleh Allah kepada wanita
muslim untuk mengenakannya. Allah berfirman : ‘Hai nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan
istri-istri orang mukmin : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh
tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena
itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Dari
ayat tersebut telah dijelaskan secara gamblang tentang pakaian yang harus dikenakan
oleh seorang muslimah, yaitu wajib menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan
kedua telapak tangan. Ketetapan syari’at ini tidak lain adalah untuk
melindungi, menjaga serta membentengi wanita dari laki-laki yang bukan
mahramnya.
Beberapa
keistimewaan apabila seorang muslimah mengenakan hijab :
1.
Wanita berjilbab lebih dipilih oleh kaum
Adam
Ternyata para lelaki secara fitrah
lebih menyukai wanita berhijab. Coba anda bayangkan saat anda hendak membeli
kue di pasar. Pertama, ada kue yang terbungkus dengan daun pisang dengan
dibalut dengan plastik putih. Kedua, ada kue yang tidak dibungkus dengan apapun
dan dikerumuni banyak lalat. Nah kue mana yang akan anda pilih? Tentu saja kue
yang dibungkus dengan daun pisang dan plastik. Karena kue yang dibungkus
terjamin kebersihannya dari kontaminasi tangan-tangan yang penuh kuman dan
virus. Begitu juga wanita berhijab. Mereka akan lebih dipilih sebagai
pendamping hidup, kecuali wanita berhijab yang masih tidak bisa menjaga
dirinya. Misalnya berikhtilat dengan kaum lelaki.
2.
Wanita Berhijab Lebih Anggun
Wanita berhijab lebih anggun jika
menggunakan rok, baju tidak ketat, baju tidak transparan, menutupi seluruh
tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Itulah berhijab secara kaffah. Wanita
berhijab lebih anggun dengan pakaian takwanya.
3.
Wanita Berhijab Lebih Taqwa
Sejak wanita memutuskan untuk
berhijab, secara otomatis wanita itu taat kepada Allah. Taat yang dimaksud
yakni taat pada perintah Allah yang memerintahkan untuk berhijab. Walaupun
wanita itu jahat, tetapi jika dibalut dengan hijab, wanita itu tetap taat pada
Allah, khususnya pada perintah berhijab. Wanita berhijab akan merasa malu jika
tidak menunaikan ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah SWT. Mereka akan
merasa malu pada jilbab yang dikenakannya.
4.
Hijab, Cantik Di Mata Allah
Mendengar kata cantik, yang
terbayang adalah seorang wanita yang anggota wajahnya (mata, hidung dan bibir
proporsional), serta paras yang menawan. Cantik juga dikaitkan dengan kulit
yang terawat baik, rambut hitam bercahaya dan bentuk tubuh langsing dengan gaya
busana yang up to date. Bicara soal busana, seringkali yang dituduh sebagai
penyebab ketidakcantikan seseorang adalah jilbab. Dengan pakaian yang syar’i,
memang bentuk tubuhnya yang langsing tak tampak lagi. Kecantikan fisik
merupakan salah satu nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada kaum hawa.
Misalkan saja, jika kita diberikan harta yang berlimpah oleh Allah tentu kita
berhati-hati dalam menjaganya dan melindunginya dari jamahan orang lain. Hal serupa jika seorang wanita diberikan
kecantikan fisik. Tentu harus dijaga dengan baik, dengan cara menggunakan
hijab. Karena wanita berhijab memiliki nilai yang tinggi dimata Allah. Untuk
itu jika seorang muslimah diberikan wajah yang cantik, dia harus pandai
bersyukur. Syukur tidak hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi direalisasikan
dalam bentuk perbuatan dengan cara memperlakukan kenikmatan tersebut agar
senantiasa sesuai dengan perintah Allah SWT.
Jadi mulai sekarang, wanita muslim
harus berhijab. Karena dengan berhijab akan terpancar kecantikan alami yang
tidak dapat ditandingi oleh bahan kosmetik apapun. Apalagi saat ini terdapat
beberapa model hijab yang lagi trend, seperti jilbab Hana. Hal ini akan
mendorong wanita untuk berhijab. So, yang merasa muslimah sejati, ayo kita
percantik diri dengan menggunakan hijab....
