OPEN RECRUITMENT BPPI FEB UNS 2017

Ayo ikut bersama Kami. Menjadi Mahasiswa Muslim yang Proaktif dan Inspiratif. BPPI 2017

RAMADHAN 1438 H

Ramadhan Awesome! Raih Ramadhan dengan Penuh Berkah, Mencari Taqwa. Ramadhan di Kampus.Coming Soon!!

One Step 2017

Jalan-Jalan, Penuh Pembelajaran, Home Stay, Games, Fun, Keakraban dan Islami. Coming Soon yak!

Ukhuwah Islamiyah

Karena ikatan ukhuwah begitu berharga.

Islam pasti akan menang!

Jangan bertanya,"Kapan Islam kembali berjaya?", karena cepat atau lambat Islam pasti menang. Tapi bertanyalah,"Apa peranmu dalam menyongsong kemenangannya?"

29 Nov 2014

PARADIGMA EMANSIPASI MUSLIMAH SESUAI HAKIKAT ISLAM



“Wanita adalah tiang negara, jika mereka baik, maka baiklah negara itu dan jika mereka buruk (rusak moralnya) maka buruklah negara itu”

Paradigma Urgensi Peran Muslimah
            Islam memiliki bahasan utama sekaligus prinsip pokok yaitu mengenai persamaan antara manusia, baik antara lelaki dan perempuan maupun antar bangsa, suku dan keturunan. Perbedaan yang digarisbawahi dan yang kemudian meninggikan atau merendahkan seseorang hanyalah nilai pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah swt.
“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, sesungguhnya yang termulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa (Q.S. 49: 13).
Ajaran Islam pada hakikatnya memberikan perhatian yang sangat besar serta kedudukan terhormat wanita. Maka dalam hal ini tentu saja peran dan partisipasi wanita khususnya muslimah sangat berkaitan secara vital bagi perkembangan peradaban suatu negara. Tak dapat dipungkiri bahwa muslimah merupakan madrasah bagi putra-putranya kelak dimana mereka akan dititahkan untuk menjadi cikal bakal suatu bangsa.
Namun, seiring pergeseran zaman dan pergantian peradaban maka pemikiran umat manusia pun mulai ikut berubah. Di antaranya terkait dengan tema utama yang berkaitan dengan muslimah yaitu mengenai emansipasi. Kata “emansipasi” populer dimaknai sebagai  suatu usaha untuk menuntut persamaan hak-hak kaum wanita terhadap hak-hak kaum pria di segala bidang kehidupan.
Emansipasi mengalami perkembangan sudut pandangnya. Dalam hal ini, menurut Islam emansipasi dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang wajar dan harus terjadi, karena berkembangnya budaya dan pola kehidupan di alam semesta ini. Khusus berkenaan dengan negara-negara Islam ini, kaum feminisme menganggap bahwa Islam dan negara-negara tersebut telah membelenggu hak-hak kaum wanitanya. Berikut ini adalah alasan-alasan yang dikemukakan oleh Women’s Lib sebagai dasar tuntutannya sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Ahmad Dahri (1992):
1. Masalah hakikat wanita. Bahwa perbedaan antara laki-laki dan wanita secara biologis telah dibesar-besarkan untuk menindas kaum wanita dan mereka menuntut untuk diadakan penyelidikan secara ilmiah sampai ditemukannya perbedaan laki-laki dan perempuan secara ilmiah.
2. Masalah seksualitas. Bahwa kaum wanita mempunyai kebutuhan seksual sendiri yang dapat dipenuhi tanpa kehadiran laki-laki. Mereka mengharapkan bahwa hubungan seksual tidak dipergunakan oleh laki-laki untuk mendominasi wanita.
3. Masalah keluarga. Bahwa kepentingan keluarga tidak harus didahulukan dari kepentingan-kepentingan kehendak individualnya.
4. Masalah anak-anak. Bahwa para suami berkewajiban secara bergiliran mengasuh anak (ikut berperan ganda). Iklim yang harus diciptakan adalah model kemanusiaan untuk berkompetisi.
5. Masalah pekerjaan. Bahwa pekerjaan harus tersedia untuk pria dan wanita sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka ingin menghapus pendapat bahwa wanita bekerja hanya sebagai sekretaris, pramugari, asisten peneliti dan pekerjaan lain yang menempatkan wanita hanya sebagai faktor substitusi saja.
     Tentu saja dalam hal di atas, emansipasi yang kita harapkan bukan pada posisi setara dalam hal menuntut hak dan kewajibannya melainkan adil yakni sesuai porsi yang seimbang dalam memegang peranan penting fungsi dirinya. Hal inilah yang sebenarnya perlu diluruskan agar tidak terjadi penyimpangan persepsi tentang makna emansipasi itu sendiri yang berkaitan dengan ajaran Islam.
Dalam hal ini, kontribusi muslimah di dalam gerakan dakwah menjadi sesuatu yang tidak dapat dinafikan lagi khususnya untuk membangun peradaban yang humanis. Contoh ini telah dibuktikan oleh para muslimah terdahulu seperti Khadijah binti Khuwailid sebagai perempuan pertama yang menyambut seruan Iman dan Islam, Aisyah binti Abu Bakar sebagai salah satu gudang ilmu, Ummu Ammarah Nusaibah binti Ka’ab yang mati-matian di medan Uhud dan beberapa kali terlibat dalam peperangan khususnya bagian logistik dan medis , Sumaiyah binti khubath, orang pertama yang mendapat gelar syahidah seorang budak perempuan dari Mekkah yang dinikahi oleh seorang Yasir bin Amir bin Malik. Sumayyah menjadi syahidah ketika ia menentang umpatan dan sumpah serapah Abu Jahal yang mengolok-olok Rasulullah saw, sejarah diatas adalah bukti konkret bahwa peran muslimah memiliki cakupan jauh lebih luas dari hanya sekadar beroperasi di dalam rumahnya.
Namun legalitas tersebut bukan sebagai dalih atas ideologi baru seputar dunia wanita, jika kita mereview kembali muslimah pada era kekinian, banyak dari mereka yang terpengaruh oleh corak globalisasi yang tidak terfilter dengan baik, corak ini terlihat dari munculnya ide-ide emansipasi dan feminisme negatif yang demikian santer di dunia bagian barat, erat kaitannya dengan Women Liberation movement (gerakan pembebasan wanita).
Al-Quran mengakui watak obyektif dan universalitas keadilan yang disamakan dengan perbuatan-perbuatan baik (kebajikan-kebajikan moral), yang mengatasi masyarakat-masyrakat agama yang berlainan dan memperingatkan umat manusia untuk “tampil dengan perbuatan-perbuatan baik”:
Al Qur’an surat Al Maidah ayat 48 menjelaskan,“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu (umat religius) Kami berikan aturan dan jalan (tingkah laku). Apabila Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (berdasarkan pada aturan dan jalan itu), tetapi, (ia tidak melakukan demikian). Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Oleh karena itu, berlomba-lombalah (yaitu, bersaing satu sama lain) dalam berbuat baik. Karena Allah-lah kamu semua akan kembali, lalu Ia akan memberitahukan kepadamu (kebenaran) mengenai apa yang kamu perselisihkan itu.”
Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa keadilan yang dimaksud disini adalah sesuai porsinya. Dalam hal ini, keadilan yang diimplementasikan sesuai dengan keadaan dan kondisi yang teratur akan mempengaruhi keharmonisan dalam kehidupan yang akan berdampak positif bagi peradaban. Oleh karena itu, pelaksanaan prinsip dan wujud nyata keadilan sangat perlu untuk diterapkan secara nyata agar dapat meningkatkan kesuksesan dalam pembangunan peradaban yang harmonis. 
Keadilan yang dibahas di atas juga berkaitan dengan peran serta muslimah melalui perspektif Islam yang menganjurkan posisi yang sesuai dan tepat bukan setara atau dalam hal ini sama dengan laki-laki. Adanya kesadaran bagi seluruh pihak khususnya muslimah dalam menciptakan pola pikir yang tepat dalam memahami hakikat emansipasi itu sendiri harus diluruskan sesuai ajaran Islam. Karena itu, seharusnya pemahaman dan pemikiran porsi  dan prinsip keadilan harus dtekankan dibandingkan kesetaraan.(Siti Ramdhani/KP/14)

