OPEN RECRUITMENT BPPI FEB UNS 2017

Ayo ikut bersama Kami. Menjadi Mahasiswa Muslim yang Proaktif dan Inspiratif. BPPI 2017

RAMADHAN 1438 H

Ramadhan Awesome! Raih Ramadhan dengan Penuh Berkah, Mencari Taqwa. Ramadhan di Kampus.Coming Soon!!

One Step 2017

Jalan-Jalan, Penuh Pembelajaran, Home Stay, Games, Fun, Keakraban dan Islami. Coming Soon yak!

Ukhuwah Islamiyah

Karena ikatan ukhuwah begitu berharga.

Islam pasti akan menang!

Jangan bertanya,"Kapan Islam kembali berjaya?", karena cepat atau lambat Islam pasti menang. Tapi bertanyalah,"Apa peranmu dalam menyongsong kemenangannya?"

3 Jul 2014

Edisi Ramadhan: Gaza Gaza Gaza, Bukti Kekejaman Zionis La'natullah




Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar

Saat langit berwarna merah saga
Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakkan takbir

Sungguh Allah akan memberikan bukti atas janji-janji-Nya. Kebiadabanmu menunjukkan betapa takutnya engkau zionis. Tunggu saja kehancuran akan menimpamu. 

Ketika umat muslim di Indonesia sedang bersuka cita menyambut bulan penuh ampunan. Ketika umat muslim Indonesia disibukkan dengan penyambutan Ramadhan dengan penuh semangat. Di kala umat muslim Indonesia sedang lelap dalam tidurnya. Coba tengoklah, betapa beruntungnya kita. Saudara-saudara kita di Jalur Gaza mendapatkan serangan dari zionis la'natullah saat menjelang sahur. 

Sebagaimana diberitakan bahwa Serangan di saat umat Islam sedang sahur ini  menyebabkan sebanyak tujuh korban luka tiba di rumah sakit Kamal Udwan, utara Jalur Gaza  dan tiga korban lainnya berasal dari kota Gaza. Sumber-sumber Pusat Informasi Palestina (PIC) menegaskan, pesawat tempur Zionis menggempur dua pos keamanan milik Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas di barat Rafah, Jalur Gaza  bagian selatan dan satu lagi di kampung Tufah, dan titik lainnya di wilayah Maqusi.
Di utara Jalur Gaza, pesawat tempur Zionis menggempur lahan kosong yang terletak di sekolah Zaid bin Haris dan pos milik Al-Qassam. Selain itu, pos keamanan miliki Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islami dekat desa Baduwi dan pos milik di dekat sekolah pertanian di Bethanun utara Jalur Gaza  juga menjadi serangan ‘Israel’. Pesawat tempur Zionis juga menyerang kantor pusat intelijen yang sudah hancur sebelumnya dengan tiga roket.
Sebuah bom cahaya yang tujuannya menerangi target juga dilepaskan ‘Israel’ di atas rumah-rumah warga di Jalur Gaza  utara dan disusul serangan bom. Akibatnya, serangan menimbulkan kerusakan rumah-rumah warga. Juru bicara militer ‘Israel’ Avighe Adari menegaskan, pesawat tempur ‘Israel’ menyerang 15 target milik Brigade Al-Qassam. Hingga saat ini, pesawat tempur ‘Israel’ masih melancarkan serangan-serangannya ke Jalur Gaza. (Hidayatullah.com)

Lihat siapa sekarang yang terlaknat. Sesungguhnya agama ini akan tetap menang. Betapapun engkau menyerang, tetapi serangan itulah yang menguatkan kami. 

Kita patut melihat kembali diri kita. Bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim. Bahkan tidak bisa disebut orang itu beriman ketika belum memiliki rasa persaudaraan antar sesama muslim. Maka, dengan kerendahan hati, marilah kita berikan do'a terbaik kepada saudara kita yang saat ini sedang dalam tekanan musuh-musuh Islam. 

Edisi Ramadhan: Benarkah Kopiah sebagai Simbol Nasionalisme?



