OPEN RECRUITMENT BPPI FEB UNS 2017

Ayo ikut bersama Kami. Menjadi Mahasiswa Muslim yang Proaktif dan Inspiratif. BPPI 2017

RAMADHAN 1438 H

Ramadhan Awesome! Raih Ramadhan dengan Penuh Berkah, Mencari Taqwa. Ramadhan di Kampus.Coming Soon!!

One Step 2017

Jalan-Jalan, Penuh Pembelajaran, Home Stay, Games, Fun, Keakraban dan Islami. Coming Soon yak!

Ukhuwah Islamiyah

Karena ikatan ukhuwah begitu berharga.

Islam pasti akan menang!

Jangan bertanya,"Kapan Islam kembali berjaya?", karena cepat atau lambat Islam pasti menang. Tapi bertanyalah,"Apa peranmu dalam menyongsong kemenangannya?"

Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan

22 Jan 2015

Memahami Amanah & Mengikis Habis Popularitas

Surakarta - (22/01/2015) Berbicara tentang amanah  sama saja dengan membahas tentang sesuatu yang besar dalam agama yang mulia. Apalagi amanah ini menjadi karakter khas yang dimiliki Rasulullah sehingga disegani dan dicintai oleh umatnya. Rasul bersabda:

"Tiada beriman orang yang tidak memegang amanat dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji." (HR. Ad-Dailami)

Amanah menjadi salah satu bagian dalam lingkaran keimanan seorang muslim dan menjadi satu hal penting untuk dipahami. Pernah kita melihat status di facebook atau media sosial yang lain, dalam salah gambar terdapat tulisan:
"Barakallah kepada si Fulan sebagai Ketua Umum/Presiden dan sebagainya..."

Menarik bahwa salah komentarnya adalah "barakallah wa innalillah."  

Jika melihat lebih jauh sebenarnya ada dua dimensi amanah. Pertama adalah makna barakallah itu artinya amanah merupakan salah satu sifat/amalan yang mulia. Atas sifat inilah Rasulullah disegani para umatnya dan bahkan musuhnya percaya dengan kemuliaan lisannya. Allah berfirman:

"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,  (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Q.S Al-Mu'minun : 8-11)

Selanjutnya adalah ungkapan inalillah mengandung makna bahwa amanah adalah sebuah janji yang harus ditepati. Konsekuensi jika tidak amanah tentunya akan mengantarkan kepada murka Allah. Bahkan sahabat nabi, Abu Dzar al-Ghifari ketika meminta amanah kepada Rasulullah, beliau menolaknya dan menjawab:

"Hai Abu Zar, sesungguhnya pada hari kiamat engkau adalah seorang yang lemah dan sesungguhnya jabatan pemerintahan itu adalah sebagai amanat dan sebenarnya jabatan sedemikian itu adalah merupakan kerendahan serta penyesalan -pada hari kiamat- bagi orang yang tidak dapat menunaikan amanatnya, kecuali seorang yang mengambil amanat itu dengan hak sebagaimana mestinya dan menunaikan apa yang dibebankan atas dirinya perihal amanat yang dipikulkan tadi." (Riwayat Muslim)

Perlunya memahami amanah ini berarti mencoba untuk mengokohkan keimanan. Takutnya hal ini akan membawa kepada penyesalan. Murni ini adalah untuk menggapai ridho Illahi dan bukan untuk mencari popularitas semata.

Terkadang amanah perlu untuk ditunjukkan kepada khalayak dan itupun hanya sebagai sarana komunikasi. Ketika amanah sudah diberikan, maka ada baiknya kita melihat kemampuan dan kesanggupan pribadi. Poin apa saja yang masih kurang dan perlu ditingkatkan, itu menjadi pertimbangan besar dalam menerima sebuah amanah.

Perlu diperhatikan pula bahwa amanah itu lebih baik diberi bukan meminta. Sebab jika meminta, peluang syetan untuk merusak niat  semakin besar.  Ketika niat sudah rusak, maka tidak akan ada artinya di mata Allah dan itu artinya adalah amanah justru menjadi pintu masuk kita menuju murkaNya Allah SWT.


2 Okt 2014

Apakah Ada Fakta Ilmiah Dibalik Kisah Pembakaran Nabi Ibrahim??


Kisah nabi dan rasul adalah rangkaian sejarah penuh hikmah yang dijelaskan dan dipaparkan oleh Allah SWT kepada manusia melalui Al-Qur'an. Begitu pula kisah Nabi Ibrahim, bapaknya para Nabi dan Rasul. 
Beliaulah lah pemuda yang sudah matang di usia yang sangat muda. Dan kisah yang luar biasa adalah kisah pembakaran Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud. 

Apakah ada fakta ilmiah dibalik itu semua??
 