9 Nov 2014

Dunia Adalah Setitik Air di Lautan

Dimana kita tinggal sekarang? Dimana kita bisa menghirup udara segar? Dimana kita mampu bersua dengan orang yang kita kasihi? Jawabannya adalah di dunia. Di dunia inilah kita tinggal, kita bisa menghirup udara segar, bernafas bebas dan berjumpa dengan orang-orang yang kita sayangi. 
Indahnya dunia mampu menggoda siapa saja. Dunia dengan rayuannya mencoba menarik manusia untuk terjun dan menikmati sepuasnya. Gemerlapnya dunia sangat sayang untuk dilewatkan, sangat sayang jika dibiarkan. Mungkin kita tak asing lagi dengan ungkapan, “Hidup hanya sekali, mari kita happy”. Memang benar hidup di dunia hanya sekali dan memang kita harus happy agar kita menjalani hidup dengan semangat tinggi. Tapi dunia hanya sementara, tentu happy yang dirasa tidak bertahan lama.
“Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukan jarinya ke dalam lautan luas maka perhatikanlah yang tersisa." (HR. Muslim). Inilah dunia. Dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Dunia ini fana, akhirat abadi selamanya. Manusia layaknya musafir yang berjalan beribu bahkan berjuta kilometer untuk mencapai suatu tujuan, yakni Allah.
Di dunialah para musafir ini singgah sejenak untuk minum, melepas dahaga yang kemudian kembali melanjutkan perjalanan . Tak sedikit yang lengah, terlena dengan kenikmatan meneguk segarnya air ‘dunia’. Mereka lupa akan tujuan awal, mereka lebih memilih untuk tinggal. Para musafir yang beriman berbeda dengan musafir yang tidak beriman. “Dunia ini adalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan surga bagi orang-orang kafir” (HR.Muslim). Orang yang beriman ingin segera keluar dari penjara. Mereka tidak betah harus tinggal dalam penjara megah ini. Karena mereka tahu setelah keluar dari penjara dunia, surga siap menyapa. Sedangkan orang yang tidak beriman, tidak ingin meninggalkan dunia. Ini surga mereka. Betapa bahagianya mereka, seakan-akan mereka benar-benar tinggal di surga. Mereka tidak tahu bahwa surga mereka inilah yang menjadi cikal bakal api neraka.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Kita masih hidup di dunia. Apakah dunia tidak penting?

“Kalau begitu kita tidak perlu berusaha keras di dunia, toh nanti kita tinggal juga”.

Bukan seperti itu. Justru kita harus menaklukkan dan memperbudak dunia. Jadikan dunia sebagai ladang akhirat. Jadikan dunia sebagai investasi akhirat. Ingin kaya? Boleh, Islam tidak melarang. Mendapat status sosial yang tinggi? Boleh juga. Belajar hingga jenjang yang lebih tinggi demi ilmu dan gelar akademis? Silakan.
Islam tidak membatasi. Yang perlu diperhatikan di sini adalah jangan sampai kita lupa diri dan melupakan Allah. Kita boleh saja punya banyak harta, tapi jangan sampai kita enggan menginfakkan harta untuk kemajuan Islam dan umatnya. Kita boleh menjadi manusia terpintar sekalipun, tapi jangan sampai ilmu yang kita miliki membuat kita lupa untuk mengamalkan demi kejayaan Islam dan umatnya.
Niatkan semua karena Allah. Lakukan semuanya dengan cara yang benar, bukan dengan cara sikut sana sikut sini, dorong sana dorong sini. Sekali lagi, Islam tidak melarang kita untuk menikmati dunia tapi jangan sampai kita gelap mata dan terus mengejarnya. Akhirat tujuan kita, dunia sebagai sarananya. Semoga Allah ridhai kita.