Sobat semua tahu kopiah. Ihh itu lho yang biasanya berwarna hitam. Tingginya ya..sekitar 6-12 cm, yang biasanya sering digunakan dalam ibadah umat Islam. Yup itulah kopiah atau songkok yang kerap melekat di kepala umat Islam keturunan Melayu, termasuk Indonesia. 


Lumrahnya , kopiah sering kita lihat di pesantren-pesantren atau madrasah, bahkan untuk beberapa pesantren ada yang mewajibkan kopiah sebagai aksesoris wajib untuk dikenakan, baik saat belajar, shalat, maupun aktivitas sehari-hari. Lha sekarang kita kaji apa hubungan kopiah dengan simbol nasionalisme??

Sobat pernah melihat Presiden pertama Indonesia? Ya, Pak Soekarno. Dalam beberapa tugas kenegaraannya beliau hampir tidak lepas dari mengenakan kopiah. Berdasarkan penjelasan dari Abdul Mun'im (Ketua PP Lajnah Ta'lif wa An-Nasyr NU) bahwa di awal pergerakan nasional 1908, para aktivis masih memakai destar dan tutup kepala berupa blankon, yang lebih dekat pada tradisi priyayi dan aristokrat. Namun, seiring meluasnya gerakan "sama rata sama rasa" dan penolakan terhadap feodalisme, gaya berpakaian dan berbahasa yang dikembangkan Tjokoroaminoto, aktivis Sarekat Dagang Islam (SI) penggunaan kopiah makin meluas. Akhirnya, dalam keseharian Tjokroaminoto selalu memakai kopiah dan banyak muridnya yang akhirnya mengikuti menggunakan kopiah, termasuk Soekarno, yang dahulunya masih memakai blankon juga mulai ikut menggunakan kopiah.

Jadi kopiah ini juga melambangkan adanya persamaan derajad, sebagamana Islam juga mengajarkan tidak adanya stratifikasi duniawi. Segala aspek 'sendiko dawuh', antara budak dan tuan, antara penguasa dan rakyat berusaha dihilangkan dengan adanya kopiah yang kemudian menjadi simbol kewara'an atau kezuhudan seseorang. Semua sama di mata Allah, yang membedakan adalah tingkat ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Sejak saat itu kopiah yang semula hanya merupakan tradisi pesantren , telah diangkat menjadi identitas nasional. Tak hanya sebagai simbol islamisme, tetapi juga patriotisme dan nasionalisme yang membedakan penampilan mereka dengan para priyayi amtenar kolaborator Belanda.

(Referensi: Buku Khazanah Peradaban Islam, Penulis Tata Septayuda Purnama)

1 Jul 2014

Edisi Ramadhan: Mau Berdakwah Kok Nunggu Sempurna?



Alhamdulillah masih diberikan banyak kenikmatan oleh Allah. Baiklah dalam edisi 3 Ramadhan kali ini, kita akan mengkaji tentang problematika seseorang yang ingin berdakwah. Adakalanya kita dibenturkan pada permasalahan sudah pantaskah kita berdakwah?? Kita mulai dengan melihat Q.S Ali-Imran ayat 104:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Makna yang dimaksud dari ayat ini ialah hendaklah ada segolongan orang dari kalangan umat ini yang bertugas untuk mengemban urusan tersebut, sekalipun urusan tersebut memang diwajibkan pula atas setiap individu dari umat ini.

Sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda : “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya. Dan jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika masih tidak mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”


Di dalam riwayat lain disebutkan : “Dan tiadalah dibelakang itu (selain dari itu) iman barang seberat biji sawi pun.”


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Al-Hasyimi, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ja’far, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Amu Amr, dari jarullah ibnu Abdur Rahman Al-Asyhal, dari Hudzhaifah ibnu Yaman, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda :


“Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, atau hampir-hampir Allah akan mengirimkan kepada kalian siksa dari sisi-Nya, kemudian kalian benar-benar berdoa (meminta pertolongan kepada-Nya), tetapi doa kalian tidak diperkenankan.”