Dalam Al-Qur’an dan hadits di katakan bahwa Nabi Ibrahim di tangkap oleh pasukan Raja Namrud dan di bakar. Tetapi Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dengan membuat api yang membakar Ibrahim menjadi dingin.

Kita ketahui bahwa “air” pada esensinya adalah musuh “api” dan air dapat digunakan sebagai sebaik-baik media untuk memadamkan api. Namun air ini, yang terdiri dari rangkapan dua unsur hydrogen (H2O) dan oksigen (O2), apabila dengan bantuan katalisator, kita bagi menjadi dua unsur konstruktif (dan terpisah satu dengan yang lain), yaitu salah satunya (hydrogen) maka unsur ini akan menjadi bahan peledak apabila bersentuhan dengan api. Demikian juga, dengan unsur lainnya (oksigen) yang akan menyebabkan nyala api semakin berkobar; artinya dua unsur ini, tepatnya melakukan aktifitas persis kebalikan dari air yang rangkapannya dapat memadamkan api. Hal ini secara ilmiah tidak bertentangan dengan hukum kausalitas.

Setelah memperhatikan pada contoh yang telah disebutkan di atas, harus diketahui bahwa dewasa ini, sains telah menetapkan bahwa aksi dan reaksi, perubahan dan pergantian seperti ini bukanlah sesuatu yang mustahil dan sesuai dengan prinsip yang telah diterima bahwa “materi dan energi sekali-kali tidak akan musnah melainkan senantiasa berganti dan berubah (dari satu kondis ke kondisi lainnya)” Karena itu, dapat dikatakan bahwa terdapat kemungkinan adanya pergantian energi pada api menjadi materi dan hal ini bukan sesuatu hal yang mustahil dalam pandangan sains, kendati pada kondisi natural, kemungkinan bergantinya api secara cepat menjadi bunga dan tanaman, sangat pelik dan mungkin mustahil dalam pandangan kasat mata manusia.

Dengan kata lain, hal ini dapat dikatakan sebagai kemustahilan normal (muhal addi), namun perubahan dan pergantian ini bukanlah mustahil secara ilmiah (muhal ‘ilmi). Boleh jadi di masa-masa mendatang manusia mampu melakukannya dimana tentu saja pada waktu itu juga kemampuan manusia dalam mengganti energi menjadi materi masih terbatas dan pada masa yang cukup lama, mungkin mereka akan mampu mengubah energi menjadi hanya dalam beberapa menit.

Namun Allah Swt dengan segala kekuasaan yang dimiliki-Nya, dengan mudah mengganti energi yang memuat beban tinggi dan luas menjadi materi dalam bentuk apa pun yang dikehendaki-Nya dalam tempo sekejapan mata. Kekuasan Allah Swt didemonstrasikan pada peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim As. Api antek-antek Namruz dalam tempo yang singkat berubah menjadi taman yang secara sepintas menciderai hukum kausalitas; karena api, sifatnya membakar dan memiliki tipologi serta esensi panas.

Apa hikmah dibalik itu semua??


Padahal banyak cara yang ALLAH gunakan untuk menolong Ibrahim, bisa dengan membuat pasukan Raja Namrud menjadi tidak bisa melihat, sehingga tidak bisa menangkap nabi Ibrahim, atau ketika Nabi Ibrahim mau di bakar maka ALLAH turunkan hujan, tetapi ALLAH berkehendak untuk membuat api yang di ubah menjadi dingin, mengapa?
...
Karena, andai kata ALLAH buat pasukan raja Namrud tidak bisa melihat, mungkin mereka akan berkata “ Kalau saja Ibrahim kita tangkap, pasti kita sudah membunuhnya” atau jika hujan turun mungkin mereka akan berkata “Jikalau hujan tidak turun pasti Ibrahim sudah kita bakar”..

Sekarang mereka mau bilang apa? Ibrahim sudah di tangkap, api menyala berkobar-kobar, bahkan saking besarnya api, mereka membuat ayunan dari kayu untuk melempar nabi Ibrahim, Tetapi Nabi Ibrahim tidak terbakar sedikitpun. Tidak ada yang bisa mereka katakan kecuali “Ada Zat yang Maha Kuasa yang Melindungi Ibrahim”..

‘Hai api, dinginlah engkau dan menyelamatkan Ibrahim’.” (QS A-Anbiya: 69).
Dalam tafsir Ibnu Katsir ketika ALLAH berfirman “Hai api dinginlah engkau….” , maka seluruh api di Dunia ini menjadi dingin, lalu setelah di lanjutkan firmannya “…. Dan menyelamatkan Ibrahim” maka seluruh api berubah menjadi panas kembali, kecuali api yang digunakan untuk membakar Nabi Ibrahim..