(Nadifa | Magang Medkominfo BPPI 2014 | Disari dari Kajian FE 30 Oktober 2014)

7 Nov 2014

MUSLIMAH DAY 2014


Muslimah Day merupakan program kegiatan dari bidang kemuslimahan yang diadakan dalam rangka mengapresiasi muslimah khususnya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebagai salah satu unsur penting masyarakat kampus demi mewujudkan kemuliaan Islam. Pada tahun ini, Muslimah Day diisi  berbagai lomba inspiratif yang diwakili beberapa potensi minat bakat dengan mengusung tema "Mengambil Hikmah dari Muslimah Penginspirasi". Kegiatan seperti ini diharapkan mampu mengangkat kembali eksistensi muslimah sebagai kontributor pembangun peradaban Islam, yang disadari baik secara langsung atau tidak dalam beberapa tahun terakhir mulai meredup diiringi dengan banyaknya pemberitaan kurang baik tentang wanita muslim. Berikut syarat dan ketentuannya.

LOMBA INSPIRATIF
Ketentuan umum
* Peserta adalah mahasiswi aktif muslim FEB UNS
* Karya belum pernah diikutsertakan dalam lomba atau kompetisi apapun
* Setiap peserta berhak mengikuti maksimal 2 lomba
* Pendaftaran dan pengumpulan karya 7-21 November 2014 pukul 17.00
* Hasil karya dikirim ke malafalintina@gmail.com dengan melampirkan cv (lihat format)
* Biaya pendaftaran Rp 5,000 untuk masing-masing jenis lomba
Pemenang lomba akan diumumkan dalam kegiatan Sekolah Muslimah 26 November 2014

1. MENULIS CERPEN, dengan tema "Muslimah Penginspirasi"
Syarat dan ketentuan
* Karya diketik rapi 4-6 halaman, jenis font Calibri ukuran 12 pt, kertas A4, margin 3-3-3-3, Justify, Spasi 1,5
* Diperbolehkan melampirkan ilustrasi dalam konten cerpen
* Format pendaftaran: (CERPEN_MD_Nama_NomorHP) ke 0856-4574-4625
* Hadiah Juara 1: Piagam + Rp 150,000
               Juara 2: Piagam + Rp 75,000
               Juara 3: Piagam + Bingkisan

2. MENULIS ARTIKEL, dengan tema "Muslimah sebagai Kontributor Pembangun Peradaban"
Syarat dan ketentuan
* Karya diketik rapi 3-5 halaman, jenis font Calibri ukuran 12 pt, kertas A4, margin 3-3-3-3, Justify, Spasi 1,5
* Format pendaftaran: (ARTIKEL_MD_Nama_NomorHP) ke 0856-4574-4625
* Hadiah Juara 1: Piagam + Rp 150,000
               Juara 2: Piagam + Rp 75,000
               Juara 3: Piagam + Bingkisan

3. FOTOGRAFI, dengan tema "A Real Muslimah, Inside and Outside"
Syarat dan ketentuan
* Tidak diperkenankan mengirimkan foto berupa kombinasi lebih dari satu foto dan
   menghilangkan/mengubah elemen dalam satu foto
* File foto yang dikirim berukuran maksimum 800kb/foto
* Format pendaftaran: (FOTO_MD_Nama_NomorHP) ke 0856-4574-4625
* Hadiah Juara 1: Piagam + Rp 100,000
               Juara 2: Piagam + Rp 50,000
               Juara 3: Piagam + Bingkisan



Selamat berkompetisi, Muslimah Ekonomi :)

-Bidang Kemuslimahan BPPI 2014-

1 Nov 2014

1 Muharram: Refleksi Sebuah Kejayaan

Bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selalu seperti itu roda perputaran waktu di alam semesta ini. Perubahan hanya menjadi lorong waktu yang tiada nilai yang di dapatkan. Perubahan hanya sebatas fenomena yang menghilang begitu saja. Padahal waktu demi waktu adalah momentum luar biasa yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya untuk melakukan sesuatu yang berharga. Bahkan satu hari adalah kenikmatan yang patut untuk kita syukuri.

Rasulullah bersabda:
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”
Ibnul Jauzi mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Jika kita melihat masa-masa kejayaan Islam, sungguh waktu itu menunjukkan periodisasi kejayaan demi kejayaan umat Islam ketika itu. Begitupun dengan momentum 1 Muharram. Muharram (محرّÙ…) adalah bulan pertama tahun penanggalan Islam, Hijriyah. Ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar ibnu al-Khattab atas saran dari menantu suci Rasulullah SAWW, yakni Imam Ali bin Abi Thalib karamalLahu wajhahu. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, pernah beliau mengutarakan gagasannya mengenai perlunya menetapkan kalender Isalam yang akan dipakai sebagai penenggalan dalam urusan administrasi masa kekhalifahannya,dan sebagai kebutuhan kaum muslimin, pada masa itu penanggalan yang dipakai kaum Muslimin berbeda-beda, ada yang memakai tahun gajah, dimana pada tahun itu terjadi penyerangan dari balatentara Abrahah dari negeri Yanan untuk menyerang Ka’bah, yang kemudian niatnya digagalkan Allah Yang Maha Esa. Dan di tahun itu pula lahirnya nabi Muhammad saw dan ada pula yang pemakaian tanggal didasarkan kepada hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. 