Nah dari penjelasan singkat ini sudah jelas menggambarkan bahwa Allah mewajibkan kita sebagai hamba-Nya untuk berdakwah. Namun pertanyaan kemudian muncul adalah apakah boleh kita berdakwah sedangkan kita masih belum sempurna?? Baiklah kita akan melihat bahwa derajat kesempurnaan itu sangatlah susah dan sebagaimana kita mengetahui bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Mungkin ada dua hal yang banyak dipermasalahkan terkait ketidaksempurnaan, yaitu ilmu dan sikap/sifat. Kita lihat hadits Rasulullah:

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Ketika kita menguasai bahkan hanya satu ayat maka sampaikanlah. Kita berdakwah sambil menuntut ilmu. Jadi alasan tidak memiliki ilmu hanyalah alasan yang dibuat-buat agar menghindar dari tugas berdakwah. 

Kedua adalah karena alasan sikap/sifat. Jika ditanya seperti ini, "Maukah engkau jadi pengisi kultum ramadhan atau mentor?" Ia menjawab, "Saya? Dengan masa lalu yang kelam dan penuh dengan tindakan kriminal anda menyuruh saya menjadi penceramah? Tidak. Carilah orang lain."  Jawaban ini menunjukkan bahwa dia ingin membenturkan dirinya pada masa lalunya yang negatif sehingga komitmen untuk berdakwah akhirnya luntur karena alasan yang dibuat-buat. Maka marilah kita melihat kisah sahabat Rasulullah, yaitu Umar bin Khattab. Betapa beliau dahulunya adalah penyembah berhala, penentang Islam, bahkan sudah mengambil pedang dan ingin membunuh Rasulullah, beliau tetap menempati posisi sahabat yang mulia. Dan bahkan beliau dipercaya menjadi pemimpin umat. 

Maka, marilah kita memulai diri untuk bisa menebar kebaikan, sehingga kita tergolong ke dalam hamba-Nya yang beruntung. Dan momentum bulan Ramadhan ini adalah saatnya kita belajar menjadi manusia yang bermanfaat kepada manusia yang lain dan menjadikan diri kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur. 

Edisi Ramadhan: Udah Imsak, Nggak Boleh Makan

 
 Bulan Ramadhan telah tiba, hiruk pikuk lantunan ayat suci dan dzikir mulai mewarnai kembali serambi-serambi masjid diseantero negeri. Bulan puasa penuh berkah menjadi momentum bagi umat muslim dunia untuk menguji nafsu yang sekian lama lalai untuk dijaga: nafsu makan berlebihan disaat yang lain kelaparan, nafsu mebelanjakan harta untuk sesuatu yang kurang bermanfaat sedang saudara kita yang lain sedang dalam kesulitan harta dan masih banyak lagi. Nah lo.
Bicara tentang puasa, Apa sih puasa itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, puasa didefinisikan sebagai salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari. Lazimnya seorang muslim muslim mulai menahan haus dan laparnya ketika Adzan Subuh sudah berkumandang. Namun dibeberapa kalangan masyarakat, ada yang secara tegas memperkenalkan  istilah “imsak” sebagai waktu untuk mulai berpuasa. Bener gak ya? Terus kalau sudah imsak baru bangun gimana? 
Allah berfirman: "Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187). Ibnu Katsir menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan penegasan waktu “fajar” sebagai batas akhir bagi seorang muslim untuk memulai puasanya. Hal ini sejalan dengan hadits riwayat Adi bin Hatim RA: Ketika turun firman Allah diatas, maka Adi bin Hatim berkata kepada Rasulullah Saw: Wahai Rasulullah, sungguh saya meletakkan benang berwarna putih dan benang berwarna hitam di bawah bantalku, sehingga aku dapat mengenali antara waktu malam dan waktu siang hari. Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya bantalmu itu sangat lebar. Sesungguhnya yang dimaksud adalah hitamnya (gelapnya) malam dan putihnya (terangnya) siang pada saat fajar. (Shahih Bukhari No. 1824) 
Tidak sampai disitu, dalam kitab Silsilah Ahadits Shahihah (Kumpulan hadis-hadis shahih), pada keterangan hadis No 1394, secara tegas disebutkan beberapa riwayat, dari Bilal bin Rabah radhiyallahu `anhu, beliau menceritakan,"Saya mendatangi Nabi shallallahu `alaihi wa sallam memberi tahu beliau untuk Salat Subuh. Ketika itu, beliau hendak puasa. Beliau minta dibawakan air dan beliau meminumnya. Kemudia beliau berikan sisanya kepadaku, dan akupun meminumnya. Kemudian beliau menuju masjid untuk salat." (Riwayat Ahmad). Jadi sudah tau sekarang, boleh makan ga? (Boleh banget)
Berarti imsak itu kebohongan? Terlepas dari definisi waktu imsak yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Pengumuman dan pencantuman waktu imsak diselebaran bukannya tanpa alasan dan tetap ada gunanya. Waktu imsak seringkali digunakan oleh takmir masjid sebagai peringatan segera berakhirnya waktu sahur dan dimulainya berpuasa, biasanya diumumkan 10-15menit sebelum masuk waktu subuh. Oleh karena itu, hukum makan dan minum setelah imsak masih diperbolehkan asal belum masuk waktu subuh ya (hihi). Yah, mungkin bahasa kerennya “pemanasan” atau “stretching”. Selain itu, kita harus bisa atur strategi. Kalau tidak ada kegiatan yang bermanfaat atau daripada begadang menunggu bola lewat lebih baik tidur diawal waktu biar tidak kesiangan dan kegiatan sahur bisa dijalani dengan lebih maksimal. Luruskan niat, jalani Ramadhan dengan penuh semangat (NS)