 
Allah seakan ingin menunjukkan bahwa keyakinan mereka tentang berhala adalah SALAH BESAR. Maka Allah menampakkan kepada mereka (Raja Namrud) bahwa dibalik ketegaran Nabi Ibrahim, terdapat Kuasa Allah SWT yang senantiasa melindungi dan memayungi beliau.

Referensi:
http://www.islamquest.net/id/archive/question/fa11429
http://www.kaskus.co.id/thread/51921e920b75b4cb1000000d/nabi-ibrahim-tidak-terbakar-api 

5 Sep 2014

Hukum dan Keistimewaan Wanita Berhijab Memancarkan Aura Kecantikan Alami






Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Hai kawan, tentu kalian pernah bertanya. Mengapa sebagian besar umat muslim banyak yang memutuskan tidak berhijab? Padahal berhijab itu hukumnya wajib bagi wanita muslim. Dalam artikel penulis akan menjelaskan sekilas tentang kewajiban berhijab dalam Islam dan manfaat apa saja yang diperoleh apabila seseorang memutuskan untuk berhijab.
Perlu diketahui, bahwa yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah faktor pakaian dan alat-alat perhiasan. Allah SWT berfirman dalam QS.Al-Araf 26 : “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian taqwa itulah yang paling baik”
Pakaian dalam Islam bukanlah sekedar hiasan yang menempel di tubuh, tetapi pakaian yang menutup aurat. Maka dari itu Islam mewajibkan setiap wanita muslim untuk menutupi anggota tubuhnya yang dapat menarik perhatian lawan jenisnya. Masalah berhijab (berbusana muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuh dari kepala hingga telapak kaki) bagi wanita muslim bukanlah masalah sederhana sebagaimana yang banyak disangkakan oleh masyarakat awam, melainkan masalah besar dan substansial dalam agama ini.
 Berhijab bukanlah sisa peninggalan adat atau kebiasaan wanita Arab, sehingga wanita non-Arab tidak perlu menirunya, namun berhijab bukanlah masalah khilafiah, yang diperselisihkan ada tidaknya berhijab itu sehingga wanita muslimah bebas mengenakan atau tidak, tetapi hijab adalah suatu hukum yang tegas dan pasti yang diwajibkan oleh Allah kepada wanita muslim untuk mengenakannya. Allah berfirman : ‘Hai nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. Karena itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Dari ayat tersebut telah dijelaskan secara gamblang tentang pakaian yang harus dikenakan oleh seorang muslimah, yaitu wajib menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ketetapan syari’at ini tidak lain adalah untuk melindungi, menjaga serta membentengi wanita dari laki-laki yang bukan mahramnya.




Beberapa keistimewaan apabila seorang muslimah mengenakan hijab :
1.             Wanita berjilbab lebih dipilih oleh kaum Adam
Ternyata para lelaki secara fitrah lebih menyukai wanita berhijab. Coba anda bayangkan saat anda hendak membeli kue di pasar. Pertama, ada kue yang terbungkus dengan daun pisang dengan dibalut dengan plastik putih. Kedua, ada kue yang tidak dibungkus dengan apapun dan dikerumuni banyak lalat. Nah kue mana yang akan anda pilih? Tentu saja kue yang dibungkus dengan daun pisang dan plastik. Karena kue yang dibungkus terjamin kebersihannya dari kontaminasi tangan-tangan yang penuh kuman dan virus. Begitu juga wanita berhijab. Mereka akan lebih dipilih sebagai pendamping hidup, kecuali wanita berhijab yang masih tidak bisa menjaga dirinya. Misalnya berikhtilat dengan kaum lelaki.

2.             Wanita Berhijab Lebih Anggun
Wanita berhijab lebih anggun jika menggunakan rok, baju tidak ketat, baju tidak transparan, menutupi seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Itulah berhijab secara kaffah. Wanita berhijab lebih anggun dengan pakaian takwanya.

3.             Wanita Berhijab Lebih Taqwa
Sejak wanita memutuskan untuk berhijab, secara otomatis wanita itu taat kepada Allah. Taat yang dimaksud yakni taat pada perintah Allah yang memerintahkan untuk berhijab. Walaupun wanita itu jahat, tetapi jika dibalut dengan hijab, wanita itu tetap taat pada Allah, khususnya pada perintah berhijab. Wanita berhijab akan merasa malu jika tidak menunaikan ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah SWT. Mereka akan merasa malu pada jilbab yang dikenakannya.