Untuk menetapkan kalender Islam ini, dicari momertum yang sangat tepat untuk dijadikan patokan sebagai awal permulaan Tahun Baru Islam. Maka Khalifah Umar ini mengadakan musyawarah yang dihadiri oleh pemuka-pemuka agama, dan pembesar-pembesar muslim. Di dalam pertemuan itu ada beberapa momentum penting yang diusulkan sebagai dasar penetapan pada tahun baru islam, dan momentum-momentum itu antara lain:
1. Dihitung dari hari kelahiran Nabi Muhammad
2. Dihitung dari wafatnya Rasulallah saw.
3. Dititung dari hari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira yang merupakan awal tugas kenabiannya.
4. Dimulai dari tanggal dan bulan Rasulullah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah.

Momentum 1 Muharram ini menjadi momentum besar perjuangan untuk meluaskan nilai-nilai Islam seantero Arab dan sekitarnya. Di dalam kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab ini menjadi tonggak sejarah berdirinya sebuah khilafah Islamiyah yang wilayahnya sudah sangat luas. Artinya adalah momentum 1 Muharram ini adalah tanda sebuah perubahan besar menuju kejayaan Islam.

Maka dengan bergantinya tahun, dari 1435 H menjadi 1436 H, kiranya kita menyadari bahwa waktu adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Bisa jadi Allah mencabut nyawa kita sebelum kita melakukan amalan sholih. Naudzubillah. Maka pergunakan waktu itu untuk sepenuhnya mencari ridho Allah dan senantiasa kita menteladani kisah-kisah para sahabat, tabi'in dan tabiut tabi'in, serta para ulama yang telah menggoreskan tinta emas kejayaan.


23 Okt 2014

Mewujudkan Pemimpin Harapan Rakyat

Harapan Rakyat

Tanggal 20 Oktober 2014, merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari itu merupakan hari pembaharuan, dimana negara ini akan memiliki pemimpin baru. Benar, pemerintahan SBY yang telah berkuasa selama hampir satu dekade akan digantikan oleh Jokowi-JK yang memenangkan pilpres pada tahun ini.
Ada anggapan bahwa pasangan Jokowi-JK merupakan pasangan presiden dan wakil presiden harapan rakyat dan mendapat dukungan besar dari rakyat Indonesia. Harapan besar, digantungkan kepada Jokowi agar bisa membawa masa depan baru untuk negeri ini. Besarnya harapan rakyat menunjukkan bahwa kondisi negara ini masih jauh dari harapan mereka. Karena itu, rakyat menginginkan perubahan dan berharap perubahan tersebut dapat terwujud dengan hadirnya pemimpin baru.
Di bidang politik, rakyat memimpikan bahwa negeri ini akan dihiasi dengan perilaku politik Parpol dan politisi yang benar-benar memperjuangkan nasib rakyat demi kemaslahatan masyarakat Indonesia.
Di bidang pemerintahan, rakyat memimpikan aparat yang berjiwa melayani dapat diwujudkan. Korupsi dan pungli bisa diberantas hingga tuntas. Kepala daerah yang selama ini bertingkah bagaikan seorang raja bisa berubah menjadi pemimpin yang bijaksana, mengayomi, dan peduli terhadap rakyatnya. Mereka tidak lagi sibuk menjual dan menggadaikan potensi daerah hanya demi mengisi kantong mereka sendiri dan pihak yang memodali mereka menjadi pemimpin. Mimpi lainnya, sistem birokrasi dan pelayanan yang berbelit dan menyulitkan dapat dibenahi menjadi pelayanan yang mudah, cepat dan berkualitas.
Di bidang ekonomi, Jokowi-JK diharapkan dapat mengembalikan sistem perekonomian Indonesia sesuai dengan dasar konstitusi, yakni ekonomi yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Diimpikan pula, bahwa negeri ini kelak dapat berdiri diatas kaki sendiri (berdikari) dalam artian mampu mengolah kekayaan alamnya sendiri untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Pemenuhan kebutuhan pokok rakyat (sandang, pangan, papan serta jaminan pelayanan kesehatan, pendidikan dan rasa aman) dapat diwujudkan.
Di bidang sosial, melalui revolusi mental yang dijanjikan pada saat kampanye, akan mampu direalisasikan dalam bentuk generasi yang berbudi pekerti luhur, kerusakan moral yang terus terjadi dapat dihentikan, kekerasan anak seperti yang terjadi di Bukit Tinggi akan berhenti, pelajar akan tekun belajar dan tidak lagi terlibat tawuran, geng motor dan aneka bentuk kenakalan yang lain.
Masih banyak mimpi lain yang diharapkan bisa menjadi kenyataan dengan hadirnya presiden dan wakil presiden baru.
Tentu saja untuk bisa merealisasikan mimpi rakyat Indonesia tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jokowi-JK juga membutuhkan proses agar mampu merealisasikannya. Tidak hanya pemerintah yang bekerja, tetapi rakyat Indonesia juga harus berperan didalamnya. Mustahil, jika usaha pemerintah untuk mewujudkan mimpi tersebut tanpa dibarengi dengan peran dari masyarakatnya. Seperti kata pepatah “ Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing “. Keinginan sebesar apapun jika dilakukan secara bersama-sama akan terasa ringan.

Hanya dengan Sistem Islam

Semua harapan dan mimpi rakyat Indonesia hanya bisa terwujud melalui sistem Islam, yakni melalui penerapan syariah Islam secara total. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 24 :
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu[605], ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya[606] dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Apa yang diserukan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya adalah Islam dan syariahnya. Allah telah menjamin bahwa Islam dengan syariahnya akan mampu memberikan kehidupan. Semua harapan dan mimpi rakyat Indonesia merupakan “kehidupan” yang hanya bisa diwujudkan oleh ajaran Islam ketika diterapkan secara total.