Dugderan: Romantisme Jelang Ramadhan

Salah satu pedagang gerabah yang ikut memeriahkan
dugderan. (Foto: Harsem/Cun Yahya, dari
http://hariansemarangbanget.blogspot.com/
2012/06/pedagang-dugderan-mulai-berdatangan.html)
Banyak orang berlalu lalang memenuhi Pasar Johar siang itu. Pasar tak hanya dipenuhi oleh ibu-ibu seperti hari-hari biasa. Hari itu, hari terakhir Bulan Sya’ban. Esok hari Ramadhan tiba. Semua keluarga berkumpul disana. Dugderan, mereka menyebutnya.

Seorang anak kecil berumur 10 tahun terhimpit banyak orang di gendongan ayahnya. Kedua tangannya ia kalungkan di leher ayahnya. Tepat di depannya perempuan berumur 30 an berjalan melawan kerumunan orang-orang mencarikan jalan untuk mereka.

”Dolanane Bu, dolanane.” Teriak salah satu pedagang. Setiap dugderan, pedagang-pedagang berjualan barang-barang terbuat dari tanah liat yang dicat berwarna-warni sehingga terlihat lebih menarik. Barang-barang dari tanah liat ini dibentuk menjadi piring, teko, gelas, dll dalam ukuran kecil. Oleh karena itu, biasanya orang-orang membeli barang-barang tersebut untuk anak-anak mereka sebagai sarana bermain. Satu keluarga tadi pun tergiur untuk mampir di tempat barang-barang unik tersebut.

Sebuah Tradisi Jelang Ramadhan
Dugderan telah menjadi tradisi menjelang Bulan Ramadhan di Kota Semarang. Kegiatan ini berpusat di Pasar Johar. Di hari dugderan, Pasar Johar sangat penuh oleh orang-orang. Selain untuk berbelanja, meraka juga berniat untuk menyambut meriah Bulan Ramadhan yang akan datang keesokan harinya. Tak heran jika dugderan menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Kota Semarang apabila bulan suci Ramadhan akan segera tiba.