4.             Hijab, Cantik Di Mata Allah
Mendengar kata cantik, yang terbayang adalah seorang wanita yang anggota wajahnya (mata, hidung dan bibir proporsional), serta paras yang menawan. Cantik juga dikaitkan dengan kulit yang terawat baik, rambut hitam bercahaya dan bentuk tubuh langsing dengan gaya busana yang up to date. Bicara soal busana, seringkali yang dituduh sebagai penyebab ketidakcantikan seseorang adalah jilbab. Dengan pakaian yang syar’i, memang bentuk tubuhnya yang langsing tak tampak lagi. Kecantikan fisik merupakan salah satu nikmat dari Allah yang dikaruniakan kepada kaum hawa. Misalkan saja, jika kita diberikan harta yang berlimpah oleh Allah tentu kita berhati-hati dalam menjaganya dan melindunginya dari jamahan orang lain.  Hal serupa jika seorang wanita diberikan kecantikan fisik. Tentu harus dijaga dengan baik, dengan cara menggunakan hijab. Karena wanita berhijab memiliki nilai yang tinggi dimata Allah. Untuk itu jika seorang muslimah diberikan wajah yang cantik, dia harus pandai bersyukur. Syukur tidak hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi direalisasikan dalam bentuk perbuatan dengan cara memperlakukan kenikmatan tersebut agar senantiasa sesuai dengan perintah Allah SWT.

Jadi mulai sekarang, wanita muslim harus berhijab. Karena dengan berhijab akan terpancar kecantikan alami yang tidak dapat ditandingi oleh bahan kosmetik apapun. Apalagi saat ini terdapat beberapa model hijab yang lagi trend, seperti jilbab Hana. Hal ini akan mendorong wanita untuk berhijab. So, yang merasa muslimah sejati, ayo kita percantik diri dengan menggunakan hijab....

Sekian...Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


8 Jun 2014

Penyakit Berbahaya!! Hindari dan Jauhi


Hiiihh, posting penyakit nih mimin. Tenang, tenang, ini penyakit yang banyak terlupa. Bahkan tidak terasa kalau sudah terinfeksi. Tapi bahayanya luar biasa. Dampaknya bisa mengantarkan kepada kehancuran. Itulah penyakit Wahn. 

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)

Halo ...Halo...! Sobat pernah tidak kehilangan sesuatu, misal HP gitu. Pasti rasanya gusar, galau, gundah, ga bisa makan berhari-hari. Hiperbola ini memang terjadi. Tapi coba kalau lupa tidak sholat, rasanya ya gitu deh. Udah deh. Lupakan, Lalui, Hilangkan. Mulai lagi masa baru.


Sebagian ummat Islam telah terjangkit dengan penyakit ‘hubbud dunya’, terlalu mencintai kehidupan duniawi. Mereka begitu bernafsu terhadap kehidupan dunia ini sehingga mereka lupa akan kematian, dan mereka tidak mau mengingat kematian, serta sangat takut terhadap mati. Mereka takut mati, selain karena amal mereka, juga lebih-lebih dikarenakan mereka tidak mau meninggalkan dunia yang sangat mereka cintai ini. Mereka mencintai dunia ini hingga malas beramal yang mendekatkan diri mereka kepada Allah. Mereka mencintai dunia ini hingga melupakan Allah, tidak merindukan-Nya, tidak pula mengharapkan pertemuan dengan-Nya. Kasihan, walau mereka sangat mencintai dunia ini, tetapi tetap saja, mereka pasti menemui kematian.

Perlu diingat sobat mati itu pasti terjadi. Namun Allah menyembunyikan rahasia kapan terjadinya. Hal ini agar kita selalu waspada dan tetap ingat kepada Allah yang menciptakan kita. Maka jauhilah penyakit ini, karena penyakit ini membuat kita semakin jauh dalam kesesatan.


6 Jun 2014

Ya Allah Kenapa Aku Malu? Sebuah Paradigma Baru



Saya yakin semua orang mempunyai rasa malu. Sobat semua punya kan??Kita patut untuk tahu bahwa rasa malu menjadi bagian penting dalam keimanan seorang muslim. Mengapa?? Karena itu bisa menjaga kita dari perbuatan maksiat. Kadangkala sobat pernah ya, ketika melihat lawan jenis rasanya seperti tertimpa dunia dan seisinya, (hehe). Keringat dingin mengucur begitu deras, hati berdetak dengan cepat, akhirnya menatap pun malu. Fenomena ini ada yang mensyukuri ada juga yang menyesali. Namun kita harus tahu definisi malu.