Dalam aspek non-fisik, penerapan Islam dan syariahnya itu akan mendatangkan kehidupan yang dihiasi dengan ketentraman, kebaikan dan kebahagiaan. Pasalnya, penerapan Islam dan syariahnya oleh penduduk di suatu negeri merupakan perwujudan nyata dari keimanan dan ketakwaan penduduk tersebut. Dengan itu, niscaya keberkahan Allah akan turun.
Oleh karena itu, jika memang memimpikan kehidupan yang baik dan diliputi oleh kemakmuran, ketentraman, kebahagiaan dan keberkahan maka hendaknya kita segera mewujudkan penerapan Islam dan syariahnya secara total di tengah kehidupan kita.

Sekian dan semoga bermanfaat.


20 Okt 2014

Sarasehan FEB: BPPI, KEI, dan Biro AAI FEB UNS


Surakarta, Medkom BPPI FEB UNS (20/10) - Lembaga Dakwah Kampus BPPI FEB UNS, beserta Kajian Ekonomi Islam (KEI) FEB UNS dan Biro Asistensi Agama Islam (Biro AAI) FEB UNS mengadakan "Sarasehan FEB: BPPI, KEI, Biro AAI". Acara ini dilaksanakan di Ruang Sidang 2 FEB
UNS, dimulai pada pukul 16.00 WIB. Sarasehan FEB bertujuan untuk mempererat lagi ukhuwah antar lembaga dakwah yang ada di dalam FEB UNS.

"Pada dasarnya kita ini satu akar, semoga dari sarasehan ini kita dapat lebih erat lagi ukhuwahnya dan menyatukan tujuan kita", ujar Ade Syahputra, Kabid (Kepala Bidang) Humas BPPI 2014.

Acara di buka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ahmad Agus Nugroho, Kabid Kestari (Kesekretariatan) BPPI FEB UNS.

Acara dari tiga lembaga yang berlandaskan Islam ini merupakan acara yang pertama kali diadakan. "Harapannya kita semua dapat memberi solusi ke depannya, mengevaluasi permasalahan-permasalahan yang ada dan bergerak bersama-sama, agar kita semua memiliki pandangan yang sama", demikian yang disampaikan Luthfi Aditya Mas'ud untuk membuka diskusi.

Deni Eko, dari Biro AAi FEB UNS membuka diskusi sarasehan ini. Menurutnya, sebagai organisasi Islam perlu untuk menyamakan persepsi. "Kita bareng-bareng bersinergi agar dapat membangun FEB lebih baik".

Hafid Tamimi, Ketua Umum BPPI FEB UNS 2014, memaparkan bahwa organisasi kita meskipun terlihat berbeda-beda, tetapi memiliki satu 'topeng' yang sama yaitu Islam.

"Kita berada di Fakultas Ekonomi berusaha bersinergi untuk mencerdaskan ekonom yang sholih, dan mensholihkan ekonom yang cerdas". Menurutnya, tiga organisasi ini berada di atas jalan yang sama, sedang membangun jalan yang sama, dan memiliki tujuan yang sama.

"Bahkan kita berasal dari rahim yang sama, yaitu dakwah", lanjut mahasiswa dari jurusan Akuntansi ini. "Ingatlah kita adalah saudara".

Presiden KEI, Fahmi Setyadi, berpendapat bahwa kita memang masih berada di jalan yang sama. "KEI bergerak di ranah dakwah, ukhuwah, dan ilmiah. Di sini kami bermaksud untuk menyampaikan ekonomi Islam agar dapat dilogikakan masyarakat umum".

Menurutnya, ada karakter dalam KEI yang dibangun. Yaitu karakter kokoh dan mandiri. "Kokoh berarti memiliki kekuatan, kematangan, dan kedewasaan secara ruhiyah. Mandiri artinya mampu mengembangkan diri", demikian penjelasan dipaparkan.

"Fanatisme kita terhadap golongan haruslah dihapus. Kita harus tetap satu bingkai dalam Islam. Biro AAI bukan Islam, BPPI bukanlah Islam, KEI bukanlah Islam", lanjutnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan membentuk forum diskusi untuk saling bebagi capaian-capaian organisasi. Diskusi ini juga untuk mencari solusi apa yang dapat diaplikasikan, guna memecahkan masalah dakwah di FEB UNS. (aryo)

BINCANG-BINCANG MUSLIMAH : HIJAB COVERS MY HEAD NOT MY MIND

Pada tanggal 16 September 2014 yang lalu Badan Pengkajian dan Pengamalan Islam (BPPI) FEB UNS mengadakan sebuah acara khusus untuk para muslimah yaitu Bincang-Bincang Muslimah dengan mengangkat tema ”Hijab Covers My Head Not My Mind”. Untuk mendapatkan output acara yang diharapkan, panitia bekerja keras untuk mendapatkan pembicara yang sesuai dengan tema acara yaitu Umi Pipik dan Yulia Rachman.
Bincang Bincang Muslimah kali ini merupakan rangkaian acara dari IHSD (International Hijab Solidarity Day). Dan pada kesempatan tersebut, kedua pembicara sama-sama menekankan bahwa muslimah hendaklah mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka sebagaimana tercantum dalam Q.S Al Ahzab : 59 ”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin : Hendaklaah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dalam acara ini, Yulia Rachman juga memberikan nasihat bahwa jilbab tidak akan membatasi kita untuk berkarya. Hijab justru membantu mengantarkan kita berkarya untuk hal-hal yang baik. Sementara Umi Pipik sendiri menekankan bahwa dengan hijab kita dituntut untuk berusaha lebih baik tanpa meresa kita telah menjadi yang terbaik. Dengan hijab diharapkan kita juga menjadi muslimah yang pintar merasa, bukan merasa pintar.

Begitu indahnya Islam menjaga kehormatan para muslimah. Dan ketahuilah hai muslimah, hijabmu bukanlah penghalang dan pembatas bagimu, dia adalah sahabat yang akan mengantarmu berkarya untuk hal-hal yang lebih baik jika kamu mau berusaha.

17 Okt 2014

Betapa Payah Flu ini!