Sekian...Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
24 Agu 2014
Bincang-Bincang Muslimah: Hijab Covers My Head, Not My Mind
Adakalanya manusia itu
sangat kesulitan menjalankan ketaatan, padahal sebenarnya dia tahu bahwa itu
adalah syariat Allah. Dunia menjadi alasan atas pengingkaran syariat dan
menjadi pembenaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Dan bahkan apa yang dilakukannya
adalah sebuah kesalahan dan nantinya akan mendapat azab Allah.
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah
menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nafi' dari Al Hasan bin Muslim dari
Shafiyyah binti Syaibah bahwa 'Aisyah radliallahu 'anha pernah berkata; Tatkala
turun ayat: Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya.. (An Nuur:
31). Maka mereka langsung mengambil sarung-sarung mereka dan menyobeknya dari
bagian bawah lalu menjadikannya sebagai kerudung mereka. (H.R Bukhari)
Kisah diturunkannya syariat
mengenakan kerudung bagi perempuan muslim di atas adalah salah satu perintah
penting, namun banyak yang terlena. Selalu ingatlah bahwa Allah sebagai Sang
Pencipta Langit dan Bumi lebih mengerti siapa hamba-Nya. Setiap syariat yang
diturunkan yakinlah, pasti terdapat hikmah dibaliknya. Begitu juga, syariat
mengenakan kerudung memiliki hikmah yang sangat mulia. Salah satunya adalah
menjadi bukti bahwa Islam sangat menghargai terhadap wanita. Karena wanita
begitu berharga.
Syariat ini menegaskan bahwa
Islam ingin melindungi wanita dari berbagai terpaan dan godaan syahwat dari
lawan jenis. Islam menginginkan wanita memiliki derajat yang tinggi yang tidak
bisa dibanding-bandingkan dengan laki-laki. Wanita dikatakan terhormat karena
kerudung yang menutupinya. Kata orang “Tidak semua wanita berkerudung itu
sholihah, tapi wanita sholihah itu pasti berkerudung”
Begitu tinggi kemuliaan
wanita dalam Islam, namun banyak umat Islam yang mengingkarinya. Banyak alasan
yang diungkapkan, hanya karena lebih condong kepada nafsu syahwat dan godaan
dunia. Salah satu alasan yang terlihat keren dan cool, tapi sebenarnya
menunjukkan jawaban kebodohan adalah:
X : “Kenapa kamu tidak mengenakan kerudung?” Padahal itu kan sudah
menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslimah.”
Y : “Maaf ya, saya sudah
memakai hijab yang lebih kuat, yaitu hijab hati.”
X : “Bagus nih buat kamu,
ada Bincang-Bincang Muslimah dengan tema “Hijab
Covers My Head, Not My Mind”
Y : “iya.” (jleb)
Bagi kalian yang masih
ragu-ragu atau ingin belajar untuk memakai hijab, ini ada suguhan menarik dari
Badan Pengkajian Pengamalan Islam, yaitu Bincang-Bincang
Muslimah dengan tema Hijab Covers My Head, Not My Mind. Dengan menghadirkan
pembicara:
1.
Umi Pipik Dian Irawati
(Ustadzah
dan Artis)
2.
Yulia Rachman
(Artis
dan Penulis Buku)
Tempat dan Tanggal:
Aula Pascasarjana UNS
(Lantai 6)
Minggu, 14 September 2014
Pukul 07.30-12.00
Cara Pendaftaran
Ketik: nama lengkap_asal
univ_nomor hp.
Kirim ke: Rizky
(085647510719)
HTM
Pelajar/Mahasiswa Rp. 20.000
On the Spot: Rp. 25.000
Umum Rp. 25.000
On the Spot Rp. 30.000
Cara Pembayaran
Rekening a.n Sabilla
Primadevi
BNI Syariah 030423342
Langganan:
Postingan
(
Atom
)