Al Imam An Nawawi menjelaskan bahwa para ulama berkata,“Hakikat sifat malu itu ialah suatu budi pekerti yang menyebabkan seorang itu meninggalkan apa-apa yang buruk dan menyebabkan ia tidak lengah untuk menunaikan haknya seorang yang mempunyai hak.”Beliau melanjutkan,“Kami meriwayatkan dari Abul Qasim al Junaid rahimahullah, beliau berkata,‘Malu ialah perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan atau karunia dan melihat adanya kelengahan, lalu tumbuhlah di antara kedua macam sifat yang di atas tadi suatu keadaan yang dinamakan sifat malu’.” (Riyadhus Shalihin)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,“Keimanan itu ada tujuh puluh sekian cabang atau keimanan itu ada enam puluh sekian cabang. Seutama-utamanya ialah ucapan La ilaha illallah dan serendah-rendahnya ialah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu itu adalah cabang dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal sifat malu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya sifat malu itu termasuk dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)Kenapa malu disebut sebagai salah satu cabang keimanan? Hal ini dengan rasa malu yang ada pada dirinya seseorang akan malu apabila meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah serta malu pula untuk melanggar apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala.Kalau sobat malu ketika presentasi itu dipertanyakan. Tetapi kalau malu berbuat maksiat itu menjadi kewajiban.(referensi: http://shirotholmustaqim.wordpress.com/)

4 Jun 2014

Hakikat Pemimpin Menurut Al-Qur'an


Akhir-akhir ini ungkapan "pemimpin" menjadi trending topic di Indonesia. Tidak heran karena sebentar lagi Indonesia akan memilih pemimpin baru, yaitu Pemilihan Presiden 2014. Maraknya isu-isu yang dihembuskan lewat media maya membuat kita semakin bingung. Blow up isu negatif para calon presiden kini menjadi makanan sehari-hari bagi para pengguna media. "Apakah itu benar?", "Apakah iya seperti itu?". Banyak pertanyaan kemudian muncul di benak kita apakah mereka layak memimpin bangsa ini.

Namun perlu diperhatikan. memilih ataupun tidak, tetap saja akan ada pemimpin yang terpilih. Warga negara tetap saja diberikan kebebasan sepenuhnya untuk memilih. Memilih atau golput adalah pilihan. Tetapi, sekali lagi tetap ada pemimpin yang terpilih. Peran kita sedikit banyak akan mempengaruhi kualitas negeri ini, dan itu semua bermula dari seorang pemimpin. 

Bagaimana Hakikat Pemimpin Menurut Al-Qur'an
Berbicara tentang pemimpin, Allah SWT telah menjelaskan kepada kita bagaimana pemimpin yang baik itu, melalui beberapa contoh kepemimpinan yang Allah ketengahkan dalam kitab-Nya, Al-Qur’an.
Diantara sosok yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah Musa as. Dalam QS Al-Qashash: 26, Allah SWT berfirman: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Wahai bapakku, ambillah ia (Musa) sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat (al-qawiyy) lagi dapat dipercaya (al-amin)".
Dalam ayat tersebut, Musa as disifati memiliki dua sifat yaitu al-qawiyy (kuat) dan al-amin (bisa dipercaya). Inilah dua sifat yang harus dimiliki oleh seseorang  yang “bekerja untuk negara”. Dua sifat tersebut adalah al-quwwah yang bermakna kapabilitas, kemampuan, kecakapan, dan al-amanah yang bermakna integritas, kredibilitas, moralitas.
Sosok pemimpin lainnya yang disebutkan oleh Al-Qur’an adalah Yusuf as. Dalam QS Yusuf: 55, Allah SWT mengabadikan perkataan Yusuf as kepada Raja Mesir: “Yusuf berkata: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
Dari ayat diatas, kita mengetahui bahwa Yusuf as itu hafiizh (bisa menjaga) dan ‘alim (pintar, pandai). Inilah dua sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang “bekerja untuk negara”. Dua sifat tersebut adalah al-hifzh yang tidak lain berarti integritas, kredibiltas, moralitas, dan al-‘ilm yang tidak lain merupakan sebentuk kapabilitas, kemampuan, dan kecakapan.
Jadi kesimpulannya, kriteria pemimpin yang baik menurut Al-Qur’an adalah yang kredibel dan juga kapabel. Dua-duanya harus ada pada diri seorang pemimpin, bukan hanya salah satunya. Jika seorang pemimpin hanya kredibel tapi tidak kapabel, maka urusan akan berantakan karena diserahkan pada yang bukan ahlinya. Rasulullah saw bersabda, “Jika urusan diserahkan pada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya”. Sebaliknya, jika seorang pemimpin hanya kapabel tapi tidak kredibel, maka dia justru akan ‘minteri’ rakyat, menipu rakyat, menjadi maling dan perampas hak-hak rakyatnya, dan tidak bisa dijadikan sebagai contoh dan teladan. Dan jika para pemimpinnya bermoral rendah, bagaimana dengan rakyatnya?  

(Referensi: menaraislam.com)

Dari Mata Turun Ke Hati: Mengupas Hakikat Zina Mata





Menyoal terkait bahasan zina menjadi topik yang sangat menarik. Permasalahan inilah yang kini tengah menggerogoti eksistensi adab budaya Timur yang juga sarat dengan nilai-nilai Islam. Dimana-mana, baik di kota maupun sampai pelosok daerah mengalami penurunan kualitas generasi karena masalah ini. Anak-anak sekolah kini tidak lagi dapat menjaga izzah (kemuliaan) mereka, akan tetapi kemuliaannya kini menjadi barang murah yang diperjualbelikan kepada yang lain. Betapa tidak, berapa banyak anak SD, SMP, dan SMA yang sudah terenggut kehormatannya? Berapa banyak anak-anak yang masih dibawah umur sudah memiliki anak tanpa proses pernikahan? Patut kita untuk menyimak bahasan ini.