Ini adalah kisah tentang ke-ikhlasan seseorang dalam beramal. Penyakit riya' atau sombong yang seringkali menghinggapi kita dalam beribadah, ibarat penyakit flu yang senantiasa datang dan pergi. Parahnya, kadang kita justru menginginkan amalan kita diketahui oleh orang lain. Patutnya kita menengok kisah-kisah luar biasa tentang arti sebuah keikhlasan.

Para Salafus saleh selalu berusaha menyembunyikan amal ibadah mereka dan memiliki kepekaan yang tinggi untuk menjadikan seluruh ibadahnya ikhlas karena Allah. Tak heran kalau mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menyembunyikannya. Lihatlah kepada salah seorang dari mereka, Ayyub bin Kaisan As-Sakhtiyani. Kadang kala ketika berbicara tentang suatu hadits, hatinya bergetar, lalu ia menoleh dan berpura-pura mengeluarkan ingus dari hidungnya dan berkata, "betapa payah flu ini!"

Hasan Al-Bashri mensifati generasi tabi'in ini, "Apabila seseorang duduk di majelis dan air matanya akan keluar, ia berusaha menahannya, dan apabila khawatir tak mampu menahan, ia berdiri keluar dari majelis tersebut."

Kisah ini merupakan pelajaran berharga bagi kita, manusia. Makhluk yang dekat dengan dosa. Semoga kita bisa menjadi generasi yang mengikuti sunnah Rasulullah dan perilaku dan sifat para generasi terbaik umat Islam.

Referensi: Tarbiyah Ruhiyah ala Tabi'in oleh Asyraf Hasan Thabal


Know Your Culture In Our Ways: Wisata Hati 2014

Selo Boyolali - Dinginnya udara begitu terasa setelah memasuki kawasan pegunungan nan elok itu. Indahnya pagi itu memberikan kesejukan hati dan fikiran. Beban seolah sirna seketika melihat pemandangan yang luar biasa. Tidak terasa, jalan yang berkelok dengan aspal yang terjal sudah terlewati begitu saja. Suguhan pagi ini membuat hati seakan berkata betapa agung ciptaan Allah SWT. Masyaa Allah.

Itulah kesan pertama seketika melihat keagungan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Dua gunung besar yang merepresentasikan betapa agung ciptaan Allah SWT. Hari inilah saatnya kami menyambut mahasiswa baru dalam nuansa ukhuwwah Islamiyah. Di tengah dinginnya cuaca ini, diri ini telah mengazzamkan tekad untuk menyambut momentum besar, yaitu Wisata Hati. 

Wisata Hati edisi 2014 mengusung tema besar "Know Your Culture In Our Ways". Dengan mengangkat tema ini, wisata hati diharapkan mampu mengembalikan ingatan mahasiswa akan kejayaan Islam masa lampau dan bagaimana kemudian peran mahasiswa muslim saat ini ditengah permasalahan umat yang semakin menghimpit. Selain itu wisata hati juga berusaha mengenalkan keagungan Islam dan mencoba membuat mahasiswa muslim bangga dengan ke-Islamannya.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari yang dikemas dalam beberapa acara menarik. Mulai dari materi "The Amazing of Islam" yang dibawakan oleh Akh. Zulfikar Ali Ahmad S.E, kemudian game "Mafia-Mafia Selo", kemudian dilanjutkan dengan materi diskusi tentang permasalahan umat dan peran strategis umat Islam oleh Akh. Ery Kurnia dan ditutup dengan Outbong Ceria dan materi terakhir tentang ke-LDK-an dan ke-BPPI-an oleh Ketua Umum BPPI 2014, Akh. Hafid Tamimi.

Acara berlangsung dengan lancar dan sampai di Solo dengan lancar pula. Semoga momentum ini menjadi pintu awal kejayaan Islam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS.




10 Okt 2014

Rongga Hati dan Dimensi Keimanan: Berpadu dalam Mencapai Kemuliaan

Surakarta - Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS bekerjasama dengan Badan Pengkajian Pengamalan Islam mengadakan acara Kajian Civitas Akademika FEB UNS dengan mengangkat tema Usaha Pribadi Manusia yang disampaikan oleh Ustadz Supriyadi Wibowo dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS (10/10). Kajian ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh pihak Fakultas dengan tujuan untuk menyambung tali silaturrahim antara dosen dan karyawan, juga mahasiswa yang dikemas dalam acara yang bermanfaat, yaitu kajian Ke-Islaman. 

"Manusia memiliki tiga rongga, yaitu rongga perut, rongga kepala, dan rongga hati." Ucap Ustadz Supriyadi. Rongga perut sangat berpengaruh kepada kekuatan manusia, misalnya kerbau yang notabene pemakan tumbuh-tumbuhan memiliki kekuatan tertentu dan harimau sebagai hewan karnivora, kekuatannya jauh berbeda dan masuk ke dalam rantai makanan paling atas. Sedangkan manusia, berbicara tentang rongga perut, maka manusia termasuk ke dalam gologan omnivora, yaitu pemakan segala, baik tumbuh-tumbuhan maupun daging. Dan poin pentingnya adalah adakalanya sifat manusia jauh lebih buruk daripada hewan. Sifat rakus atau tidak pernah puas sering bersarang kepada kehidupan manusia.

Sedangkan rongga kepala berkaitan dengan cara manusia dalam berkehidupan. Dahulu yang tidak ada listrik, sekarang sudah ditemukan. Begitu seterusnya sampai batas yang entah kapan selesainya. Teknologi senantiasa berkembang berkat pengaruh otak manusia yang semakin berkembang. Namun yang menjadi permasalahan adalah kaitan antara rongga kepala dan rongga hati kadang terlupakan. Inovasi apapun ini tanpa dinaungi oleh hati maka hasilnya akan tidak terarah. 