Sebuah Romantisme
Arena pasar Dugderan seperti biasanya diramaikan arena permainan anak-anak seperti komedi putar, tong setan hingga hiburan pasar malam. Keramaian pasar rakyat ini akan berakhir pada puncak tradisi Dugderan satu hari menjelang 1 Ramadhan yang ditandai dengan arak-arakan dugderan yang dimulai dari halaman Kantor Walikota menuju Masjid Kauman Semarang


Tidak hanya sebagai sebuah tradisi, dugderan menjadi sebuah romantisme tersendiri. Saat dugderan, banyak anggota keluarga yang pergi ke Pasar Johar dengan membawa semua anggota keluarganya. Hampir sebagian besar masyarakat Kota Semarang pun berkumpul jadi satu pada hari itu. Tujuan mereka sama, meyambut datangnya bulan suci Ramadhan bersama orang-orang yang mereka cintai.

Begitulah Dugderan menghadirkan gegap gempita, bukan hanya dimaknai sebagai sebuah tradisi, tetapi menjadi kebahagiaan akan datangnya bulan yang mulia: Bulan suci Ramadhan. Selamat berlomba-lomba dalam kebaikan.

(Ditulis oleh Devi Setianingsih dalam Pelatihan Jurnalistik Internal Media Komunikasi dan Informasi BPPI, 24-25 Juni 2014. @devi_setia20)

29 Jun 2014

Edisi Ramadhan: Jadi Kangen Adzan Maghrib


Alhamdulillah akhirnya kita dipertemukan oleh Allah dengan bulan Ramadhan. Senang sekali rasanya menjalani hari-hari dimana Allah SWT membuka surga seluas-luasnya, menutup neraka serapat-rapatnya, dan membelenggu syetan sekuat-kuatnya. Kita juga menjalani hari-hari penuh berkah, ampunan, dan rahmat, serta keutamaan-keutamaan lain yang disuguhkan hanya di bulan Ramadhan.

Allah SWT telah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Firman Allah inilah yang menjadi dasar dari disyariatkannya perintah puasa bagi umat muslim. Dengan diwajibkannya puasa Ramadhan berserta  segala keutamaan yang ditawarkan Allah kepada manusia ini menjadi sebuah kenikmatan yang sangat dinanti kedatangannya. Seluruh umat muslim di dunia bahagia karenanya. Senyum pun terpancar jelas dari muka manisnya. Segala keutamaan yang diberikan Allah ini adalah kenikmatan yang patut kita syukuri. Berbahagialah bagi sesiapa yang mampu memanfaatkannya dan merugilah bagi sesiapa yang tidak dapat mengambil manfaat darinya.

Menjalankan puasa berarti meninggalkan makan dan minum dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Nha yang paling penting adalah bagaimana kita mampu menjaga hawa nafsu kita untuk tidak melanggar perintah itu. Sobat sekalian pasti butuh makan kan?? Kalau ga makan sehari aja pasti udah puyeng (hehe). Inilah yang Allah inginkan, yaitu ingin menguji kepada hamba-Nya bagaimana manusia itu mampu menghindari sesuatu yang dilakukannya sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok.

Lebih dari itu momentum Ramadhan ini adalah ajang bagi kita untuk menjaga diri dari perbuatan dosa dan sia-sia. Karena sedikit saja kita melakukan perbuatan yang sia-sia, maka akan mengurangi pahala puasa kita. Nah, selama sebulan ini kita dilatih untuk menghindari tingkah, laku, ataupun sikap kita yang negative kemudian berganti dengan amalan-amalan yang bisa jadi susah kita lakukan di bulan-bulan selain bulan Ramadhan.

Jadi kangen adzan maghrib??? Ehmmm, boleh kangen asalkan waktu selama menunggu buka puasa itu kita gunakan untuk perbuatan yang bermanfaat. Jangan ngabuburit yang kagak jelas, yang jalan-jalan lah, yang maen musik lah, dsb.. Tetapi waktu-waktu kita menunggu berbuka puasa itu kita gunakan dengan membaca Al-Qur’an atau ikut majelis ilmu. Wah ketika seperti itu kangen kita terhadap adzan maghrib sudah terbayarkan tuh. No ngeluh, no males. Semoga Ramadhan kali ini lebih indah.