Ada pandangan bahwa yang dimaksud zina adalah hubungan tubuh antara laki-laki dan perempuan yang belum memiliki ikatan pernikahan. Hal ini benar, namun masih sangat sempit. Pembaca semua jangan sampai terkecoh dengan ungkapan ini. Bisa jadi definisi-definisi yang menyempitkan definisi zina ini adalah bagian dari tipu daya manusia yang ingin menghancurkan harkat dan martabat bangsa dan agama. 

Dari Mata Turun ke Hati
Di dalam Islam ada jenis maksiat yang disebut dengan ‘zina mata’ (lahadhat). Lahadhat itu, pandangan kepada hal-hal, yang menuju kemaksiatan. Lahadhat bukan hanya sekadar memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan mata adalah sumber itijah (orientasi) kemuliaan, juga sekaligus duta nafsu syahwat. Seseorang yang menjaga pandangan berarti ia menjaga kemaluan. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka manusia itu akan masuk kepada hal-hal yang membinasakannya.
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, pernah menasihati Ali :
Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Milik kamu adalah pandangan yang pertama, tapi yang kedua bukan”.
Dalam musnad Ahmad, disebutkan, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda :
Pandangan adalah panah beracun dari panah-pandah Iblis. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari keelokkan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya manisnya iman sampai hari kiamat”.
Sarah hadist itu, tak lain, seperti di jelaskan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam:
Tundukkan pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian”. Juga Sabda Beliau : “Jauhilah oleh kalian duduk di pinggir jalan”. Para Shahabat berkata : “Pinggir jalan itu adalah tempat duduk kami, kami tidak bisa meninggalkan”. Beliau bersabda : “Jika kalian harus duduk di jalan, maka berikanlah haknya”. Mereka berkata : “Menundukkan pandangan, dan menahan diri untuk tak menganggu, baik dengan perkataan atau perbuatan, dan menjawab salam”.
Melihat adalah sumber dari segala bencana yang menimpa diri manusia. Melihat melahirkan lamunan atau khayalan, dan khayalan melahirkan pemikiran, pikiran melahirkan syahwat, dan syahwat melahirkan kemauan, kemauan itu lantas menguat, kemudian menjadi tekat kuat dan terjadi apa yang selagi tidak ada yang menghalanginya. Dalam hal ini ada hikmah yang mengatakan :
Menahan pandangan lebih ringan dari pada bersabar atas kesakitan (siksa) setelah itu”.
Seorang penyair Arab bertutur,
"Semua bencana itu bersumber dari pandangan,
Seperti api besar itu bersumber dari percikan bunga api, 
Betapa banyak pandangan yang menancap dalam hati seseorang,
Seperti panah yang terlepas dari busurnya,
Berasal dari sumber matalah semua marabahaya, 
Mudah beban melakukannya, dilihat pun tak berbahaya, 
Tapi, jangan ucapkan selamat datang kepada kesenangan sesaat yang kembali dengan membawa bencana".

Bahaya memandang yang haram adalah timbulnya penderitaan dalam diri seseorang. Karena tak mampu menahan gejolak jiwanya yang diterpa nafsu. Akibat selanjutnya adalah seorang hamba akan melihat sesuatu yang tidak akan tahan dilihatnya. Ini adalah sesuatu yang menyiksa, yang paling pedih, jangankan melihat semuanya, melihat sebagian saja tak akan mampu menahan gejolak jiwanya.
Zina itu ada prosesnya. Dimulai dari pandangan, kemudian turun ke hati. Bagaimana kemudian gejolak syahwat akan mempengaruhi apa yang telah dilihatnya sampai pada taraf imajinasi/membayangkan. Ketika nafsu syahwat sudah memenuhi relung hati, maka jadilah sekarang anak-anak yang hamil diluar nikah bertebaran.

(referensi: eramuslim.com)

24 Jan 2014

Hujan, Pantaskah Dijadikan Bahan Keluhan??


Merupakan tanda kekuasaan Allah ta’ala, kesendirian-Nya dalam menguasai dan mengatur alam semesta, Allah menurunkan hujan pada tanah yang tandus yang tidak tumbuh tanaman sehingga pada tanah tersebut tumbuhlah tanaman yang indah untuk dipandang. Allah Ta’ala telah mengatakan yang demikian dalam firman-Nya:
Hujan  (ilustrasi)

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41]: 39)

Pantaskah Memanggil, "Muhammad"?