Rongga hati sangat berkaitan erat dengan potensi Iman. Dan iman ini akan mempengaruhi rongga perut dan rongga kepada. Iman menjadi landasan dasar bagi seorang muslim untuk berkehidupan sehari-hari. Kekuatan iman juga dahsyat pengaruhnya kepada sebuah keadaan tertentu. Misalnya adalah Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh kobaran api yang dilakukan oleh Raja Namrud. Meskipun itu adalah mukjizat Allah, tetapi tanpa adanya landasan iman, maka mustahil mukjizat itu akan terjadi.(10/10)




7 Okt 2014

Puncak Itu Bernama "Hargo Dumilah"

Foto: Dina Fitria Jabrish
Dari: http://kfk.kompas.com/kfk/view/106605
Saya sendiri adalah salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki hobi mendaki gunung. Tapi saya tidak terlalu ambisi untuk menaklukan seluruh gunung di Indonesia apalagi di dunia karena hal ini bukan tujuan hidup saya, ya ini hanya sekadar hobi. Untuk tetap melestarikan alam, untuk menaklukan ego atau kemanjaan diri sendiri, dan untuk selalu mensyukuri keagungan Tuhan akan salah satu ciptaan-Nya. Sebuah tempat tertinggi kali ini bernama “Hargo Dumilah”. Puncak tertinggi Gunung Lawu, terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ketinggian 3.265 mdpl akan kami taklukan.

7 Agustus 2014, 13 orang berangkat dari Magelang menuju Yogyakarta pukul 04.00 pagi dengan mengendarai sepeda motor menuju stasiun Lempuyangan untuk mengejar kereta Prameks pukul 05.30 yang sesuai tertera di jadwal. Namun, lagi-lagi indahnya Indonesia akan sebuah keterlambatan menghiasi keberangkatan kami pagi itu, kereta datang terlambat. Sesampainya di Solo kami menuju terminal Tirtonadi dan masih menunggu 3 orang teman kami yang berangkat dari Solo. Akhirnya pukul 08.30 kami serombongan berjumlah 16 orang, berangkat dari terminal Tirtonadi menuju terminal Tawangmangu menggunakan bus yang terkenal dengan ugal-ugalannya walaupun jalan menuju terminal Tawangmangu berkelok-kelok. Yang seharusnya kami dapat menikmati perjalanan di kanan kiri jalan, malah dibuat mabuk oleh pak sopir.

Kami tiba di terminal Tawangmangu sekitar pukul 10.30 dan kami pergunakan melepas lelah sebentar serta sarapan. Setelah saya selesai sarapan sebagai orang yang bertanggung jawab memegang uang kelompok segera melakukan negosiasi dengan salah satu sopir mobil Colt yang akan membawa kami ke basecamp Cemoro Sewu Magetan. Setelah selesai melakukan kesepakatan akhirnya kami berangkat dengan menggunakan 1 mobil Colt diisi 16 orang, betapa bahagianya kami. Setelah pak sopir dan tentu mobilnya berjuang mengangkut kami dengan selamat sampai basecamp Cemoro Sewu saya melakukan kesepakatan lainnya dengan pak sopir untuk bersedia mengantar kami sekembalinya dari pendakian hingga stasiun Balapan. Setelah selesai negosiasi kami segera cek kesiapan dan kelengkapan barang bawaan karena jam telah menunjukkan pukul 12.00 siang.

Diawali dengan pengarahan oleh ketua rombongan dan saya sendiri serta diiringi do’a dari seluruh anggota kami berangkat dari basecamp pukul 13.00 Saya dipercaya oleh ketua rombongan untuk menjadi “leader” dalam perjalanan karena carrier yang saya gunakan paling berat di antara anggota lainnya, yaitu sekitar 80 liter. Tapi barang bawaan saya itu tak terasa berat bagi saya karena saya telah terbiasa dengan pekerjaan yang menggunakan fisik.

Jalur pendakian Cemoro Sewu terkenal lebih cepat sampai puncak dibandingkan dengan jalur pendakian satunya, yaitu Cemoro Kandang. Hal ini dikarenakan jalan pendakian Cemoro Kandang lebih landai daripada Cemoro Sewu yang lebih terjal. Karena kami melakukan pendakian dengan rombongan besar, kami sendiri sulit mengorganisasikannya termasuk ketua rombongan yang bertugas sebagai “sweeper”. Di perjalanan kami terlalu sering melakukan istirahat karena lelah. Udara pegunungan yang mulai terasa dingin menusuk pori-pori kulit membuat kami segera mengenakan jaket dan celana tebal.

Setibanya di pos 3 jam menunjukkan pukul 18.00 dan salah satu dari anggota tidak dapat melanjutkan perjalanan. Saya sendiri mengalami dilema untuk melanjutkan perjalanan atau tetap di pos 3 untuk mendirikan tenda, dan pada akhirnya saya putuskan untuk tetap tinggal. Saya pun merekomendasikan pada ketua rombongan untuk seluruh anggota berkemah di pos 3, namun berapa anggota tetap ingin ke pos 5 malam itu juga dan membuat ketua rombongan memutuskan tetap berangkat saat itu juga. Saya tetap pada keputusan sebelumnya karena saya merasa bertanggung jawab terhadap tim ini dan karena saya juga yang membawa 1 dari 3 tenda yang dibawa oleh rombongan.

10 orang melanjutkan perjalanan malam itu juga menuju pos 5, 6 orang tinggal di pos 3 dan segera saya pimpin untuk mendirikan tenda. Udara di pos 3 mulai bertambah dingin dan kami segera memasak bahan makanan karena lapar yang tidak dapat tertahankan lagi. Malam itu juga, diantara menyesal karena tidak dapat melanjutkan perjalanan tapi lebih kecewa lagi karena tim kami tidak kompak bahwa tim kami benar-benar terpisah, saya menumpahkannya dengan aliran air mata yang seharusnya tak perlu. Selesai makan kami mengevaluasi dan segera melakukan tindak lanjut, salah satu anggota yang tidak kuat tersebut tetap tidak mampu kalau besok pagi menuju puncak. Pada akhirnya saya dan 2 orang lainnya tidak ke puncak paginya, sedangkan 3 orang pukul 02.00 berangkat menyusul rombongan besar dan berhasil sampai puncak.