25 Jun 2014

Salah Tafsir: Buka Puasa Dengan Makanan dan Minuman yang Manis Ternyata Tidak Baik Bagi Tubuh


Sebentar lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan. Bulan dimana amalan yang kita perbuat akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Dalam bulan puasa, hal yang paling dinanti adalah saat adzan maghrib. Dimana saat itu, umat muslim diwajibkan untuk membatalkan puasa dan menyegerakan berbuka. Sering kita dengar kalimat “Berbukalah dengan makanan atau minuman yang manis”. Konon, hal itu dicontohkan oleh Rasullullah SAW. Benarkah demikian? Mari kita kaji bersama-sama.
Dari Anas bin Malik berkata : “Rasullullah berbuka dengan rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat. Jika tidak ada rutab, maka beliau berbuka dengan kurma kering sambil meneguk air”. Ahmad dan Abu Dawud juga meriwayatkan dalam haditsnya : “ Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci”. Jadi Rasullullah bila berbuka, maka beliau makan kurma. Kalau tidak mendapatkan kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Pertanyaannya, samakah kurma dengan manisan? Tentu tidak. Kurma adalah karbohidrat kompleks. Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis adalah karbohidrat sederhana. Darimana asal-muasal sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas. Hal ini malah berkembang dalam masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis merupakan sunah Rasul. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang manis (penuh dengan gula) justru merusak kesehatan.
Berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang manis dapat merusak kesehatan, karena ketika berpuasa kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana dicontohkan oleh Rasullullah adalah karbohidrat kompleks bukan karbohidrat sederhana (gula). Karbohidrat kompleks untuk menjadi glikogen diperlukan proses, sehingga membutuhkan waktu. Sebaliknya, kalau mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis gula darah langsung melonjak naik. Hal ini tidak sehat bagi kesehatan tubuh.
Sekarang mari kita bicara mengenai indeks glikemik (GI). Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan yang diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glycemic index dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respon insulin. Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi. Sebisa mungkin mereka akan mengkonsumsi makanan yang indeks glikemiknya rendah. Hal ini, karena makin tinggi respon insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Timbunan lemak inilah yang sebisa mungkin mereka hindari.
Dalam puasa kita harus mampu menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 15 jam. Otomatis perut kita kosong. Jadi kalau seharian perut kosong dan langsung dibanjiri dengan gula (makanan yang mengandung indeks glikemik tinggi), maka respon insulin dalam tubuh melonjak. Dengan demikian, tubuh akan makin cepat menimbun lemak.
Salah seorang sufi menganjurkan apabila berbuka puasa jangan langsung makan dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat maghrib. Setelah sholat, makan nasi seperti biasa. Jangan sering makan yang manis-manis, karena dapat merusak badan dan menimbulkan penyakit. Beliau juga menyarankan agar tidak terlalu sering makan kurma, karena kurma di Indonesia berupa manisan kurma dan bukan kurma asli. Manisan kurma, kandungan gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya. Beliau juga menyarankan untuk makan nasi bila berbuka. Karena, nasi merupakan karbohidrat kompleks dan memerlukan waktu untuk diproses dalam tubuh. Sehingga respon insulin dalam tubuh tidak langsung melonjak. Karena respon insulin rendah, maka timbunan lemak yang terdapat dalam tubuh juga sedikit.
Banyak sekali orang yang makan dan minum yang manis-manis saat berbuka puasa, justru tubuhnya semakin gemuk karena ada timbunan lemak di daerah perut, pinggang, paha, belakang lengan, pipi dan sebagainya. Hal ini karena mereka langsung membanjiri tubuh dengan makanan yang mengandung indeks glikemik tinggi, sehingga tubuh menimbun lemak.
Kesimpulan saya, “Berbukalah Dengan yang Manis-Manis” merupakan paham yang kurang tepat dan terlalu tergesa-gesa. Karena berbuka puasa dengan kurma merupakan sunah Rasul, maka muncul anggapan bahwa disunahkan berbuka puasa dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kalimat ini menjadi suatu paham dan memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru ditengah masyarakat. Jadi saran saya, jangan mudah terpengaruh oleh paham yang begitu melekat di masyarakat. Periksa dulu kebenarannya. (AY)

Semoga bermanfaat.