Memanggil orang yang lebih tua dengan namanya saja? Atau memanggil orang yang terhormat dengan namanya saja, tanpa didaului kata "pak", "bu", "tuan", "nyonya". Sopankah?
Lantas, bagaimana jika pertanyaan serupa ditujukan terkait panggilan kita terhadap Nabi kita, Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam?

Pantaskah kita memanggil Nabi hanya dengan nama beliau saja?

Simak Qur'an! Allah tidak pernah memanggil nabi Muhammad dengan namanya langsung, akan tetapi Allah memanggilnya dengan panggilan-panggilan yang luar biasa yang tercatat dalam kitab suci Al-Quran: “Yaa Ayyuhan Nabi” (Wahai Nabi), “Yaa Ayyuhar Rasul” (Wahai Rasul), “Yaa Ayyuhal Muzammil” “Yaa Ayyuhal Muddatstsir” (Wahai Orang yang Berselimut).
Kenapa kamu berani? Ketahuilah kawan! Bahkan kita dianjurkan ketika nama nabi Muhammad disebutkan, ucapan itu harus dibalas dengan mengucapkan “Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atau Allaahumma Shalli Wasallim Wabaarik ‘Alaih atau Allaahumma Shalli ‘Alaihi”.
Tahukah kamu bahwa Allah telah menyebutkan secara zhahir nama nabi Muhammad hanya dalam empat tempat saja -dalam ayat dan surat yang berbeda-. Itupun bukan dalam panggilan hai Muhammad, bukan!. Tapi dalam bentuk jumlah khabariyah, dalam bentuk kabar atau berita, dalam penyebutan itupun selalu diikuti kata “Rasulullah” atau “innahul haqq” (dialah yang benar).

Coba direnungkan dan ditadabburi empat ayat ini:

1. Surat Ali Imran ayat 144: “Wamaa Muhammadun illaa rasuul..” (Dan Muhammad hanyalah seorang rasul).
2. Surat Al-Ahzab ayat 40: “Maa kaana Muhammadun abaa ahadin min rijaalikum walaakin rasuulallahi wa khaataman nabiyyiin” (Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi).
3. Surat Alfath ayat 29: “Muhammadun rasuulullah, walladziina ma’ahuu asyiddaa-u ‘alal kuffaari ruhamaa-u baynahum” (Muhammadadalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
4. Surat Muhammad ayat 2: “Walladziina aamanuu wa’amilus shaalihaati wa aamanuu bimaa nuzzila ‘alaa Muhammad, wahuwal haqqu min rabbihim” (Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka).

Subhanallah, habibuna, rasuluna shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga kita termasuk yang mendapatkan syafaatnya kelak di yaumil qiyamah, dan selalu mencontoh perilaku dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


Sumber: 
http://www.dakwatuna.com

9 Jun 2013

Islamic Table Manner



Table manner dapat diartikan sebagai sikap seseorang dalam mengikuti suatu acara jamuan makan dengan mengikuti tata cara, etika sopan santun sesuai dengan lingkungan sosial dimana kita berada dan dilakukan oleh siapa saja. Bisa dikata, table manner adalah salah satu parameter sopan santun seseorang, tentu dengan sudut pandang budayanya.

 Tiap bangsa dan budaya memang memiliki table manner mereka masing-masing. Namun Islam juga memiliki table manner tersendiri yang sudah selayaknya diterapkan oleh kaum muslimin saat makan, tanpa memandang asal bangsa dan budaya

Tiap bangsa dan adat istiadat pastinya punya dong table manner mereka sendiri. Dari yang ringkes, sampai yang ribet pun juga ada. Tentu ini dilihat dari pandangan tiap subjektif tiap orang. Di Indonesia misalnya, nggak boleh bersendawa saat makan, kalo selesai makan sendok dan garpu dibalik, dan lain sebagainya. Di Arab, justru saat seorang tamu bersendawa, malah itu bagus dan disukai tuan rumah, karena tamu dianggap puas dengan jamuan yang dihidangkan. Di tempat lain, berjejer banyak sendok dan garpu di samping kanan-kiri piring dengan kegunaannya sendiri-sendiri.

24 Mei 2013

Makna Hijab dalam Organisasi Islam 2



Di Dalam Pake Hijab, Di Luar Kagak…
            
Fenomena yang kadang membingungkan beberapa pegiat dakwah, saat di sekre alias markas dakwah, pake hijab. Namun saat di luar, ternyata yang ikhwan dan akhwat nampak bicara begitu saja tanpa hijab. Gimana nih? Untuk masalah ini, ada beberapa alasan.