Rombongan besar turun sampai pos 3 pukul 09.00 pagi dan saya melihat wajah ketua rombongan penuh penyesalan, tapi saya meyakinkan bahwa dengan gelagat saya sendiri untuk tidak kecewa dan segera membaur bersama kebahagiaan rombongan. Kami semua melanjutkan perjalanan turun hingga tiba di basecamp Cemoro Sewu pukul 11.00 dan segera melanjutkan perjalanan menuju Kota Solo bersama pak sopir yang telah menunggu kami di basecamp. Sesampainya di stasiun Balapan pukul 15.30 kami berpisah dengan 3 orang yang dari Solo. Kami segera memesan tiket untuk ke Jogja dan melanjutkan perjalanan pulang ke Magelang. Sesampainya di Magelang pukul 21.00 dan bongkar muat barang di rumah saya. Selesai jam 22.00 dan rombongan kembali ke rumah masing-masing dengan ceritanya masing-masing, termasuk saya.

Pada awalnya saya sangat optimis dengan rombongan ini, karena persahabatan kami dibangun sejak kami duduk di bangku SMP. Tetapi saya akhirnya menyimpulkan bahwa persahabatan yang sesungguhnya harus mampu mengorbankan keegoisan masing-masing individu untuk melebur dalam tim atau persahabatan yang telah terbentuk baik secara instan atau berkala. Lebih dari itu bahwa sejatinya pengorbanan itu bukan berdampak pada setiap anggota dari tim, namun pertanggungjawaban kita kelak saat melakukan perjumpaan dengan Tuhan. Pengorbananku saat itu untuk tidak sampai puncak tidak akan sia-sia karena saya tahu itu adalah bentuk pertanggungjawaban sebagai makhluk Tuhan yang tak mampu hidup sendiri.

27 September 2014. Saya, ketua rombongan, satu anggota yang kala itu sampai puncak, satu anggota yang kala itu saya temani di pos 3, dan dua orang pendaki pemula pukul 09.45 telah menyentuh tanah tertinggi di Gunung Lawu. Kami tiba di puncak tertinggi gunung Lawu “Hargo Dumilah” salam dari kami untuk seluruh pendaki dimanapun kalian berada. Di gunung ini, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Setiap pengorbanan yang kalian lakukan tidak akan sia-sia selama itu membawa manfaat dan untuk kepentingan umat.

Masa lalu memang tidak dapat kita rubah di masa sekarang atau masa mendatang. Akan tetapi, masa lalu dapat kita jadikan pembelajaran untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik, untuk membentuk karakter diri yang lebih baik. Kata pepatah, setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Selamat datang di duniaku!

Artikel: Harry Sumantri Hartasa
Unedited.

6 Okt 2014

"FEB UNS Mengabdi": Semangat Mengabdi, Satukan Langkah


Simo, Boyolali - Bidang Syiar Badan Pengkajian Pengamalan Islam bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB UNS dan Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam (MEPA) FEB UNS melakukan aksi pengabdian masyarakat dengan tajuk "FEB UNS MENGABDI". Kegiatan ini dilaksanakan di Dukuh Candi, Desa Gunung, Kecamatan Simo, Boyolali (4-5/10). Rangkaian kegiatan acara ini adalah penyembelihan hewan qurban, bakti sosial, dan aksi donor darah. Kegiatan berlangsung di Masjid Baitul Muttaqin dan disambut warga dengan meriah.

Hewan qurban, sebanyak 5 ekor kambing berhasil disalurkan kepada masyarakat Dukuh Candi bekerjasama dengan Takmir Masjid dan disalurkan kepada warga sekitar masjid. Setelah menyalurkan hewan qurban, panitia berhasil membagikan 100 paket sembako kepada warga yang membutuhkan. Dan acara ini diakhiri dengan aksi donor darah yang diperuntukkan kepada warga masyarakat dengan tujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang manfaat dari aksi donor darah. Kegiatan ini mendapat respon baik dari masyarakat, terbukti sebanyak 25 orang bersedia untuk mendonorkan darahnya.

Rangkaian kegiatan "FEB UNS MENGABDI" ini menjadi bukti nyata peran mahasiswa kepada masyarakat. Di tengah permasalahan masyarakat yang kian meresahkan, peran mahasiswa menjadi tumpuan bagi tercapainya kesejahteraan masyarakat.


Idul Adha Penuh Berkah, Tebarkan Senyuman, Sinergiskan Langkah


Simo, Boyolali - Badan Pengkajian Pengamalan Islam (BPPI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS bekerjasama dengan Lazis UNS menyalurkan hewan qurban kepada warga Dukuh Candi, Desa Gunung, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali (4/10). Panitia membawa sejumlah 5 ekor kambing dari Lazis dan menyerahkan kepada Takmir Masjid Baitul Muttaqin Dukuh Candi sebagai perwakilan masyarakat. Kegiatan ini sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat sebagai bentuk rasa tanggung jawab mahasiswa kepada Tri Dharma Perguruan Tinggi. 

Idul Adha kali ini berbeda dengan idul adha tahun-tahun sebelumnya, karena teman-teman BPPI merayakan idul adha di tengah masyarakat. Hal ini adalah sebagai sarana mahasiswa untuk bisa mengenal masyarakat dan mampu untuk menjadi problem solver atas permasalahan yang ada. 

Pengurus BPPI dibantu warga berhasil membagikan 200 an paket hewan qurban. Dan acara ini merupakan rangkaian dari Kegiatan "FEB UNS Mengabdi" yang terlaksana atas kerjasama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam (MEPA), dan Badan Pengkajian Pengamalan Islam (BPPI) FEB UNS.