 Menjaga pergaulan dengan lawan jenis sering terkendala dengan 'bebas'-nya suasana di lingkungan pergaulan umum
                 
Pertama, keadaan di luar kan gak memungkinkan adanya hijab. Di jalan, di lapangan, dan tempat lain yang cenderung terbuka jelas sangat sulit dikasih hijab sebagai pembatas laki-laki perempuan. Dalam kasus ini, ya hendaknya pihak-pihak terkait ‘sadar diri’. Kalau merasa dirinya laki-laki, ikhwan, ya jaga batas-batas dengan lawan jenis. Begitu pula sebaliknya. Terus, gimana bentuk ‘menjaga batas’ dengan lawan jenis?

Makna Hijab dalam Organisasi Islam



“Apa itu hijab?  Apa itu organisasi islam? Apa hubunganya hijab dengan organisasi islam?”. Mungkin itu pertanyaan yang ada dalam benak teman- teman semua, yang saat ini bisa dikatakan sebagai aktivis dakwah. W.O.W...aktivis dakwah bro..?? Keren dong gue..?? yeah, of course..teman-teman special dimata Allah Ta’ala. Apa yang membuat kalian begitu special? Hayo..pada tau nggak nih? Teman- teman special karena teman- teman termasuk dalam golongan orang- orang yang menyerukan kebenaran, orang-orang yang rela berkorban demi tegaknya dien Islam, orang- orang berjuang demi kemenangan Islam.  Allahuakbar...!!!

 Pentingkah hijab dalam Organisasi Islam

Organisasi Islam adalah sebuah wadah untuk teman-teman aktivis dalam menuangkan segala kemampuan yang dimiliki demi mewujudkan visi dan misi. Organisasi Islam tentu berbeda dengan organisasi yang lain teman... Mulai dari tujuan dibentuknya, orientasinya, peraturannya, orang- orangnya, adab pergaulanya dan lain sebagainya. Semua dilandaskan pada syariat Islam yang indah dan tertata dari hal kecil sampai hal besar. 

Disini kita akan membahas sedikit mengenai hijab yang mungkin masih menjadi pertanyaan teman- teman, (yang biasanya buat pembatas antara ikhwan-akhwat itu, lho) Perlukah? Wajibkah?  Untuk mengawalinya teman- teman bisa menyimak dalam ayat berikut.

2 Feb 2013

Kebaikan Itu Masih Ada



Setelah melalui berbagai hal yang menyesakkan jiwa, akhirnya lelaki tersebut sampai di tempat tujuannya, sebuah biara. Seorang Rahib ahli ibadah menyambut lelaki tersebut dengan roman muka datar.



“Rahib yang suci,” ujar lelaki tersebut, “Mungkinkah dosaku diampuni?”
“Memangnya apa khilafmu?” Rahib tersebut balas bertanya.
“Aku telah membunuh,” lelaki tersebut agak tercekat, “Sembilan puluh sembilan orang. Mungkinkah dosaku diampuni?”

Meskipun Pahit?


“Katakan yang benar,” sabda Rasulullah dalam riwayat Al-Baihaqi, “Meskipun pahit.”


“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” gumam Muhammad ibn Sirin, seorang alim murid shahabat Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu. Bagaimana tidak? Beliau yang juga merupakan seorang pedagang ini menemukan bangkai tikus di salah satu kaleng besar minyak zaitun yang dikulaknya dari pemasok dengan berhutang. Tak tanggung-tanggung, akad atau transaksinya kali ini senilai 40.000 dirham perak. (1 dirham perak= 2,975 gram perak).



“Seluruh minyak ini dibuat di  tempat penyulingan yang sama,” ujar beliau kepada salah seorang pelayannya. “Aku khawatir bahwa najis bangkai ini telah mencemari keseluruhan minyak. Maka buanglah semuanya!”

21 Jul 2012

Jangan Hancurkan Ramadhanmu!!


Walau banyak yang ngaku pengin kembali suci, faktanya banyak orang yang justru merusak pahala shaum Ramadham mereka. Misal, saat puasa masih aja berkata-kata kotor dan ghibah (menggunjing).




Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu ‘Ubaidah r’a menunjukkan kalo ghibah dapat membahayakan puasa. Hal ini juga diriwayatkan dari ‘A’isyah r’a. Bahkan Imam Al-Auza’i berpendapat kalo ghibah dapat membatalkan puasa lho!


10 Okt 2011

JAGALAH LISANMU, SAUDARA KU

Salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah SWT adalah nikmat lisan. Ia, meskipun kecil bentuknya, namun sangat besar pengaruhnya bagi kabaikan dan keburukan seseorang. Dengan lisan seseorang dapat mengungkapkan apa yang dia inginkan, dengannya manusia dapat saling berkomunikasi, manusia dapat saling memberikan kebaikan dan manfaat kepada sesama. Tetapi di balik itu se...mua, lisan juga dapat menjadi sumber bencana.

SUATU hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.”
Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya,